AKSI TEBAR BENIH IKAN DI SUNGAI CITONJONG DESA CIKALONG, IJAH HARTINI: “INI BERAWAL DARI IDE BUNG KARNO…”

PANGANDARAN-Aksi penanaman ikan di sungi-sungai merupakan kelanjutan dari program nasional, gemar makan ikan. Selain itu, kegiatan tersebut agar bisa menjaga ekosistem hutan dan sungai  tetap terjaga keasriannya.

Demikian disampaikan  anggota DPRD Propinsi Jawa Barat dari fraksi PDIP asal Pangandaran, Hj. Ijah Hartini saat diminta tanggapannya tentang aksi gerakan tebar benih ikan di Sungai Citonjong Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran beberapa hari lalu.

Menurutnya, ini sangat penting agar ekosistem yang ada di Sungai Citonjong tetap terjaga dan terpelihara dengan baik.

“Ke dapan, ika-ikan yang kita tanam ini diharapkan juga bisa jadi sumber ekonomi di bidang perikanan masyarakat yang ada di Desa Cikalong. “ ungkap Ijah.(21/9)

Ijah yang ditemui PNews usai mengikuti acara Sukuran Nelayan di pantai timur Pangandaran, juga mengatakan, sebagai wakil rakyat tentunya ia tahu program-program yang ada di pemerintah. Dan menurutnya, bagaimana masyarakat bisa menghire hal itu, tentunya masyarakat sendiri yang harus punya keinginan, mengkondisikan dengan kreatifitas sendiri karena program itu diturunkan begitu saja, dipaksakan harus habis terserap dengan kurang memperdulikan penting atau tidaknya program tersebut.

“Nah sekarang terbalik, kita yang harus mengkaji, melihat, mengakses, menyalurkan dan selalu memperjuangkan aspirasi itu benar-benar diperlukan masyarakat. “jelas Ijah. 

Disoal manfaat kegiatannya tebar benih ikan di sungai Citonjong, Ijah mengatakan, dengan melibatkan pemerintahan desa dan kearifan lokal warga, nantinya setelah ikan-ikan tersebut sudah cukup untuk dipanen tentunya akan menjadi sumber makanan dan perbaikan gizi warga desa.

“Dan jika hasil panennya banyak, tentunya bisa dijual untuk menambah penghasil warga Desa Cikalong. “imbuhnya.

Saat disinggung kaitannya dengan budaya lokal, kata Ijah, ini semua berangkat dari ide-ide Bung Karno pada trisakti. Bahwa bangsa ini harus berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi dan berkepribadian di bidang budaya.

“Saya katakan, budaya itu bukan agama, tapi ia lahir dari hasil karya cipta manusia. ”tegasnya.

Ada pun jika budaya sering dipakai sebagai alat syiar agama seperti yang dilakukan para nenek moyang hingga sekarang, baik agama islam atau agama lainnya, tentunya kebudayaan apa pun yang ada di masyarakat pedesaan merupakan karya luhurnya para pendahulu bangsa Indonesia yang harus dipertahankan.

Dan khususnya di Pangandaran, masih kata Ijah, ia merasa bangga serta apresiatif karena respon masyarkat ketika budaya itu dikembangkan kembali dan dihidupkan kembali ternyata ekspektasi masyarakat itu tinggi dan semangat serta bisa ikut berpartisipasi langsung.

“Harapan saya, kita harus tetap bisa mempertahankan budaya leluhur ini, yang terbaik yang kita punya dengan salah satu cara, kalau ada hajatan keluarga atau acara lainnya harus tetap menggunakan budaya kita. “pungkas Ijah. (hiek)




RIBUAN MASYARAKAT PADATI SYUKURAN NELAYAN PANGANDARAN

PANGANDARAN-Sudah 2 kali sejak kepemimpinan Bupati-Wakil Bupati Kabupaten Pangandaran, H. Jeje Wiradinta dan H. Adang Hadari yang dilantik tanggal 17 Pebruari 2016 di Gedug Merdeka Bandung, helaran Sukuran Nelayan Pangandaran berubah. Acara Sukuran Nelayan tersebut kini tidak lagi disertai larungan sesaji kepala kerbau ke tengah lautan seperti yang dilakukan pada sukuran nelayan (dulu hajat laut-red) tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut Bupati Pangandaran dalam sambutannya, hal tersebut tidak diajarkan dalam agama islam, agama yang dianut hampir seluruh nelayan Pangandaran.

“Sekarang kita hanya melaksanakan tabur bunga sambil mendoa’kan khususnya para nelayan kita yang sudah meninggal. “ungkap Jeje.(21/9)

Jeje pun menegaskan, ini acara syukuran nelayan bukan hajat laut yang dilaksanakan seluruh nelayan dalam rangka mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhan selama ini.

Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran, menurut Jeje, pihaknya sangat bangga bisa berkumpul bersama-sama seluruh elemen masyarakat. Ada nelayan, pejabat pemerintah, anggota DPRD, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelajar dan ribuan masyarakat yang begitu antusias untuk mengikuti acara yang selalu digelar tiap tahun ini.

“Dalam acara ini kita bisa merasakan kebersamaan yang selalu akan kita bangun untuk kemajuan Kabupaten Pangandaran. “kata Jeje bangga.

Masih kata Jeje, kegiatan apa pun sudah seharusnya berada dalam lingkaran pagar nilai-nilai agama agar bisa bermanfaat dan mendapat barokahNya.

Selepas menyaksikan prosesi upacara adat, bupati dan wakil bupati ditemani tamu undangan lainnya berjalan menuju pantai untuk melakukan tabur bunga dengan pe,bacaan doa’ yang dipimpin Wakil Bupati pangandaran, H. Adang hadari.

Sementara menurut ketua Penyelenggara, Datam Sutarjo, acara syukuran nelayan tahun ini digelar saat nelayan sedang dalam musim ikan. Karena menurut Datam, berbeda saat acara yang sama digelar tahun 2016 lalu, kjetika itu nelayan Pangandaran sedang musim paceklik.

Dikatakan Datam, sekitar 2500 nelayan Pangandaran tumpah ruah larut dalam kegitan ini bersama-sama masyarakat lainnya.

Capain jumlah produksi, lanjut Datam, sampai dengan bulan agustus sudah mencapai Rp 21,7 milyar dengan estimasi PAD per bulan september mencapai 57 % dari target PAD retribusi perikanan tahun 2017 sebesar Rp 2,4 milyar.

“Saya optimis, pada akhir tahun 2017 ini, jumlah produksi perikanan laut KUD Minasari Pangandaran bisa mencapai Rp 40 milyar, “terang Datam.  (hiek)

ATASI KEKERINGAN, DPKPBD PANGANDARAN PASOK KEBUTUHAN AIR BERSIH WARGA

PARIGI-Dampak musim kemarau kini mulai dirasakan masyarakat Kabupaten Pangandaran, hampir di seluruh kecamatan masyarakat mengantri untuk mendapat bantuan air bersih.

Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Daerah (DPKPBD), DR, Drs. H. Nana Ruherna, MM, 9 dari sepuluh kecamatan dinyatakan mengalami kekeringan.

Dikatan Nana, beberapa desa seperti, Desa Purbahayu Kecamatan Pangandaran, Desa Margacinta Kecamatan Cijulang, Desa Prakanmanggu Kecamatan Parigi, Desa Bagolo kecamatan Kalipucang, Desa Pasirgeulis kecamatan padaherang dan Desa Bangunkarya Kecamatan Langkaplancar merupakan desa-desa dengan kondisi menghawatirkan dalam kebutuhan air bersih.

“Ada sekitar 36.660 jiwa dari 12.572 KK yang tersebar di desa-desa tersebut saat ini membutuhkan suplay air bersih. “jelas Nana. 

Untuk menangguangan krisis air bersih tersebut, kata Nana, Pemda Pangandaran melalui DPKPBD, dua hari sekali melakukan pendistribusian air bersih ke desa-desa, rata-rata untuk satu desa mendapat suplay 9000 liter untuk kebutuhan cuci dan mandi warga.

“Sementara untuk kebutuhan masak dan minum, warga lebih memilih menggunakan air mineral. “terang Nana.(18/9) 

Ditambahkan Nana, dengan menggunakan mobil pemadam kebakaran (damkar), air bersih yang didapat dari sumber mata air PDAM dan sebuah sumur alam di Desa Parakanmanggu, untuk sementara sebagian kebuthan air bersih warga bisa ditanggulangi.

“Kami pun terus berkordinasi dengan Dinas Sosial dan melakukan pembagian wilayah pasokan air. “imbuhnya.

Lebih jauh Nana mengatakan, diperkirakan menurut prediksi BMKG, musim kemarau ini akan berlanjut hingga akhir oktober, sementara stok air bersih untuk suplay pada warga diperkirakan akan terus berkurang sampai bulan itu.

“Tapi untuk antisipasi, bupati sudah merencanakan akan membuat beberapa sumur buatan di beberapa titik. “terang Nana. (hiek)



DKT PENTAHELIX PENGEMBANGAN EKONOMI KREATIF PEMERINTAH KABUPATEN PANGANDARAN

PANGANDARAN-Pengembangan ekonomi kreatif menjadi sangat penting seiring dengan visi-misi Kabupaten Pangandaran dalam sektor kepariwisataan yang tengah gencar dilakukan untuk mencapai pariwisata berkelas dunia.

Pada sektor riil, ekonomi kreatif yang ada di masyarakat serta kaitannya dengan dunia pariwisata ini sekaligus bisa menjadi instrument penunjang pengembangan ekonomi rakyat dan sekaligus pengkatrol citra dunia pariwisata khususnya pada sektor ekonomi kreatif.

Demikian disampaikan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata saat sambutannya dalam acara Diskusi Kelompok Terpumpun, Pentaheklix Pengembangan Ekonomi Kreatif Pemerintah Kabupaten Pangandaran yang diselenggarakan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAP) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran di Hotel Horrison Palma Pangandaran.((16/9)

“Diskusi ini akan bermanfaat seiring dengan penempatan Pangandaran menjadi wisata dunia. “kata Jeje.

Menurut Jeje, dalam pengembangan duina pariwisata sudah saatnya sekarang masyarakat tidak lagi menunggu program-program dari pemerintah, tapi ini buisa dilakukan masyarakat sendiri atau bersama pemerintah.

Jeje juga mengatakan, diperlukan kekompakan dan sinergitas antara masyarakat dan pemerintah dalam penataan dan pengembangan kepariwisataan.

“Dan sebagai pelaku langsung ekonomi kreatif, masyarakat dituntut terus melakukan inovasi dan pengembangan kreatifitas untuk bisa berperan langsung khususnya sebagai pelaku ekonomi kreatif pada sektor pariwisata. “imbuh Jeje. 

Masih di tempat yang sama, anggota komisi X DPR RI, Puti Guntur Soekarno Putri memberikan aprsiasi pada Pemerintah Kabupaten Pangandaran yang sudah melakukan penataan pariwisata sehingga semakin hari progress pengembangan dunia pariwisata Pangandaran terus berkembang.

Menurut Puti, Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki Kabupaten Pangandaran yang sangat luar biasa ini tentunya harus pula diikuti dengan meningkatnya Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai pelakunya. Karena, lanjut Puti, potensi alam yang ada bisa melahirkan sisi ekonomi positif jika dikelola dengan baik dan tepat guna.

“Potensi kriya, kuliner dan lainnya ada di Pangandaran, dan tinggal kita bisa memanfaatkannya atau tidak. “jelas Puti.

Sementara ketua Bekrap, Endah mengungkapkan, sekarang ini ekonomi kreatif sudah mendominasi perekonomian global serta menjadi salah satu potensi yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat secara luas.

“Bekrap tentunya akan mendorong terus hingga potensi masyarakat sebagai pelaku ekonomi kreatif terus bisa berkembang dan tentunya bisa bernilai ekonomis bagi masyarakat itu sendiri. “ungkap Endah.

Bekrap sendiri, menurut Endah, bertujuan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Bruto (PDB), membuat lapangan kerja baru dan menggali nilai ekspor  produksi ekonomi kreatif.

Salah satu tahapan dalam upaya pengembangan ekonomi kreatif, lanjut Endah, harus melalui 3 tahapan. Seperti, connect (keterhubungan), collaborate (kolaborasi) dan commerce (komersialisasi).

“Dan upaya tersebut kami lakukan salah satunya dengan cara FGD (focus group discussion-red). “jelas Endanh.

Endah juga menambahkan, tujuan dari diskusi ini juga untuk mensinergikan dan menyelaraskan kerjasama yang saling menguntungkan dan pengembangan ekonomi kreatif dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kabupaten Pangandaran.

Dengan diskusi ini juga, lanjutnya, diharapkan akan diperoleh data dan informasi, isu serta permasalahan riil di lapangan.

“Sehingga nantinya ada rumusan pemikiran untuk aransemen kelembagaan dalam rangka pengembangan ekonomi kreatif di kabupaten Pangandaran. “pungkas Endah. (hiek)



GAPOKTAN JAYA MEKAR MANGUNJAYA BERSAMA TNI AD LAKUKAN PANEN RAYA KEDELAI

MANGUNJAYA-Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya sebagai central pertanian kadelai dalam periode panen raya tahun 2017 menjadi sebuah percontohan dalam swasembada kadelai di Kabupaten Pangandaran.

Gerakan panen kedelai 2017 dengan tema, Melalui Pembinaan dan Pendampingan Bersama TNI AD Untuk Mewujudkan Swasembada Kedelai diselenggarakan langsung di lokasi kebun kedelai di Desa Sindangjaya yang dihadiri Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, H. Muhamad Agus Satriadi, S.Pt, MP, Aster Kodam 3 Siliwangi, Letkol Infantri Muklish dan jajaran TNI, Kepala Dinas Pertanian Propinsi Jawa barat, perwakilan Bulog, tokoh Gapoktan Desa Sindangjaya dan para petani. (15//9)

Dalam sambutannya Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Jaya Mekar, Khoerudin menyampaikan, program yang direncanakan dari jauh-jauh hari, sekarang sudah bisa terealisasi dengan baik.

Dengan sebaran di lahan seluas 20 hektar ini, lanjut Khoerudin, para petani kedelai di Desa Sindangjaya  bisa menikmati hasil panennya denga sangat memuaskan.

“Memang selama 5 tahun terakhir ini pertanian kedelai di sini kurang produktif,  tapi sekarang kami bisa membuktikan karena hari ini merupakan puncak keberhasilan panen kedelai yang ada di wilayah kami. “ungkap Khoerudin.

Khoerudin juga mengatakan, pihaknya berharap agar Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran bisa memberikan perhatian pada sektor pertanian, kkususnya para petani kedelai yang tergabung pada kelompoknya.

“Terutama pada nilai jual yang rendah, sedangkan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani relatif cukup tinggi. “jelasnya.

Sementara Kadis Pertanian Pangandaran, Agus Satriadi dalam kesempatan sambutannya mengatakan, di Kabupaten Pangandaran produksi panen kedelai mencapai 4 ton per tahun serta sudah bisa menyupai kebutuhan produksi tahu-tempe.

“Dan ke depannya, Insaalloh para petani kedelai yang ada di Pangandaran bisa menjadi sentral utama dalam produktifitas kadelai di Jawa Barat. “ungkapnya.

Dikatakan Agus, program penanaman kadelai sekarang menjadi program pemerintah pusat dalam swasembada pertanian. Dan ke depan, kadelai tidak lagi harus imfort karena para petani di dalam negeri yang akan menyuplainya.

“Salah satunya dengan cara peningkatan kuwalitas benih unggul para petani kedelai di Kecamatan Mangunjaya Kabupaten Pangandaran ini. “pungkasnya. (Toni Taufik)

KPU PANGANDARAN GELAR SOSIALISASI PILKADA SERENTAK 2018

PANGANDARAN - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada Gubernur) serentak tahun 2018 sebentar lagi akan digelar di setiap daerah, termasuk di Jawa Barat, berbagai persiapan dan sosialisasi pun mulai dilakukan.

Seperti yang dilaksanakan KPU Kabupaten Pangandaran, untuk persiapan tersebut beberapa hari lalu bertempat di hotel Horison Palma Pangandaran(15/9) menggelar acara sosialisasi pilkada sekaligus sosialisasi Undang-undang nomer  07 tahun 2017 tentang pemilihan umum yang disahkan Presiden Joko Widodo pada tanggal 15 Agustus 2017.

Kegiatan yang digagas KPU Pangandaran ini dengan menghadirkan nara sumber DR. Ferry Kurnia Rizkiansyah SIP. MSI , Dr. H, ketua KPU Jabar, DR. H. Yayat Hidayat, Perkumpulan Untuk Pemilu dan Demokrasi (PERLUDEM ), Titi Anggraeni juga dihadiri para pimpinan partai politik di Kabupaten Pangandaran.

Menurut salah seorang Komisioner KPU Pangandaran, Muhtadin, dengan digelarnya acara ini bertujuan untuk memberikan pemahaman secara utuh tentang aturan pemilu dengan undang - undang pemilu yang baru.

“KPU, Panwas bersama-sama masyarakat harus bisa berperan aktif untuk mengawasi dan mengawal pemilu ini agar bisa tertib, jujur, transparan dan demokratis. “ungkapnya.(Toni T)

BENARKAH MENINGKATNYA INFRASTRUKTUR DAN INFORMASI PENGARUHI DUNIA USAHA ?

PANGANDARAN-Kelesuan transaksi jual beli perdagangan akhir-alkhir ini banyak dikeluhkan pedagang di Pangandaran kalangan pengusaha ritel. Dari mulai jenis barang sembako, otomotif, furniture hingga pedagang sayuran di pasar-pasar tradisional. Menurut mereka, hampir dua bulan terakhir ini jika diambil rata-rata para pedagang sedang mengalami lesu pembeli. Merosotnya produktivitas di sektor perdagangan dan eceran sudah pasti akan mengoreksi capaian pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Menurut Direktur Utama BPR BKPD Pangandaran, Aep Sulaeman, SE, ini terjadi diakibatkan beberapa faktor. Dan salah satu faktor tersebut, menurut Aep, ada mata rantai yang terputus antara podusen dan konsumen.
“Jika dulu urutannya, dari produsen ke grosir, pengecer terus ke konsumen. “terang Aep.(4/9)

Dengan semakin bagusnya sarana transfortasi dari desa ke kota dan informasi yang semakin mudah, sekarang konsumen bisa langsung membeli ke produsen. Sekarang dengan bagusnya infrastruktur jalan, masyarakat yang ada di pelosok yang tadinya enggan pergi ke kota karena jalan yang buruk, kini sebaliknya. Tersedianya kondisi jalan yang bagus, sakarang hanya butuh waktu relatif singkat untuk pergi berbelanja langsung ke pusat kota, bahkan kota-kota besar di luar Pangandaran.

“Dengan demikian, otomatis tentunya ada beberapa alur yang dilewati. “terangnya lagi.

Aep juga mengatakan, bisa saja dengan semakin maraknya sistim perdagangan online membuat sepi transaksi riil di masyarakat. Ditambah rendahnya daya beli masyarakat, menurut Aep, jelas akan mengurangi nilai transaksi perdagangan baik di pasar atau warung-warung pengecer di tengah-tengah masyarakat.

“Menurunnya daya beli itu, karena selama ini memang kenaikan harga tersebut tidak diimbangi kenaikan tingkat pendapatan sehingga disaat harga barang melambung tinggi, daya beli masyarakat langsung anjlog. “kata Aep lagi.

Di tempat terpisah, Ketua Kadin Kabupaten Pangandaran, H. Teddy Sanjaya saat ditemui di kediamannya mengatakan, lesunya dunia usaha saat ini bisa juga dipengaruhi persaingan antara pengusaha yang semakin ketat dan sangat terbuka bebas.

“Ada baiknya kita harus mengikuti pada trend bisnis yang sekarang sedang berjalan. “ungkapnya. (12/9)

Tapi kelesuan dunia usaha saat ini, menurut teddy, tidak berlaku untuk semua komoditi. Sebab, ada beberapa produk tetap stabil bahkan kekurangan barang. Bisa jadi untuk jenis usaha  otomotif, furnitur dan elektronik sekarang sedang sepi. Tapi, lanjut Teddy, itu tidak terjadi pada komoditas hasil bumi, seperti gula semut, gula kelapa, ikan laut dan lainnya.

“Contohnya, untuk gula semut, kami malah sekarang kurang barang karena banyak permintaan pasar. “terang Teddy.

 Di Kabupaten Pangandaran sendiri, masih kata Teddy, produksi kerajin tangan (handycraft), olahan makanan berbahan hasil laut atau hasil bumi sangat prosfekstif sekali. Hanya karena tidak dibarengi dengan gencarnya promosi dan cara pengemasannya yang masih tradisonal, sehingga produk-produk tersebut kurang dikenal.

“Makanya saya sering himbau, jika ada pelatihan e-commerce, sebaiknya diikuti dan Kadin Pangandaran siap untuk memfasilatasinya. “tegas teddy.

Ditambahkan Teddy, pemerintah diharapkan hadir saat pelaku usaha membutuhkan pelatihan ketrampilan, pemasaran dan pembinaan lainnya untuk menumbuh kembangkan sektor UMKM .

“Dan yang paling penting lagi, para pelaku UMKM pun diusahakan harus bisa mengikuti pelatihan-pelatihan tersebut. “imbuhnya. (hiek)






INI KATA BUPATI PANGANDARAN TENTANG PENTINGNYA PENDIDIKAN

Berbincang-bincang masalah pendidikan dengan Bupati Kabupaten Pangandaran, H. Jeje Wiradinata di ruang kerjanya pada obrolan santai di tengah-tengah kesibukannya, sungguh sangat menarik. Karena menurutnya, pendidikan harus diletakan pada kepentingan dasar untuk kemajuan daerah khususnya pada generasi muda.

Menurutnya, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kemajuan masyarakat, oleh karena itu pendidikan harus terus menerus diperbaiki baik dari segi kwalitas maupun kwantitasnya.
Adanya wajib belajar (wajar) pendidikan 12 tahun merupakan salah satu wujud nyata serta keseriusan pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan, karena tujuan dari pendidikan itu sendiri bisa memberikan bekal kemampuan pada peserta didik untuk mengembangkan kehidupannya nanti baik sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga negara.

“Saya tidak mau ada lagi mendengar ada anak tidak sekolah dengan alasan tidak ada biaya. “ungkap Jeje.

Dikatakan Jeje, hendaknya pendidikan tidak hanya cukup sampai pada tingkat dasar saja tetapi hatus berlanjut ke jenjang pendidikan di atasnya, pendidikan menengah hingga perguruan tinggi.

Motivasi anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi harus dipacu, diantaranya dengan dorongan atau motivasi dari orangtua, karena orangtua memiliki tanggung jawab  dalam  membentuk karakter anak–anaknya.

Orangtua dituntut agar bisa mengarahkan dan mendidik anaknya hingga menjadi generasi handal  yang  sesuai dengan tujuan hidup manusia dan penuh tanggungjawab.

Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989 Bab I pasal 1, masih kjata Jeje, Pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang terwujud sebagai tenaga, sarana, dan prasarana yang tersedia dan didayagunakan oleh keluarga, masyarakat, peserta didik dan pemerintah, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama. Tentunya hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran serta masyarakat dan orangtua siswa.

“Saat ini peran serta orangtua dan masyarakat sangat menentukan daLAM dunia pendidikan. “terang Jeje.

Menurutnya, peran orangtua juga merupakan salah satu faktor eksternal yang bisa melahirkan  motivasi bagi anak untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi serta senantiasa bisa memberikan dorongan atau semangat agar hidup selalu beretika.

“Dengan berbagai program kegiatan di bidang pendidikan seperti pendidikan berkarakter, ajengan masuk Sekolah, siswa mengaji, pesantren kilat merupakan instrument pemerintah daerah untuk memacu anak dalam dunia poendidikan. “kata Jeje lagi.

Wajib Belajar 12 Tahun dengan menggratis biaya pendidikan dari mulai sekolah dasar hingga menengah atas, lanjut Jeje, diharapkan bisa menularkan efek positif terhadap kesadaran berpendidikan masyarakat Pangandaran sehingga pada ujungnya angka putus sekolah pun terus akan  menurun. 

Ditambahkan Jeje, memperluas kesempatan pendidikan bagi masyarakat hingga ke desa-desa  sangat penting dan program Wajib Belajar 12 tahun mesti diterapkan semasif mungkin sehingga usia lama sekolah pun semakin naik.

“Kita harus sepakat untuk bisa menciptakan generasi-generasi yang tangguh yang akan mengisi pembangunan Pangandaran sekarang dan nanti. “imbuh Jeje.

Diungkapkan Jeje, memperluas kesempatan pendidikan sangat penting,  Tetapi juga sangat penting memperluas pengalaman belajar hingga ke desa-desa, termasuk desa terpencil. Dan program Pangandaran Hebat diharapkan mampu menciptakan atmosfer belajar serta mendorong anak agar bisa tetap menuntut ilmu hingga ke jenjang lebih tinggi.

“Dan menyangkut kualitas pendidikan ini, tentunya kita membutuhkan guru-guru professional, yang mau terus belajar dan meningkatkan pemahaman serta keterampilan mendidiknya sehingga nantinya dari pendidikan itu sendiri bisa menghasilkan output berkualitas tinggi.  “tegas Jeje. (hiek)

HASIL PENDATAAN WARGA MISKIN TIM SURVEYOR DAN VERIFIKATOR, BANTUAN PEMDA KURANG TEPAT SASARAN

MANGUNJAYA-Untuk mendapatkan data akuran masyarakat miskin, Bappeda Kabupaten Pangandaran terus melakukan pendataan yang dilakukan tim Surveyor dan Verifikator yang di tempatkan di tiap-tiap desa.

Seperti yang disampaikan salah seorang petugas dari tim Surveyor dan Verifikator yang melakukan pendataan di Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya, Kamaludin, menurutnya, ia banyak menui protes dari masyarakat. pasalnya, sampai saat ini masih banyak data yang tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

“masih ada kepala rumah tangga yang seharusnya masuk kategori miskin ternyata tidak tercatat di data base. “ungkapnya.9/11)

Salah satu contoh, lanjutnya, salah seorang warga Rt 25 Rw 07 Dusun Kersaratu Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya, Kasno (80), hingga saat ini keluarganya belum mendapatkan bantuan apa pun dari pemerintah semenjak rumahnya roboh digoncang gempa beberapa tahun lalu hingga sampai saat ini Kasno pun harus menumpang di rumah salah satu anaknya.

Kamaludin mengatakan, keluarga Kasno mengeluh karena selama ini kelurganya merasa diabaikan pemerintah hingga Kasno pun langsung mendatangi salah seorang petugas surveyor yang ada di desanya untuk  memprotes serta menyampaikan keluhannya, karena menurutnya, selama ini  bantuan yang disalurkan Pemkab Pangandaran untuk warga miskin di Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya kurang tepat sasaran.

Kamaludin menjelaskan, sebagai petugas surveyor pihaknya hanya bertugas menyurvey data yang sudah disediakan Bapeda, dan untuk menilai sejauh mana selama ini bantuan pemerintah sampai dan berdampak terhadap perkembangan ekonomi masyarakat.

Menurut Kamaludin, masyarakat harus paham, pihaknya bukan petugas yang mendata karena datanya memang sudah di sediakan, tapi ia hanya melakukan survey.

 “jadi layak dan tidaknya bukan kami yang menentukan. “jelas kamaludin.

Lebih lanjut kamaludin mengatakan, dalam pelaksanaan survey sekarang ini, petugas harus bertemu langsung dengan kepala keluarga yang disurveynya, karena ini sangat penting untuk mendapatkan akurasi data.

“Dan data hasil survey ini nantinya akan diserahkan langsung ke Bappeda Kabupaten Pangandaran. “pungkasnya. (Toni Taufik)



INI KATA KADISDUKCAPIL PANGANDARAN, UNTUK SEMENTARA PENCETAKAN KTP PERIORITASKAN PRR

PANGANDARAN-Menanggapi beberapa keluhan masyarakat, belum tersedianya blanko KTP langsung ditanggapi Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pangandaran, Drs. Tantan Roespandi.  Menurutnya, pengadaan blanko KTP tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat (Kementerian Dalam Negeri), sehingga Pemerintah Kabupaten Pangandaran tidak bisa berbuat banyak saat persedian blanko KTP itu habis dan ini terjadi di semua daerah kabupaten-kota lainnya seluruh Indonesia.

“Jadi keterbatasan blnko KTP ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Pangandaran saja. “jelas Tantan.(8/9)

Dari jumlah penduduk 306.507 wajib KTP, yang sudah memiliki KTP (termasuk yang memiliki  KTP Ciamis) sebanyak 86.507 jiwa, belum memiliki KTP Pangandaran 219.648 dan yang menggunakan Surat Keterangan (KTP sementara) berjumlah 29.884.

Masih kata Tantan, karena keterbatasan blanko, untuk sementara pencetakan KTP  diperioritaskan pada PRR (Print Ready Record) atau data yang sudah siap cetak sejumlah 5.338. dari SFE (Sent For Enrolment), yaitu data yang sudah dikirim ke pusat berjumlah 7.038 data.

“Terutama kami perioritaskan untuk usia kepemilikan KTP pemula yaitu usia remaja. “ungkapnya.

Sedangkan kepemilikan akta kelahiran, lanjut Tantan, untuk usia 0 sampai 18 tahun, hingga bulan Agustus 2017, sudah mencapai 73.534 jiwa (64 %) dari jumlah 114.285 jiwa.

Sementara jumlah masyarakat yang sudah melaksanakan rekam data hingga saat ini sudah mencapai angka 95 % dari angka 306.507.

Menurut Tantan saat ditemui PNews di ruang kerjanya, jika selama ini ada anggapan proses pembuatan KTP Pangandaran mengalami stagnasi, ini akibat pengiriman blanko dari pusat memang sangat terbatas.

“Untuk urusan pengadaan blanko KTP, sekali lagi saya katakan, itu kewenangan penuh pemerintahan pusat sehingga pemkab Pangandaran dalam hal ini Disdukcapil tidak ada kewenangan dalam pengadaannya. “kata Tantan. (hiek)

ADANG HADARI: “PNS DAN MASYARAKAT MAMPU HARUS MENGGUNAKAN GAS NON SUBSIDI”

PARIGI-Untuk mengantisipasi kelangkaan gas elpiji 3 kg di masyarakat, Pemkab Pangandaran menggandeng PT pertamina (Persero) mensosialisasikan penggunaan Bright Gas 5,5 kg yang diperuntukan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintahan Kabupaten Pangandaran yang digelar di halaman kantor setda.(5/9)

Sosialisasi yang dihadiri Wakil Bupati, H. Adang hadari, Sekda Mahmud, SH,MH, Asda II, Kabag pembangunan Jabag Ekonomi, 10 camat, Sales Eksekutif PT Pertamina Wilayah Priangan Timur, Andrew Wisnuwardhana dan puluhan PNS di lingkungan Pemda Pangandaran.

Dalam sambutannya Wakil Bupati, H. Adang Hadari berharap kegiatan sosialisasi ini bisa bermanfaat serta dapat dipahami oleh masyarakat khususnya untuk sekarang di lingkungan PNS.

Dikatakan Adang,  selama ini terjadi kelangkaan gas di masyarakat, awalnya distribusi ke Pangandaran hanya 700 tabung melalui  5 pangkalan. Tapi karena adanya persaingan antar pangkalan, maka akhirnya satu truk dibagi untuk dua pangkalan sehingga terjadilah kenaikan harga di tingkat pengecer  mencapai  Rp 28 ribu per tabung.

Seharusnya bagi PNS atau masyarakat yang berpenghasilan Rp 1,5 juta ke atas per bulan harus menggunakan gas non subsidi.

“Sementara untuk RTM (Rumah Tangga Miskin-red) dengan penghasilkan di bawah Rp 1,5 juta per bulan disediakan gas elpiji bersubsidi atau yang sekarang kita kenal gas a ukuran 3 kg. “terang Adang.

Masih di tempat yang sama, Adang pun menghimbau kepada seluruh PNS, industri, hotel dan restoran agar menggunakan gas elpiji non subsidi.

“Dan saya minta agar distributor jangan sampai melakukan pungutan transportasi. “tegasnya lagi

Sementara Sales Eksekutif PT Pertamina Tasikmalaya, Andrew Wisnuwardhana menyampaikan,  berdasarkan Surat dari Direktorat Pemasaran Branch Manager Marketing Jabar PT. Pertamina Persero Nomor 379/F134A0/2017-S3 tanggal 11 Juli 2017 Perihal Permohonan waktu untuk Sosialisasi Penggunaan LPG dan Bright Gas di Kabupaten Pangandaran, dalam upaya meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan LPG yang aman dan benar serta menyukseskan program pemerintah meringankan beban subsidi LPG bagi masyarakat miskin, PT. Pertamina Persero  mengadakan Sosialisasi Tata Cara Penggunaan LPG sekaligus memperkenalkan produk Bright Gas 5,5 kg kepada seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkup Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Dalam sosialisai tersebut, masyarakat bisa menukar 2 tabung gas ukuran 3 kg dengan 1 tabung Bright Gas 5,5 kg (isi).

“Sementara yang mempunyai 1 tabung gas 3k jika akan ditukar dengan 1 tabung Bright Gas 5,5 kg harus menambah uang Rp 109,000. “terang Andrew.

Andrew menambahkan, untuk HET (Harga Eceran Tertinggi) 1 tabung bright gas 5,5kg sendiri dipatok dengan harga Rp 325 ribu pert tabung yang nantinya akan disebar di 40 Agen dan 158 pangkalan yang ada di Kabupaten Pangandaran. (hiek)


INILAH RUMUSAN FORUM DISKUSI LAKPESDAM NU PANGANDARAN Tentang: Relasi Pemahaman Agama dengan Kultur dan Budaya Masyarakat Pariwisata di Pangandaran

( Narasumber: Gus Nasrullah, Adam Alwi Assegaf, Shoiman Nawawi M,HI Edi Rusmiadi )

Pengertian Agama Islam, Islam adalah sebuah agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad Salallohu Alaihi Wa Sallam sebagai nabi dan rosul paling akhir untuk menjadi petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia sampai akhir zaman.

Lebih lanjut, Islam diturunkan melalui Rosasullullah SAW adalah untuk menjadi karunia bagi seluruh alam. “WAMA ARSALNAKA ILLA RAHMATAN LIL’ALAMIN

(Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam) (QS. Al-anbiya’ :lO7).

Definisi Pariwisata menurut Kodhyat (1998)
Pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ketempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasiaan dan kebahagiaan dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu.

Kebudayaan, budaya, dan kultur memiliki arti yang sama. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan budi dan akal manusia.

Salah satu ciri khas dari budaya adalah, bahwa budaya itu diwariskan secara turun-temurun. Cara hidup yang berkembang dapat berarti bahwa budaya yang dimiliki oleh suatu kaum atau dapat berubah karena banyak faktor seperti penetrasi kebudayaan. Misalnya upacara Sekaten di Yogyakarta yang terbentuk akibat penetrasi kebudayaan Islam ke dalam kebudayaan adat Jawa. (Isnain Firmansyah)

Apabila kita memahami dengan teliti definisi diatas, maka agama, pariwisata dan budaya merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, dan manusia sebagai pelaku utamanya.

Masyarakat pulau Jawa yang kental dengan tradisi Hindu memiliki banyak warisan budaya yang mengandung filosofi dan substansi nilai yang begitu berharga sebagai kekayaan dan kearifan lokal.

Melalui berbagai warisan budaya ini, masyarakat tahu bagaimana mengekspresikan rasa syukur kepada sang pencipta, membangun kebersamaan, menghargai alam dan lingkungan, ini yang menurur agama disebut moral dan akhlak sebagai pondasi utama Bangsa Indonesia.

Dilihat dari sudut pandang agama hal ini merupakan substansi nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Apabila kita analisa lebih dalam isi dari (QS. Al Anbiya: 107)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Suri teladan itu bukan sesempit simbol-simbol yang ada pada diri Muhammad SAW, seperti pakaian dan lain-lain, melainkan isi dari misi kerasulan beliau, dan substansi nilainya pun bukan sebatas simbol fisik saja..

Sementara disisi lain, bagi dunia pariwisata, hal ini merupakan aset yang sangat berharga dan harus mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan terutama pemerintah.

Mempertentangkan agama dengan kultur dan budaya lokal justru akan mengacaukan sistem nilai yang sudah tertanam di dalam kehidupan masyarakat. Apabila kita mempelajari sejarah masuknya Islam ke Nusantara, saat itu terjadi proses penetrasi nilai, bukan penghancuran budaya lokal yang sudah ada.

Ini sangat mahal dan terlalu besar resiko yang harus dihadapi, karena apabila sistem nilai yang menyatu dalam budaya lokal terkoyak, maka sekuat apapun pemerintah ingin memajukan pariwisata, akan sia-sia karena fondasi utamanya sudah terkoyak.

Pangandaran, 03 September 2017
Lakpesdam NU Pangandaran

RELOKASI PKL PANGANDARAN DIUNDUR HINGGA TANGGAL 10 JANUARI 2018

PANGANDARAN-Ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama ini menempati pantai Pangandaran mendatangi gedung Islamic Center Pangandaran untuk mendengarkan keputusan Pemkab Pangandaran tentang relokasi PKL ke tempat baru yang disampaikan langsung Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata.(4/9)

Dalam  pertemuan tersebut, seluruh PKL menyampaikan keberatannya jika relokasi dilaksanakan tanggal 22 Desember 2017. Pasalnya, menurut 1.363 pedagang yang disampaikan salah seorang perwakilannya, agar bisa diberi kesempatan berjualan di lokasi  yang sekarang ditempati pada masa libur natal dan tahun baru 2018.

“Setelah libur natal dan tahun baru, kami siap untuk direlokasi ke tempat kami yang baru. “ungkapnya.

Dalam sambutannya yang diwarnai tanya jawab langsung itu, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata sangat maklum dan mengerti tentang alasan dan keinginan PKL tersebut, sehingga ia pun memberikan kebijakan, relokasi PKL akan dilaksanakan tanggal 10 Januari 2018.

“Setelah tanggal penetapan itu, saya tidak mau melihat lagi ada pedagang yang jualan di pinggir-pinggir pantai termasuk ATV dan boogie. “tegas Jeje.

Lebih lanjut Jeje mengatakan, relokasi PKL dan pembangunan Ruang Taman Hijau (RTH) merupakan kebijakan Pemda Pangandaran dalam penataan kawasan wisata yang diharapkan nantinya bisa menarik lebih banyak lagi  wisatawan untuk datang ke Pangandaran.

Jeje juga mengatakan, untuk relokasi PKL tersebut Pemkab Pangandaran sudah membangun gedung baru yang berlokasi di 4 titik. Seperti, ada 252 kios di lokasi eks pasar seni, 92 kios di eks Diskotik Meredian, 933 kios di eks Hotel Pananjung Sari dan 188 kios di eks Dinas Sosial milik Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang ditargetkan semua bisa selesai pembangunannya pada bulan desember 2017.

“Dan semuanya dibangun dua lantai. “imbuh Jeje.  (hiek)

RIKA-RAMADHAN, MOKA 2017 PANGANDARAN MELAJU KE TINGKAT PROPINSI

PANGANDARAN-Dari 11 finalis peserta Mojang Jajaka (moka) Kabupaten Pangandran, akhirnya Rika (mojang) dan Ramadhan (jajaka) berhasil keluar menjadi pemenang Moka Kabupaten Pangandaran tahun 2017.

Pasangan Moka perwakilan dari Kecamatan Pangandaran ini berhasil menyaingi 20 peserta lainnya pada malam grand final yang digelar di kawasan boulevard pantai barat Pangandaran (2/9) dengan dihadiri ribuan pengunjung dari tiap-tiap kecamatan se-Pangandaran.

Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, Isteri Hj. Ida N Wiradinata dan anggota DPRD yang hadir dalam acara tersebut berkesempatan memberi selamat kepada pinilih Moka tahun 2017 yang berhak mewakili Kabupaten Pangandaran ke tingkat propinsi Jawa Barat.

Selain Ramadhan dan Rika, malam grand final panitia pemilihan Moka tahun 2107 ini juga menentukan juara Mojang kewes yang diraih Merry asal kecamatan Cijulang dan jajaka gendes yang disabet Rizki asal Kecamatan Pangandaran.

Sementara untuk gelar lainnya, mojang jajaka Kamemet diraih Sintya dan Irfan masing-masing mewakili  Kecamatan Mangunjaya dan Pangandaran, Mojang jajaka Mimitran dimenangkan  Endarwati (Padaherang) dan Aldi (Cijulang), Moka Wakil 2, Widy (Parigi) Ian (Parigi) dan gelar Moka Wakil 1 atas nama Chyntami (Padaherang) dan Saeful (Pangandaran).   (hiek)

 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN