Mojang Jajaka Pangandaran 2026 Digelar, Bukan Sekadar Adu Paras!
PANGANDARAN, iNewsPangandaran.id - Jangan salah kaprah! Ajang Mojang Jajaka bukan sekadar adu paras. Di balik gemerlap panggung, tersimpan misi besar, “menjual” wajah Pangandaran ke dunia luar. Itulah yang tampak dalam gelaran Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Pangandaran 2026 yang resmi digelar di Hotel Grand Palma, Pantai Barat Pangandaran, Jumat (24/4/2026).
Suasana langsung panas! Para peserta tampil habis-habisan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Ajang ini bukan acara biasa. Ini jadi pintu menuju malam grand final yang bakal digelar 25 April 2026. Taruhannya? Nama besar Pangandaran di level Jawa Barat!
Perwakilan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan hingga jajaran paguyuban Mojang Jajaka ikut turun tangan. Semua serius. Tidak ada yang main-main.
Ketua Paguyuban Mojang Jajaka Pangandaran, Panji Arum, blak-blakan soal kondisi sebelumnya. Tahun 2025, ajang ini sempat vakum. Tapi kini? Bangkit dengan energi baru!
“Ini harus digelar lagi. Karena Pangandaran butuh perwakilan terbaik untuk tingkat Jawa Barat,” tegasnya.
Panji juga mengingatkan, era sekarang bukan zamannya hanya modal wajah. Mojang Jajaka harus punya “isi kepala” dan kemampuan komunikasi.
“Bukan cuma soal fisik. Ini soal kapasitas anak muda mempromosikan budaya dan potensi daerah,” sambungnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran, Dadan Sugista, juga ikut ‘ngegas’. Ia menyebut ajang ini sebagai panggung pembuktian sesungguhnya.
“Ini bukan sekadar elok paras. Tapi juga soal budi pekerti, kecintaan pada tanah air, dan kemampuan mempromosikan daerah,” ujarnya tegas.
Menurutnya, Pangandaran tidak boleh hanya dikenal karena pantainya saja. Masih banyak “harta karun” lain yang siap dijual ke wisatawan. Mulai dari wisata sungai, kekayaan alam, hingga kuliner khas seperti pindang gunung yang jadi identitas kuat daerah.
“Ini harus dijual! Mojang Jajaka harus jadi corong promosi. Bukan hanya memperkenalkan, tapi juga menarik wisatawan datang,” tandasnya.
Lebih jauh, para peserta juga digembleng dengan nilai-nilai penting. Dari ngamumule budaya, bangga berbahasa Sunda, sampai memahami kearifan lokal masyarakat Pangandaran.
Tak cukup sampai di situ. Mereka juga dituntut jadi teladan. Artinya, harus siap tampil di depan publik dengan karakter kuat, wawasan luas, dan sikap yang mencerminkan generasi muda berkelas.
Dengan tensi persaingan yang makin panas, satu hal jadi jelas: Mojang Jajaka Pangandaran 2026 bukan sekadar kontes. Ini ajang pembentukan “duta jualan” pariwisata.
Siap-siap, siapa pun yang terpilih nanti, bakal jadi wajah baru Pangandaran di mata dunia!














