PANGANDARANNEWS.COM - Memasuki usianya yang ke-6 tahun, Rumah Sakit Umun Daerah (RSUD) Pandega kini telah bertransformasi menjadi tulang punggung layanan kesehatan di Kabupaten Pangandaran. Dan perjalanan ini pun menjadi bukti, komitmen dan keberanian dalam kebijakan publik untuk mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat.
Pada enam tahun lalu, Kabupaten Pangandaran berada di persimpangan penting dalam hal akses layanan kesehatan. Minimnya fasilitas rumah sakit daerah memaksa masyarakat pesisir selatan Jawa Barat ini harus menempuh perjalanan jauh demi mendapatkan penanganan medis terutama layanan spesialis.
Kini, dalam momentum peringatan Hari Jadi ke-6 RSUD Pandega, kisah perjuangan itu kembali dikenang.
Bupati Pangandaran periode 2016–2024, Jeje Wiradinata, mengajak publik menengok perjalanan awal berdirinya rumah sakit kebanggaan masyarakat Pangandaran tersebut.
Dalam sambutannya saat diundang menghadiri HUT ke 6 RSUD Pandega, Jeje menuturkan masa-masa awal kepemimpinannya saat Pangandaran masih menghadapi keterbatasan fasilitas kesehatan.
Menurutnya, ia ingat betul awal menjabat yang dipikirkan saat itu salah satu prioritasnya adalah kesehatan.
"Saat itu kita baru punya beberapa Puskesmas yang kondisinya memprihatinkan, ruangannya ada yang bau pesing serta jumlah dokter spesialis bisa dihitung jari,” tutur Jeje.(30/03/26).
Untuk menghadirkan layanan kesehatan yang layak, Jeje pun mengambil langkah berani dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp180 miliar hingga Rp266 miliar untuk pembangunan RSUD Pandega dan keputusan ini sempat menuai kekhawatiran mengingat keterbatasan APBD saat itu.
Namun, menurutnya, pembangunan fisik hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya terletak pada penyediaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal dan berkualitas.
Ia pun kemudian menggandeng sejumlah institusi pendidikan ternama, salah satunya Universitas Padjadjaran untuk memenuhi kebutuhan dokter spesialis di Pangandaran.
Selain itu, pada pemerintahan yang ia pimpin juga memberikan insentif dan tambahan penghasilan (TPP) guna menarik minat tenaga medis profesional.
Jeje menyebut, tidak mungkin jika hedung semegah ini hanya diisi dokter umum.
"Kami pun berikan insentif agar para spesialis mau mengabdi di sini, dan ini menjadi titik krusial kedua yang harus kami lalui,” imbuhnya.
Di tahun 2020, keberadaan RSUD Pandega mendapat ujian saat pandemi Covid-19 melanda.
"Dalam situasi tersebut, saya dan wakil bupati justru menjadi salah satu pasien yang harus menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di rumah sakit ini," terangnya.
Meski saat itu ia sempat disarankan agar dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar di Bandung, tapi ia tetap bertahan dan memilih di RSUD Pandega sebagai bentuk kepercayaan terhadap fasilitas daerahnya sendiri.
Ia berpikir, jika bupatinya saja tidak percaya pada rumah sakitnya sendiri bagaimana dengan masyarakat?
Maka saat itu pun ia putuskan, hidup atau mati tetap harus dirawat di Pandega.
"Ini soal kepercayaan publik yang harus dijaga,” ungkapnya.
Masih dalam sambutannya, Jeje yang juga berpesan kepada jajaran direksi, tenaga medis, dan seluruh karyawan RSUD Pandega agar terus menjaga kekompakan serta meningkatkan kualitas pelayanan.
Tantangan ke depan, kata Jeje, bukan lagi soal pembangunan infrastruktur melainkan menjaga konsistensi pelayanan dan integritas dalam melayani masyarakat.
Modal utamanya adalah kekompakan, dan dalam momentum ulang tahun yang ke 6 ini harus jadi momen perenungan semua.
"Apakah kita sudah memberikan pengabdian terbaik bagi masyarakat?” ucapnya.(hiek)