KOMISI I DPRD PANGANDARAN SESALKAN LAMBATNYA BANTUAN UNTUK KORBAN BANJIR

MANGUNJAYA-Dalam kunjungannya ke lokasi bencana banjir di Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunjaya, jumat (22/10), Komisi I DPRD Kabupaten Pangandaran menyayangkan, pihak pemerintah daerah belum memberikan bantuan pada warga yang menjadi korban bencana banjir akibat jebolnya tanggul Sungai Kawasen pekan lalu.

Demikian dikatakan H. Jajang Ismail, SE (PPP), yang didampingi H. Asikin,S.Ag (PPP), Ruspendi (NASDEM), Ruhanda (PDIP) dan Imang Wardiman (PAN) saat melakukan kunjungan langsung untuk melihat para korban.

“Pemerintah sangat lambat menyalurkan bantuan pada korban banjir disini. :”ungkaop Ruspadi.(22/10).

Hal tersebut dibenarkan Kepala Desa Sindangjaya, Endang permana, menurutnya, pihaknya sudah melaporkan data korban, tapi sampai saat ini belum ada atas  nama pemda yang datang ke Desa Sindangjaya.

“Warga pun mengeluhkan hal ini, karena untuk saat ini para korban banjir sangat  memerlukan bantuan. “ungkap Endang.(TONI T)

WARGA DESA MANGUNJAYA JADI KORBAN KANJENG DIMAS TAAT PRIBADI

MANGUNJAYA-Siapa yang tidak kenal dengan kanjeng Dimas Taat Pribadi, seorang pria yang mengaku bisa menggandakan uang dengan nilai milyaran rupiah, sampi saat ini  berita tersebut masih menjadi topik  hangat di masyarakat, Dan semakin hari korbannya pun terus bertambah masuk pada laporan kepolisian.

Siapa sangka, ternyata salah seorang Dimas Kanjeng ada yang berasal dari Kabupaten Pangandaran. Pangkal permasalahannya, TH dan SM, kedua orang disebut-sebut sebagai awal permasalahan, pasalnya, ia tidak kunjung hadir saat proses penyelesaian kasus yang mengakibatkan korban menderita kerugian sekitar Rp 300 juta ini digelar di rumah kepala Dusun. Tapi karena belum ada titik terang, hari kamis (20/10) pesoalan ini pun dibawa ke pemerintahan desa.

Kepala Desa yang didampingi Dan Posrami dan Babinsa pun berembug untuk menyelesaikan hingga proses mediasi pun berlangsung alot sehingga sampai berita ini d tulis belum ada penyelesaiannya.

Menurut kepala Desa mangunjaya, Furqon, untuk penyelesaian masalahan ini rencananya akan dipertemukan antara pihak korban dan pelaku.

“Apabila kasus ini tidak kunjung selesai dan perkirakan ada unsur pidana, maka kami pihak pemerintah desa akan menyerahkan sepenuhnya kepada yang berwenang. Tegas Furqon. (TONI T).

SEPTIAN, KORBAN TENGGELAM SUNGAI CIRAPUAN MANGUNJAYA BELUM DITEMUKAN

MANGUNJAYA-Seorang bocah usia 5 tahun anak dari Lukman (50) salah seorang warga Rt 39 Rw 09 Desa Sindangjaya Kecamatan Mangunkaya Kabupaten Pangandaran tenggelam terbawa arus sungai Cirapuan.

Menurut warga, Tandin, kejadian berawal saat korban bersama dua rekannya bermain-main di tepian sungai di belakang rumahnya, tiba-tiba korban terrpeleset dan jatuh ke sungai dan terseret arus sungai.

“Kejadiannya tadi siang sekitar jam satu. “terang Tandin.(22/10).

Setelah mendenganar kejadian tersebut, warga pun bergotong-royong untuk mencari korban yang diperkirakan tenggelam karena derasnya arus sungai Ciraupan.

“Hingga tadi jam 10 malam, datang petugas dari Tim SAR membantu pencarian korban, tapi sampai saat ini korban belum ditemukan. “imbuh Tandin.

Menurut Tandin, masyarakat dan tim SAR Pangandaran yang dibantu SAR Ciamis terus melakukan pencarian walau akses ke lokasi cukup sulit karena terhalang jambatan yang putus akibat banjir pekan lalu. (TONI T)

SURYA KARTIKA AGUNG GAET PMI PANGANDARAN GELAR AKSI DONOR DARAH

PANGANDARAN-Gerakan sosial bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk masyarakat. Dan apa pun jenisnya kegiatan terserbut, yang penting itu bisa bermanfaat untuk masyarakat lainnya yang membutuhkan.

Seperti yang dilaksanakan perusahaan (show room) speda motor Surya Kartika Agung Pangandaran, untuk kesekian kalinya bekerja sama dengan PMI,  melaksanakan aksi donor darah.
Kegiatan yang mendapat sambutan masyarakat, baik dari kalangan PNS, tokoh dan masyarakat biasa ini ditargetkan bisa menghasilkan sekitar 200 labu darah.

Menurut pemilik perusahaan Surya Kartika Agung, Suryadi, aksi donor darah yang dilaksanakan tiap tahun ini sudah berjalan  cukup lama dan dilaksanakan juga di beberapa kota dimana perusahaannya ada.

“Selain di pangandaran, aksi donor darah ini kami laksanakan juga di Sumedang, Kadipaten, Bandung, Lembang dan Cianjur. “Terang Suryadi.(21/10).

Suryadi menambahkan, siklus waktu pelaksanaanya sekitar 6 bulan sekali karena tempatnya pun bergantian.
“Sekarang di pangandaran, kemudian keliling ke kota lain dan sampai masuk jadwal di pangandaran kembali  6 bulan mendatang. “jelasnya.

Sementara Ketua PMI Kabuaten Pangandaran, Mahmud, SH, MH menyambut baik kegiatan sebagai aksi kemanusian ini dilakukan masyarakat dari kalangan pengusaha.

“PMI sendiri di tahun 2016 ini sudah melaksanakan aksi donor darah sebanyak 5 kali. “kata Mahmud.

Menurut Mahmud, kegiatan kemanusian bisa dilakukan siapa saja, baik oleh komunitas atau perorangan.
Disoal keberadaan PMI Pangandaran, Meahmud mengatakan, sampai sekarang PMI belum mempunyai kantor permanen.

“Mungkin tahun depan, rencananya akan dibangun satu komplek dengan kantor sekretariat  PHRI di kawasan Pamugaran Desa Cikembuan. “imbuh Mahmud. (hiek)

NANA RUHENA: “TERIMAKASIH KEPADA MASYARAKAT YANG SUDAH MEMBANTU KORBAN BENCANA..”

PARIGI-Bencana alam yang terjadi di Pangandaran menyisakan kesedihan buat beberpa warga karena tempat tinggal mereka mengalami kerusakan.  Kerugian material begitu sangat dirasakan saat ini, dan warga pun hanya bisa pasrah menerima semua kehendakNya.

Menurut Badan Penanggulangan.Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran. kerugian akibat bencana di Kabupaten Pangandaran baik sektor wisata maupun material dampak banjir serta longsor mencapai ditaksir sekitar Rp. 5,5 Milyar

Kepala BPBD, DR. Drs. H. Nana Ruhena, MM mengatakan, jumlah korban terdampak banjir di Kecamatan Mangunjaya sebanyak 6.657 KK, Padaherang sebanyak 451 KK, Kalipucang sebanyak 2023 KK , Pangandaran sebanyak 1624 KK, Sidamulih 371 KK, Parigi 263 KK, Cijulang 314 KK dan Kecamatan Cigugur 128 KK.

“Korban paling banyak ada di Kecamatan Mangunjaya, karena daerah terserbut dalam peta bencana Kabupaten Pangandaran sebagai daerah rawan bencana banjir. “ungkap Nana.(20/10).

Nana menambahkan, sedangkan untuk korban yang terkena dampak longsor, di Kecamatan Sidamulih sebanyak 8 KK, Cimerak hanya 2 KK, Langkaplancar 6 KK, Parigi 2 KK dan Kecamatan Padaherang sebanyak 473 KK.

Selain itu, menurut Nana, fasilitas umum yang terkena dampak bencana tersebut diantaranya di Desa Pasir Geulis, sebuah jalan Paliken dan jembatan rusak berat, di Desa Karangmulya Kecamatan Padaherang 63 kolam ikan kebanjiran, 1 jalan dan DAM mengalami rusak sedang terdapat di Desa Kedungwuluh, 3 titik jalan dan 1 jalan provinsi mengalami kerusakan di Desa Putrapinggan.

“Untuk jembatan, 1 jembatan ambruk di Desa Pager Gunung, 3 jalan dan 3 Jembatan rusak berat di Desa Sidamulih, 1 jembatan rusak berat dan 2 titik jalan rusak berat dan rusak sedang di Langkaplancar, 1 titik jalan rusak berat di Cijulang dan Desa Cibanten putus dengan status ringan,” ucapnya.

Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran, Nana memberikan apresiasi dan terimakasih kepada seluruh lapisan masyarakat, ormas relawan dan p[ihak lainnya yang dengan ikhlas sudah membantu proses jalannya evakuasi semua korban bencana. (AGE)

PROMOSI WISATA PANGANDARAN DI PANGANDARAN, EFEKTIFKAH ?

PANGANDARAN-Komentar salah seorang warga tersebut  mungkin ada benarnya, karena yang diharapkan dari promosi pariwisata Pangandaran, idealnya, mengenalkan Pangandaran kepada masyarakat di luar pangandaran (baca:calon pengunjung) baik di dalam negeri atau mancanegara.

“Lalu, apakah perlu promosi juga di daerah sendiri…?”ungkapnya.(19/10).

Even-even pariwisata yang biasa digelar tiap tahun seperti, Syukuran Nelayan, festival  Layang-layang dan Pesta Budaya, estimasi pengunjung hanya didominasi pengunjung lokal. Artinya, even tersebut, yang diklaim sebagai ajang promosi wisatawan pun kurang kena sasaran.

Masyarakat yang datang mengunjungi syukuran nelayan di beberapa tempat juga festival layang-layang yang baru saja digelar, menurutnya, didominasi pengunjung warga dari sekitar pangandaran.

“Entah karena kurang gencarnya promosi even tersebut atau alasan apa, jika even tersebut dijadikan promosi wisata, sepertinya kurang kena. “imbuhnya.

Menurutnya, sebaiknya Pemda Pangandaran evaluasi lagi, sejauh mana efektifitas yang dilakukan sebagai promosi pariwisata bisa sampai dan punya dampak out come positif untuk dunia pariwisata Pangandaran, sehingga diharapkan ada efek yang ditimbulkan dari promosi tersebut dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan dari tahun ke tahun.

“Jika ini menyangkut masalah anggaran, maka kalau mau promosi, pemerintah tidak usah menghitung untung-rugi,  “imbuhnya lagi.

Dalam obrolannya di sebuah warung kopi, warga  tersebut merasa heran. Pasalnya, kenapa sejumlah billboard obyek wisata Pangandaran banyak dijumpai di sepanjang jalan Pangandaran. Sudah bisa dipastikan, yang melihat billboard tersebut pastilah orang Pangandaran.

“Dan kalau pun yang membaca billboard tersebut wisatawan, kan mereka sudah ada di pangandaran…”Ujarnya dengan nada heran.

Menurutnya, akan lebih eferktif jika promosi Pariwisata Pangandaran dilakukan di luar daerah Pangandaran. Salah satunya dengan membuat papan nama atau billboard besar di tengah-tengah kota besar di seluruh Indonesia.

 “Dan pemda pangandaran hanya tinggal membayar pajak  reklame tersebut ke pemda dimana papan promosi itu dipasang. “imbuhnya.

Saat dijumpai di arena Pangandaran Fair Pameran Pembangunan Pariwisata di ujung tol gate, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengatakan, Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Pangandaran belum terbentuk, karena menurut jeje, ia masih fokus pada penataan kawasan.

“Nanti kalau sudah tertata, baru melangkah ke arah itu, untuk sekarang promosi wisata cukup ditangani oleh dinas saja. “Kata Jeje.(19/10). 

Sementara, Kepala Dinas Parindagkop dan UMKM Pangandaran, Drs. Muhlis, menuturkan, seperti kegiatan arena Pangandaran Fair Pameran Pembangunan Pariwisata yang berlangsung tanggal 19-23 oktober 2016, selain dalam rangkaian hari Jadi milangkala ke 4 Kabupaten Pangandaran, ajang ini diharapakan bisa sebagai promosi wisata dan merangkul kaum muda dan semua kalangan untuk ikut memajukan pangandaran. (hiek).

AGUS: “PENDANGKALAN DAN PENYEMPITAN SUNGAI AKIBATKAN BENCANA BANJIR”

CIJULANG-Menyikapi banyaknya pemberitaan miring masalah lingkungan hidup yang menyangkut hajat hidup orang banyak, seperti pencemaran sungai, abrasi juga dampak dari maraknya pembangunan di area sempadan sungai yang pada gilirannya akan mengakibatkan bencana alam banjir dan tentunya akan merugikan seluruh masyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran melalui Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup  (BPLH) akan mengadakan sosialisasi di10 kecamatan yang pelaksanaannya dimulai pada bulan november  yang akan datang, dalam bahasan terkait polemik sekitar lingkungan hidup.

"BPLH mulai bulan november mendatang akan mengadakan sosialisasi tentang pencemaran sungai yang diakibatkan pola hidup masyarakat dengan membuang sampah ke sungai. “Kata Sekban BPLH, Drs. Agus. M.Si.(20/10).

Ditambahkan Agus, terjadinya penyempitan dan pendangkalan sungai ini biasanya terjadi selain akibat masyarakat membuang sampah sembarangan juga karena banyaknya pembangunan di area sempadan sungai, sehingga kelestarian dan daerah aliran sungai (DAS) dengan sendirinya akan terganggu.

“Jika masyarakat tidak diberi pehamanan tentang hal tersebut, dikhawatirka semakin hari sungai-sungai yang ada di Kabupaten Pangandaran akan menjadi sumber bencana banjir. “Kata Agus.


Mulai awal tahun 2017, menurut Agus,  BPLH kabupaten Pangandaran akan membangun tempat pengelolaan sampah di setiap desa agar sampah-sampah yang ada di rumah tangga bisa cepat tertanggulangi, terutama sampah non organik.

“Dan ini sesuai perintah dari Kementrian Lingkungan Hidup", imbuhnya.

Dikatakan nya lagi, problem sampah sampai saat ini masih belum bisa ditanggulangi secara serius karena keterbatasan anggaran pemerintah juga sarana prasarana di BPLH belum optimal, baik dari alat pengelolaan sampah maupun kegiatan sosialisasi pada masyarakat di setiap kecamatan,

“Rencana ke depan, mulai tahun 2017 semua keluhan masyarakat tentang sampah juga pencemaran yang sekarang menjadi momok menakutkan karena dampaknya bisa mengakibatkan bencana, bisa diatasi Pemkab Pangandaran dan semua stake holder  serta peran aktif  seluruh masyarakat guna mewujudkan suasana asri dan nyaman juga bisa terbebas dari sampah yang ditenggerai sebagai biangnya pencemaran lingkungan", pungkas Agus. (AGE)

UPPKS BISA KEMBANGKAN POTENSI EKONOMI PEDESAAN

PANGANDARAN-Kabupaten Pangandaran, sebagai tujuan wisata sudah tentu diharapkan pula ada kuliner yang bisa memanjakan lidah pengunjung saat berwisata ke Pangandaran.

Seperti yang sedang dikembangkan, jus honje, salah satu binaan Usaha Peningkatan Pendapatan Keluaraga Sejahtera (UPPKS) mungkin bisa sebagai salah satu alternatif makanan khas yang bisa diperoleh di tempat-tempat wista Pangandaran.

“Melalui UPPKS usaha ekonomi kreastif yang ada di masyarakat mungkin bisa lebih dikembangkan. “ungkap Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata saat berada di stan BP3APK2BPMPD Pangandaran Fair Pameran Pembangunan pariwisata yang berangsung dari tanggal 19-23 oktober 2016 bertempat di ujung tol gate Pangandaran.

Ditambahkan Jeje, usaha ini bisa dilakukan kelompok UPPKS dengan anggota para peserta KB khususnya pra sejahtera, atau bisa juga dilakukan remaja serta masyarakat yang berminat untuk ikut mengembangkan kegiatan kelompok UPPKS di daerahnya masing-masing.

“Melalui program UPPKS ini bisa meningkatkan perekonomian warga pedesaan. “imbuh Jeje.(19/10).

Dikatakan Jeje, kelompok UPPKS melalui perangkat BKKBN didorong, diajak dan didampingi untuk memanfaatkan segala sumber daya lokal yang ada di daerahnya bisa melakukan kegiatan pembelajaran dan peningkatan kegiatan ekonomi proiduktif.

“Peningkatan kapasitas kemampuan kelompok menjadi salah satu fokus kegiatan UPPKS. “Kata Jeje lagi.(hiek)

MESJID AL-ITTIHAD KARANGPAWITAN DIBANGUN DENGAN ARSITEK CANTIK

PADAHERANG-Mesjid, symbol religius agama islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah mesjid pun banyak difungsikan untuk tempat kegiatan keagamaan masyarakat di daerah mesjid itu berada.

Seperti mesjid Al-Ittihad, mesjid yang berada di Rt 11 Rw 03 blok Pelning Desa Karangpawitan  Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. Pembangunan mesjid ini diprakarsai oleh seorang tokoh agama setempat, Rachman, yang akrab disapa Apeng.

Selain sebagai penggagas, Rachman yang pensiunan pegawai BBWS Citanduy, ia pun sekaligus menjadi arsitek dalam pembangunan mesjid tersebut.

“Tujuan dibangun mesjid ini, selain sebagai tempat ibadah juga bisa difungsikan menjadi tempat belajar ilmu agama anak-anak kami disini. “Kata Rachman.(14/10).

Ditambahkan Rachman, Mesjid Jami Al-Ittihad juga sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus bisa menjadi tempat warga berkumpul menjalin silaturahmi satu dengan lainnya di Desa Karangpawitan.

“Alhamdulillah,  pembangunan mesjid ini sudah pada tahap proses standar. “terang Rachman.

Menurut Rachman, untuk selanjutnya, finishuing dan penambahan assesoris untuk mempercantik dan memperindah bangunan masih belum bisa terrealisasi karena masih diperlukan biaya tambahan.

“Kami berharap, proses pembangunan mesjid Al-Ittihad  sebagai kebanggaan warga karangpawitan ini bisa lancar dengan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah. “ujar Ranchman saat ditemui di rumahnya. (Isis Koswara)

WARGA KARANGPAWITAN DAMBAKAN JALAN CIPAKEL BER-HOT MIX

PADAHERANG-Sudah lama warag Desa Karangpawitana Kecammatan Padaherang Kabupaten Pangandaran mendambakan punya jalan mulus berhotmiks. Jalan Cipakel sepanjang 1,5 km yang menghubungkan Desa Karangpawitan,dengan Kecamatan Mangunjaya, persisnya di samping kantor Polsek Padaherang ini keadaannya memang masih jauh dikatakan nyaman.

“Memang benar warga sudah lama menunggu perbaikan jaklan ini, sebab jalan ini punya akses langsung ke Kecamatan Mangunjaya. “tutur Kepala Desa karangpawitan, Adis.(14/10).

Ditambahkan Adis, sebenarnya jalan tersebut sudah dilaukan pengerasan degan rabat beton yang duibangun  tahun 2009, sehingga jika nanti dilakukan pengaspalan, akan lebih mudah dalam mengerjaannya.

“Sampai sekarang jalan beton yang didanai dari PNPM dan PPIP kondisinya masih 80 %, relative masih kuat. “terang Adis.

Adis berharap, Pemkab Pangandaran bisa segera merealisasikan keinginan warga mengingat jakan tersebut bisa menjadi jalur ekonomi masyarakat dari Kecamatan Mangunjaya ke Padaherang dan sebaliknya.

“Mobilitas kendaraan pun setiap harinya lumayanj padat dan rencana perbaikan jalan tersebut sudah masuk dalam rencana pengajuan desa tahun 2017. “imbuh Adis

Hal senada duikatakan salah seorang warga karangpawitan, Aay Anjasmoro, menurutnya sudah saatnya jalan Cipakel ini pakai aspal hotmiks. Pasalnya, jalan tersebut sangat vital untuk lalu-lintas antar dua kecamatan, baik sebagai jalur ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

“Mudah-mudahan ini menjadi perhatian pemda, mengingat sudah lama sekali warga mendambakan jalan ini mulus berhotmiks. “Kata Aay.(ISIS KOSWARA)

BENCANA BANJIR DAN LONGSOR DI PANGANDARAN, AKIBAT ALIH FUNGSI GUNUNG PORANG DAN PASIR DUDAN ?

PARIGI-Menjawab keresahan beberapa warga yang bertanya, akhir-akhir ini Pangandaran sering dilanda bencana, dijawab Hendy Kuswaya seorang aktifis lingkungan, rusaknya alam diakibatkan karena ulah manusia. Adanya penjarahan dan perambahan hutan sekarang marak dimana-mana adalah salah satu penyebab bencana terjadi.

“Saya tidak menuduh ini kesalahan siapa, tapi yang jelas pelakunya manusia,”kata Hendy.(17/10).

Sebagai masyarakat penggiat lingkungan hidup, Hendy, lulusan Universitas Winayamukti jurusan Manajemen Hutan ini mengatakan, Gunung Porang dan Pasir Dudan merupakan kawasan lindung yang berfungsi sebagai sumber mata air yang bisa mengairi hampir sebagian besar wilayah Pangandaran,

“Seharusnya kawasan tersebut ditanami Tanaman Jenis Kayu Lain atau kayu rimba alam. “terangnya.

Ditambahkan Hendy, Aliran sungai Cikidang, Cikembulan dan  Citumang dan sungai Citonjong yang berakhir di muara Karang Tirta itu berasal dari Gunung Porang dan Pasir Dudan. Jika masyarakat Pangandaran ingin selamat dari bencana alam, maka solusinya harus rajin  merawat dan melestarikan wilayah sekitar sungai-sungai itu agar tetap berfungsi menjadi tempat  daerah resapan air.

“Kalau hutan rusak, maka saat datang musim kemarau kita akan mengalami kesusahan air dan sebaliknya jika musim hujan running off atau aliran permukaan menjadi tidak normal ditambah dengan membawa material yang lain .

“Saya berharap Pemda Pangandaran  segera mengajukan permohonan kepada pihak Perhutani sebagai pemegang Hak Guna Usaha hutan untuk menjadikan kawasan Gunung Porang dan Pasir Dudan sebagai kawasan hutan lindung tetap dan Taman Kahati (keanekaragaman hayati-red),”jelas Hendi.

Sementara di tempat terpisah, Kepala Bidang KSDA di Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Pangandaran, DR. Erik Krisna Yudha  mengatakan,  pemetan kawasan hutan harus di sesuaikan dengan tata ruang sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat 2 (dua) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

“Berdasarkan tata ruang Kabupaten induk, Cuiamis dan  rencana tata ruang Pangandaran, wilayah Kecamatan  Langkaplancar, Cigugur, sebagian Kalipucang, sebagian Parigi, sebagian Cijulang dan sebagian wilayah Pangandaran adalah wilayah konservasi geologi dan resapan air bawah tanah sehingga seharusnya hutan yang ada di Pangandaran adalah hutan konservasi,”terang Erik. (AGE).



CIJULANG NGADEG KU ANJEUN

CIJULANG - "Cijulang Ngadeg Ku Anjeun" merupakan satu ungkapan para orang tua dahulu yang kini mulai terlihat kebenarannya ibarat sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Babad karuhun orang Cijulang berasal dari daerah Kedungrandu Banyumas jawa tengah, bernama Nini Gede Aki Gede dengan empat bersaudaranya. Pertama, Sembah Jangpati (berkuasa di Ciamis), Sembah Jangraga (berkuasa di Karang Simpang), Sembah Jangsinga (berkuasa di Panjalu), dan keempat Sembah Janglangas (berkuasa di Cijulang), semuanya putra dari Sunan Raja Mandala,

Seperti diceritakan tokoh budaya Cijukang, Tatang, Nini Gede Aki Gede memiliki seorang putri yang cantik rupawan dan jadi tambatan hati Kanjeng Sinuhun penguasa (raja) di Banyumas. Namun saat itu oleh Nini Gede Aki Gede, anaknya tidak diijinkan untuk dipinang oleh Kanjeng Sinuhun tersebut, sehingga Nini Gede Aki Gede beserta keluarganya pun diusir dari tanah Banyumas.

Keluarga  Nini Gede Aki Gede pun lalu berkelana ke arah barat beserta keluarga dan sanak saudaranya. Mereka pun hu8ngga menyeberangi sungai (sekarang disebutlah hanjatan Cimanganti) dan tinggal di suatu tempat dengan membuat sebuah rumahsatu bale satu surau/masjid (disebutlah Padepokan Karasanbaya).

Lama kelamaan Nini Gede Aki Gede berpikir merasa khawatir padepokannya akan diketahui oleh Kangjen Sinuhun. Maka ia pun menyuruh anak pertamanya Sang Prabu Lawangjagang untuk tinggal di padepokan tersebut yang terkenal dengan sebutan Kawasan. Sementara ia sendiri beserta keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat, lalu ke selatan. Di satu tempat pun ia sempat ngaso (istirahat) dan sekrang tempat istiraha tersebur dinamakan  Cikaso. Di situ ia membuat sebuah rumah-satu bale (terkenal dengan Sukalembah). Di Sukalembah ditinggalkan seorang anak bernama Mangun Naha Mana Manggala. Lalu Nini Gede Aki Gede pun menlanjutkan perkelanaannya lagi.

Di Bojonglekor,  ia menyimpan satu putra bernama Sang Prabu Mangun Ciker dengan dibuatkan satu rumah-satu bale. Kemudian ke Bubulak Karangsimpang dengan satu rumah-satu bale. Lalu pergi lagi hingga buatannya, di tempat baru ini satu rumah-satu bale ditambah satu sumur disebut Daerah Binangun.

Nini Gede Aki Gede pun melanjutkan perjaklanannya meninggalkan Binangun untuk mencari daerah baru sebagai tempat untuk bermukim di Nagarawati, karena tidak lahan kosong, ia pun memutuskan untuk kembali ke Binangun.

Dalam perjalanannya, Nini Gede dan Aki gede Kemudian terus berjalan hingga ke Bojongmalang, Sarakan, Cikadu, Cikawao, Cikagenah, Cipatahunan dan Gurago. Di Gurago Nini Gede Aki Gede menetapkan penghulu, kholifah dan perangkat-perangkatnya. Stelah itu ia Lalu pergi ke Cigugur.

Dikisahkan pula, Beberapa tahun kemudian Nini Gede Aki Gede dipanggil Raja Sukapura Dalem Tamela untuk dimintai anaknya yang sudah dinikahkan sebelumnya, alkisah permintaan tersebut sampai tujuh kali datangnya. Hingga pada akhirnya permintaan tersebut dikabulkan dengan memberikan suatu wilayah kekuasaan kepada mantan menantunya dengan pemberian gelar Sembah Ragasang dan diperbolehkan membawa sembilan kuren keluarga.

Pergilah Sembah Ragasang beserta keluarganya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir, dan tiba di Panjalu kemudian ke Ciamis menemui saudara ibunya yang bernama Jang Pati, lalu terus ke arah barat menuju belantara hutan. Di sana lahirlah Sembah Ragadimulya. Perjalanan pun lalu dilanjutkan ke selatan, di Mandala, Karangnini dan Jajaway.

“Demikian dikisahkan (cukcrukan galur sasakala) Cijulang, jika disimpulkan, karena Nini Gede Aki Gede bolak-balik bagaikan air balikan di muara sungai. Tanda (ciri)-nya kalau sekarang adalah cai mulang (di Cijulang) yang terbendung air laut di sekitar Sungai Haurseah sebelah selatan, “Abah Kundil sapaan Tatang.

Pada akhirnya sungai inilah yang akan menjadi tulang punggung dan sumber kehidupan masyarakat setempat seperti peradaban sungai nil , tigris dan sungai eufrat di timur tengah. Sungai Cijulang melindungi sendi-sendi kehidupan masyarakat . Pertanian, perkebunan, perikanan, transportasi, peternakan  dan tentunya pariwisata.

Semua aspek bermuara pada satu sentral penunjang, sungai Cijulang yang kini terkenal dengan pariwisata Cukang Taneuh (Green Canyon). Transfortasi Udara di Nusawiru pun kini mulai ditata untuk kedepannya menjadi Bandara Internasional sebagai bukti kemajuan yang mulai terwujud di Cijulang.

“Jadi jelas apa yang dikatakan orang tua dulu sudah mulai nampak kebenaran nya lewat Uga dalam cerita Babad Cijulang, “pungkas Tatang. (AGE).

SITU CISAMPING BATUKARAS DAN MITOSNYA

CIJULANG - Pesona alam Situ Cisamping di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran begitu asri dengan air danaunya yang bening dihiasi rimbun pepohonan begitu memanjakan para pengunjung yang datang untuk beristirahat dalam suasana alam yang sejuk diiringi dengan semilir angin bisa membuat betah untuk berlama lama dan refreshing setelah  bergelut dengan rutinitas dan kesibukan pekerjaan.

Selain kesejukan dan keindahannya,  Cisamping pun konon menurut cerita masyarakat sekitar, tidak pernah kering walau pada musim kemarau panjang. Seperti yang pernah terjadi sekitar tahun 80 an, saat itu kemarau hingga 9 bulan, tapi debet air Situ Cisamping tetap seperti biasa, hingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat Batukaras karena sumur-sumur warga sudah kering semua akibat kemarau panjang.

Salah seorang tokoh batukaras, Abah Ija (80), membenarkan, bahkan ia pun pernah ikut bersama warga untuk mengambil air dari danau tersebut.

Dibalik segala pesona keindahan yang ditawarkan Situ Cisamping dan manfaatnya untuk kehidupan, menurut Bah Ija, ada cerita yang tersebar turun temurun di masyarakat, kenapa dinamai Cisamping.

Seperti yang diceritakan Abah Ija, Cisamping ternyata merupakan salah satu bekas perjalanan Dalem Sembah Agung  dalam pencarian putranya Rangga Carita yang lebih dikenal dengan nama Sulton Muradi.

Konon, saat itu Dalem Sembah Agung menemukan samping (kain) yang digunakan bungkus anaknya yang hilang dari ayunan saat berada di wilayah Sandaan Rangga carita waktu itu masih bayi, maka danau tersebut pun dinamai situ (danau) Cisamping.

Selain cerita tersebut, Abah Ija juga mengatakan, bahwa Situ Cisamping menurut penerawangan batinnya merupakan kerjaaan dari segala jenis siluman di alam gaib.

 “Ada siluman si gundul dan si pocol, diantara kedua siluman tersebut yang sering jahil adalah siluman si gundul. “Terang Bah Ija.

Abah Ija berpesan, setelah dibangun menjadi obyek wisata, para pengunjung yang datang tidak boleh sombong, tidak sopan dan bicara sembarangan agar  nantinya Situ Cisamping bisa menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

“Kalau sudah rame, nantinya masyarakat pun bisa ikut usaha di sana. “Ujar bah Ija. (AGE)




ASAL MUASAL HIASAN JANUR KUNING PADA ACARA HAJATAN

Situs budaya religi Raden Angga Wacana merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Sukapura, tepatnya di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran pada masa pergeseran Hindu-Budha ke Islam.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui sejarah tersebut, karena tidak ditulis dalam buku kurikulum atau dalam  muatan lokal di sekolah-sekolah. Sejarah tersebut hanya dituangkan dalam sebuah buku Babad Cijulang yang merupakan buku kumpulan sejarah dan sebagai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) nya para karuhun masyarakat Cijulang.

Dalam buku Babad Cijulang, konon, dikisahkan nama Raden Angga Wacana yang pada waktu kecil bernama Naga Wacana, seiring dengan usianya menginjak dewasa juga dengan bekal ilmu agama semakin fasih, akhirnya oleh santri-santrinya ia dijuluki Raden Angga Wacana.

Salah seorang tokoh asal Cijulang Abah Kundil menuturkan, suatu hari Raden Angga Wacana mendapat kabar bahwa Kerajaan Cirebon mengadakan sayembara untuk para jawara se-Nusa Jawa. Dalam sayembara tersebut, dikisahkan, pemenang sayembara oleh Raja Cirebon akan diuji harus bisa meratakan Gunung Hata. Rencana Raja Cirebon meratakan gunung Hata tersebut  bertujuan untuk mendirikan sebuah mesjid agar penyebaran agama Islam di Kerajaan Cirebon pun bisa maksimal dan tersebar luas.

“Siapa saja yang berhasil meratakan gunung hata akan diberi hadiah salah seorang putri Raja Cirebon untuk dinikahi. “cerita Bah Kundil.

Dikisahkan juga, Raden Angga Wacana pun akhirnya berpamitan pada istrinya karena berniat hendak mengikuti sayembara tersebut. Setelah mendapat restu isterinya, Raden Angga Wacana pun berangkat dengan hanya dibekali satu bungkus nasi untuk bekal dalam perjalanannya.

“Setelah sampai dilokasi arena sayembara  Raden Angga Wacana tidak langsung masuk arena, tapi ia merangkai sisa serpihan kayu tatal untuk dijadikan fondasi dan rangka bangunan mesjid diluar arena sayembara,” tutur Abah Kundil.

Dengan ilmu dan kedigjayaan yang dimilikinya, akhirnya Raden Angga Wacana pun berhasil membuat fondasi dan rangka bangunan mesjid hanya dalam hitungan jam saja. Dan setelah rangka dan fondasi selesai dibuat, Raden Angga Wacana pun mulai meratakan Gunung Hata serta mulai meletakan rangka dengan fondasi mesjid yang sebelumnya dibuat .

“Ketika melihat kemampun yang dimiliki Raden Angga Wacana meratakan gunung Hata serta meletakan fondasi dan rangka mesjid dalam waktu singkat, Raja Cirebon pun kaget dan memberhentikan pertarungan yang diikuti para jawara tersebut,” lanjut Bah Kundil.

Melihat kesaktian Raden Angga Wacana yang sudah berhasil meratakan Gunung Hata serta membuat fondasi mesjid, akhirnya raja pun mengakui kesaktian serta keunggulan yang dimiliki  Raden Angga Wacana. Tapi karena seluruh peserta semua merasa paling unggul dan berhak mendapatkan hadiah putri raja, di tengah kebingunannya raja pun mengambil inisiatif untuk membuat burung dari janur kuning. Dan setelah jadi, burung dari janur kuning tersebut lalu diterbangkan hingga hinggap pada Raden Angga Wacana, akhirnya raja pun memutuska jika pemenangnya adalah Raden Angga Wacana.

“Raja Cirebon pun berkata, Raden Angga Wacana karena engkau berhasil meratakan gunung Hata dan telah menyiapkan rangka bangunan mesjid beserta pondasinya, maka engkau ber hak untuk menikahi putri kami,” Ujar Bah Kundil.

Tetapi dikarenakan Raden Angga Wacana telah mempunyai isteri, secara halus ia pun menolak untuk menikah dengan  putri Raja Cirebon dan memilih langsung pulang ke Sukapura. Tetapi karena Raja Cirebon merasa penasaran, akhirnya ia pun mengutus prajurit untuk menyusul Raden Angga Wacana dan tetap harus dinikahkan dengan putrinya.

Singkat cerita, setelah prajurit Kerajaan Cirebon berhasil menemukan Raden Angga Wacana, kemudian membujuk agar Raden Angga Wacana kembali ke Cirebon untuk menikah dengan  putri Raja, tapi Raden Angga Wacana tetap bersikeras tidak mau menikahinya hingga terjadilah perkelahian.

Dalam perkelahian tersebut, diceritakan seluruh prajurit Kerajaan Cirebon kalah. Dengan kesaktian yang dilmiliki Raden Angga Wacana, seluruh prajurit berubah menjadi patung  pada posisinya masing-masing dan hanya menyisakan satu orang yang tidak bisa dikalahkan, Kakak laki-laki putri Raja bernama Sembah Langkung.

“Dengan tutur kata lembah lembut, Sembah Langkung akhirnya berhasil membujuk Raden Angga Wacana agar mau menikahi adiknya. “lanut Bah Kundil.

Raden Angga Wacana bersedia menikahi putri raja Cirebon dengan satu syarat, sebagai simbol ia ingin pernikahannya dihias janur kuning.

Setelah Sembah Langkung berhasil menikahkan adiknya dengan Raden Angga Wacana, akhirnya seluruh peralatan yang dibawa prajurit Kerajaan Cirebon dikumpulkan dan disimpan di sebuah tempat yang kemudian tempat tersebut menjadi batu.

“Hingga saat ini, hiasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” pungkas Abah Kundil. (AGE)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN