UNTUK LEBIH MEREKATKAN SILATURAHMI, P4 PADAHERANG GELAR HALAL BIL HALAL

PADAHERANG-Mempertahan tali silaturahmi serta kebersamaan untuk tetap menjalin hubungan yang selama ini sudah berjalan harmonis, diharapkan tetap kondusif dan bisa dipertahankan.

Demikian disampaikan Kelapa Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran, Drs H.Habib, di hadapan para Pembantu Petugas Pencatat Perkawinan (P4) dalam acara halal bil halal di aula kantor KUA Padaherang.(25/6)

“Kepada para petugas P4 saya berharap dalam rangka melayani masyarakat agar lebih selektif dan mohon lebih ditingkatkan lagi, “ungkap Habib.

Habib juga berharap, dalam rangka terus menjalin silaturahmi diantara petugas P4, secara rutin minimal satu bulan sekali bisa berkumpul untuk saling bertukar pengalaman serta saling mengisi satu dengan lainnya.

“Bahkan kalau bisa diadakan arisan, karena itu akan lebih meningkatkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan diantara kita, “imbuhnya. (NANA HOERUMAN)

SMP ISLAM JATIWARAS RAIH PRESTASI UNTUK WUJUDKAN VISI SEKOLAH

TASIK NEWS-Dengan visi Terwujudnya Warga Sekolah yang Beriman Berbudi luhur, Berprestasi dan Mandiri, Sekolah Menengah Pertama ( SMP) Islam Jatiwaras bisa mengimplementasikan visi tersebut, setidaknya sudah dibuktikan dengan perolehan beberapa prestasi bergengsi tingkat Internasional yang diraih Diki dan Sefti dalam kejuaraan Pencak Silat Gubes Cup yang di gelar di Sentul, Bogor,  belum lama ini.

bukan hanya itu, beragam prestasi lainnya baik di bidang Olah raga mau pun Akademiknya menjadi kebanggan tersendiri bagi sekolah yang berlokasi di Dusun Sindangamis Desa/Kecamatan Jatiwaras.

Seperti diungkapkan Kepala SMP Islam Jatiwaras, Nendi Hendriansah, S.Pd, pada acara perpisahan kelas IX  yang digelar di halaman sekolah.( 22/6), prestasi yang sudah ditorehkan para siswa ini merupakan kebanggan bagi sekolah dan seluruh warga Jatiwaras.

Nendi menambahkan, visi sekolah utnuk mendidik anak sejak dini menjadi mandiri,  paling tidak sudah bisa dibuktikan dengan prestasi yang sudah ditraih beberapa siswa.

“Tim kesenian sekokah pun tidak jarang mendapat undangan pernikahan untuk prosesi upacara adat, “imbuhnya.

Karena sekolah ini merupakan ruang lingkup kesenian yang dipimpin langsung ketua Yayasan Assuryadin, Tatang Sutisna, S.Pd, maka, lanjut Nendi, anak didik pun diajarkan seni budaya sunda, sehingga hasil ketekunan berlatih pun bisa dibuktikan dirasakan langsung oleh masyarakat.

nendi juga mengatakan SMP Islam Jatiwaras berdiri Tahun 2010, ditahun ajaran 2018/2019, sekitar 60%  siswa/siswinya melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.

“Kami terus bertekad untuk ikut mencerdaskan anak-anak bangsa melalui pendidikan yang ada di sekolah kami. “imbuhnya. (RUSDIANTO)


TAMAN SAKURA JADI DESTINASI WISATA BARU CIPATUJAH

TASIK NEWS-Beriwisata tidak selalu harus ke tempat jauh dengan biaya mahal, pergi ke suatu tempat sederhana dengan ongkos murah asal bisa membuat senang baik dengan teman atau keluarga, itu juga bisa menjadi sarana pelepas kepenatan setelah disibukan dengan rutinitas sehari-hari.

Seperti pergi berwisata ke Taman Sakura di Desa Cipatujah Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, yang pada  awalnya memiliki nama bergtuin te Tjibodas, merupakan sebuah tempat aklimatisasi jenis-jenis tumbuhan yang berasal dari luar negeri yang pastinya memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu tumbuhan yang dianggap penting dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi adalah pohon kina.

Hingga saat ini keberadaan taman Sakura ini dianggap sebagai tempat atau Unikt Pelaksana Teknis (UPT) Balai Konversi Tumbuhan yang berada di bawah naungan Pusat Konversi Tumbuhan

Bukan hanya itu, taman yang kerap dikunjungi menjadi tempat wisata murah, taman ini juga ternyata dulunya merupakan bekas peninggalan penjajahan Belanda yang berdiri sekitar pada tahun 1850-an.

Menurut beberapa pegunjung yang pernah berkunjung kesini, tempatnya cukup sejuk dengan pohon-pohon rindang hingga bisa betah duduk berlama-lama atau makan-makan (botram) dengan hidangan yang dibawa dari rumah.

Taman yang sekarang dikelola Karangtaruna desa, bertujuan untuk membangun kreatifitas pemuda dalam pengembanganpotensi wisata yang ada di desa.

Seperti diungkapkan salah seorang pengurusnya, Mardi, dibuka wisata baru taman Sakura ini diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata di Kecamatan Cipatujah, sehingga arus kunjungan wisatawan pun akan lebih ramai lagi, apalagi saat musim liburan sekolah ini ternyata pengunjung untuk daang ke Taman Sakura ini sangat menggembirakan.

“Ke depannya karangtaruna kreatif  Cipatujah yang dupercaya menjadi pengelola taman akan membuat rumah pohon dan beberapa saung gazebo, “ungkap Mardi. (23/6)

(ANWAR W-JAJANG)

ADANG HADARI : "MASIH BANYAK YANG PERLU DITINGKATKAN DI PANGANDARAN"

CIJULANG-Wakil Bupati Pangandaran, H. Adang Hadari menegaskan, di Kabupaten Pangandaran ini masih banyak yang perlu ditingkatkan terutama komitmen terhadap objekfitas kepegawaian pemerintah daerah.
Hal itu ia sampaikan saat menghadiri acara silaturahmi Idul fitri 1440 H di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) kabupaten Pangandaran, yang dihadiri ketua MUI, para ketua ormas Islam dan pegawai di lingkup Kemenag.

 “Alhamdulillah kita hari ini berkumpul saling memaafkan setelah kita menjalani puasa ramadlan kemarin, dan kita masih merasakan kebahagiaan Idul Fitri ini, namun kita tidak boleh terlena karena masih banyak yang perlu kita tingkatkan,"ucapnya.(19/6)

Sementara Kepala Kemenag Kab. Pangandaran, Dr.  H.  Cece Hidayat MS. I, dalam sambutannya, selama  menjabat satu tahun tiga bulan di Kabupaten Pangandaran, bersyukur dapat berjalan lancar dan sukses serta berharap perjuangannya bisa terus maju terurama dalam pembinaan dan penyiaran agama.

"Atas nama Kemenag, saya juga mengucapkan terimakasih pada pemkab Pangandaran yang sudah menghibahkan tanah seluas dua hektare, bahkan kami sudah memproyeksikan ke depan pembangunan kantor Kemenag dengan megah, agar pelayanan terhadap masyarakat bisa lebih baik,"ungkapnya.

Potensi keagamaan, menurut Cece, memiliki posisi strategis dalam peningkatan kehidupan  agama di masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Dan semangat energi ramadhan yang baru saja berlalu sebaiknya bisa menjadi spirit untuk meningkatkan energi positif di masyarakat.

Cece menambahkan, ia tidak ingin ada keluhan dari masyarakat berkaitan dengan urusan kantor kementerian agama, dan diharapkan melalui silaturahmi ini bisa meningkatkan pembinaan pada  pemahaman yang tidak ekstrim dan radikal, dan khusus terkait potensi zakat yang belum dimaksimalkan ke depan bisa lebih dioptimalkan.

 “Dan alhamdulillah tahun ini masyarakat yang akan pergi menunaikan ibadah bertambah menjadi 444 orang," tambahnya. (HARIS F)

WARGA JATIWARAS KELUHKAN KONDISI JALAN YANG RUSAK PARAH

TASIK NEWS-Warga Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan di daerahnya yang rusak, akibatnya alur transportasi pun jadi tersendat.
Seperti diungkapkan salah seorang warga, Enjang, selama ini jalan tersebut hanya mendapat perbaikan “alakadarnya” dengan menambal sedikit demi sedikit.

“Malah kami warga berinisiatif urunan untuk membeli semen, karena kami memang peduli dan butuh, “ungkapnya.(18/6)

Enjang dan warga lainnya mendesak pemkab Tasikmalaya memberi perhatian dan segera memperbaikinya, sehingga laju transfortasi yang akan berdampak pada perekonomia pun bisa lancar.

“Saya juga kasihan melihat anak-anak sekolah yang melewati jalan itu harus ekstra hati-hati karena banyak batu tajam dankerikil. “imbuhnya. (ANWAR W-JAJANG)

KUNJUNGAN WISATAWAN LIBUR IDUL FITRI KE PANGANDARAN TAHUN INI ALAMI PENURUNAN

Menurut beberapa pelaku usaha wisata di Pangandaran, tingkat kunjungan wisatawan pada liburan hari raya Idul Fitri tahun ini terjadi penurunan jika dibanding liburan yang sama pada tahun lalu.
Beberapa pedagang atau usaha lainnya mengeluh, seperti diungkapkan seorang pengusaha wahana permainan air di pantai timur, Iwan, setelah terjadi sepi pengunjung pada musim libur tahun baru lalu karena ada dampak dari kejadian tsunami yang terjadi di selat sunda, ia berharap bisa terobati dengan datangnya libran Idul Fitri, tapi sayang kunjungan wisatawan kali ini ternyata menurun jika dibanding arus wisatawan lebaran tahun lalu.

“Mungkin karena masa liburan sekolah yang panjang sehingga wisatawan yang datang pun tidak sekaligus atau entah pengaruh lain, “ungkapnya.(15/6)

Iwan mengaku, penghasilan yang didapat dari usahanya selama liburan lebaran sekarang pun menurun hingga 20-30 %.

Hal senada dikatakan warga Desa Wonoharjo pemilik restoran yang menyajikan sea food di kawasan pantai barat, Edi (50), ia mengaku, omzet penjualan lebaran tahun ini memang ada penurunan jika dibandingkan tahun lalu.

Edi juga mengeluhkan, banyaknya pedagang sejenis dadakan yang menjual dagangannya dengan harga mahal, sehingga pengunjung pun memilih makanan lain.

“Mereka datang ke Pangandaran biasanya saat musim ramai saja, seperti libur lebaran dan tahun baru, “ungkapnya.

Edi berharap ada ketegasan pemerintah daerah agar bisa mentertibkan pedagang dadakan tersebut, sehingga pedagang tetap yang biasa jualan walau saat pangandaran sepi bisa merasakan marema ketika kunjungan wisatawan ke Pangandaran ramai.

Sementara saat dihubungi lewat telepon celullernya, Kepala Bagian Ekonomi Setda Pangandaran, Dadan Sugistha, ST, mengatakan, target pendapatan Penghasilan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tahun 2019, sebesar Rp. 28, 5 milyar, hingga pertengahan bulan juni ini sudah tecapai sekitar Rp.3.8 milyar (25,90%).

“Dengan estimasi jumlah kunjungan sebanyak 1,5 juta lebih wisatawan, “terangnya.

Dadan juga menyampaikan capaian PAD di masing-masing obyek wisata pada liburan lebaran tahun ini yang tercatat daritanggal 5 juni hingga 20 juni 2019, antara lain, Green Canyon, sebesar Rp.54.325 juta (10.865 wisatawan), Pantai Pangandaran, Rp.2.245 milyar (448.939 wisatawan), pantai Batukaras, Rp. 498.515 juta (99.703 wisatawan), pantai Karapyak, Rp. 166.732 juta (47.368 wisatawan) dan pantai Batuhiu, Rp. 145.395 juta (29.079 wisatawan) 

Insaalloh, mudah-mudahan target 5 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2019 ini tercapa. “ungkapnya. (PNews)


PEMKAB PANGANDARAN TAK SERIUS TANGANI LINGKUNGAN HIDUP ?

Beberapa kasus pencemaran limbah di beberapa tempat di Kabupaten Pangandaran, hingga saat ini masih menjadi keluhan beberapa warga yang kebetulan bermukim di sekitar wilayah terdampak.
Sebut saja pencemaran limbah yang dihasilkan beberapa hotel dan restoran yang mengalir ke pantai atau tercemarnya aliran sungai tonjong di Kecamatan Sidamulih yang diakibatkan dari pembuangan limbah PT Pecu membuat air sungai tersebut berwarna hitam dan berbau, pabrik pakan ayam di Kecamatan Cimerak hingga yang baru-baru ini diresahkan beberapa warga Kecamatan Mangunjaya karena di sekitar tempat tinggalnya tercemar bau menyengat akibat belum tertatanya sistim pembuangan serta pengelolaan limbah yang dihasilkan dari perusahaan penggemukan sapi.

Menurut seorang tokoh masyarakat Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih yang enggan ditulis identitasnya, seharusnya pemda hadir dan sigap mengatasi masalah ini. Karena pemerintah pun harus konsisten dengan slogan, melaksanakan pembangunan yang ramah lingkungan.

“Jika dibiarkan serta tidak segera ditangani, saya khawatir ke depan ini akan menjadi masalah serius, “ungkapnya.

Seharusnya sebagai kabupaten baru, katanya, pembangunan yang digalakan di semua sektor sejatinya harus berbanding lurus dengan pemahaman serta penerapan lingkungan yang ramah pula. Karena jika di sisi lain pembangunan terus berjalan sementara masalah lingkungan hidup terabaikan, jelas ini ketidakseimbangan ini akan melahirkan dampak buruk pada pembangunan daerah selanjutnya.

“Kita sudah punya pelajaran dari kejadian beberapa tahun lalu saat Pangandaran dicoret dari tujuan wisata karena saat itu memang keadaan pantainya kotor dan terkesan kumuh. “imbuhnya.

Ia juga menyayangkan karena di Pangandaran sendiri kurangnya para penggiat pencita alam yang meneriakan isyu pencemaran, karena seharusnya semua elemen sepakat jika lingkungan hidup yang sehat harus berbanding lurus dengan pembangunan yang sedang dilaksanakan pemda.

Saat diminta komentarnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidupdan Kebersihan Kabupaten Pangandaran, Surya Darma, SH. MH, mengatakan, sebenarnyania sudah menginstruksikan agar perusahaan selain harus mempunyai dokumen lingkungan hidup yang sipatnya administratif juga harus memiliki pengelolaan limbah secara fisik.

“Saya sudah mewajibkan kepada seluruh perusahaan yang ada di Pangandaran harus memiliki IPAL, “tegasnya.(17/6)

Seperti perusahaan hotel, menurut Surya, dari sekitar 300 hotel-hotel besar dan kelas melati  di Pangandaran hingga saat ini hanya 25 % saja yang sudah memiliki pengeloaan limbah secara baik. Padahal Dinas Lingkungan Hidup 1 minggu sekali memberikan sosialisasi (road show), tepatnya setiap rabu malam kamis dengan kuota 10 hotel per pertemuan. Tapi akhirnya pihak lingkunagn hidup keburu lelah, karena ternyata respon dari pengusaha hotel dan restoran sangat rendah.
“Setiap kali pertemuan mereka selalu mengatakan akan membuat pengelolaan limbahnya, tapi kenyataannya hingga sekarang baru 25 % nya saja, “imbuh Surya.

Surya menutukan, yang terjadi sekarang limbah tersebut meresap ke dalam tanah lalu diambil lagi dan dikonsumsi pengunjung, jelas itu kotor. Dan yang lebih parah lagi limbah itu dialirkan melalui gorong-gorong ke pantai, jelas itu akan bermasalah buruk karena sudah  melampaui baku mutu air laut.

“Padahal dalam masalah limbah, bupati sudah bersikap tegas bahkan sudah memerintahkan kami untuk dipidanakan, “kata Surya, sambil menyebutkan beberapa nama hotel besar yang sekarang belum mempunyai pengolahan limbah.

Sebenarnya untuk masalah limbah, kata Surya, Pemkab Pangandaran sudah mempersilahkan seluruh perusahaan menunjuk langsung konsultan limbahnya masing-masing sehingga tidak ada kesan interpensi pemerintah. Silahkan pihak perusahaan menunjuk konsultan yang bertanggungjawab, memenuhi standar dan murah.

Surya juga mengatakan, jika suatu saat terjadi masalah karena pencemaran semakin tinggi, kualitas air semakin rendah, dikhawatirkan ini akan menjadi persoalan besar sehingga berdampak pada lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.

“Perusahaan sebaiknya harus sadar dan bekerjasama dengan pemda dalam urusan lingkungan, agar masalah lingkungan hidup tetap bisa terjaga. “pungkasnya.
(ANTON-PNews

DTA BAITUTTAIBIN DAN WARGA CIDAHON DAMBAKAN BANGUNAN TEMPAT BELAJAR AGAMA

CIMERAK-Syiar islam wajib dilakukan setiap umat islam dan kegiatan tersebut bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah seperti mesjid, musola, madrasah, Majlis Tak’lim hingga di lingkunagn keluarga. Karena  orangtua mempunyai kewajiban memberi contoh-contoh ahlaq mulia yang bersumber dari agama, dan khususnya genderasi muda sejak usia dini sudah seharusnya dibiasakan menuntut ilmu agama. Seperti  yang dilakukan para siswa pendidikan dasar di salahsatu Madrasah Diniyah di Kecamatan Cimerak, paling selatan di Kabupaten Pangandaran.

Di Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA) Baituttaibin yang terletak di Dusun Cidahon Rt.21 Rw.06 Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak, yang dipimpin AA Rosidin, yang akrab disapa KangEnjang ini menjadi salah satu tempat pendidikan agama islam.

Menurut Kang Enjang,  DTA) Baituttaibin, sejak berdiri pada tangga 8 Maret 1995, sudah aktif memberikan pelajaran agama pada anak-anak khususnya yang tinggal di wilayahnya.
Dengan dibantu beberapa pengajar, antara lain, Ajengan Uhor Nasori,Ajengan Samino Jalaludin,Ahmad Jaenudin dan Ustazah Wartiem, kata Kang Enjang, pihaknya terus memberikan pengajaran agama agar para siswa tersebut punya bekal ilmu agama selain ilmu pengetahuan lainnya yang ia dapat di sekolah.

“Alhamdulillah, sekarang ada 36 anak yang belajar disini, “jelasnya.(14/6)

Jumlah santri dari tahun ke tahun pun, menurut Enjang, terus meningkat dan ini menandakan keberadaan DTA Baituttaibin sangat dibutuhkan masyarakat, walau sampai saat ini belum memiliki  ruang belajar tetap, sehingga proses belajar mengajar pun masih menumpang di Mesjid Baituttaibin yang masih dalam dusun.

Sebenarnya pihaknya, kata Enjang, sudah beberapa mengajukan proposal pada pemda untuk bisa memiliki tempat belajar sendiri.

“Kami kesulitan dan tidak mempunyai anggaran untuk membeli tanah dan memmbaut bangunan, “terangnya.

Padalah, lanjut Enjang, kegiatan belajar mengajar anak untuk menuntut ilmu agama mendapat dukungan dari pemerintahan desa dan masyarakat, sehingga untuk operasional para pengajar pun bisa terpenuhi.

Saat ini, lanjutnya, pihak DTA Baituttaibin dan masyarakat berharap bisa segera mempunyai tempat belajar agar kegiatan keagamaan khususnya anak-anaka bisa nyaman menimba ilmu agama.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan kami bersama ini bisa segera terwujud, “pungkasnya. (RASIMUN)

NGAMUMULE LEMBUR, MENGHAPUS MITOS KAMPUNG DUGREUP DESA CIKALONG

TASIK NEWS-Ada sebuah mitos yang sudah lama dipercaya dan melekat di masyarakat Kampung Dugreup Desa Cikalong Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya, barang siapa ada pejabat pemerintah atau ASN mulai dari camat, bupati hingga pejabat lainnya bahkan TNI dan Polri, datang ke Kampung  Dugreup, maka pejabat yang datang tersebut akan mendapat musibah atau kejadian naas akan menimpa pejabat tersebut, seperti dicopot dari jabatannya, turun pangkatnya, dimutasikan, sakit atau musibahlainnya. Dan cerita inig sering dipercaya serta menjadi pembicaraan di masyarakat khusus di Kecamatan Sodonghilir.

Untuk menghapus mitos tersebut, baru-baru ini Pemerintahan Desa Cikalong menggelar acara Ngamumule Lembur, yang dikemas dalam acara halal bihalal.

Saat diminta komentarnya, lewat telepon celullernya Kepala Desa Cikalong, Dedi herdiawan, menuturkan, di desanya terdapat sebuah peninggalan, makam Eyang Dalem Danu Wangsa.

Menurut Dedi, entah apa hubungannya dengan peninggalan tersebut, sehingga mitos tentang pejabat yang datang ke Kampung Dugreup akan mendapat musibah, sangat mengakar di masyarakat.

Untuk mematahkan dan menepis mitos tersebut, kata Dedi, pemerintahan desa bekerjasama dengan pemuda desa, sengaja menggelar acara ini, dengan harapan cerita yang selama ini lekat di masyarakat desa akan hilang.

“Dalam acara ini kami sengaja menghadirkan pejabat, mulai dari Wakil Gubernur Jawa Barat, H. UU Ruzhanul Ulum yang didampingi Wakapolres Tasikmalaya, unusur TNI, POLRI, para kepala desa dan perangkatnya serta pejabat lainnya, “kata Dedi.

Dedi mengatakan, mudah-mudahan dengan digelarnya acara ngamumule lembur  yang dikemas dengan kegiatan halal bihalal ini dapat membuka pintu masuk serta membuka sejarah baru di Desa Cikalong, sehingga ke depan para pejabat pun tidak ragu-ragu dan khawatir lagi untuk datang berkunjung kesini.

Atas nama pemerintahan desa dan seluruh warga, Dedi mengucapkan terimakasih karena warga nampaknya sangat antusias dan bangga melihat kehadiran para pejabat, dan tentunya ini diharapkan bisa menggali potensi, menjaga kearifan lokal, lingkungan serta menjadi motivasi untuk lebih maju.

Lebih jauh Dedi mengatakan, maksud dan tujuan dalam acara ini mendatangkan para pejabat, untuk membuktikan kekuatan iman dan akidah harus tetap lurus pada Alloh SWT, sehingga jangan sampai ada kepercayaan yang dapat mengakibatkan kemusrikan dengan mitos atau cerita yang sudah lama dipercaya warga, karena akan lebih penting jika menjadikan potensi wisata alam, budaya serta adat leluhur untuk digali ke arah kebaikan dan kemajuan.

“Meang tidak mudah untuk menghilangkan begitu saja kepercayaan yang sudah lama melekat di masyarakat, tapi apa pun yang ada di desa kami mudah-mudahan membawa  keberkahan dan kemajuan bagi seluruh warga."pungkasnya. (MAMAT R)

WISATA ALAM GUNUNG KEDOK SAJIKAN KEINDAHAN ALAM DAN UDARA SEGAR

TASIK NEWS- lagi tempat wisata yang ada di Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Cibatu Kecamatan Karangnunggal, Gunung Kedok. Di lokasi ini wisatawan dapat menikmati keindahan panorama alam, karena selain pemandangannya yang indah tempat ini juga berudara sejuk sehingga pengunjung pun akan merasakan nyaman dan betah.

Pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, baik remaja atau yang datang dengan keluarga dan kerabat. Di bukit yang dihubungkan dengan jembatan kayu pengunjung bisa, para wisatawan remaja kerap berswafoto (selfy) dengan latar belakang alam dengan hijaunya pohon-pohon.

Menurut seorang penungunjung, Leni, wisata ke Gunung Kedoksangat mengasyikan. Ia yang datang bersama keluarga berkesempatan juga menikmati nasi liwet sambil menikmati alam sekitar.

  “Menjelajahi Gunungkedok  merupakan salah satu aktivitas wisata alam yang menyenangkan, “ungkapnya. (8/6)

Apalagi, kata Leni, di alam terbuka ini bisa menyatukan diri dengan alam dan sang pencipta, sehingga sejenak bisa menenang jiwa dari rutinitas kesibukan sehari-hari.

“Disini juga bisa jadi tempat untuk merekatkan kembali hubungan baik dengan keluarga atau pun sahabat. “imbuhnya. (ANWAR W)

GELIAT PEMBANGUNAN DESA BOJONGKONDANG TINGKATKAN KESEJAHTERAAN WARGANYA

LANGKAPLANCAR–Dari tahun ke tahun Desa Bojongkondang Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran terus berbenah, dengan memfokuskan pembanguanan infrastruktur jalan dan lainnya yang erat kaitannya dengan kelangsungan perekonomian masyarakat desa yang mayoritas bermatapencarian sebagai petani.

Seperti diungkapkan Kepala Desa Bojongkondang,  Dayat, baik anggaran yang bersumber dari pusat, provinsi, kabupaten atau dari APBDes, peruntukannya diperioritaskan untuk infrastruktur.

"Pemerintahan desa dan warga sepakat untuk lebih meningkatkan taarap hidup petani, “ungkapnya.(12/6)

Dikatakan Dayat, dengan perbaikan jalan desa secara tidak langsung memberikan akses positif agar para petani bisa menjual hasil bumi secara cepat ke perkotaan, tanpa harus berlama lama karena terkendala jalan yang rusak.

Disamping infrastruktur jalan, kata Dayat, saat ini pihaknya sedang mengusahakan ke pemda agar segera terpasang PJU (Penerangan Jalan Umum), karena sampai saat ini di hampir semua jalanan baik jalan kabupaten atau jalan desa masih gelap bila malam tiba.

"Dengan rekan-rekan kepala desa yang ada di Kecamatan Langkaplancar, kami terus  berkomonikasi baik ke pemkab atau pun ke pihak PLN agar keinginan warga terkait PJU segera yterwujud. “kata Dayat. (AGE)

SK ALIH FUNGSI PANTAI PASIR PUTIH MENJADI TW MASIH TERKENDALA DI TINGAT PUSAT

PANGANDARAN-Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata pantai Pangandaran tahu keindahan pantai pasir di pantai barat, tepatnya di kawasan Cagar Alam Pananjung. Tapi mungkin tidak semua tahu, jika kawasan tersebut ternyata bukan lokasi wisata yang bisa bebas dipergunakan wisatawan, karena pasir putih hingga saat ini merupakan cagar laut yang di dalamnya dihuni aneka jenis biota laut, terumbu karang dan lainnya yang kesemuanya perlu pelestarian dari seluruh masyarakat.

Tapi disadari atau tidak, ternyata hingga sekarang kawasan pasir putih tersebut justru sudah menjadi ikon destinasi wisata Pangandaran, yang hampir setiap akhir pekan atau musim libur selalu diserbu pengunjung yang mau tidak mau dapat menggangu kelestarian kekayaan yang ada di dalamnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Tasikmalaya, Didin Saepudin, membenarkan jika wisatawan yang datang ke pasir putih sudah tidak bisa dicegah lagi, karena memang keindahan pasirnya yang putih, air laut yang  jernih serta pemandangan bawah dasar laut dengan aneka hayati yang indah, telah membuat wisatawan  penasaran jika tidak mengunjunginya.

“Jelas petugas di lapangan pun kewalahan melarang pengunjung pergi kesana, karena memang pasir putih bukan taman wisata. “ungkapnya.(11/6)

Didin yang ditemui di kantor BBKSDA Resort Pangandaran, menambahkan, sebenarnya alih fungsi kawasan tersebut dari cagar laut ke taman wisata (TW) hingga saat ini sedang dalam proses di tingkat pusat, namun hingga sekarang Surat Kepetusan (SK) alih fungsi itu belum turun.

Hasil komunikasi antara Pemkab Pangandaran dan Pemprov Jabar, kata Didin, sebenarnya dari dulu sudah sampai ke BBKSDA pusat. Dan nanti setelah dilakukan kajian, tim dari pusat pun akan datang ke Pangandaran untuk melakukan uji lapangan, dan setelah nanti tidak ada kendala apa-apa lagi, maka SK alih fungsi pasir putih menjadi taman wisata pun segera turun.

“Sebenarnya tim dari pusat tahun kemarin akan datang ke Pangandaran untuk melakukan kajian, tapi karena ada kesibukan urusan kamojang di Kabupaten Garut, hingga saat ini SK alih fungsi pasir putih masih tertunda, “jelasnya. (PNews)
 

DIKEPUNG TOKO MODERN NASIB PASAR TRADISIONAL KINI TERSISIHKAN

Entah disengaja atau tidak, hampir seluruh keberadaan toko modern atau toko berjaringan lokasinya ada di sekitar pasar tradisonal, baik itu yang ada di desa atau di ibu kota kecamatan. Padahal jelas-jelas ini akan berdampak kurang sehat pada kegiatan ekonomi pasar tradisional yang nota bene selama ini menjadi tempat bertemunya antara masyarakat (pembeli) dengan para pedagang penghuni pasar tersebut.

Dikhawatirkan dengan tidak diaturnya zonasi pendirian toko-toko modern yang sekarang semakin menjamur, cerita tentang pasar tradisional pun akan semakin terlupakan, jika tidak mau dikatakan hilang. Dan sudah seharusnya pemerintah pun hadir mengatur ini, agar keberadaan pasar tradisonal  dengan sejuta ceritanya dapat terus ada dan mampu tetap bertahan hidup.

Atau mungkin saja ini tuntutan jaman, dimana masyarakat sekarang lebih memilih belanja ditoko modern dengan segala fasilitas kenyamanan berbelanja ketimbang harus berdesakan-desakan dengan arma keringat dan jauh dari suasana nyaman.

Menurut Kabag Hukum Setda Pangandaran, Jajat Spriadi, SH, M.Si, sebenarnya sudah ada aturan yang mengatur zonasi pendirian toko modern, baik jarak atau aturan lainnya.

Dan sebenarnya, kata Jajat, toko modern tersebut bisa saja lokasinya berdekatan dengan pasar modern setelah mendapat ijin dan tidak adanya keberatan dari warga pasar tradisonal.

“Seperti yang saya ketahui, beberapa pasar yang kebetulan berlokasi dekat pasar tradional waktu itu bisa dibangun setelah ada pernyataan tidak keberadaan dari seluruh pedagang di pasar tradisional, “kata Jajat, lewat telepon celulernya.(12/6)

Sementara menurut Kepala Dinas Koperasi UMKM Dan Perdagangan, Drs. Tedi Garnida, MM, secara umum mengatakan, mekanisme untuk mendirikan sebuah toko modern sudah di atur pada Peraturan Daerah (perda) yang baru tahun 2018.

“Yang dilakukan sekarang terkait pendirian toko modern, kami hanya mengacu pada perda tersebut, seperti jarak dari pasar tradisiona harus minimal 300 meter dan seterusnya, “terang Tedi.(12/6)

Hasil kajian dari Unpad Bandung, kata Tedi, hingga sekarang kuota yang tersisa untuk pendirian toko modern di Kabupaten Pangandaran hanya tersisa 8 unit, dan itu pun harus ijin langsung bupati setelah melalui kajian akademisi.

“Jadi harus dikaji dulu dampak ekonomi daerah sekitar, lalu diajukan ke bupati, “jelasnya. (PNews)

UNTUK PELESTARIAN SEJARAH SUKAPURA, MAKAM RADEN INDRATARUNA DI LEUWILEUNGSIR SEGERA AKAN DITATA

TASIK NEWS-Penyematan nama Sukakerta yang diabadikan di sebuah desa di Kecamatan Jatiwaras, sejatinya untuk mengajak para keturunan (rundayan) agar belajar membaca dari jejak-jejak yang ditinggalkan  sejarah Sukapura.

Di desa inilah lembaran sejarah dan bukti bukti peninggalan banyak tersebar, baik yang melekat pada daerah atau berupa situs makam menjadi bukti keberadaan sejarah Sukapura, yang ikut andil menorehkan tintanya selama perjalanannnya dalam pembentukan Kabupaten Tasikmalaya.

Namun ironisnya, kebesaran sejarah Sukapura ini tidak diimbangi dengan pemeliharaan seluruh peninggalannya. Banyak makam-makam sejarah Sukapura yang keberadaanya kurang mendapat perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah, salah satunya makam Raden Indrataruna di Leuwileungsir Kampung Patahunan. Kondisi makam tersebut  dibiarkan merana hingga menumbuhkan rasa keprihatinan sekaligus kepedulian di hati para keturunanannya.

Kini di lokasi makam Bendahara Kabupatian Sukapura tempo dulu sudah mulai ditata, bahkan organisasi masyarakat  (ormas) Gasibu Macan Putih pun ikut terjun langsung menyelamatkan saksi bisu sejarah Sukapura.

Ketua Gasibu Macan Putih, Rolies Siregar, mengatakan, dalam waktu dekat ini rencananya akan membentuk kepanitiaan pemeliharaan makam sejarah Leuwileungsir.

Rencana penataan dan pemeliharaan di lokasi makam  Raden Indrataruna, kata Rolies,  sudah di komunikasikan dengan Apdesi Jatiwaras dan mendapat dukungan penuh dari kepala desa di Kecamatan Jatiwaras.

“Insaaloh dalam waktu dekat ini kegiatan akan segera dilaksanakan, “ungkap Rolies.(8/6)

Dihubungi lewat telepon celullernya, salah satu keturunan Raden Indrataruna, Ayi Juansah, mengatakan, ia  sangat mengapresiasi kepedulian dari Ormas Gasibu Macan Putih dan beberapa kepala desa yang siap mendukung rencana penyelamatan aset sejarah ini.

“Penataan di lokasi makam sudah dimulai sejak lama, setahap demi setahap dengan uang hasil dari sumbangan dan kencleng," paparnya.

Ayi mengatakan, pemeliharaan dan penataan di seputar lokasi makam putra dari  Bupati Sukapura ke - 3, Raden Anggadipa (Dalem Sawidak) yang dimakamkan di Baganjing Desa Janggala Kecamatan Sukaraja diperkirakan membutuhkan anggaran yang besar.

Karena lokasi makam tersebut terletak di dataran miring, kata Ayi, sehingga diperlukan anggaran besar untuk pembuatan benteng.

“Mudah-mudahan kedepannya bisa segera terealisasi,"pungkas gan Ayi panggilan akrabnya.

(RUSDIANTO)


 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN