WARGA JATIWARAS KELUHKAN KONDISI JALAN YANG RUSAK PARAH

TASIK NEWS-Warga Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan di daerahnya yang rusak, akibatnya alur transportasi pun jadi tersendat.
Seperti diungkapkan salah seorang warga, Enjang, selama ini jalan tersebut hanya mendapat perbaikan “alakadarnya” dengan menambal sedikit demi sedikit.

“Malah kami warga berinisiatif urunan untuk membeli semen, karena kami memang peduli dan butuh, “ungkapnya.(18/6)

Enjang dan warga lainnya mendesak pemkab Tasikmalaya memberi perhatian dan segera memperbaikinya, sehingga laju transfortasi yang akan berdampak pada perekonomia pun bisa lancar.

“Saya juga kasihan melihat anak-anak sekolah yang melewati jalan itu harus ekstra hati-hati karena banyak batu tajam dankerikil. “imbuhnya. (ANWAR W-JAJANG)

KUNJUNGAN WISATAWAN LIBUR IDUL FITRI KE PANGANDARAN TAHUN INI ALAMI PENURUNAN

Menurut beberapa pelaku usaha wisata di Pangandaran, tingkat kunjungan wisatawan pada liburan hari raya Idul Fitri tahun ini terjadi penurunan jika dibanding liburan yang sama pada tahun lalu.
Beberapa pedagang atau usaha lainnya mengeluh, seperti diungkapkan seorang pengusaha wahana permainan air di pantai timur, Iwan, setelah terjadi sepi pengunjung pada musim libur tahun baru lalu karena ada dampak dari kejadian tsunami yang terjadi di selat sunda, ia berharap bisa terobati dengan datangnya libran Idul Fitri, tapi sayang kunjungan wisatawan kali ini ternyata menurun jika dibanding arus wisatawan lebaran tahun lalu.

“Mungkin karena masa liburan sekolah yang panjang sehingga wisatawan yang datang pun tidak sekaligus atau entah pengaruh lain, “ungkapnya.(15/6)

Iwan mengaku, penghasilan yang didapat dari usahanya selama liburan lebaran sekarang pun menurun hingga 20-30 %.

Hal senada dikatakan warga Desa Wonoharjo pemilik restoran yang menyajikan sea food di kawasan pantai barat, Edi (50), ia mengaku, omzet penjualan lebaran tahun ini memang ada penurunan jika dibandingkan tahun lalu.

Edi juga mengeluhkan, banyaknya pedagang sejenis dadakan yang menjual dagangannya dengan harga mahal, sehingga pengunjung pun memilih makanan lain.

“Mereka datang ke Pangandaran biasanya saat musim ramai saja, seperti libur lebaran dan tahun baru, “ungkapnya.

Edi berharap ada ketegasan pemerintah daerah agar bisa mentertibkan pedagang dadakan tersebut, sehingga pedagang tetap yang biasa jualan walau saat pangandaran sepi bisa merasakan marema ketika kunjungan wisatawan ke Pangandaran ramai.

Sementara saat dihubungi lewat telepon celullernya, Kepala Bagian Ekonomi Setda Pangandaran, Dadan Sugistha, ST, mengatakan, target pendapatan Penghasilan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata tahun 2019, sebesar Rp. 28, 5 milyar, hingga pertengahan bulan juni ini sudah tecapai sekitar Rp.3.8 milyar (25,90%).

“Dengan estimasi jumlah kunjungan sebanyak 1,5 juta lebih wisatawan, “terangnya.

Dadan juga menyampaikan capaian PAD di masing-masing obyek wisata pada liburan lebaran tahun ini yang tercatat daritanggal 5 juni hingga 20 juni 2019, antara lain, Green Canyon, sebesar Rp.54.325 juta (10.865 wisatawan), Pantai Pangandaran, Rp.2.245 milyar (448.939 wisatawan), pantai Batukaras, Rp. 498.515 juta (99.703 wisatawan), pantai Karapyak, Rp. 166.732 juta (47.368 wisatawan) dan pantai Batuhiu, Rp. 145.395 juta (29.079 wisatawan) 

Insaalloh, mudah-mudahan target 5 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2019 ini tercapa. “ungkapnya. (PNews)


PEMKAB PANGANDARAN TAK SERIUS TANGANI LINGKUNGAN HIDUP ?

Beberapa kasus pencemaran limbah di beberapa tempat di Kabupaten Pangandaran, hingga saat ini masih menjadi keluhan beberapa warga yang kebetulan bermukim di sekitar wilayah terdampak.
Sebut saja pencemaran limbah yang dihasilkan beberapa hotel dan restoran yang mengalir ke pantai atau tercemarnya aliran sungai tonjong di Kecamatan Sidamulih yang diakibatkan dari pembuangan limbah PT Pecu membuat air sungai tersebut berwarna hitam dan berbau, pabrik pakan ayam di Kecamatan Cimerak hingga yang baru-baru ini diresahkan beberapa warga Kecamatan Mangunjaya karena di sekitar tempat tinggalnya tercemar bau menyengat akibat belum tertatanya sistim pembuangan serta pengelolaan limbah yang dihasilkan dari perusahaan penggemukan sapi.

Menurut seorang tokoh masyarakat Desa Cikembulan Kecamatan Sidamulih yang enggan ditulis identitasnya, seharusnya pemda hadir dan sigap mengatasi masalah ini. Karena pemerintah pun harus konsisten dengan slogan, melaksanakan pembangunan yang ramah lingkungan.

“Jika dibiarkan serta tidak segera ditangani, saya khawatir ke depan ini akan menjadi masalah serius, “ungkapnya.

Seharusnya sebagai kabupaten baru, katanya, pembangunan yang digalakan di semua sektor sejatinya harus berbanding lurus dengan pemahaman serta penerapan lingkungan yang ramah pula. Karena jika di sisi lain pembangunan terus berjalan sementara masalah lingkungan hidup terabaikan, jelas ini ketidakseimbangan ini akan melahirkan dampak buruk pada pembangunan daerah selanjutnya.

“Kita sudah punya pelajaran dari kejadian beberapa tahun lalu saat Pangandaran dicoret dari tujuan wisata karena saat itu memang keadaan pantainya kotor dan terkesan kumuh. “imbuhnya.

Ia juga menyayangkan karena di Pangandaran sendiri kurangnya para penggiat pencita alam yang meneriakan isyu pencemaran, karena seharusnya semua elemen sepakat jika lingkungan hidup yang sehat harus berbanding lurus dengan pembangunan yang sedang dilaksanakan pemda.

Saat diminta komentarnya, Kepala Dinas Lingkungan Hidupdan Kebersihan Kabupaten Pangandaran, Surya Darma, SH. MH, mengatakan, sebenarnyania sudah menginstruksikan agar perusahaan selain harus mempunyai dokumen lingkungan hidup yang sipatnya administratif juga harus memiliki pengelolaan limbah secara fisik.

“Saya sudah mewajibkan kepada seluruh perusahaan yang ada di Pangandaran harus memiliki IPAL, “tegasnya.(17/6)

Seperti perusahaan hotel, menurut Surya, dari sekitar 300 hotel-hotel besar dan kelas melati  di Pangandaran hingga saat ini hanya 25 % saja yang sudah memiliki pengeloaan limbah secara baik. Padahal Dinas Lingkungan Hidup 1 minggu sekali memberikan sosialisasi (road show), tepatnya setiap rabu malam kamis dengan kuota 10 hotel per pertemuan. Tapi akhirnya pihak lingkunagn hidup keburu lelah, karena ternyata respon dari pengusaha hotel dan restoran sangat rendah.
“Setiap kali pertemuan mereka selalu mengatakan akan membuat pengelolaan limbahnya, tapi kenyataannya hingga sekarang baru 25 % nya saja, “imbuh Surya.

Surya menutukan, yang terjadi sekarang limbah tersebut meresap ke dalam tanah lalu diambil lagi dan dikonsumsi pengunjung, jelas itu kotor. Dan yang lebih parah lagi limbah itu dialirkan melalui gorong-gorong ke pantai, jelas itu akan bermasalah buruk karena sudah  melampaui baku mutu air laut.

“Padahal dalam masalah limbah, bupati sudah bersikap tegas bahkan sudah memerintahkan kami untuk dipidanakan, “kata Surya, sambil menyebutkan beberapa nama hotel besar yang sekarang belum mempunyai pengolahan limbah.

Sebenarnya untuk masalah limbah, kata Surya, Pemkab Pangandaran sudah mempersilahkan seluruh perusahaan menunjuk langsung konsultan limbahnya masing-masing sehingga tidak ada kesan interpensi pemerintah. Silahkan pihak perusahaan menunjuk konsultan yang bertanggungjawab, memenuhi standar dan murah.

Surya juga mengatakan, jika suatu saat terjadi masalah karena pencemaran semakin tinggi, kualitas air semakin rendah, dikhawatirkan ini akan menjadi persoalan besar sehingga berdampak pada lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat.

“Perusahaan sebaiknya harus sadar dan bekerjasama dengan pemda dalam urusan lingkungan, agar masalah lingkungan hidup tetap bisa terjaga. “pungkasnya.
(ANTON-PNews

DTA BAITUTTAIBIN DAN WARGA CIDAHON DAMBAKAN BANGUNAN TEMPAT BELAJAR AGAMA

CIMERAK-Syiar islam wajib dilakukan setiap umat islam dan kegiatan tersebut bisa dilakukan di tempat-tempat ibadah seperti mesjid, musola, madrasah, Majlis Tak’lim hingga di lingkunagn keluarga. Karena  orangtua mempunyai kewajiban memberi contoh-contoh ahlaq mulia yang bersumber dari agama, dan khususnya genderasi muda sejak usia dini sudah seharusnya dibiasakan menuntut ilmu agama. Seperti  yang dilakukan para siswa pendidikan dasar di salahsatu Madrasah Diniyah di Kecamatan Cimerak, paling selatan di Kabupaten Pangandaran.

Di Diniyah Takmiliyah Awwaliyah (DTA) Baituttaibin yang terletak di Dusun Cidahon Rt.21 Rw.06 Desa Kertamukti Kecamatan Cimerak, yang dipimpin AA Rosidin, yang akrab disapa KangEnjang ini menjadi salah satu tempat pendidikan agama islam.

Menurut Kang Enjang,  DTA) Baituttaibin, sejak berdiri pada tangga 8 Maret 1995, sudah aktif memberikan pelajaran agama pada anak-anak khususnya yang tinggal di wilayahnya.
Dengan dibantu beberapa pengajar, antara lain, Ajengan Uhor Nasori,Ajengan Samino Jalaludin,Ahmad Jaenudin dan Ustazah Wartiem, kata Kang Enjang, pihaknya terus memberikan pengajaran agama agar para siswa tersebut punya bekal ilmu agama selain ilmu pengetahuan lainnya yang ia dapat di sekolah.

“Alhamdulillah, sekarang ada 36 anak yang belajar disini, “jelasnya.(14/6)

Jumlah santri dari tahun ke tahun pun, menurut Enjang, terus meningkat dan ini menandakan keberadaan DTA Baituttaibin sangat dibutuhkan masyarakat, walau sampai saat ini belum memiliki  ruang belajar tetap, sehingga proses belajar mengajar pun masih menumpang di Mesjid Baituttaibin yang masih dalam dusun.

Sebenarnya pihaknya, kata Enjang, sudah beberapa mengajukan proposal pada pemda untuk bisa memiliki tempat belajar sendiri.

“Kami kesulitan dan tidak mempunyai anggaran untuk membeli tanah dan memmbaut bangunan, “terangnya.

Padalah, lanjut Enjang, kegiatan belajar mengajar anak untuk menuntut ilmu agama mendapat dukungan dari pemerintahan desa dan masyarakat, sehingga untuk operasional para pengajar pun bisa terpenuhi.

Saat ini, lanjutnya, pihak DTA Baituttaibin dan masyarakat berharap bisa segera mempunyai tempat belajar agar kegiatan keagamaan khususnya anak-anaka bisa nyaman menimba ilmu agama.

“Mudah-mudahan apa yang menjadi harapan kami bersama ini bisa segera terwujud, “pungkasnya. (RASIMUN)

NGAMUMULE LEMBUR, MENGHAPUS MITOS KAMPUNG DUGREUP DESA CIKALONG

TASIK NEWS-Ada sebuah mitos yang sudah lama dipercaya dan melekat di masyarakat Kampung Dugreup Desa Cikalong Kecamatan Sodonghilir Kabupaten Tasikmalaya, barang siapa ada pejabat pemerintah atau ASN mulai dari camat, bupati hingga pejabat lainnya bahkan TNI dan Polri, datang ke Kampung  Dugreup, maka pejabat yang datang tersebut akan mendapat musibah atau kejadian naas akan menimpa pejabat tersebut, seperti dicopot dari jabatannya, turun pangkatnya, dimutasikan, sakit atau musibahlainnya. Dan cerita inig sering dipercaya serta menjadi pembicaraan di masyarakat khusus di Kecamatan Sodonghilir.

Untuk menghapus mitos tersebut, baru-baru ini Pemerintahan Desa Cikalong menggelar acara Ngamumule Lembur, yang dikemas dalam acara halal bihalal.

Saat diminta komentarnya, lewat telepon celullernya Kepala Desa Cikalong, Dedi herdiawan, menuturkan, di desanya terdapat sebuah peninggalan, makam Eyang Dalem Danu Wangsa.

Menurut Dedi, entah apa hubungannya dengan peninggalan tersebut, sehingga mitos tentang pejabat yang datang ke Kampung Dugreup akan mendapat musibah, sangat mengakar di masyarakat.

Untuk mematahkan dan menepis mitos tersebut, kata Dedi, pemerintahan desa bekerjasama dengan pemuda desa, sengaja menggelar acara ini, dengan harapan cerita yang selama ini lekat di masyarakat desa akan hilang.

“Dalam acara ini kami sengaja menghadirkan pejabat, mulai dari Wakil Gubernur Jawa Barat, H. UU Ruzhanul Ulum yang didampingi Wakapolres Tasikmalaya, unusur TNI, POLRI, para kepala desa dan perangkatnya serta pejabat lainnya, “kata Dedi.

Dedi mengatakan, mudah-mudahan dengan digelarnya acara ngamumule lembur  yang dikemas dengan kegiatan halal bihalal ini dapat membuka pintu masuk serta membuka sejarah baru di Desa Cikalong, sehingga ke depan para pejabat pun tidak ragu-ragu dan khawatir lagi untuk datang berkunjung kesini.

Atas nama pemerintahan desa dan seluruh warga, Dedi mengucapkan terimakasih karena warga nampaknya sangat antusias dan bangga melihat kehadiran para pejabat, dan tentunya ini diharapkan bisa menggali potensi, menjaga kearifan lokal, lingkungan serta menjadi motivasi untuk lebih maju.

Lebih jauh Dedi mengatakan, maksud dan tujuan dalam acara ini mendatangkan para pejabat, untuk membuktikan kekuatan iman dan akidah harus tetap lurus pada Alloh SWT, sehingga jangan sampai ada kepercayaan yang dapat mengakibatkan kemusrikan dengan mitos atau cerita yang sudah lama dipercaya warga, karena akan lebih penting jika menjadikan potensi wisata alam, budaya serta adat leluhur untuk digali ke arah kebaikan dan kemajuan.

“Meang tidak mudah untuk menghilangkan begitu saja kepercayaan yang sudah lama melekat di masyarakat, tapi apa pun yang ada di desa kami mudah-mudahan membawa  keberkahan dan kemajuan bagi seluruh warga."pungkasnya. (MAMAT R)

WISATA ALAM GUNUNG KEDOK SAJIKAN KEINDAHAN ALAM DAN UDARA SEGAR

TASIK NEWS- lagi tempat wisata yang ada di Kabupaten Tasikmalaya, tepatnya di Desa Cibatu Kecamatan Karangnunggal, Gunung Kedok. Di lokasi ini wisatawan dapat menikmati keindahan panorama alam, karena selain pemandangannya yang indah tempat ini juga berudara sejuk sehingga pengunjung pun akan merasakan nyaman dan betah.

Pengunjung yang datang dari berbagai kalangan, baik remaja atau yang datang dengan keluarga dan kerabat. Di bukit yang dihubungkan dengan jembatan kayu pengunjung bisa, para wisatawan remaja kerap berswafoto (selfy) dengan latar belakang alam dengan hijaunya pohon-pohon.

Menurut seorang penungunjung, Leni, wisata ke Gunung Kedoksangat mengasyikan. Ia yang datang bersama keluarga berkesempatan juga menikmati nasi liwet sambil menikmati alam sekitar.

  “Menjelajahi Gunungkedok  merupakan salah satu aktivitas wisata alam yang menyenangkan, “ungkapnya. (8/6)

Apalagi, kata Leni, di alam terbuka ini bisa menyatukan diri dengan alam dan sang pencipta, sehingga sejenak bisa menenang jiwa dari rutinitas kesibukan sehari-hari.

“Disini juga bisa jadi tempat untuk merekatkan kembali hubungan baik dengan keluarga atau pun sahabat. “imbuhnya. (ANWAR W)

GELIAT PEMBANGUNAN DESA BOJONGKONDANG TINGKATKAN KESEJAHTERAAN WARGANYA

LANGKAPLANCAR–Dari tahun ke tahun Desa Bojongkondang Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Pangandaran terus berbenah, dengan memfokuskan pembanguanan infrastruktur jalan dan lainnya yang erat kaitannya dengan kelangsungan perekonomian masyarakat desa yang mayoritas bermatapencarian sebagai petani.

Seperti diungkapkan Kepala Desa Bojongkondang,  Dayat, baik anggaran yang bersumber dari pusat, provinsi, kabupaten atau dari APBDes, peruntukannya diperioritaskan untuk infrastruktur.

"Pemerintahan desa dan warga sepakat untuk lebih meningkatkan taarap hidup petani, “ungkapnya.(12/6)

Dikatakan Dayat, dengan perbaikan jalan desa secara tidak langsung memberikan akses positif agar para petani bisa menjual hasil bumi secara cepat ke perkotaan, tanpa harus berlama lama karena terkendala jalan yang rusak.

Disamping infrastruktur jalan, kata Dayat, saat ini pihaknya sedang mengusahakan ke pemda agar segera terpasang PJU (Penerangan Jalan Umum), karena sampai saat ini di hampir semua jalanan baik jalan kabupaten atau jalan desa masih gelap bila malam tiba.

"Dengan rekan-rekan kepala desa yang ada di Kecamatan Langkaplancar, kami terus  berkomonikasi baik ke pemkab atau pun ke pihak PLN agar keinginan warga terkait PJU segera yterwujud. “kata Dayat. (AGE)

SK ALIH FUNGSI PANTAI PASIR PUTIH MENJADI TW MASIH TERKENDALA DI TINGAT PUSAT

PANGANDARAN-Hampir semua wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata pantai Pangandaran tahu keindahan pantai pasir di pantai barat, tepatnya di kawasan Cagar Alam Pananjung. Tapi mungkin tidak semua tahu, jika kawasan tersebut ternyata bukan lokasi wisata yang bisa bebas dipergunakan wisatawan, karena pasir putih hingga saat ini merupakan cagar laut yang di dalamnya dihuni aneka jenis biota laut, terumbu karang dan lainnya yang kesemuanya perlu pelestarian dari seluruh masyarakat.

Tapi disadari atau tidak, ternyata hingga sekarang kawasan pasir putih tersebut justru sudah menjadi ikon destinasi wisata Pangandaran, yang hampir setiap akhir pekan atau musim libur selalu diserbu pengunjung yang mau tidak mau dapat menggangu kelestarian kekayaan yang ada di dalamnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI BBKSDA Tasikmalaya, Didin Saepudin, membenarkan jika wisatawan yang datang ke pasir putih sudah tidak bisa dicegah lagi, karena memang keindahan pasirnya yang putih, air laut yang  jernih serta pemandangan bawah dasar laut dengan aneka hayati yang indah, telah membuat wisatawan  penasaran jika tidak mengunjunginya.

“Jelas petugas di lapangan pun kewalahan melarang pengunjung pergi kesana, karena memang pasir putih bukan taman wisata. “ungkapnya.(11/6)

Didin yang ditemui di kantor BBKSDA Resort Pangandaran, menambahkan, sebenarnya alih fungsi kawasan tersebut dari cagar laut ke taman wisata (TW) hingga saat ini sedang dalam proses di tingkat pusat, namun hingga sekarang Surat Kepetusan (SK) alih fungsi itu belum turun.

Hasil komunikasi antara Pemkab Pangandaran dan Pemprov Jabar, kata Didin, sebenarnya dari dulu sudah sampai ke BBKSDA pusat. Dan nanti setelah dilakukan kajian, tim dari pusat pun akan datang ke Pangandaran untuk melakukan uji lapangan, dan setelah nanti tidak ada kendala apa-apa lagi, maka SK alih fungsi pasir putih menjadi taman wisata pun segera turun.

“Sebenarnya tim dari pusat tahun kemarin akan datang ke Pangandaran untuk melakukan kajian, tapi karena ada kesibukan urusan kamojang di Kabupaten Garut, hingga saat ini SK alih fungsi pasir putih masih tertunda, “jelasnya. (PNews)
 

DIKEPUNG TOKO MODERN NASIB PASAR TRADISIONAL KINI TERSISIHKAN

Entah disengaja atau tidak, hampir seluruh keberadaan toko modern atau toko berjaringan lokasinya ada di sekitar pasar tradisonal, baik itu yang ada di desa atau di ibu kota kecamatan. Padahal jelas-jelas ini akan berdampak kurang sehat pada kegiatan ekonomi pasar tradisional yang nota bene selama ini menjadi tempat bertemunya antara masyarakat (pembeli) dengan para pedagang penghuni pasar tersebut.

Dikhawatirkan dengan tidak diaturnya zonasi pendirian toko-toko modern yang sekarang semakin menjamur, cerita tentang pasar tradisional pun akan semakin terlupakan, jika tidak mau dikatakan hilang. Dan sudah seharusnya pemerintah pun hadir mengatur ini, agar keberadaan pasar tradisonal  dengan sejuta ceritanya dapat terus ada dan mampu tetap bertahan hidup.

Atau mungkin saja ini tuntutan jaman, dimana masyarakat sekarang lebih memilih belanja ditoko modern dengan segala fasilitas kenyamanan berbelanja ketimbang harus berdesakan-desakan dengan arma keringat dan jauh dari suasana nyaman.

Menurut Kabag Hukum Setda Pangandaran, Jajat Spriadi, SH, M.Si, sebenarnya sudah ada aturan yang mengatur zonasi pendirian toko modern, baik jarak atau aturan lainnya.

Dan sebenarnya, kata Jajat, toko modern tersebut bisa saja lokasinya berdekatan dengan pasar modern setelah mendapat ijin dan tidak adanya keberatan dari warga pasar tradisonal.

“Seperti yang saya ketahui, beberapa pasar yang kebetulan berlokasi dekat pasar tradional waktu itu bisa dibangun setelah ada pernyataan tidak keberadaan dari seluruh pedagang di pasar tradisional, “kata Jajat, lewat telepon celulernya.(12/6)

Sementara menurut Kepala Dinas Koperasi UMKM Dan Perdagangan, Drs. Tedi Garnida, MM, secara umum mengatakan, mekanisme untuk mendirikan sebuah toko modern sudah di atur pada Peraturan Daerah (perda) yang baru tahun 2018.

“Yang dilakukan sekarang terkait pendirian toko modern, kami hanya mengacu pada perda tersebut, seperti jarak dari pasar tradisiona harus minimal 300 meter dan seterusnya, “terang Tedi.(12/6)

Hasil kajian dari Unpad Bandung, kata Tedi, hingga sekarang kuota yang tersisa untuk pendirian toko modern di Kabupaten Pangandaran hanya tersisa 8 unit, dan itu pun harus ijin langsung bupati setelah melalui kajian akademisi.

“Jadi harus dikaji dulu dampak ekonomi daerah sekitar, lalu diajukan ke bupati, “jelasnya. (PNews)

UNTUK PELESTARIAN SEJARAH SUKAPURA, MAKAM RADEN INDRATARUNA DI LEUWILEUNGSIR SEGERA AKAN DITATA

TASIK NEWS-Penyematan nama Sukakerta yang diabadikan di sebuah desa di Kecamatan Jatiwaras, sejatinya untuk mengajak para keturunan (rundayan) agar belajar membaca dari jejak-jejak yang ditinggalkan  sejarah Sukapura.

Di desa inilah lembaran sejarah dan bukti bukti peninggalan banyak tersebar, baik yang melekat pada daerah atau berupa situs makam menjadi bukti keberadaan sejarah Sukapura, yang ikut andil menorehkan tintanya selama perjalanannnya dalam pembentukan Kabupaten Tasikmalaya.

Namun ironisnya, kebesaran sejarah Sukapura ini tidak diimbangi dengan pemeliharaan seluruh peninggalannya. Banyak makam-makam sejarah Sukapura yang keberadaanya kurang mendapat perhatian pemerintah, baik pusat maupun daerah, salah satunya makam Raden Indrataruna di Leuwileungsir Kampung Patahunan. Kondisi makam tersebut  dibiarkan merana hingga menumbuhkan rasa keprihatinan sekaligus kepedulian di hati para keturunanannya.

Kini di lokasi makam Bendahara Kabupatian Sukapura tempo dulu sudah mulai ditata, bahkan organisasi masyarakat  (ormas) Gasibu Macan Putih pun ikut terjun langsung menyelamatkan saksi bisu sejarah Sukapura.

Ketua Gasibu Macan Putih, Rolies Siregar, mengatakan, dalam waktu dekat ini rencananya akan membentuk kepanitiaan pemeliharaan makam sejarah Leuwileungsir.

Rencana penataan dan pemeliharaan di lokasi makam  Raden Indrataruna, kata Rolies,  sudah di komunikasikan dengan Apdesi Jatiwaras dan mendapat dukungan penuh dari kepala desa di Kecamatan Jatiwaras.

“Insaaloh dalam waktu dekat ini kegiatan akan segera dilaksanakan, “ungkap Rolies.(8/6)

Dihubungi lewat telepon celullernya, salah satu keturunan Raden Indrataruna, Ayi Juansah, mengatakan, ia  sangat mengapresiasi kepedulian dari Ormas Gasibu Macan Putih dan beberapa kepala desa yang siap mendukung rencana penyelamatan aset sejarah ini.

“Penataan di lokasi makam sudah dimulai sejak lama, setahap demi setahap dengan uang hasil dari sumbangan dan kencleng," paparnya.

Ayi mengatakan, pemeliharaan dan penataan di seputar lokasi makam putra dari  Bupati Sukapura ke - 3, Raden Anggadipa (Dalem Sawidak) yang dimakamkan di Baganjing Desa Janggala Kecamatan Sukaraja diperkirakan membutuhkan anggaran yang besar.

Karena lokasi makam tersebut terletak di dataran miring, kata Ayi, sehingga diperlukan anggaran besar untuk pembuatan benteng.

“Mudah-mudahan kedepannya bisa segera terealisasi,"pungkas gan Ayi panggilan akrabnya.

(RUSDIANTO)


AUDENS IKMAL DI GEDUNG DEWAN TERKAIT PJU, TIDAK DIHADIRI ANGGOTA DPRD

PARIGI - Ikatan Mahasiswa Langkaplancar (IKMAL) selasa kemarin (11/6) mendatangi gedung DPRD Kabupaten Pangandaran untuk menggelar audens terkait Penerangan Jalan Umum (PJU)  di wilayah kecamatan Langkaplancar yang hingga saat ini belum direalisasi walau tuntutan pengajuan sudah diajukan dua tahun lalu ke Pemkab Pangandaran melalui dinas perhubungan (dishub).

Dalam audens yang dihadiri dishub dan perwakilan dari PLN Pangandaran ini, sayang tanpa dihadiri seorang pun anggota DPRD. Padahal menurut ketua IKMAL,  Imam Faridz Muslim, pihaknya sudah mengajukan permohonan audens ini ke Sekretariat DPRD pada tanggal 10 juni 2019lalu.

“Kami pertanyakan ketidakhadiran para wakil rakyat yang terhormat pada auedens ini, “kata Imam.

Imam mengaku sangat kecewa dengan sikap yang dipertontonkan anggota DPRD, karena sedianya IML berharap DPRD dapat menjadi mediator antara masyarakat Kecamatan Langkaplancar yang diwakili IKMAL dengan dishub dan PLN.

 " Kami sangat kecewa dengan para wakil rakyat", katanya.
Seperti dikatakan ketua IKMAL, Imam Faridz Muslim,  mahasiswa asal desa Pangkalan,  kecamatan Langkaplancar.  Dirinya dan teman teman melakukan audens untuk mencari keadilan dikarenakan masih gelapnya suasana malam yang menimbulkan banyak kecelakaan akibat penerangan yang tidak ada.

Kepada awak media Imam menjelaskan tujuan audens, atas nama masyarakat Kecamatan Langkaplancar, IKMAL menuntut kepada pemerintah untuk segera memasang PJU di wilayahnya karena hingga sekarang sepanjang jalan yang ada di masih tetap gelap saat malam hari.

IKMAL juga meminta kepada pihak PLN, agar aliran listrik di wilayahnya tidak sering terjadi pemadaman, karena diakibatkan listrik sering padam bisa berdampak terganggu jalannya pendidikan yang berbasis komputer baik di sekolah maupun pesantren.

Tidak hanya proses kegiatan belajar, kata Imam, akibat seringnya listrik padam ini juga ternya menghambat jalannya usaha masyarakat.

Imam juga berharap, agar pemda bisa lebih memperhatikan keadaan di wilayahnya , karena Langkaplancar berada di pelosok, tapi masyarakat tetap taat membayar pajak.

"Warga Langkaplancar sama ko seperti masyarakat di sembilan kecamatan yang ada di kabupaten Pangandaran", tandasnya.  (AGE)

KEPALA KEMENAG PANGANDARAN PIMPIN LANGSUNG APEL PERTAMA PASCA LIBUR LEBARAN

CIJULANG - Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangamdaran, H. Cece Hidayat, memimpin apel perdana pasca libur Lebaran di halaman Kantor Kemenag Jl Raya Cijulang Garunggang, Senin (11/6).  Apel tersebut dihadiri seluruh pegawai, antara lain  Kasubag TU, Kepala Seksi dan stap lainnya.

Di hadapan para stapnya dalam sambutannya, Cece mengajak semua pegawai untuk terus meningkatkan kinerja, meningkatkan pelayanan pada masyarakat dan terus berbenah diri baik secara kelembagaan maupun personal.

“Jika kita sigap dan memberikan respon positif pada semua keluhan masyarakat, maka  insyaallah respon masyarakat pun kepada kita akan terus semakin baik," ucapnya.

Cece juga mengingatkan pada seluruh jajarannya agar senantiasa terbuka pada masukan, keluhan, harapan dan keinginan masyarakat yang disampaikan kepada lembaga, sehingga kinerja yang dilakukan kemenag pun dapat diterima seluruh masyarakat.

Ia juga mewanti-wanti agar jangan sampai ada keluhan masyarakat sekecil apa pun yang terabaikan, karena itu akan melahirkan kekecewaan sehingga masyakat mempunyai  persefsi negatif institusi.

Tak hanya peningkatkan kinerja dan pelayanan, Cece pun mendorong semua karyawannya untuk senantiasa bisa melahirkan berbagai inovasi dan kreasi.

"Saya memberikan keleluasaan kepada semuanya untuk berpikir, menganalisis berbagai kondisi saat ini dan mengembangkan kreativtas serta aktivitas kegiatan yang membangkitkan semangat generasi anak muda," tandasnya.  (AGE)

KEUNIKAN PASAR PANANJUNG MAREMA LEBARANNYA DUA KALI

PANGANDARAN-Tidak salah jika Pemkab Pangandaran berniat untuk merevitalisasi Pasar Tradisional di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran, pasalnya walau pun keberadaannya “dikepung” beberapa pasar modern, namun mampu bertahan dan tetap menjadi tujuan belanja masyarakat serta tak kalah pamor. Hampir setiap hari kesibukan aktivitas ekonomi serta ratusan juta perputaran uang terjadi di pasar yang lokasinya sangat strategis itu.

Pasar yang entah kapan mulai berdirinya ini mempunyai kelebihan jika dibandingkan dengan pasar-pasar tradisonal di daerah lain.

Menurut seorang pedagang kelontongan, H. Rusman (52), jika pasar di daerah lain para pedagangnya marema saat menjelang lebaran saja, di Pasar Pananjung terjadi dua kali marema dengan pasca lebaran, dalam waktu lama seiring keramaian kunjungan wisatawan ke Pantai Pangandaran.

“Karena setelah lebaran kami juga sibuk melayani pembeli dari hotel-hotel dan pedagang yang berjualan di tempat wisata. “terangnya beberapa waktu lalu.

Jika pedagang pasar di daerah lain bisa menikmati hasil marema sebelum lebaran serta bersilaturahmi ke sanak saudara, maka pedagang di Pasar Pananjung lebih memilih untk kembali k pasar.

Bahkan, kata Rusman, para pedagang pun hanya punya waktu beberapa jam saja untuk bersilaturahmi dengan tetangga dan kerabatnya setelah menunaikan shalat idul fitri, selepas itu pergi menjalankan rutinitasnya kembali di pasar.

“Ini sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu, tetangga dan kerabat pun sudah maklum lagi jika pedagang pasar Pananjung tidak bisa bersilaturahmi serta mengunjungi kerabatnya yang jauh, “terang Rusman lagi.

Ramainya kunjungan wisatawan yang datang ke Pangandaran, kata Rusman, jelas sangat mempengaruhi transaksi jual-beli di Pasar Pananjung. Sehingga jika diilustrasikan, ada uang dari Bandung, Jakarta, Bogor, Jawa Tengah dan daerah lainya yang dibawa wisatawan ke Pangandaran dan uang tersebut “jatuh” di pasar Pananjung. Sehingga dengan sendirinya perputaran dan transaksi jual-beli di pasar Pananjung pun bertambah dengan uang yang dibawa wisatawan tersebut.

“Pemerintah sendiri hingga saat ini belum mempunyai kebijakan yang bisa memindahkan perputaran uang dari daerah satu ke daerah lainnya, dan yang bisa melakukan itu salah satunya melalui dunia pariwisata ini. “pungkasnya.(PNews)

WISATA KE PANGANDARAN TIDAK MAHAL

PANGANDARAN-Beberapa waktu dulu sering mendengar keluhan jika berwisata ke Pangandaran apa-apa serba mahal. Harga tiket masuk, biaya tidur di hotel hingga urusan makan pun mahal. Benarkah demikian ?

Beberapa hari ke belakang saat libur Hari Raya Idul Fitri 1440 lalu, PNews berhasil mewawancarai seorang wisatawan asal Batutulis Bogor, Dani Herdiana (43) saat berlibur bersama kelurganya.

Kata Dani, sebenarnya mahal atau tidaknya biaya yang dikeluarkan untuk wisata tergantung masing-masing mengatur keuangan yang memang sudah jauh-jauh hari dianggarkan untuk berwisata. Dan biasanya orang akan lebih cerdas mengatur itu, karena sudah dipastikan biaya untuk wisata itu akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan biaya kebutuhan sehari-hari.

“Jika sehari-hari biasanya makan di kantin kantor, tentunya akan beda jauh dengan makan di tempat wisata, “ungkapnya.(7/6)

Alasan lainnya, ucap Dani, harus bisa menyesuaikan dengan kondisi keuangan sendiri serta tidak memaksakan kebutuhan yang tidak sepadan dengan anggaran yang disediakan.

“Kita ingin tinggal di hotel bintang sementara budget yang kita punya hanya cukup untuk kelas melati, jelas pasti itu kemahalan, begitu juga untuk biaya makan. “lanjutnya.

Dani membenarkan, memang ada sebagian pedagang atau hotel yang memasang harga mahal tapi itu tidak banyak, karena baik hotel atau pun tempat-tempat seperti rumah makan yang menyediakan masakan sea food sudah mempunyai standar harga. Artinya, kalau pun ada kenaikan pasti hanya beberapa persen saja.

“Dan itu sama terjadi di mana-mana, harga sembako, ongkos transportasi dan lain-lain, “imbuhnya.

Dani juga mengatakan, sekarang wisatawan yang datang ke Pangandaran pun sudah bisa memilih-milih, dimana harus menginap dan dimana mendapatkan makanan yang tidak kena dampak “aji mumpung”.

“Seperti saya, jika ada teman atau sodara yang akan berlibur ke Pangandaran, pasti saya kasih tips-tips di mana tempat menginap dan dimana rumah makan yang harus dituju. “jelasnya.

Artinya lagi, lanjut Dani, bagi pemilik hotel, pengusaha rumah makan atau usaha wisata yang ada di  Pangandaran, sudah harus berhati-hati, karena sekali saja memberikan pelayanan yang kurang memuaskan atau menaikan harga seenaknya, dipastikan wisatawan akan kapok dan menjatuhkan pilihannya ke tempat lain. Sebaliknya jika bisa memberikan service memuaskan, maka saat wisatawan itu datang lagi ke Pangandaran pasti akan jadi langganan.

Menurut Dani, harga tiket masuk wisata Pangandaran pun relatif murah jika dibandingkan tempat wisata di daerah lain. Seperti tempat wisata Karangresik di Tasikmalaya, pengunjung harus mengeluarkan biaya Rp. 15 ribu untuk masuk saja, ditambah Rp 15 ribu lagi jika akan memasuki tempat lain di dalam wisata, begitu pula di Kabupaten-Kota Bandung jauh lebih mahal.

“Jadi, mari kita ke Pangandaran, eh ! kok saya jadi promosi ha ha ha...!”kelakarnya. (Pnews)

 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN