Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

BANYAKNYA CAGAR BUDAYA DI PANGANDARAN BISA JADI PENGUAT WISATA

situs Batu Kalde
PANGANDARAN-Banyaknya peninggalan cagar budaya yang ada di Pangandaran menjadi perhatian para penelitian untuk mengetahui lebih dalam tentang keberadaanya. Untuk keperluan tersebut, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Besar Cagar Budaya Banten pun menggelar sosialisasi cagar budaya.

Kegiatan dibuka langsung Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata serta dihadiri Kepala Balai Badan Pelestarian Cagar Budaya Banten, H. Saeful Mujahid SH, Kepala Dinas pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran, Drs. H. Undang Sohbarudin serta  nenerapa Budayawan Pangandaran.

dalamk sambutannya, Kepala Balai Cagar Budaya menyampaikan, kegiatan ini Merupakan salahsatu kegiatan berkelanjutan yang dilaksanakan di beberapa wilayah kerja dari Balai Besar Cagar Budaya Banten. Diantaranya, di propuinsi Banten, Lampung, DKI Jakarta dan Propinsi Jqwa Barat.

“Salah satu tempat penelitian di jabar, ada di Pangandaran. “ungkap Saeful.(13/12)

Di Pangandaran, menurut Saeful, terdapat beberapa peninggalan yang diperkirakan dari masa megalitik berupa kerang -kerang, tulang- tulang manusia yang diperkirakan hidup pada masa megalitik, dan ini penemuan sangat penting karena merupakan peradaban sejarah masa lalu di pangandaran.

selain itu, lanjutnya, ada beberapa peninggalan lainya yang menarik perhatian para pakar sejarah dan peneliti, seperti goa-goa, reruntuhan candi, batu kalde serta banyak lagi peninggalan lainnya yang menarik untuk diteliti.

Misalnya batu kalde, menurut Saeful, ini merupakan temuan yang sangat penting karena bisa menjadi mata rantai sejarah pèradaban Pangandaran.

“Ini peninggalan pada masa kelasik, selain itu ada juga beberapa fenomena menarik lainnya, sekarang kita tinggal menungu hasil penelitian para pakar sejarah. "ungkapnya lagi.

Saeful pun berharap, semua kekayaan cagar budaya yang ada di Pangandaran, baik pemerintah daerah atau pun pusat bisa bersama-sama melestarikannya.

Salah seorang ahli, Prof. DR. Djafar, rektor Universitas indraprasta PGRI Jakarta, kepada awak media mengatakan, situs-situs yang ada di Pangandaran pertama kali mendapat penelitian pada tahun 1977 yang dilakukan Pusat Penelitian Purbakala Nasional.

“Saat itu penelitian dipimpin oleh Hasan Muarif Ambary. “jelas Djafar.

Setelah itu, lanjut Djafar, penelitian pada situs tersebut pun dilakukan kembali oleh institusi yang sama di tahun 1979.

Sementar itu Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengatakan, sejarah merupakan identitas dari suatu jaman, dan kalau berbicara hari ini tentu ada hari kemarin.

“Itu proses alam yang sudah menjadi kodrat dari Sang Pencipta, “kata Jeje.

lebih lanjut Jeje mengatakan, setiap cagar budaya tentu mempunyai identitas dari jamannya. Dan sayangnya sekarang pada jaman now, sudah jarang orang sunda memakai identitasnya sendiri, misalnya penggunaan nama orang sunda.

“Generasi sekarang sudah melupakan budaya gotong royong, padahal itu salah satu nilai identias budaya kita,  ini harus di pertahankan"imbuh Jeje.

Menurut Bupati Pangandaran, pelestarian cagar budaya tentunya akan sangat sejalan dengan program pemerintah daerah sebagai tujuan wisata, karena cagar budaya yang ada di pangandaran ini akan menjadi penguat pengembangan sektor dunia pariwisata.

"Ayo kita bersama sama menata wisata pangandaran, karena selama ini upaya penataan wisata dan kebijakan serta ketegasan pemda bukan untuk bupati, tapi untuk kita semua." pungkasnya. (Tn)


SENI GONDANG DAN RONGGENG GUNUNG, PROMOSI KEBUDAYAAN DESA CIKALONG

SIDAMULIH-Tidak diragukan lagi, Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran memang gudangnya para seniman ronggeng gunung dan seni rampak gondang. Karena bukan tanpa alasan jika Cikalong sejak puluhan tahun lalu identik dengan seni budaya khas pakidulan (baca:Pangandaran).

Di Cikalong, ronggeng gunung dan seni gondang sudah lama menjadi adat budaya yang biasa dilaksanakan seselpas panen padi.

“Bisanya pelaksanaannya saat malam bulan purnama. “terang salah seorang tokoh budaya asal Desa Cikalong, Deddi Wahyudi. (5/12)

Menurut Deddi didampingi rekannya, Guru Darman, saat Pagelaran Rampak Gondang dan Ronggeng Gunung yang digelar di sanggar Seni Ligar Munggaran pimpinan Kisman di Dusun Citembong, pelaku rampak gondang dan ronggeng gunung seluruhnya dimainkan masyarakat dari 10 RT yang ada di Desa Cikalong.

“Begitu juga lesung dan alu mereka bawa dari masing-masing RT. “terangnya lagi.

Masih kata Deddi, kesenian gondang merupakan adat masyarakat Desa Cikalong dulu ketika akan menumbuk padi untuk dijadikan tepung sebagai bahan baku pembuatan dodol untuk acara hajatan.

Keunikan dari kesenian tersebut, terang Deddi, irama yang dihasilkan saat tumbukan alu menyentuh lesung yang melahirkan nada-nada dengan birama nan harmonis.

“Sementara celotehan ibu-ibu yang saling menyela bersahutan menciptakan paduan suara yang diiringi ketukan irama alu. “ungkap Dedi.

Kedua seni budaya tersebut, lanjut Deddi, bagi masyarakat Cikalong sudah merupakan seni budaya yang telah melekat sejak dulu, karena seni tersebut tidak bisa dipisahkan dari tata cara kehidupan di pedesaan. Baik saat berkebun, bertani padi di sawah atau di dalam keseharian, nyanyian yang biasa ditembangkan dalam ronggeng gunung yang sarat dengan pepatah dan nasihat itu seolah sudah menjadi dogma seluruh warga desa.

Kepada siapa saja yang berminat serta ingin tahu banyak tentang kesenian gondang dan ronggeng gunung, kata Deddi, bisa datang langsung ke Cikalong.

“Kami seluruh masyarakat tentunya akan menyambut baik, dan ini mudah-mudahan tentunya bisa menjadi ajang promosi kebudayaan yang ada di desa kami. “pungkas Deddi. (Anton AS)

SAMBUT HARI KORPRI KE 46, PEMDA PANGANDARAN ADAKAN LOMBA RONGGENG

PARIGI-Dalam rangka pelestarian budaya daerah, Kopri Kabupaten Pangandaran bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga menggelar Pasanggiri Ibing Ronggeng Amen. (21/11)

Kegiatan yang diselengarakan di halaman kantor setda ini dihadiri Wakil Bupati Pangandaran H. H. Adang Hadari, sekda serta pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Dalam sambutannya Wakil Bupati Pangandaran, H. Adang Hadari menyampaikan, tujuan dari kegiatan ini, selain dalam rangka memperingati hari korpri ke 46, juga bisa menjadi media untuk membangun animo, apresiasi serta pemahaman para korpri pada nilai-nilai luhur budaya tradisional yang ada di Kabupaten Pangandaran.

“Saya juga mengajak seluruh masyarakat Pangandaran bisa memelihara seni dan budaya yang ada di tiap-tiap daerah agar kesenian yang kita miliki ini bisa lestari serta bisa tumbuh berkembang di tengah-tengah masyarakat. “ucap Adang.

Sementara Sekretaris Daerah (sekda) Pangandaran, Mahmud, SH, MH selaku Ketua Umum Korpri Pangandaran dalam laporannya menyampaikan, kegiatan lomba Ronggeng Amen yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Korpri ke 46 ini juga ada lomba pengucapan  pancaprasetya dan lomba MC.

“Dan puncak kegiatan hari korpri ini akan dilaksanakan tanggal 29 dengan menggelar apel HUT korpri. “terangnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Pembinaan Ketenagaan Disdikpora Kabupatan Pangandaran, H. Usep Efendi, mengatakan, kegiatan ini diikuti peserta PNS dari 13 SKPD, 5 kecamatan dan 10 UPTD Disdikpora lingkup Pemkab Pangandaran.  (AGE)

SYUKURAN RUAT JAGAD SILA SAAMPARAN, WUJUD RASA SYUKUR PADA TUHAN

PARIGI-Masih dalam rangkaian milangkala menyambut ulang tahun hari jadi Kabupaten Pangandaran ke 5, di obyek wisata Pantai Batuhiu digelar Syukuran Ruat Jagad Sila Saamparan (14/10). Acara ini bertujuan, duduk dalam hamparan tikar untuk bersama-sama memanjatkan rasa syukur pada nikmat yang telah diberikan Tuhan.

Helaran acara yang dipimpin Wakil Bupati Pangandaran, H. Adang Hadari serta dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, ormas, para sesepuh pemangku adat dan masyarakat ini merupakan rangkaian kegiatan budaya sebagai wujud kepedulian pemerintah dan masyarakat pada kebudayaan sebagai kearifan lokal.

“Hajat bumi ini menjadi gelaran budaya hajat tahunan di Patnai batuhiu. “kata Ketua Kompepear sebagai pihak penyelenggara.(14/10)

Sementara Wakil bupati Pangandaran, H. Adang Hadari dalam sambutannya menyampaikan,  acara ini sebagai bukti rasa syukur pada Sang Pencipta juga sebagai ajang pelestarian budaya leluhur  yang ada di masyarakat.

“Diharapkan dengan gelaran acara ini bisa meningkatkan daya tarik wisata juga mewujudkan  Pangandaran yang aman damai dan selalu mendapat perlindungan Alloh. “ungkap Adang. (Toni Taufik)

TAMPALING, ALAT MENANGKAP BELALANG ADAT WARGA DESA CIKALONG

SIDAMULIH-Kekayaan ragam adat dan budaya yang ada di Kabupaten Pangandaran terus menunjukan jatidirinya, berbagai kegiatan budaya di desa-desa pun hampir tidak pernah sepi membuat keberadaan budaya serta adat istiadat para pendahulu di masing-masing desa tetap terbangun dan lestari.

Salah satunya kegiatan lomba Tampaling di Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih yang hingga sekarang masih ada di tengah-tengah masarakat desa.

Tampaling, salah satu alat penduduk desa untuk menangkap simet (belalang) yang hidup di area pesawahan. Nampaling (menangkap simet dengan tampaling) biasa dilakukan warga pada malam hari dengan bantuan lampu senter usai panen padi.

“Biasanya kami lakukan sendiri atau bersama-sama setelah usai padi dipanen. “terang Esin (59)
 salah seorang warga Desa.(11/8)

Simet hasil tangkapan tersebut, menurut Esin, biasanya untuk konsumsi sebagai lauk pauk keluarganya.

“Dan jika hasil tangkapan kami banyak, maka sebagian kami jual ke tetangga. “terangnya.

Menurut Esin, kegiatan nampaling ini sudah ia lakukan sejak kecil dengan teman-teman di desanya, karena kegiatan ini memang sudah biasa dilakukan warga sejak dulu. Dan menurut Esin, alatnya pun masih tetap sama, terbuat dari bambu yang dianyam kecil-kecil dengan bentuk bulat mengkerucut. (Anton AS)

PASANG SURUT RONGGENG GUNUNG CIKALONG

SIDAMULIH-Budaya merupakan warisan leluhur atau nenek moyang yang tidak ternilai harganya, ia ada menjadi jati diri daerah maupun bangsa. Budaya dalam tataran kehidupan masyarakat juga mampu menjadi pengikat tatanan kehidupan keseharian antar warga.

Ronggeng Gunung, jika menyebut nama itu, maka sudah pasti tidak bisa dipisahkan dengan Pangandaran. Hingga ada anekdot di tengah-tengah masyarakat, “bukan orang Pangandaran jika tidak bisa menari Ronggeng Gunung”.

Dan jika bicara Ronggeng Gunung, maka tidak salah juga jika Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih merupakan “gudangnya” para seniman ronggeng. Diakui atau tidak, jika Cikalong dari dulu hingga sekarang indentik dengan Ronggeng Gunung.

Salah satunya, Uje (53) warga Rt 03 Rw 02 Dusun Citembong Desa Cikalong, menurutnya Ronggeng Gunung dan dirinya sudah menyatu.

“Selain Ronggeng Gunung, disini juga ada gondang dan ketuk tilu. “ungkap Uje.(5/8)

Menurut Uje, ia dan dan sekitar sepuluh rekannya selama ini setia berkesenian ronggeng gunung walau hanya sekedar berangkat dari panggilan jiwa serta tanggungjawab moral untuk tetap melestarikan budaya leluhur yang ada di Cikalong.

“Siapa lagi yang akan menjaga budaya kita jika bukan kita sendiri…”ungkapnya lagi.

Ia tak banyak berharap, karena yang selama ini jalani sebagai pelaku seni budaya ronggeng pun tidak pernah bisa merubah kehidupannya. Kesetiaannya pada Ronggeng Gunung semata karena kecintaannya pada budaya yang ada sejak dulu di tempat ia dilahirkan.

Obsesinya untuk membangun sanggar tempat berkumpulnya para pelaku budaya yang ada di daerahnya pun mungkin hanya mimpi. Pasalnya, keinginan yang selalu didamkan sejak dulu mungkin hanya sebuah harapan dari cita-citanya, untuk tetap bisa mewariskan rasa kecintaannya pada budaya di desanya.

“Sudah lama sekali saya ingin di Cikalong ada gedung atau sanggar tempat kami berkumpul atau tempat latihan anak-anak yang ingin belajar ronggeng gunung, gondang atau ketuk tilu. “kata Uje.

Sebab, menurut Uje, pembelajaran tentang budaya harus ditanamkan sejak dini, karena  sekarang banyak yang sudah tidak menganggap penting mempelajari budaya lokal. Padahal, melalui pembelajaran budaya nantinya dapat mengetahui pentingnya hal tersebut dalam membangun tatanan kehidupan bermasyarakat di tempat budaya itu berada.

Ironis, Desa Cikalong yang dikenal tempatnya para seniman Ronggeng Gunung hingga saat ini belum mempunyai sanggar sebagai pusat keberadaannya seperti layaknya centra sea food, pusat penjualan makanan hasil olahan dari  laut.

Pertanyaannya, sudah berapa besarkan kontribusi para pelaku budaya pada pembangunan sosial, ekonomi dan politik daerah ? atau, seberapa besarkah apresiasi yang sudah diberikan Pemerintah Daerah pada pelaku budaya itu sendiri ? (hiek)

LEUIT, LUMBUNG PADI PENINGGALAN ADAT BUDAYA DESA CIKALONG

SIDAMULIH-Leuit, salah satu khasanah adat budaya sunda ternyata sejak dulu sudah ada di Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran dan hingga sekarang masih digunakan masyarakat desa.

Leuit dalam kosa kata bahasa sunda bisa diartikan tempat atau lumbung padi, merupakan sebuah bangunan dengan ciri khas bangunan kecil dengan atapnya yang kuncup terbuat dari kayu dan bisanya letaknya terpisah dari bangunan rumah warga yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan gabah yang memiliki kemampuan tahan cuaca, hama penyakit, serta memiliki sistem sirkulasi udara yang baik sehingga gabah kering dapat disimpan dalam jangka waktu  lama.

Leuit ini merupakan tempat menyimpan cadangan stok gabah kering dari warga desa dan  digunakan untuk keperluan antisipasi  di saat musim paceklik. “ungkap Kepala Desa Cikalong, Upang Supandi.(5/8)

Walau pun di desanya belum pernah terjadi musim paceklik, namun menurut Upang, warga tetap diwajibkan “menyetor” sebagian hasil panennya untuk disimpan di lumbung tersebut.

“Dan hasil musyawarah seluruh warga, disepakti setiap kepala keluarga harus menyisihkan 20 kg padi per musim dari hasil panennya masing-masing. “terang Upang.

Dikatakan Upang, seluruh warga Desa Cikalong hingga saat ini masih tetap menggunakan lumbung itu sebagai kearifan lokal warisan leluhurnya.

Leuit itu sekarang kami namakan lumbung persatuan yang keberadaanya dalam satu RT terdapat satu lumbung. “terang Upang lagi.

Lebih jauh Upang menjelaskan, setiap satu tahun lumbung tersebut akan dibuka untuk diadakan ngabuku taun, yang digelar pada seiap bulan muharam dengan mengadakan malam syukuran hajat bumi, sebagai ungkapan rasa syukur seluruh warga pada sang khalik.

Ngabuku taun itu mungkin semacam RAT kalau pada koperasi. “jelas Upang.

Sementara hasil dari ngabuku taun, lanjut Upang, nantinya sebagian akan dibelanjakan alat-alat rumah tangga seperti kursi, piring, sendok dan lainnya yang bisa digunakan saat ada warga akan hajatan.

“Jadi, saat ada yang mau hajatan, warga bisa menggunakan peralatan tersebut. “imbuhnya.

Selain itu, masih kata Upang, adanya lumbung persatuan membuktikan, dengan luas hamparan sawah 2200 hektar yang mampu menghasilkan 200 ton padi per tahun dengan jumlah penduduk 3600 jiwa, Desa Cikalong sudah mampu berswasembada pangan bahkan surplus.

“Dan keberadaan leuit atau lumbung persatuan ini, juga jelas membuktikan, hingga saat ini masyarakat Cikalong masih menjungjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal serta menjadikan adat budaya leluhur sebagai tatanan kehidupan masyarakat desa. “pungkasnya. (Anton AS – hiek)

DESA MANGUNJAYA GELAR FESTIVAL JONJANGAN

MANGUNJAYA-Untuk mewujudkan desa berdaya dan berbudaya serta dalam rangka melestarikan budaya leluhur, Desa Mangunjaya bekerjasama dengan pemuda Karangtaruna dan para pelaku seni yang ada di wilayah Mangunjaya menggelar Festival Jonjangan, sebuah pagelaran seni yang menceritakan kebiasaan masyarakat dahulu.

Menurut Kepala Desa Mangunjaya, Furqonudin sekaligus sesepuh sanggar Seni Banyu Bening mengatakan, pagelaran seni Festival Jonjangan ini sedkarang sudah hampir punah. Dan dalam rangka melestarikan juga menjadi pelajaran seni budaya pada genberasi muda, pihak desa menggelar acara ini.

Jumlah peserta layangan diikuti 180 peserta membuktikan, acara festial berlangsung meriah dan mendapat antusias warga serta membuktikan, masyarakat Mangunjaya masih melestarikan budaya leluhurnya.

dikatakan Furqon, budaya leluhur ini jangan sampai diklaim egara lain, sehingga dikhawatirkan  generasi muda, anak-anak negeri ini tidak mengetahui budaya lelubur karena terlena dengan kemajuan tekhnologi seperti android dan sebagainya.

Menurut Furqon, festival yang dibiayai dari swadaya masyarakat  dan sponsor yang ada di desa serta pelaku seni yang ada di wilayah Pangandaran ini menampilkan pagelran seni Jonjangan yang dalam istilah masyarakat suku jawa diartikan sebagai permainan saat malam bulan purnama.

“Dengan pagearan seni ini, diharapkan khususnya warga Desa Mangunjaya agar bisa tetap tahu apa yang dilakukan dan menjadi kebiasaan para leluhur kita. “ungkap Furqon. (4/8)

Langlayangan, heleran atau lainnya, lanjut Furqon, itu merupakan  permainan yang akrab di masyarakat pedesaan, dan hal-hal semacam itu sangat positif bila terus berlangsung dan tetap dikenal masyarakat. Seperti Langlayangan (layangan) merupakan salah satu khasanah permainan yang akrab di pedesaan. 

Suasana kehidupan desa dengan hamparan sawah yang selama ini memberikan mamfaat kini sudah terbengkalai. Dan ini harus kemabli ditanamakan rasa cinta terhadap desa berdaya dalam segala bidang terutama pertanian.

“Tidak bisa bisa dipungkiri, bangsa Indonesia bisa menduinia berawal dari sekitar 20780 desa yang terbentang di seluruh nusantara. “imbuhnya. (Toni  T)




ADA FESTIVAL ALAM SENI BUDAYA KAMPUNG SINGKUR DI WONDERHILL JOJOGGAN

PARIGI-Di obyek wista (ow) Wonderhil Jojogan Kecamatan Parigi, bulan lalu digelar “Festival Alam Seni Budaya Kampung Singkur”. Kegiatan yang diinisiasi Pangandaran Promotion Board bersama management pengelola Wonderhill Jojogan, Kompepar juga didukung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran dan BJB.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara, Ai Nanan Handayani, kegiatan ini dalam rangka untuk mempromosikan destinasi wisata baru, dengan menampilkan seni budaya leluhur termasuk aneka  jajanan, kuliner buhun sebagai ciri khas wisata yang mengedepankan kearifan lokal.

Ai menambahkan, event ini diharapkan bisa menjadi kalendar pariwisata tahunan di Kabupaten Pangandaran, karena festival budaya ini melibatkan beberapa jenis seni. Seperti, rampak kendang, lebon, lengser upacara adat, gondang, badud, ronggeng gunng, rampak jaipong, wayang ruat, karinding , reog, eok dan wawacan.

“Untuk kedepan, kegiatan ini akan lebih besar dan semarak serta bisa melibatkan langsung peran serta masyarakat sekitar area wisata. “ungkap Ai.

Bupati pangandaran, H. Jeje Wiradinata dalam sambutannya menyambut gembira serta memberikan apresiasi karena kegiatan ini lahir dari masyarakat.

“Pemkab Pangandaran dalam upaya mewujudkan visi dan misinya memang belum melakukan upaya promosi pariwisata secara fokus, karena kita masih konsentrasi dalam penataan kawasan dan infrastruktur. “kata Jeje.(29/4)

Menurutnya, pemda akan terus mensupport tumbuhnya partisipasi masyarakat, hususnya dalam pengelolaan objek wisata dan harus tetap berorientasi menuju pariwisata yang mendunia.

“Mudah-mudahan kegiatan ini bisa ditiru di destinasi lainnya, artinya, masarakat sebagai salah satu stakeholder pariwisata dituntut untuk terlibat langsung serta bisa lebih mengembangkan kreatifitasnya pada dunia wisata. “imbuhnya. (Anton  AS)

BANYU BENING SIAP PERTAHANKAN JUARA UMUM TEATER SE-JABAR

MANGUNJAYA-Sukses merupakan hal ghaib, namun proses adalah bentuk nyata yang harus diupayakan dengan gigih.

Demikian disampaikan sesepuh Sanggar Seni Banyu Bening, Furqon yang ia pesankan pada seluruh anak asuhannya sehari sebelum keberangkatannya ke bandung untuk mempertahankan piala bergilir pentas seni teater se Jabar-Banten yang dia peroleh tahun lalu.

Untuk mematangkan persiapan menjelang pentas seni di bandung, Sanggar Seni Banyu Bening mengadakan gladi di lapang SMA N 1 Mangunjaya.

“Walau dengan bekal seadanya tak mengurungkan semangat para seniman teater yang berasal dari Siswa Siswi SMP dan SMAN Mangunjaya. “ungkap Furqon.(18/3).

Menurut Furqon, pihaknya berharap mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran yang selama ini selalu mendengung-dengungkan sebagai kabupaten pariwisata yang menjunjung tinggi budaya dan kearifan lokal.

Furqon mengungkapkan, Sanggar Seni Banyu Bening sudah berhasil meraih juara umum dengan mendapatkan lima piala pada Festival Drama Basa Sunda tahun lalu. Diantaranya piala sutradara terbaik, piala aktris terbaik, piala artistik terbaik, piala pementasan terbaik dan piala bergilir.

“Dan kali ini kami kembali harus berlomba dengan 71 Peserta sanggar yang akan di gelar di kosambi bandung, mudah-mudahan keberangkatan sekarang bisa memepertahankan kembali prestasi yang sudah dicapai tahun lalu. “imbuh Furqon. (Toni  T).

MISTERI DEWI SITI SAMBOJA DAN PEMANDIAN RENGGANIS

PANGANDARAN - Goa Rengganis merupakan salah satu obyek wisata alam di Cagar Alam Pananjung masuk dalam kawasan BKSDA Pangandaran Jawa Barat. Konon, di tempat ini pada gua setinggi kurang lebih 3 meter, disitulah tempat Sendang Goa Rengganis.

Menurut salah satu versi, legenda tentang goa rengganis berawal dari sepasang kekasih bernama Dewi Siti Samboja dan Raden Anggalarang, karena perkawinan mereka tidak disetujui orangtua  Raden Anggalarang, maka mereka kabur dan mendirikan kerajaan di Pananjung.

"Seiring berjalannya waktu, kerajan yang mereka bangun pun tumbuh dan berkembang pesat. “ungkap Kepala Desa Pananjung, Dedi Hermawan mengawali cerita.

Dengan kekayaan dari hasil bumi yang berlimpah, rakyatnya pun menjadi makmur dan sejahtera. Namun justru karena kemakmuran tersebut akibatnya banyak kerajaan lain yang ingin menguasasi sehingga memicu terjadinya perebutan kekuasaan oleh orang-orang yang haus harta dan tahta.

“Termasuk seorang bajak laut dari seberang lautan yang dipimpin Kalasamudra, sehingga waktu itu pertempuran sengit pun tak bisa dihindari yang mengakibatkan bala tentara dari kedua belah pihak pun banyak yang tewas termasuk Raden Anggalarang terbunuh", paparnya.

Masih cerita Dedi, dalam situasi yng kacau, Dewi Siti Samboja melarikan diri dan menghilang tidak tahu rimbanya.

“Konon menurut cerita, Sang Dewi Siti Samboja moksa lepas dari ikatan dunia fana, hilang tanpa meninggalkan jejak dan jasadnya pun lenyap tidak berbekas. “tutur Dedi.

Dan masih menurut legenda,  peristiwa moksanya Dewi Siti Samboja yang bergelar Dewi Rengganis itu terjadi di telaga mata air tempat pemandian keluarga raja ini, di kawasan Cagar Alam Pananjung.

Dikisahkan juga, Dewi Rengganis merupakan salah satu putri pertama Eyang Argopuro, seorang petapa dari Desa Bagelen Purworejo Wonosobo yang mengembara ke Tatar Galuh pada abad 14 hingga abad 16.

Dalam kisahnya, Dewi Rengganis merupakan istri Raden Anggalarang yang pernah mendirikan Kerajaan Galuh Tanduran di daratan Pananjung, berdirinya kerajaan tersebut atas permintaan Raden Anggalarang kepada ayahnya Prabu Haurkuning salah satu raja di tanah Pajajaran waktu itu.

Raden Anggalarang sebetulnya tidak direstui untuk mendirikan Kerajaan Galuh Tanduran oleh ayahnya sebab di kawasan tersebut waktu itu masih hutan belantara dan banyak binatang buas, juga karakteristik masyarakat pendatangnya yang keras membuat Prabu Haurkuning setengah hati memberi izin kepada Raden Anggalarang.
Namun karena kasih sayang ayah kepada anaknya, Prabu Haurkuning pun mengizinkan Anggalarang mendirikan kerajaan Galuh Tanduran dengan ditemani Patih Kidang Pananjung.

“Tetapi Prabu Haurkuning saat itu mengatakan, kalau kerajaan yang akan didirikan Raden Anggalarang itu hanya bisa bertahan seumur jagung saja,” kata Dedi.

Setelah Raden Anggalarang dengan Patih Kidang Pananjung berhasil mendirikan kerajaan, Anggalarang akhirnya menikah dengan Dewi Rengganis.

Karena kecantikan Dewi Rengganis kala itu menjadi buah bibir di mana-mana, sehingga para Bajo atau bajak laut dari daerah Nusakambangan berniat jahat ingin merebut  Dewi Rengganis.
Sifat Bajo sangat jahat, tidak berprikemanusiaan dan selalu ingin menguasai hasil bumi masyarakat, baik hasil bumi dari daratan atau dari laut. Dengan berbagai cara dan upaya kala itu, akhirnya para Bajo berkali-kali berusaha menculik Dewi Rengganis dengan cara membunuh terlebih dulu Raden Anggalarang.

Tapi walau pun saat itu Raden Anggalarang terbunuh, upaya Bajo untuk menculik Dewi Rengganis tidak berhasil karena Dewi Rengganis selalu dilindungi Patih Kidang Pananjung.

“Saat dikejar oleh para bajo, Dewi Rengganis bersembunyi ke taman sari atau keputren yang merupakan salah satu taman Kerajaan Galuh Tanduran,” imbuh Dedi.

Dan di lokasi taman sari tersebut terdapat goa yang mengalir air, namun dengan kesaktian yang dimiliki Dewi Rengganis, ia bisa tembus ke dalam goa walau sepanjang lokasi goa itu merupakan sungai.

Setelah Dewi Rengganis masuk kedalam goa yang mengalir sungai tersebut, para Bajo tidak ada yang berani untuk masuk ke tempat itu dan akhirnya mengurungkan niat untuk menculik Dewi Rengganis.

“Sejak saat itulah, ketika Dewi Rengganis masuk ke goa itu tidak muncul lagi, beberapa tokoh supranatural berpendapat kalau Dewi Rengganis mengahilang atau tilem di tempat itu. Dan sejak kejadian itu juga goa tersebut dinamakan warga dengan nama Goa Rengganis. “kata warga Panannjung, Masruroh (52).

Seperti diketahui, Goa Rengganis tersebut memiliki panjang 125 meter dan lebar 2-3 meter dengan ketinggian sungai berpariatif dari mulai 2 meter hingga 13 meter dan berdiameter 13 meter.

Goa Rengganis diyakini oleh yang mempercayainya, sebagai tempat keramat dan airnya berkhasiat bisa mengakibatkan awet muda dan melancarkan jodoh, sehingga pada hari tertentu banyak orang yang sengaja mandi dengan harapan bisa awet muda dan dimudahkan mendapat jodoh.

“Hasil penelitian dan kajian ilmiah beberapa praktisi pendidikan menyatakan kalau air yang mengalir dari dalam Goa Rengganis memiliki kandungan MGCO3 yang dapat merapatkan atau memperkecil pori-pori kulit sehingga jika mandi menggunakan air tersebut sel kulit yang mati bisa hidup kembali dan segar,” pungkas Dedi Hermawan. (AGE).

GELAR SILATURAHMI BUDAYA - PASTAPA NUSANTARA, NGAGUAR UGA GALUH PAKUAN PAJAJARAN

CIJULANG - Dalam rangka mengembangkan budaya tanah leluhur tatar pasundan, beberapa tokoh budayawan mendirikan Paguyuban Spiritualis Tatar Pasundan (Pastapa) Nusantara, dengan ketua R.Hj. Sonnia Suma Dikarta ( pituin Cijulang) sebagai pupuhu agung dan Irjen.pol.Anton Charliyan ( Kapolda Jabar ), pituin Sukapura ditunjuk jadi Pembina.

Menurut Sonnia, tujuan utama dibentuk Pastapa Nusantara, untuk melestarikan budaya leluhur daerah Jawa Barat, dikarenakan selama ini dikhawatirkan kebudayaan tersebut akan terjadi pergeseran atau malah punah karena dampak dari merebaknya ideologi modernisasi dan budaya asing yang buisa mengakibatjkan masyarakat melupakan sejarah leluhurnya. Banyaknya ragam budaya khususnya di Jawa Barat ini dinilai harus bisa dikembangkan dan dirawat agar bisa mencerminkan watak dan karakter asli tatar Pasundan.

"Seiring berkembangnya kemajuan tekhnologi saat ini, kita pun harus bisa menjaga keutuhan dan melestarikan budaya sebagai ujung tombak dalam kemajuan daerah khususnya Jawa Barat atau yang biasa kita sebut Galuh Pakuan Pajajaran", jelasnya.(3/12).

Pastapa Nusantara sendiri, menueurt Sonnia,  memiliki niat untuk membangun kembali kebudayaan leluhur yang saat ini mulai terlupakan, karena mungkin saja saat ini banyak pejabat yang mengutamakan budaya politik dengan tujuan hanya untuk obsesi pribadi untuk mengejar kekuasaan. 

“Padahal budaya politik tersebut sangat kecil bila dibanding dengan budaya seni leluhur kita yang berkarakter luhur sebagai cikal bakal berdirinya suatu daerah", ungkapnya.

Ditambahkan Sonnia, untuk Dayeuh Pangandaran khususnya, sebagai kota pariwisata hendaknya lebih paham pada sejarahnya sendiri dan sekaligus harus bisa melestarikan budaya tersebut.

“Saya yakin, setiap kecamatan di pangandaran pasti memiliki budaya leluhur masing masing, dan itu jangan sampai kita lupakan, “ tambahnya.

Sonnia pun berharap, masyarakat dayeuh Pangandaran hendaknya tetap memiliki karakter budaya sendiuri.

Insyaalloh, tanggal 14, 15 Januari mendatang kami bersama rengrengan Pastapa Nusantara akan melaksanakan  silaturahmi dalam rangka ngaguar uga galuh pakuan pajajaran bertempat di padepokan Pasulukan loka Sumadikarta di Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang. ”pungkasnya ( AGE).

KACIJULANGAN, HADIR DALAM KEPAKUMAN KEGIATAN TRADISI BUDAYA

CIJULANG–Lahirnya sebuah kebudayaan biasanya tercipta atau dilatarbelakangi oleh kegiatan orang tua dahulu yang kemudian menjadi adat atau kebiasaan di daerah tersebut, dan ini akan memiliki arti tersendiri bagi masing-masing daerah. Kini dengan masuknya budaya asing ke Indonesia, perlahan ada pergeseran gaya hidup masyarakat dan pola kebiasaan yang sudah turun temurun dari pada pendahulu dengan nuansa tradisolnal masyarakat asli Indonesia.

Begitu juga yang terjadi pada tatanan kehidupan masyarakat Pangandaran, nampak kini ada sentuhan modern hingga tidak menutup kemungkinan dampak yang akan ditimbulkan lambat laun akan melupakan budaya asli Pangandaran.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, hari Selasa, (27/12) para budayawan dan kasepuhan di Kabupaten Pangandaran menggelar tradisi kuno pembacaan sejarah Kacijulangan dibawah pohon wareng di sekitar area Bandara Nusawiru Desa Kondangjajar Kecamatan Cijulang.

Dengan dihadiri para juru kunci dan tokoh supranatural, acara digelar dengan menyajikan sejumlah sesaji dibalut kemasan budaya tradisi kuno, namun tidak mengurangi khusuan ritual tersebut walau dalam helatan  secara sederhana melalui ritual yang sakral, sarat makna dan dalam sentuhan budaya dan tradisi.

Bahkan setelah pelaksanaan pembacaan sejarah kacijulangan tersebut, sejumlah tokoh dan para juru kunci tempat keramat, tidak sedikit yang mengambil air bunga yang sebelumnya dibacakan doa’-doa’  sebagai media untuk dijadikan campuran air mandi yang dibawa ke rumah masing-masing.

Menurut juru baca sejarah Kacijulangan, Aki Ajim (72), kegiatan ini merupakan tradisi lama yang saat ini hampir punah, namun berkat dorongan para budayawan muda dan pelaku adat dirinya kembali diundang untuk menjadi juru baca sejarah tersebut.

“Ada sarat-sarat tertentu dalam pembacaan sejarah Kacijulangan serta harus mempunyai ketentuan tersendiri, diantaranya harus berdasarkan perhitungan sunda kuno dan hanya boleh dibacakan pada bulan Mulud,” terang  Aki Ajim.

Sejarah Kacijulangan, menurut Aki Ajim, merupakan sejarah purwaningjagat atau sejarah penciptaan alam semesta dan ajaran ketauhidan juga prilaku manusia untuk mengenal para pendahulu supaya manusia bisa mengenal dirinya dan penciptanya.

“Dalam sejarah ini ada dua hal penting yang harus diperhatikan, diantaranya sejarah gede dan sejarah leutik,” tambah Aki Ajim.

Sejarah gede (besar) menerangkan proses terciptanya alam sedangkan sejarah leutik (kecil) menerangkan proses kehidupan manusia. Namun untuk melaksanakan pembacaan sejarah Kacijulangan harus dilakukan oleh orang yang sudah memiliki keimanan dan ketauhidan yang sempurna karena dikhawatirkan nantinya ada perbedaan penafsiran.

“Dalam rangkaian isi sejarah Kacijulangan dibacakan ada terkandung ajaran tauhid, disinilah banyak orang yang salah tafsir memaknai paparan tauhid tersebut, sehingga tradisi pembacaan sejarah Kacijulangan pernah mendapat pertentangan dari beberapa kalangan Kiyai,” terang Ki Ajim lagi.

Menurut seorang budayawan, Erik Krisnayudha Astrawijaya Saputra, tradisi pembacaan sejarah Kacijulangan atau sejarah purwaningjagat ini bisa dijadikan khasanah budaya sebagai salah satu destinasi wisata budaya.

“Kalau Kabupaten Ciamis memiliki tradisi nyangku di Panjalu, maka Kabupaten Pangandaran pun memiliki tradisi pembacaan sejarah Kacijulangan,” kata Erik.

Erik berharap, tradisi kuno tersebut bisa dipertahankan dan jangan sampai punah lantaran merupakan salah satu aset tradisi jatidiri warga Pangandaran.

“Tahun ini kami bisa menyelenggarakan tradisi kuno pembacaan sejarah Kacijulangan karena masih ada juru bacanya yaitu Aki Ajim, entah tahun depan bisa lagi dilaksanakan entah tidak lantaran sampai saat ini minim SDM yang memiliki talenta tersebut,” tambah Erik.

Sementara Ketua Kelompok Masyarakat Penggerak Pariwisata (Kompepar) Kabupaten Pangandaran Edi Rusmiadi mengapresiasi pelaksanaan pembacaan sejarah Kacijulangan tersebut.

“Tradisi ini harus dipertahankan, kami harap kepada pelaku budaya ini memiliki agenda dan kelender kegiatan tetap dan ke deepannya diharapkan generasi muda pun bisa untukikut budaya ini. “ tamdasnya. (AGE)

LEGENDA ASAL MULA NAMA CIBANTEN

CIJULANG - Cerita yang beredar di tengah masyarakat tentang legenda terbentuknya asal mula nama Cibanten, salah satu nama desa di wilayah Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran sampai terus digali oleh penggiat kebudayaan setempat. Namun disayangkan, para penyampai pesan cerita itu tidak bisa menunjukkan bukti fisik yang mendukung kekuatan cerita tersebut, baik dalam bentuk artepak-artepak, prasasti, pekakas kuno, tugu batu, maupun bangunan-bangunan kuno yang bisa menguatkan tentang legenda Cibanten tersebut.

Salah satu bukti, keberadaan mata air Cisiuk yang terletak di Dusun Cibanten Desa Cibanten diyakini masyarakat setempat sebagai mata air yang memiliki sejarah yang berhubungan langsung dengan cikal bakal berdirinya sebuah daerah baru hingga tempat tersebut akhirnya diberi nama Cibanten.

Seperti yang dikatakan salah seorang warga, Jumain (67), jika diperhatikann ada hal unik dengan nama-nama tempat di sekitar Cibanten yang semuanya menggunakan awalan “Ci” (air). Seperti Ciakar diambil dari kata cai dan akar, maksud akar sudah dapat dipahami yaitu bagian dari pohon yang menancap ke dalam tanah. Cijulang dari kata cai dan julang, kata julang diambil dari nama salah satu jenis pohon, kijulang. Hingga saat ini pohon ini masih sangat terkenal dan pohon tersebut biasa digunakan khsusus untuk sarangka (sarung) golok.

"Sementara nama Cibanten sendiri diambil dari kata cai dan banten, mungkin saja ada  hubungan khusus antara masyarakat disini dengan masyarakat banten. “Ungkap Jumain.(14/12).

Seperti diketahui, menurut Jumain, masyarakat sunda mungkin sudah akrab dengan nama-nama daerahnya yang berawalan ci (cai). Seperti yang diakhiri nama pohon, Cijambe, Cijulang, Citamiang, Cihaur, Cikalapa, Cimuncang, Cukaret dan lain-lain.

Yang diakhiri nama alam, Cicurug, Ciguha, Cigalupit, Cikarakal, Cigugur dan banyak lagi. Ada juga yang diakhiri nama warna, seperti, Cibodas, Cikoneng, Cibiru, Cibeureum, Cibungur, Cihideung. Sementara ada juga kombinasi antara letak geografis pegunungan atau lembah dengan nama pohon, misalnya : Pasirkaliki, Pasirwaru, Pasirceuri, Pasirkiara, Legokputat, Legokjengkol, Legokwaru, Legokseuruh, Legokbungur, Legokjawa.

“Sedangkan nama Cibanten, uniknya karena diambil dari nama daerah lain, banten, sebuah daerah yang terkenal dengan ilmu kanuragan dan kesaktiannya" ungkap Jumain lagi.

Kembali ke asal mula nama Cibanten, masih cerita Jumain, konon dulu ada seorang kokolot yang biasa dipanggil Embah atau Sembah bernama Nagabali yang datang dari daerah Banten dengan membawa air sasiuk (segayung), lalu air tersebut disimpan di suatu tempat yang kemudian menjelma menjadi mata air. Hingga sekarang daerah tersebut disebut Cisiuk dan di tempat ini juga masih terdapat mata air dengan ukuran tidak terlalu besar tetapi tidak pernah kering.

“Karena asal mula air tersebut dibawa dari daerah banten maka dinama Cibanten", imbuhnya.

Jumain dan masyarakat sekitar meyakini, di sekitar mata air itu merupakan sebuah patilasan, tempat singgah Embah Nagabali untuk melakukan ritual pertapaan atau tirakat dalam rangka mensucikan diri.

"Jadi jika kita menelusuri nama Nagabali yang akar katanya diambil dari nama-nama binatang, dimungkinkan orang ini termasuk keluarga ningrat, atau orang penting di sebuah kerajaan", kata Jumain.

Karena, lanjut Jumain, jika dihubungkan dengan nama raja-raja yang pernah berkuasa di Nusantara yang banyak mengambil dari nama-nama binatang, seperti, Hayam Wuruk, Gajah Mada, Ciung Wanara, Siliwangi (harimau), Munding Laya Dikusumah.

“Dan Nagabali  pun sama, diambil dari nama hewan Naga", pungkasnya. (AGE).

UGA KACIJULANGAN BISA JADI REFERENSI RUTR-RT RW KABUPATEN PANGANDARAN

Cijulang ngadeg ku anjeun
CIJULANG – Jas Merah, "Jangan sampai melupakan sejarah", begitu tajuk pidato presiden pertama Republik Indonesia, Ir.Soekarno  saat pidato sebelum lengser dari kursi kepresidenannya. Satu nilai pelajaran buat generasi muda yang saat ini sudah mulai melupakan sejarah, baik sejarah nasional maupun sejarah daerahnya sebagai salah satu kearifan lokal.

Referensi sejarah lokal di Pangandaran kini mulai punah, hal tersebut terjadi karena dokumen sejarah itu sendiri tidak diarsipkan secara baik. Selain itu pelaku dan saksi mata pun satu persatu tutup usia sebelum bisa mewariskan ceritra kepada generasi selanjutnya.

Salah satu sejarah kearifan lokal yang kini mulai punah, diantaraanya sejarah Kacijulangan, padahal dalam kitab Kacijulangan disana tertulis beberapa sejarah dan keterangan yang sudah tersusun oleh para karuhun atau orang terdahulu dari berbagai aspek dan kalangan.

Salah seorang tokoh masyarakat Cijulang, Abdul Gopar yang akrab disapa Opang menuturkan, arah pembangunan dan zonasi daerah yang saat ini masuk ke Kabupaten Pangandaran telah tertera dalam uga kacijulangan yang dirintis oleh Raden Wiratanu Ningrat.

Menurut Opang, Uga merupakan ceritera orang tua dulu yang turun temurun dalam bentuk siloka atau kiasan yang diprediksi akan terjadi pada masa mendatang.

“Kini beberapa uga pun saat ini sudah menjadi kenyataan,” kata Opang.

Masih dikatakan Opang, adanya pembangunan Bandara Nusawiru, Pelabuhan Laut Regional dan areal pertambangan di Kecamatan Cimerak pun sudah tertera dalam Uga.

Uga adanya pembangunan pelabuhan di Bojongsalawe menurut Opang, tertera kalimat  lamun kembang wijayakusuma kasiram minyak, kalakay nyampay ka Batukaras.

“Artinya, kalau pelabuhan Cilacap telah penuh dengan pertambangan minyak maka di Bojongsalawe akan dibangun pelabuhan baru,” tambah Opang.

Begitupun dengan lokasi Bandara Nusawiru, menurut Opang, juga terkandung dalam uga Kacijulangan ada kalimat, Sodongkopo bakal jadi pangeuntreupan papatong, ngan lamun hanteu tartib hartosna parele bakal papatong beneran anu euntreup, artinya harus dibangun dulu perekonomian masyarakatnya, juga pariwisatanya baru Bandara Nusawiru bisa dibangun atau.dikembangkan.

Selain itu, adanya aset pertambangan di wilayah Kecamatan Cimerak, lanjut Opang,  disimbolkan oleh jalur jalan kereta api yang dalam tujuan Belanda waktu itu akan mengeruk kekayaan emas dalam bentuk batu pirit atau emas muda.
“Raden Wiratanu Ningrat pun telah melakukan pemetaan untuk areal pertanian yang lokasinya di daerah Kecamatan Lakbok dan Padaherang,” papar Opang.

Opang menyebutkan, seandainya saja ada pelestarian sejarah dan budaya yang dipahami masyarakat, tentunya Pemerintah Daerah pun bisa menyadur referensi dalam Uga tersebut.

“Sebab dalam Uga pun tertera pemetaan zonasi untuk perekonomian, dan bisa dijadikan acuan RUTR dan RTRW,” pungkasnya. (AGE).

CIJULANG NGADEG KU ANJEUN

CIJULANG - "Cijulang Ngadeg Ku Anjeun" merupakan satu ungkapan para orang tua dahulu yang kini mulai terlihat kebenarannya ibarat sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Babad karuhun orang Cijulang berasal dari daerah Kedungrandu Banyumas jawa tengah, bernama Nini Gede Aki Gede dengan empat bersaudaranya. Pertama, Sembah Jangpati (berkuasa di Ciamis), Sembah Jangraga (berkuasa di Karang Simpang), Sembah Jangsinga (berkuasa di Panjalu), dan keempat Sembah Janglangas (berkuasa di Cijulang), semuanya putra dari Sunan Raja Mandala,

Seperti diceritakan tokoh budaya Cijukang, Tatang, Nini Gede Aki Gede memiliki seorang putri yang cantik rupawan dan jadi tambatan hati Kanjeng Sinuhun penguasa (raja) di Banyumas. Namun saat itu oleh Nini Gede Aki Gede, anaknya tidak diijinkan untuk dipinang oleh Kanjeng Sinuhun tersebut, sehingga Nini Gede Aki Gede beserta keluarganya pun diusir dari tanah Banyumas.

Keluarga  Nini Gede Aki Gede pun lalu berkelana ke arah barat beserta keluarga dan sanak saudaranya. Mereka pun hu8ngga menyeberangi sungai (sekarang disebutlah hanjatan Cimanganti) dan tinggal di suatu tempat dengan membuat sebuah rumahsatu bale satu surau/masjid (disebutlah Padepokan Karasanbaya).

Lama kelamaan Nini Gede Aki Gede berpikir merasa khawatir padepokannya akan diketahui oleh Kangjen Sinuhun. Maka ia pun menyuruh anak pertamanya Sang Prabu Lawangjagang untuk tinggal di padepokan tersebut yang terkenal dengan sebutan Kawasan. Sementara ia sendiri beserta keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat, lalu ke selatan. Di satu tempat pun ia sempat ngaso (istirahat) dan sekrang tempat istiraha tersebur dinamakan  Cikaso. Di situ ia membuat sebuah rumah-satu bale (terkenal dengan Sukalembah). Di Sukalembah ditinggalkan seorang anak bernama Mangun Naha Mana Manggala. Lalu Nini Gede Aki Gede pun menlanjutkan perkelanaannya lagi.

Di Bojonglekor,  ia menyimpan satu putra bernama Sang Prabu Mangun Ciker dengan dibuatkan satu rumah-satu bale. Kemudian ke Bubulak Karangsimpang dengan satu rumah-satu bale. Lalu pergi lagi hingga buatannya, di tempat baru ini satu rumah-satu bale ditambah satu sumur disebut Daerah Binangun.

Nini Gede Aki Gede pun melanjutkan perjaklanannya meninggalkan Binangun untuk mencari daerah baru sebagai tempat untuk bermukim di Nagarawati, karena tidak lahan kosong, ia pun memutuskan untuk kembali ke Binangun.

Dalam perjalanannya, Nini Gede dan Aki gede Kemudian terus berjalan hingga ke Bojongmalang, Sarakan, Cikadu, Cikawao, Cikagenah, Cipatahunan dan Gurago. Di Gurago Nini Gede Aki Gede menetapkan penghulu, kholifah dan perangkat-perangkatnya. Stelah itu ia Lalu pergi ke Cigugur.

Dikisahkan pula, Beberapa tahun kemudian Nini Gede Aki Gede dipanggil Raja Sukapura Dalem Tamela untuk dimintai anaknya yang sudah dinikahkan sebelumnya, alkisah permintaan tersebut sampai tujuh kali datangnya. Hingga pada akhirnya permintaan tersebut dikabulkan dengan memberikan suatu wilayah kekuasaan kepada mantan menantunya dengan pemberian gelar Sembah Ragasang dan diperbolehkan membawa sembilan kuren keluarga.

Pergilah Sembah Ragasang beserta keluarganya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir, dan tiba di Panjalu kemudian ke Ciamis menemui saudara ibunya yang bernama Jang Pati, lalu terus ke arah barat menuju belantara hutan. Di sana lahirlah Sembah Ragadimulya. Perjalanan pun lalu dilanjutkan ke selatan, di Mandala, Karangnini dan Jajaway.

“Demikian dikisahkan (cukcrukan galur sasakala) Cijulang, jika disimpulkan, karena Nini Gede Aki Gede bolak-balik bagaikan air balikan di muara sungai. Tanda (ciri)-nya kalau sekarang adalah cai mulang (di Cijulang) yang terbendung air laut di sekitar Sungai Haurseah sebelah selatan, “Abah Kundil sapaan Tatang.

Pada akhirnya sungai inilah yang akan menjadi tulang punggung dan sumber kehidupan masyarakat setempat seperti peradaban sungai nil , tigris dan sungai eufrat di timur tengah. Sungai Cijulang melindungi sendi-sendi kehidupan masyarakat . Pertanian, perkebunan, perikanan, transportasi, peternakan  dan tentunya pariwisata.

Semua aspek bermuara pada satu sentral penunjang, sungai Cijulang yang kini terkenal dengan pariwisata Cukang Taneuh (Green Canyon). Transfortasi Udara di Nusawiru pun kini mulai ditata untuk kedepannya menjadi Bandara Internasional sebagai bukti kemajuan yang mulai terwujud di Cijulang.

“Jadi jelas apa yang dikatakan orang tua dulu sudah mulai nampak kebenaran nya lewat Uga dalam cerita Babad Cijulang, “pungkas Tatang. (AGE).

ASAL MUASAL HIASAN JANUR KUNING PADA ACARA HAJATAN

Situs budaya religi Raden Angga Wacana merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Sukapura, tepatnya di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran pada masa pergeseran Hindu-Budha ke Islam.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui sejarah tersebut, karena tidak ditulis dalam buku kurikulum atau dalam  muatan lokal di sekolah-sekolah. Sejarah tersebut hanya dituangkan dalam sebuah buku Babad Cijulang yang merupakan buku kumpulan sejarah dan sebagai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) nya para karuhun masyarakat Cijulang.

Dalam buku Babad Cijulang, konon, dikisahkan nama Raden Angga Wacana yang pada waktu kecil bernama Naga Wacana, seiring dengan usianya menginjak dewasa juga dengan bekal ilmu agama semakin fasih, akhirnya oleh santri-santrinya ia dijuluki Raden Angga Wacana.

Salah seorang tokoh asal Cijulang Abah Kundil menuturkan, suatu hari Raden Angga Wacana mendapat kabar bahwa Kerajaan Cirebon mengadakan sayembara untuk para jawara se-Nusa Jawa. Dalam sayembara tersebut, dikisahkan, pemenang sayembara oleh Raja Cirebon akan diuji harus bisa meratakan Gunung Hata. Rencana Raja Cirebon meratakan gunung Hata tersebut  bertujuan untuk mendirikan sebuah mesjid agar penyebaran agama Islam di Kerajaan Cirebon pun bisa maksimal dan tersebar luas.

“Siapa saja yang berhasil meratakan gunung hata akan diberi hadiah salah seorang putri Raja Cirebon untuk dinikahi. “cerita Bah Kundil.

Dikisahkan juga, Raden Angga Wacana pun akhirnya berpamitan pada istrinya karena berniat hendak mengikuti sayembara tersebut. Setelah mendapat restu isterinya, Raden Angga Wacana pun berangkat dengan hanya dibekali satu bungkus nasi untuk bekal dalam perjalanannya.

“Setelah sampai dilokasi arena sayembara  Raden Angga Wacana tidak langsung masuk arena, tapi ia merangkai sisa serpihan kayu tatal untuk dijadikan fondasi dan rangka bangunan mesjid diluar arena sayembara,” tutur Abah Kundil.

Dengan ilmu dan kedigjayaan yang dimilikinya, akhirnya Raden Angga Wacana pun berhasil membuat fondasi dan rangka bangunan mesjid hanya dalam hitungan jam saja. Dan setelah rangka dan fondasi selesai dibuat, Raden Angga Wacana pun mulai meratakan Gunung Hata serta mulai meletakan rangka dengan fondasi mesjid yang sebelumnya dibuat .

“Ketika melihat kemampun yang dimiliki Raden Angga Wacana meratakan gunung Hata serta meletakan fondasi dan rangka mesjid dalam waktu singkat, Raja Cirebon pun kaget dan memberhentikan pertarungan yang diikuti para jawara tersebut,” lanjut Bah Kundil.

Melihat kesaktian Raden Angga Wacana yang sudah berhasil meratakan Gunung Hata serta membuat fondasi mesjid, akhirnya raja pun mengakui kesaktian serta keunggulan yang dimiliki  Raden Angga Wacana. Tapi karena seluruh peserta semua merasa paling unggul dan berhak mendapatkan hadiah putri raja, di tengah kebingunannya raja pun mengambil inisiatif untuk membuat burung dari janur kuning. Dan setelah jadi, burung dari janur kuning tersebut lalu diterbangkan hingga hinggap pada Raden Angga Wacana, akhirnya raja pun memutuska jika pemenangnya adalah Raden Angga Wacana.

“Raja Cirebon pun berkata, Raden Angga Wacana karena engkau berhasil meratakan gunung Hata dan telah menyiapkan rangka bangunan mesjid beserta pondasinya, maka engkau ber hak untuk menikahi putri kami,” Ujar Bah Kundil.

Tetapi dikarenakan Raden Angga Wacana telah mempunyai isteri, secara halus ia pun menolak untuk menikah dengan  putri Raja Cirebon dan memilih langsung pulang ke Sukapura. Tetapi karena Raja Cirebon merasa penasaran, akhirnya ia pun mengutus prajurit untuk menyusul Raden Angga Wacana dan tetap harus dinikahkan dengan putrinya.

Singkat cerita, setelah prajurit Kerajaan Cirebon berhasil menemukan Raden Angga Wacana, kemudian membujuk agar Raden Angga Wacana kembali ke Cirebon untuk menikah dengan  putri Raja, tapi Raden Angga Wacana tetap bersikeras tidak mau menikahinya hingga terjadilah perkelahian.

Dalam perkelahian tersebut, diceritakan seluruh prajurit Kerajaan Cirebon kalah. Dengan kesaktian yang dilmiliki Raden Angga Wacana, seluruh prajurit berubah menjadi patung  pada posisinya masing-masing dan hanya menyisakan satu orang yang tidak bisa dikalahkan, Kakak laki-laki putri Raja bernama Sembah Langkung.

“Dengan tutur kata lembah lembut, Sembah Langkung akhirnya berhasil membujuk Raden Angga Wacana agar mau menikahi adiknya. “lanut Bah Kundil.

Raden Angga Wacana bersedia menikahi putri raja Cirebon dengan satu syarat, sebagai simbol ia ingin pernikahannya dihias janur kuning.

Setelah Sembah Langkung berhasil menikahkan adiknya dengan Raden Angga Wacana, akhirnya seluruh peralatan yang dibawa prajurit Kerajaan Cirebon dikumpulkan dan disimpan di sebuah tempat yang kemudian tempat tersebut menjadi batu.

“Hingga saat ini, hiasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” pungkas Abah Kundil. (AGE)

GOA CIRAWUN DAN KISAH DALEM SEMBAH AGUNG

CIJULANG-Goa Cirawun, kekayaan alam Desa Masawah Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran bisa menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan objek wisata Pangandaran. Bagi masyarakat setempat sendiri, goa cirawun disebut sebagai gunung Cirawun karena letaknya berada di area perbukitan serta goa ini lebih dikenal sebagai situs karena diyakini menjadi salah satu tempat singgah seorang tokoh masyarakat jaman dulu bernama Pangeran Rangga Carita, anak dari Dalem Sembah Agung (Cijulang).

Penyebaran siar Islam di Tatar Galuh selatan, tepatnya di Pangandaran tak lepas dari jasa dan kedigjayaan kerajaan Mataram pada waktu itu. Dua tokoh penting yang melakukan perjalanan dari Mataram ke tanah pakidulan dalam penyebaran agama Islam yaitu Sembah Kalincir Putih yang patilasannya bisa kita temui di Karang Petir Desa Parigi dan ulama jumhur Dalem Sembah Agung, yang patilasannya berada di Dusun Pasuketan Desa Batukaras Kecamatan Cijulang merupakan  ayah dari Kyai Rangga Carita.

Menurut salah satu tokoh masyarakat, Ibid (70), menuturkan, Pangeran Rangga Carita semasa kecil tinggal bersama ayahnya di Sandaan, Cijulang. Pada saat Pangeran Rangga Carita sedang ditidurkan pada sebuah ayunan, karena ibunya ada keperluan, maka Rangga Carita dititipkan kepada suaminya, Dalem Sembah Agung dan saat itu isterinya berpesan apabila anaknya menangis jangan dilihat. Tetapi pada saat  Rangga Carita menangis dalam ayunan, Dalem Sembah Agung tetap melihat Rangga Carita dan seketika anaknya pun menghilang entah kemana.

“Setelah Pangeran Rangga Carita menghilang dari ayunan,  Dalem Sembah Agung bersama isterinya pun mencari-cari anaknya ke berbagai tempat. “Cerita Ibid.

Di suatu tempat, masih cerita Ibid,  Dalem Sembah Agung menemukan peso (pisau) anaknya yang biasa diselipkan di tubuhnya, dan sampai sekarang tempat tersebut dikenal masyarakat dengan kampung Cipeso, berada di wilayah Desa Cijulang.

Selanjutnya dalam perjalanan pencarian anaknya tersebut, Dalem Sembah Agung dan isterinya tidak sengaja menemukan kain wawadasan, dan tempat tersebut sampai sekarang disebut Kalenwadas, salah satu dusun masih di Desa Cijulang.

“Pencarian yang dilakukan oleh Dalem Sembah Agung bersama isterinya berakhir hingga di sebuah goa yaitu Goa Cirawun. “lanjut Ibid.

Konon, Ketika Pangeran Rangga Carita sedang duduk bersila di satu tempat dan telah bisa bicara, saat itu ia  menginginkan diberi nama. Tapi waktu masih bersama ayah-ibunya, belum sempat memberi nama. Akhirnya ia pun membuat nama untuk dirinya sendiri, Rangga Carita yang selanjutnya  berubah nama menjadi Sultan Muradi,  (AGE)

PEMIMPIN SISTEM By. Suheryana

Dahulu kala, zaman Nabi Daud belum pake Adidas, Pemimpin adalah orang yang serba bisa, serba tahu, selalu terdepan. Mampu berperang, memahami agama dan adat, sakti mandraguna, kharismatik, kuat, memahami sejarah, menguasai teknologi di zamannya, konsultan kesehatan dan keluarga, penyelesai masalah di masyarakat.

Tetapi di zaman sekarang, agaknya terlalu berat kalau pemimpin harus menjadi manusia setengah dewa yang serba tahu dan mempunyai multi talenta. Sangat sulit mencari orang yang menguasai teknologi terkini, menguasai informasi, faham ekonomi, futurolog yang handal, penjaga moralitas, ulama yang tawadhu, akhli psikologi, faham sosiologi, mengerti akuntansi, jago manajemen, menguasai prinsip-prinsip leadership.

Sangatlah sulit. Sedang memahami satu disiplin ilmu saja tidak pernah tuntas.

Jadi, pemimpin masa kini cukuplah menjadi orang biasa yang memahami potensi orang-orang jenius serta menempatkan orang-orang berkemampuan di bidangnya, orang yang bisa mengambil keputusan dengan intuisi yang terlatih, berani bertindak dan mengambil resiko, mempunyai integritas dan komitmen, menghargai keberadaan dirinya dan orang lain, mampu membangun sinergi, pro aktif dan berwawasan beberapa langkah di depan zamannya.

Bayangkan seperti pemilik mobil. Untuk memanfaatkan mobil, tidak harus mengerti  bagaimana cara kerja mesin, apa fungsi busi, bagaimana bensin menghasilkan energi, kapan ditemukan roda, apa fungsi kabel, bagaimana prinsip-prinsip power steering. Seseorang cukuplah mengerti bagaimana menghidupkan mobil, bisa menempatkan kendaraan pada dimensi ruang yang pas, mengerti fungsi rem, pedal gas, lampu sign, dan sebagainya.

Sesederhana itu, dan sesederhana itulah pemimpin masa kini.

(penulis, salah seorang PNS di Pemkab Pangandaran)

Orgasmic Writing

-Kisah inpirasi ini disampaikan Abuy khusus untuk Redaksi Pangandarannews sahabat Nomor1.



Menulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan sulit didefinisikan dengan kata-kata. Proses menulis, dalam banyak kasus, membawa saya ke dalam percumbuan dengan kekekalan. Artinya, menulis membuat saya melayang dan terbang dari kefanaan, lalu bercengkerama dengan alam ide, dunia maya, alam batin yang non-fisik, dimana ruang dan waktu tak berfungsi sebagaimana di alam nyata (fisik).

Saat asyik menulis, saya bisa tak mendengar suara-suara yang berkeliaran di sekitar. Saya seolah-olah pindah ke alam lain, ke tempat lain, dimana ide-ide saling berkelindan. Sebutir ide mengejar dan mencumbui ide lainnya. Kemudian lahirlah anak-anak ide, yang tak ada sebelumnya.

Waktu juga terasa berhenti. Saya pernah menulis sebuah tulisan sejak pukul 7 malam hingga pukul 7 pagi. Nonstop. Tanpa berdiri sejenak pun. Tanpa makan dan minum. Selama 12 jam itu saya seolah-olah lepas dari ikatan waktu. Saya tersadar karena pintu kamar saya diketuk, lalu melihat jam tangan dan langsung terperanjat sendiri.

Bila sebuah konsep tuntas saya tuliskan, maka ada kelegaan yang besar. Ada kepuasan khusus yang agaknya hanya bisa disetarakan dengan fenomena orgasme yang bersifat mental dan spiritual. Bersifat mental karena tulisan terkait dengan intelektualitas saya, cogito ergo sum. Dan bersifat spiritual karena tulisan bermain di wilayah makna, mengejawantahkan keberadaan saya sebagai homo significants, sang pemberi makna, yang keberadaannya juga disebabkan oleh kepercayaannya atas “sesuatu” yang lebih besar dari dirinya, credo ergo sum.

Pengalaman yang luar biasa itulah yang saya sebut orgasmic writing. Bukan apa-apa. Nama yang diusulkan oleh kawan muda Edy Zaqeus itu memang terasa, terdengar, dan terlihat paling dekat dengan sensasi yang dimunculkan dalam kegiatan menulis itu sendiri.

Anda punya pemikiran atau nama lain?

(tulisan ini diterima redaksi pangandarannews melalui email)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN