Rumahnya Dibongkar Untuk Proyek KDMP, Seorang Nenek di Pangandaran Mengaku Pasrah

PANGANDARANNEWS.COM - Secara serentak di seluruh Indonesia pemerintah daerah saat ini tengah membangun gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), tak terkecuali di Kabupaten Pangandaran. 

Mungkin akibat dari salah satu pembangunan tersebur, membuat seorang nenek berusia 80 tahun, Cani, warga Desa Ciparakan, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran, harus kehilangan tempat tinggalnya. Pasalnya, rumah yang sudah lama ditinggalinya di tanah milik desa ini berpotensi tergeser proyek pembangunan KDMP.

Saat ini nenek Cani pun mengaku bingung dan tidak tahu harus ke mana, karena ia sudah menempati rumah kayu dengan dinding bilik yang berdiri di atas lahan seluas 10x6 meter itu sudah ditempati Cani selama kurang lebih 15 tahun.

"Saya sudah sejak tahun 2011 menempati lahan ini," ungkap nenek Cani.(04/03/26)

Walaupun berdiri di atas tanah desa, terang Nenek Cani, rumahnya ini dibangun sendiri bersama almarhum suaminya. Dan ia terpaksa tinggal di tanah desa yang berada di depan jalan kabupaten, lantaran lokasinya lebih dekat dengan pemukiman warga lainnya.

 "Sebenarnya saya punya tanah sendiri, cuman jauh dari penduduk," ucapnya.

Nenek Cani menyebut, ia sudah dipanggil pihak desa terkait rencana pembangunan koperasi tersebut karena tidak ada cara lain selain pasrah. 

Kendati demikian, ia akan berusaha memohon dan berharap agar lokasi pembangunan tidak menggusur tempat tinggalnya. 

"Kalau bisa digeser lokasinya sedikit, kan tanah desa itu luas dan bukan hanya di sini saja," ungkapnya.

Sementara dari informasi yang diperoleh luas tanah desa tersebut mencapai sekitar 100 bata lebih, dan lahan yang akan digunakan untuk pembangunan KDMP sendiri diperkirakan berukuran 30 x 20 meter.

Ditemui terpisah, salah seorang anak Nenek Cani, Sapnan (52), berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali lokasi pembangunan. 

Menurutnya, saat ini kondisi ibunya yang sudah lanjut usia dan tidak memiliki penghasilan tetap. 

"Kasihan ibu saya sudah tua, untuk kebutuhan sehari-hari saja sekarang dibiayai anak," jelas Sapnan.

Sapnan menyebut, selama ibunya menempati lahan desa keluarganya rutin membayar kontribusi sebesar Rp70 ribu per tahun kepada pihak desa.

Kepala Desa Ciparakan, Sarji, membenarkan bahwa persiapan lahan untuk pembangunan KDMP dijadwalkan mulai hari ini dan sejumlah perangkat desa serta warga pun sudah berkumpul di lokasi.

Namun di lapangan proses pembongkaran sempat terkendala karena sejumlah warga ragu untuk mulai merobohkan rumah tersebut, karena adanya kemungkinan pihak ketiga yang meminta agar pembongkaran tidak dilakukan. 

"Padahal sebelumnya permasalahan dengan penghuni rumah sudah beres dan sudah ada komitmen serta sudah menyadari," terang Sarji.

Meskipun demikian, Sarji mengaku, pihaknya berencana akan mengusulkan bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) bagi Cani setelah proses pembongkaran dilakukan.

"Mudah-mudahan bisa ada program rutilahu untuk Nenek Cani," kata Sarji. (hiek)




Isi Kegiatan Ramadhan, Petugas Damkar Pangandaran Bagikan Takjil Pada Warga

PANGANDARANNEWS.COM - Beberapa waktu lalu sejumlah petugas Pemadam Kebakaran (Damkar) turun ke jalan, namun kali ini bukan sedang sedang bertugas memadamkan kobaran api melainkan membagikan ratusan takjil kepada masyarakat di Pos Wilayah 2 Damkar Pangandaran.(03/03/26)

Saat ditemui, Sekretaris Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Pangandaran, Risa Gantira, menyampaikan, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menumbuhkan semangat berbagi sekaligus mempererat hubungan antara petugas dan masyarakat selama bulan Ramadan.

"Kegiatan, kata Risa, bertujuan meningkatkan kepedulian sosial petugas kepada masyarakat di sekitar wilayah tugasnya.

“Melalui kegiatan ini kami ingin menunjukkan bahwa petugas pemadam kebakaran tidak hanya bertugas saat terjadi kebakaran, tetapi kami juga memiliki kepedulian sosial pada masyarakat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pembagian takjil kepada pengguna jalan dan warga sekitar juga menjadi sarana untuk membangun kedekatan serta komunikasi yang lebih baik antara petugas dengan masyarakat.

Dengan adanya kegiatan berbagi takjil ini, ia berharap hubungan antara petugas dan warga semakin erat sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan publik terhadap petugas di lapangan.

Selain itu, imbuhnya, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat berbagi di bulan suci Ramadan sekaligus memperkuat nilai kebersamaan antara pemerintah daerah dan masyarakat.

"Pembagian takjil ini berlangsung di sekitar Pos Wilayah 2 Damkar Pangandaran dan mendapat sambutan positif dari warga yang melintas di lokasi," terangnya. (hiek)


Tanggapi Keluhan Masyarakat Terkait MBG, KNPI Akan Lakukan Audensi Ke Satgas MBG Kabupaten Pangandaran

PANGANDARANNEWS.COM - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabuapten Pangandaran, akan melakukan audiensi dengan Satuan Tugas (Satgas) MBG Kabupaten Pangandaran.

Seperti disampaikan Sekretaris DPD KNPI Pangandaran Tian Kadarisman, pihaknya berencana melakukan audiensi langsung dengan Satgas MBG yang rencananya akan dilaksanakan di Aula Setda Kabupaten Pangandaran pada Jumat tanggal 06 Maret 2026.

Tian pun mengajak semua elemen masyarakat untuk bersuara langsung dihadapan  Satgas MBG Kabupaten Pangandaran, terkait keluh kesah program MBG di Pangandaran.

" Kita semua perlu penyampaian aspirasi langsung dan memperlihatkan bukti ketidakberesan pelaksanaan program tersebut, jadi tidak hanya di media sosial saja," kata Tian.(04/03/26)

Ia menambahkan, KNPI membuang ruang selebar lebarnya kepada masyarakat untuk menyampaikan langsung kepada pemangku kebijakan dengan harapan ada perbaikan-perbaikan yang signifikan untuk kedepanya.

Hal senada disampaikan pengurus KNPI Parigi Rafi, beberapa laporan masyarakat mengungkapkan ketidaksesuaian porsi makana. Salah satunya seperti menu yang seharusnya dialokasikan untuk satu hari disebut cukup untuk dua hari, bahkan alokasi dua hari diklaim untuk tiga hari atau lebih.

"Tentunya ini menjadi  ketidakpuasan dari masyarakat, sehingga perlu audiensi dengan Satgas MBG Pangandaran," ungkapnya.

Penyampaian aspirasi melalui media sosial maupun media massa, kata Rafi, memang penting sebagai bentuk partisipasi publik. 

"Kalau dihadapkan langsung kita harapkan mungkin ada perubahan sistematik," ucapnya.(hiek)

Ada Apa ? Proyek IPAL Rp600 Juta Di Pantai Barat Pangandaran Belum Rampung Padahal Gunakan Anggaran 2025

PANGANDARANNEWS.COM – Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berlokasi di kawasan Pantai Barat Pangandaran dengan anggaran sekitar Rp600 juta, hingga saat ini tak kunjung selesai. Padahal waktu pengerjaan telah melewati batas tahun anggaran 2025, sehingga memicu sorotan dan desakan agar segera dirampungkan sebelum libur Idul Fitri 2026.

Pantauan di lokasi pembangunan tepatnya di sekitar Pos 1 Pantai Barat Pangandaran, area proyek tampak tertutup tenda dan pagar seng. Tak terlihat aktivitas pekerja maupun papan informasi proyek sebagaimana lazimnya pekerjaan konstruksi pemerintah, kondisi itu tentu menimbulkan kesan kumuh di salah satu titik strategis kawasan wisata andalan daerah.

Keterlambatan proyek tersebut terjadi diduga akibat minimnya fungsi pengawasan dari Bidang Cipta Karya di Dinas Pekerjaan Umum, Tata Ruang, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PUTRPRKP) Kabupaten Pangandaran, yang menangani pekerjaan IPAL tersebut.

Mengetahui  operasi hal tersebut Bupati Pangandaran, Citra Pitriyami yang sebelumnya telah meninjau lokasi proyek dan menyoroti lambannya progres pembangunan sudah memerintahkan agar pekerjaan IPAL diselesaikan sebelum momentum libur Hari Raya Idul Fitri, mengingat kawasan tersebut menjadi pusat kunjungan wisatawan.

Sementara ketika diminta tanggapannya, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTRPRKP Kabupaten Pangandaran, Nanang Heryanto, saat meninjau lokasi beberapa waktu lalu menyatakan, proyek IPAL ini memang seharusnya selesai pada 2025 lalu.

"Namun karena belum selesai, pekerjaan tersebut pun dikenakan denda melalui adendum selama 50 hari," terang Nanang.(02/03/26)

Menurut Nanang, pembangunan IPAL yang mengalirkan limbah dari permukiman warga di kawasan perhotelan itu berada di bawah kewenangan Bidang Cipta Karya.

Sementara dii sisi lain, keberadaan pagar pembatas proyek turut berdampak pada aktivitas pedagang di sekitar pantai. 

Menurut dalah seorang pedagang, Adit, ia mengaku tidak dapat berjualan secara optimal akibat lapaknya terhimpit pagar proyek.

“Saat libur Natal dan Tahun Baru kemarin saja saya tidak bisa jualan, karena lapak dagangan terhimpit pagar proyek," terang Adit.

Adit juga mengatakan hingga kini belum terlihat aktivitas pekerjaan lanjutan di lokasi, bahkan sempat ada bagian konstruksi yang ambruk akibat terhempas ombak saat pasang air laut.

Adit menyampaikan, ia dan para pedagang lainnya berharap agar pengerjaan IPAL ini segera dirampungkan sehingga kawasan di lokasi tersebut pun bisa kembali untuk mencari nafkah.(hiek)


Wisata Air Pangandaran Belum Miliki Izin, Pajak Daerah Pun Tertahan

Poto ilustrasi 
PANGANDARANNEWS.COM - Aktivitas usaha wisata air di obyek wisata pantai Pangandaran Jawa Barat, terus berjalan setiap hari dengan semakin meningkatnya minat para wisatawan. 

Namun di balik ramainya usaha jenis tersebut, tercatat 275 pelaku usaha water sport hingga kini belum memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Sehingga belum terpenuhinya legalitas tersebut, Pemerintah Kabupaten Pangandaran pun belum bisa mengantongi pendapatan pajak dari kegiatan wisata air yang rutin beroperasi di kawasan pantai timur ini.

Saat diminta tanggapannya Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pangandaran, Dadan Sugistha, membenarkan, ratusan pengusaha tersebut masih berada dalam tahapan pengurusan izin usaha.

Ia menyebut, sekarang semua pelaku usaha sedang memproses perizinan terutama ke Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) untuk memperoleh NIB.

"Semuanya ada 275 pelaku usaha itu tergabung dalam 12 kelompok penyedia layanan wisata air," jelasnya, kepada sejumlah wartawan di TIC Pangandaran. (02/03/26).

Dadan mengaku, pihaknya berharap proses administrasi yang berjalan saat ini dapat segera membuahkan hasil dalam waktu dekat.

Situasi tersebut juga menjadi perhatian dari DPRD Kabupaten Pangandaran, salah satunya dari anggota Komisi II DPRD, Ai Nanan.

Ai menilai, belum lengkapnya perizinan ini tentu akan berdampak langsung pada tidak tergarapnya potensi Pendapatan Asli Daerah terutama ketika pemerintah daerah sedang berupaya memperkuat kondisi fiskal.

Seharusnya, kata Ai, wisata air ini bisa menjadi sumber PAD dan harus segera diurus izin-izinnya sesuai ketentuan yang berlaku.

"Pemerintah daerah menghadapi posisi yang tidak mudah, Karena di satu sisi wahana water sport menyimpan peluang besar untuk mendongkrak penerimaan daerah," ungkapnya.

Namun di sisi lain, tambah Ai, tanpa dasar hukum berupa izin resmi langkah penarikan pajak berpotensi menimbulkan konsekuensi hukum serta bisa dipersepsikan sebagai pungutan liar.

Menurutnya, ini seperti buah simalakama, potensinya besar untuk menambah PAD tapi kalau izin belum ditempuh dan ada penarikan itu bisa menjadi indikasi pungli.

Karena itu, ia mendorong agar Disparbud Pangandaran segera mengambil peran aktif dengan memfasilitasi serta menjalin koordinasi bersama para pelaku usaha.

"Langkah ini diperlukan supaya seluruh pengusaha wisata air mengantongi NIB, sehingga kewajiban perpajakan dapat diberlakukan secara sah dan sesuai aturan," tegasnya.

Seperti diketahui, berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Pangandaran Nomor 8 Tahun 2023 khususnya Pasal 24, kegiatan wisata air masuk dalam kategori objek pajak retribusi daerah. Adapun pada Pasal 28, diatur tarif pajak sebesar 10 persen. Namun meski demikian, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Pangandaran belum dapat memungut pajak dari operasional water sport di kawasan Pantai Timur lantaran para pelaku usaha belum memiliki legalitas formal berupa NIB. (hiek)










Dampak Hujan Disertai Angin Kencang, Sejumlah Rumah di Padaherang Pangandaran Rusak Tertimpa Pohon

PANGANDARANNEWS.COM - Akibat guyuran jujan deras yang disertai angin kencang, 10 rumah warga di Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran rusak tertimpa pohon tumbang dan terpaan angin.(02/03/26)

Saat dikonfirmasi, Kepala Desa Sindangwangi Kursin Kusnaedi membenarkan kejadian tersebut. 

Ia menuturkan, angin kencang menjadi faktor utama kerusakan yang terjadi di wilayahnya. Bukan hanya hujan deras, kata Kursin, tapi juga disertai angin kencang yang menyebabkan banyak pohon tumbang dan ada yang menimpa rumah warga.

"Beberapa rumah tertimpa pohon kelapa dan pohon alba yang berada tak jauh dari bangunan," terangnya.

Selain itu, imbuhnya, ada pula rumah yang mengalami kerusakan pada bagian atap karena tersapu angin hingga berhamburan. Namun beruntung, dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa. 

Namun, masih terang Kursin, para pemilik rumah harus menanggung kerugian material yang ditaksir cukup besar. Dan warga bersama perangkat desa langsung bergotong royong membersihkan batang pohon dan puing-puing bangunan yang berserakan.

Saat ini, Menurut Kursin, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap rumah-rumah yang terdampak. Dan data tersebut, rencananya akan segera dilaporkan ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pangandaran guna mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Dan ia juga mengimbau agar masyarakat tetap waspada ketika hujan deras turun, apalagi jika disertai angin kencang. Kalau ada pohon besar di dekat rumah, sebaiknya dipangkas atau ditebang untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Kejadian pohon tumbang menimpa rumah ini akibat angin kencang terjadi di sejumlah desa lain di Kecamatan Padaherang, di antaranya Desa Karangpawitan dan Desa Padaherang.

“Kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan, kami menghimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem susulan,” ujarnya.(hiek)


Niat Menabung Untuk Biaya Sekolah Anaknya, Sapi Milik Eman Mati Terperosok Ke Dalam Gua

PANGANDARANNEWS.COM - Ada beberapa cara menabung yang biasa dilakukan keluarga di pedesaan, salah satunya menabung dengan cara memelihara hewan ternak seperti sapi dan kambing sebagai tabungan jangka panjang.

Cara menabung tradisional ini ternyata merupakan bagian usaha para orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah, sehingga tak sedikit orang tua di desa yang berhasil mengantarkan putra-putrinya meraih gelar sarjana berkat ketekunan mereka dalam menekuni usaha hewan ternak.

Namun sungguh mengenaskan, apa yang dialami warga Desa Cicadap, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran,Eman Rukmana (46). Sapi ternak yang sudah dirawatnya bertahun-tahun sebagai tabungan biaya kuliah sang anak, justru berakhir tragis.

Menurut Eman, ia telah merawat dua ekor sapinya dengan gigih selama beberapa tahun terakhir. Dan rencananya, kedua sapi tersebut akan dijual saat anaknya mulai masuk perguruan tinggi.

Namun sayang nasib berkata lain, peristiwa nahas terjadi. Satu dari dua ekor sapi miliknya mati setelah terperosok ke dalam lubang gua, peristiwa bermula pada Minggu pagi saat Eman menyadari kedua sapinya hilang dari kandang. 

"Saat hendak memberi makan, saya mendapati kondisi kandang sudah rusak seperti bekas dorongan paksa dari dalam," terang Eman.(02/03/26)

Eman kemudian mengikuti jejak kaki sapi yang mengarah ke area hutan di wilayah Cimerak, dan ia menduga sapinya hanya kabur.

Namun pada siang harinya, Eman sangat terkejut saat menemukan kedua sapinya terperosok ke dalam jurang sempit berbentuk gua di lereng bukit Cicadap.

"Dari awal saya menduga sapi itu kabur, bukan dicuri," kata Eman.

Menurut Eman, sapi-sapi tersebut terjun bebas ke dalam lubang gua sedalam sekitar 15 meter. Struktur gua tersebut cukup unik sekaligus berbahaya, karena bagian atasnya sempit seperti celah yang tertutup semak.

sementara bagian bawahnya lebih lega membentuk rongga, sehingga kondisi ini membuat sapi yang terperosok tidak mampu memanjat kembali ke permukaan. Proses evakuasi berlangsung penuh tantangan dengan peralatan terbatas, dan warga berupaya menarik sapi menggunakan katrol di medan yang sempit dan licin.

Satu ekor sapi berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup, namun sayang satu ekor lainnya mati di dalam gua sebelum sempat diangkat ke atas.

Eman tidak hanya mengalami kerugian materi, karena dua sapi tersebut adalah harapan yang ia siapkan untuk masa depan pendidikan anaknya.

Untuk menutup sebagian kerugian, kata Eman, akhirnya ia pun menyembelih sapi yang mati tersebut dan menjual dagingnya kepada warga sekitar.

 "Sebenarnya sapi itu merupakan tabungan untuk biaya sekolah anak saya nanti," ungkapnya. (hiek)






BAZNAS Pangandaran Tetapkan Besaran Zakat Fitrah 1447 H, Ini Penjelasannya

PANGANDARANNEWS.COM - Besaran zakat fitrah untuk Tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kabupaten Pangandaran, ditetapkan sebesar Rp32.500 per jiwa atau setara 2,5 kilogram beras. 

Dikutip dari laman Instagram Pemkab Pangandaran, Ketentuan tersebut mengacu pada Surat Edaran BAZNAS Provinsi Jawa Barat Nomor: 085/BAZNAS-JABAR/III/2026 yang mengatur standar pembayaran zakat fitrah di wilayah Jawa Barat.

Dalam surat edaran tersebut dijelaskan, zakat fitrah dapat ditunaikan dalam bentuk bahan pokok berupa beras sebanyak 2,5 kilogram atau setara 3,5 liter per jiwa.

Selain itu, masyarakat juga diperkenankan membayar dalam bentuk uang dengan nominal Rp32.500 per orang.

Dalam Instagram tersebut disebut, penetapan besaran zakat ini dimaksudkan untuk memberikan kepastian dan keseragaman bagi umat Muslim dalam menunaikan kewajiban zakat fitrah menjelang Hari Raya Idulfitri. 

Pemerintah daerah dan para amil zakat diharapkan dapat menyosialisasikan ketentuan ini,  secara luas agar pelaksanaannya berjalan tertib dan tepat sasaran di seluruh wilayah Kabupaten Pangandaran.***

Tiba Bulan Ramadhan, Parkir Liar Pun Menjamur Di Kawasan Ngabuburit Tasikmalaya

PANGANDARANNEWS.COM/TASIKNEWS – Kawasan favorit warga Tasikmalaya untuk beraktivitas ngabuburit pada bulan suci Ramadhan 1447 H, kini dihadapkan pada persoalan parkir liar yang semakin merajalela. 

Berbagai titik lokasi yang ramai dikunjungi mulai dari kawasan jalan baru (JB) depan Tugu Lapangan Alip hingga sekitar Jalan Nagawangi dan pusat perbelanjaan Ramayana, ditemukan banyak kendaraan yang diparkir secara sembarangan.

Rendi, salah satu pengunjung kawasan JB depan Tugu Lapangan Alip, mengaku, lokasi tersebut menjadi tempat pilihan untuk bersantai dan menunggu adzan Maghrib bersama keluarga atau teman-teman. Namun sayang, keasyikan tersebut terganggu dengan kondisi parkir yang tidak teratur.

Menurut Rendi tempat ini memang pas buat ngabuburit dan nongkrong, tapi sayangnya setiap bulan Ramadhan parkir liar selalu menjamur. 

"Bukan hanya di sini, jalan Nagawangi juga sama padat dengan kendaraan yang diparkir sembarangan," ungkap Rendi.(28/02/26)

Hal senada disampaikan Tedi, warga asal Cirahong, Tedi, ia berharap agar masalah parkir liar ini bisa mendapatkan perhatian serius dari pihak berwenang. 

Kata Tedi, pengaturan parkir oleh petugas yang mengenakan seragam resmi tentu akan memberikan kesan lebih teratur dan profesional.

Tedi menyebut, alangkah baiknya kalau parkirnya diatur dengan benar serta petugasnya menggunakan pakai seragam resmi.

"Tentunya akan terlihat lebih rapi dan resmi, semoga ada tindakan tegas dari instansi terkait," ujarnya, saat ditemui di sekitar kawasan Ramayana.

Sementara dari pengamatan di lapangan menunjukkan, parkir liar tidak hanya mengganggu estetika lingkungan namun juga berpotensi menyebabkan kemacetan lalu lintas dan menyulitkan akses bagi masyarakat lainnya yang ingin beraktivitas di kawasan tersebut.(anwarwaluyo)

 

 

Akibat Jalan Licin Berlumpur Di Ciranca Nagrog Cipatujah, Sebuah Mobil Pengangkut Material Terjebak

PANGANDARANNEWS.COM/TASIKNEWS – Sebuah mobil bak angkutan barang mengalami kesulitan saat melintas di Jalan Ciranca Nagrog, Kecamatan Cipatujah, dan terpeleset hingga terjebak dalam lapisan lumpur tebal yang diperparah dengan genangan air yang menghalangi jalannya hingga cukup lama.

Kondisi jalan yang berlumpur, bergelombang dan sering tergenang ini kerap menjadi penyebab utama kendaraan terhambat untuk sampai ke tujuan.

Menurut salah seorang warga setempat, Asep Hilman, masalah jalan di kawasan ini bukan hal baru. 

Asep mengaku sering melihat kendaraan pengangkut barang kesusahan lewat sini, kadang harus menunggu lama atau dibantu oleh warga sekitar agar bisa melanjutkan perjalanan.

"Sudah puluhan tahun kita menikmati jalan lumpur seperti ini," ucapnya.(27/02/26)

Kasus serupa, ungkap Asep, pernah juga terjadi di wilayah Cipatujah pada Juni 2025 lalu ketika jalan licin akibat lumpur dari aktivitas galian tanah sehingga menyebabkan banyak pengendara tergelincir dan mengganggu arus lalu lintas selama beberapa hari.

Asep berharap Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya khususnya kepada Bupati Cecep Nurul Yakin dan Wakil Bupati Asep Sopari Al-Ayubi, agar daerahnya segera memiliki jalan kasep mulus ngaleser bisa segera terwujud. 

Ia juga berharap kepada Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, jangan sampai slogannya seolah-olah tata kota terbalik.

"Kota diurus dengan baik tapi daerah lembur seperti ini justru terlupakan," ungkap Asep.(anwarwaluyo)

 

 

Pemda Prioritaskan Perbaikan Jalan dan Drainase, Revitalisasi Pasar Pananjung Pangandaran Belum Jadi Prioritas Utama

PANGANDARANNEWS.COM – Sepertinya para pedagang di pasar Pananjung Kecamatan Pangandaran kembali harus bersabar, rencana revitalisasi total Pasar Tradisional terbesar di Kabupaten Pangandaran hingga kini masih belum bisa terealisasi. Pemerintah daerah memastikan untuk saat ini perbaikan sementara akan difokuskan pada akses jalan dan drainase, sementara pembenahan bangunan kios belum menjadi prioritas utama.

Pasar yang ada di kawasan strategis dekat Pantai Pangandaran ini seperti diketahui merupakan pasar induk sekaligus pusat aktivitas perdagangan di jantung kota, namun sayang kondisi fisik bangunan sekarang mulai mengalami penurunan kualitas.

Sejumlah bagian bangunan tampak lapuk dan berpotensi membahayakan, baik pedagang maupun para pengunjung. Kondisi ini tentu sangat berdampak pada menurunnya aktivitas jual beli, bahkan beberapa pedagang dilaporkan terpaksa menutup usahanya.

Saat dihubungi, Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan, dan Perindustrian Kabupaten Pangandaran, Tedi Garnida, mengatakan, Pasar Pananjung tetap menjadi prioritas revitalisasi karena statusnya sebagai pasar induk. Meski begitu.

Menurut Tedi, kondisi bangunan Pasar Pananjung masih relatif lebih baik dibandingkan sejumlah pasar tradisional lain seperti Parigi dan Kalipucang.

Ia mengaku, pihaknya pun sudah membahas rencana revitalisasi Pasar Pananjung bersama Sekretaris Daerah (Sekda). 

"Untuk tahap awal, kemungkinan difokuskan pada perbaikan akses jalan dan drainase dulu,” terang Tedi.(26/02/26).

Tedi juga mengatakan, struktur utama kios dan jongko dinilai masih cukup kokoh untuk beberapa tahun ke depan. 

Terkait pekerjaan teknis perbaikan jalan dan drainase, kata Tedi, akan menjadi kewenangan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

 “Untuk pengukuran dan pengerjaan teknis menjadi kewenangan Dinas PU,” jelasnya.

Tedi menyebut usulan anggaran revitalisasi pasar sebenarnya telah diperjuangkan sejak masa kepemimpinan Bupati Jeje Wiradinata, namun hingga kini kebutuhan anggaran yang cukup besar belum dapat terpenuhi.

Karena itu, imbuh Tedi, pemerintah daerah memilih langkah bertahap dengan memprioritaskan perbaikan sarana penunjangnya dahulu.

"Perbaikan akses jalan direncanakan menggunakan aspal lapen bukan hotmix, dengan estimasi anggaran mencapai ratusan juta rupiah," ucapnya.(hiek)


Inilah Potret Para Pejuang Pencari Nafkah Saat Berjuang Di Tanjakan Parigi Cipatujah

PANGANDARANNEWS.COM/TASIKNEWS - Di tengah suasana bulan suci Ramadhan 1447 H, kehidupan masyarakat di Desa Nagrog, Kecamatan Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, khususnya di wilayah Cirengrak, masih dihadapkan pada tantangan kondisi jalan yang jauh dari layak. Salah satu bukti nyatanya adalah di lokasi Tanjakan Parigi, dengan ruas jalan yang sempit, licin serta kemiringan yang sangat curam dan turunan yang tajam di mana para ojeg berperan sebagai "palang pejuang" dalam mencari nafkah.

Potret kondisi jalan yang terlihat dari unggahan pengguna media sosial dengan nama akun budakangon menunjukkan, jalan yang penuh lumpur dan berlubang. 

Bahkan ketika musim kemarau pun, kondisi jalan tidak jauh berbeda. Kendaraan yang membawa barang dagangan atau mengangkut penumpang harus bergerak dengan sangat hati-hati, karena tak jarang harus melaju pelan agar tidak tergelincir atau terbalik di medan yang ekstrem. 

Tim Pantauan Lapangan Pangandarannews.com yang datang langsung ke lokasi jalan tersebut, mengkonfirmasi medan jalan di lokasi tersebut memang benar-benar curam dan menantang.

Encep, salah seorang masyarakat Cirengrak, mengungkapkan kekhawatirannya terkait kondisi jalan yang sudah lama menjadi beban bagi warga. 

Encep mengaku, ia dan warga lainnya adalah korban Pemberi Harapan Palsu (PHP) Pemerintah kabupaten Tasikmalaya. 

"Jalan belum merdeka, padahal kita butuh akses yang baik untuk mencari nafkah terutama di bulan Ramadhan ini yang kita harapkan bisa lebih mudah beraktivitas," ujarnya.(27/02/26)

Padahal, menurut Encep, masyarakat sudah menjalankan kewajiban sebagai warga negara dengan membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). 

"Kami juga bayar pajak kok, tapi kenapa pembangunan tidak merata? Kami berharap pemerintah kabupaten Tasikmalaya segera melakukan pemerataan pembangunan infrastruktur jalan di sini," tandasnya.

Encep menyebut, para tukang ojeg yang menjadi tulang punggung transportasi lokal di kawasan tersebut harus bekerja ekstra keras di bulan suci ini. Meskipun jalan penuh tantangan, mereka tetap harus beroperasi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk menyediakan makanan untuk berbuka puasa dan keperluan ibadah.

Encep mengatakan, kondisi jalan Tanjakan Parigi juga menjadi penghambat potensi ekonomi masyarakat sekitar karena hasil pertanian dan produk lokal sulit didistribusikan dengan lancar ke pasar utama yang pada akhirnya berdampak pada pendapatan warga. 

"Kami masyarakat disini berharap, pemerintah dapat segera menangani permasalahan ini agar aksesibilitas meningkat dan kehidupan mereka menjadi lebih baik," ujarnya.(anwarwaluyo)

Ini Beberapa Lokasi Ngabuburit Warga Tasik, Salah Satunya JB Di Kawasan Lanud

PANGANDARANNEWS.COM/TASIKNEWS - Selama bulan Ramadhan, setiap sore menjelang Maghrib Jalan Baru (JB) sekitar kawasan Lanud Tasikmalaya menjadi destinasi favorit warga untuk ngabuburit. 

Banyak masyarakat berkumpul di lokasi ini tidak hanya untuk menunggu adzan Maghrib tetapi juga untuk mencari berbagai hidangan ta'jil, Rani, salah satu pengunjung asal Tasikmalaya mengaku sering menghabiskan waktu ngabuburit di sana. 

Menurutny, tempat sangat cocok sekali untuk dijadikan lokasi ngabuburit  nunggu adzan maghrib.

Selain itu ia juga menyebutkan,  banyak warga yang memilih untuk keliling mencari tempat ngabuburit sesuai dengan selera masing-masing.

"Selain disini, di kawasan Dadaha dan Alun-Alun Tasikmalaya juga menjadi tempat ngabuburit lainnya yang ramai dikunjungi oleh masyarakat," ungkapnya.(anwarwaluyo)

 

 

Kukuhkan Identitas Resmi Di Ruang Siber, Diskominfo Pangandaran Dorong Pemanfaatan Domain "Desa.Id" Melalui Program Kominfo Saba Desa Di Desa Cigugur

PANGANDARANNEWS.COM  – Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo) Kabupaten Pangandaran kembali melaksanakan program jemput bola "Kominfo Saba Desa" bertempat di Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur.(24/02/26)

Agenda kali ini secara khusus menyoroti urgensi dan tata cara pemanfaatan domain desa.id sebagai situs web resmi utama pemerintahan desa, dan Desa Cigugur merupakan titik ketiga yang mendapatkan pendampingan langsung dalam rangkaian.

program Kominfo Saba Desa, setelah sebelumnya sukses dilaksanakan di Desa Selasari dan Desa Babakan. 

Pada kunjungan ini, tim Diskominfo menekankan bahwa kepemilikan website dengan domain resmi bukan lagi sekadar pelengkap melainkan kebutuhan mendasar bagi tata kelola.

pemerintahan desa yang modern dan kredibel penggunaan domain desa.id merupakan representasi dan identitas legal pemerintahan desa, dan dunia maya berbeda dengan domain komersial seperti .com, .net, atau .org, ekstensi .desa.id adalah domain yang secara eksklusif dikelola dan diakui secara resmi oleh Pemerintah Republik Indonesia. 

Hal ini memberikan jaminan keamanan dan keabsahan identitas instansi, karena melalui pemanfaatan domain desa.id, segala bentuk penyebaran informasi, transparansi anggaran, hingga promosi potensi desa (seperti UMKM dan pariwisata) menjadi jauh lebih terpercaya. 

Masyarakat luas dapat dengan mudah membedakan sumber informasi yang valid dan resmi dari pemerintah desa, yang sekaligus menjadi langkah mitigasi efektif dalam mencegah beredarnya hoaks atau informasi palsu yang mengatasnamakan desa. 

Selain memberikan pemahaman regulasi, program Kominfo Saba Desa di Cigugur juga memberikan fasilitasi teknis mengenai prosedur pendaftaran, aktivasi, hingga dasar-dasar pengelolaan konten pada website berdomain desa.id. 

Diskominfo Kabupaten Pangandaran menargetkan agar seluruh desa di wilayah Kabupaten Pangandaran secara bertahap memiliki dan mengelola website resmi ini secara aktif sebagai pusat pelayanan informasi publik yang akuntabel. 

Dengan berjalannya program Kominfo Saba Desa secara berkelanjutan, diharapkan kapasitas literasi digital perangkat desa di Kabupaten Pangandaran semakin meningkat, sehingga desa tidak hanya siap menghadapi tantangan era digital tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. 

Kominfo Saba Desa adalah program inisiatif dari Diskominfo Kabupaten Pangandaran yang bertujuan untuk turun langsung mendampingi dan membantu desa dalam mengoptimalkan kebutuhan digital, dan program ini mencakup asistensi pengelolaan media sosial, peningkatan literasi digital perangkat desa hingga dukungan teknis operasional infrastruktur informasi desa. ***


 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN