DOEL SUMBANG : “BUDAYAWAN BISA MENJADI TRANSLETER PEMERINTAH”

PANGANDARAN-Secara geografis Kabupaten Pangandaran berada pada perbatasan antara Propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, tentunya ini menjadi dinamika tersendiri dalam pengembangan budaya yang berkembang di Pangandaran. Kekayaan ragam kesenian pun sudah tentu akan berbaur bahkan saling mengisi satu dengan lainnya.

Demikian dikatakan seorang seniman sunda asal Bandung, Doel Sumbang di sela-sela konser music dalam acara Napak Jagad Pasundan dalam rangkaian Milangkala memperingati Hari Jadi Kabupaten Pangandaran ke 5 beberapa waktu lalu.

“Jika saya lihat Kekurangan Pangandaran di mata saya, belum adanya tempat atraksi kesenian yang reguler , artinya, pemerintah harus mengeluarkan regulasi itu agar wisatawan yang datang kesini bisa menikmati suguhan berbagai atraksi khas pangandaran. “ungkap Kang Doel, sapaan akrabnya.
.
Dikatakan Doel, gedung pertunjukan yang representatif harus ada, karena kesenian juga bisa menjadi daya tarik para turis.

Hanya persoalannya, lanjut Doel, lama tinggal (long stay) wisatawan yang datang ke Pangandaran rata-rata singkat, karena kalau mereka hanya datang untuk waktu beberapa jam saja, berarti kurang oiptimal.

“Nah tinggal bagimana kita mengusahakan agar wisatawan yang datang kesini bisa stay 5-6 hari, karena dengan sendirinya mereka pun akan “membuang” uangnya di Pangandaran akan lebih banyak. “ujarnya lagi.

Disoal caranya, Doel mengatakan, semua yang mereka suka harus ada disini. Seperti one shop shoping, performence serta kehidupan dunia malam.

Dan seharusnya, masih kata Doel, budaya Pangandaran bisa dijual, karena khususnya wisatawan mancanegara (wisman), mereka tidak mencari apa yang ada di negaranya. Mereka bosan menyaksikan band karena mereka justru  akan tertarik nonton tarian tradisional, nonton kaulinan urang lembur. Dan  itu jauh lebih menarik, tetapi tentunya semua kesenian tradisional harus dipackaging dengan baik, artinya kostumnya harus baik blockingnya lebih ditata dan seterusnya.

“Jika kita melihat tari kecak yang ada di Bali itu kan ritual, kemudian bule memberi inisiatif, blockingnya dibuat sedemikian rupa sampai menarik, itu yang saya maksud. ”jelasnya.
Doel pun membayangkan, ia bisa menikmati secangkir kopi di warung-warung  sambil mendengarkan orang main angklung, perkusi, gamelan, dan itu jauh akan lebih hidup.

Menurut Doel, ini sangat mungkin bisa terjadi di Pangandaran, karena lahannya siap keindahan pantainya sangat menarik. Sekarang tinggal mensinergikan seluruh stakeholder, baik pemerintah, masyarakat dan swasta, visinya harus sama.

Dan pemerintah yang dalam bahasa harfiahnya pelayan. Presiden, Gubernur, Bupati itu bukan raja, tapi pelayan masyarakat yang memang tugasnya melayani masyarakat. Membuat masyarakat sejatera, bahagia, sesuai keinginan masyarakat yang positif.

“Dan tugas budayawan harus peduli dulu pada persoalan kebudayaan secara universal bukan hanya kesenian. Karena membuang sampah juga itu merupakan budaya. Demo, korupsi  sekarang sudah jadi budaya. “kata Doel.

Kepada budaya yang positif, pemerintah harus care serta memberi ruang gerak. Jika pemerintah mengatakan, hey kudu aya calung..., dimana tempat latihannya, mana alatna, karena dengan semua itu budayawan pun baru bisa bergerak.

Kalau pemerintah hanya bisa meminta kepada masyarakat, sudah jelas masyarakat sekarang tidak bisa memberi lebih. Mengapa pemerintah bisa memberi, karena pemerintah bisa menganggarkan itu, dan kalau sudah ada anggarannya, masyarakat juga jangan terus menghilang begitu saja.

“Intinya, membangun Pangandaran yang paling mendasar adalah bagaiman bupati dengan masarakat bisa berdialog setiap saat, menjadi teman, sahabat, teman curhat, untuk membuat Pangandaran hebat. “terangnya.

Karena begini, lanjut Doel lagi, jika Pangandaran bagus itu bukan untuk bupati. karena bupati itu periodik, 1-2 periode sudah hilang akan diganti bupati berikutnya, tapi masyarakat seluruh Kabupaten Pangandaran tetap tidak berganti, bupatinya 5 kali ganti, masyarakatnya tetap yang itu.

“Jadi mulai sekarang dan ke depan tidak membangun proyek, tapi membangun prosfek, membangun segala sesuatu untuk jangka panjang. “uajr Doel lagi.

Lalu apa yang harus dilakukan budayan untuk ikut berkontribusi pada pembangunan dearah, Doel pun bererita saat ia dicap sebagai pembangkang malah sebagai konsekwensinya, ia pun sering merasakan dinginnya ruangan sel. Menurutnya, saat itu ia habis-habisan “menghantam” pemerintah hingga ia nyaris lupa pemerintah yang sedang duduk bekerja itu memang seharusnya dibantu, kecuali pemerintah menyalahi semua aturan, itu ditentang. Pemerintah sudah betul ada pada relnya, mengerjakan tugas negara dengan baik, dan masyarakat harus membantu termasuk budayawan.

“Dan Pa Jeje sebagai bupati, tentunya tidak akan bisa bekerja sendiri mengatasi ini kalau masyarakatnya tidak ikut pro aktif. “tegasnya.

Dan jika bertanya siapa yang paling bisa bicara dengan publik, tentunya dari kalangan budayawan, karena bahasanya jauh lebih luwes. Menurut Doel, budayawan atau seniman bisa dimanfaatkan menjadi transleter pemerintah.

Pemerintah ingin menyampaikan kebijakannya, silahkan sampaikan lewat  kesenian, kearifan budaya lokal, dan mungkin itu akan lebih smoot.
(hiek)

PEMKAB PANGANDARAN BELUM PUNYA ATURAN PENGENDALIAN DAN PENGAWASAN MINOL

PANGANDARAN-Maraknya perdagangan minuman beralkohol (minol) di Pangandran yang dijual bebas, sudah saatnya harus diatur dalam pengendaliannya.

Pemkab Pangandaran hendaknya bisa segera membuat regulasi terkait Peraturan Presiden Nomor 74/2013 tentang Pengendalian dan Pengawasan Minuman Beralkohol serta Peraturan Menteri Perdagangan No 6/2015 tentang ‎Pengendalian dan Pengawasan Terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, yang merupakan perubahan dari Permendag No 20/2014. Karena dalam Permendag No 20/2014 aturan mengenai penjualan minol secara eceran di toko sudah diserahkan kepada pemerintah daerah. Hal tersebut tertuang dalam Pasal 14 yang menyatakan bahwa penjualan langsung di bar, hotel ataupun restoran ditetapkan pemda.

Begitu juga menurut Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag yang mengatakan, adanya pengecualian untuk daerah wisata masih diperbolehkan tapi dengan syarat-syarat tertentu.

Ketentuan itu merupakan petunjuk teknis dari Permendag Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang pengendalian dan pengawasan terhadap pengadaan, peredaran, dan penjualan minuman beralkohol. Pengecualian itu tidak hanya berlaku untuk Pulau Bali saja, tapi juga di semua objek wisata seluruh Indonesia, asalkan  kawasan tersebut resmi ditetapkan sebagai objek wisata oleh Pemerintah Daerah dan penjualan miras golongan A di objek wisata pun tidak membeda-bedakan antara turis mancanegara (wisman) maupun nusantara.
.
Namun tidak semua orang bebas berjualan miras golongan A di daerah wisata, dalan petunjuk teknis tersebut pemerintah menetapkan sejumlah syarat.

Bagi pedagang yang menjual minuman keras golongan A tidak sesuai dengan ketentuan tersebut, Kemendag menyiapkan sanksi berupa teguran hingga pencabutan izin usaha. Terkait pengawasan di lapangan terkait larangan penjualan miras golongan A di minimarket dan petunjuk teknisnya, Kemendag menyerahkan kepada Pemda. Dan khusus di objek wisata, pemda dapat melibatkan tokoh agama dan masyarakat.

Hal tersebut dibenarkan Kepala bagian Hukum setda Pangandaran, Jajat Supriadi, SH, M.Si, menurutnya, Pemkab Pangandaran sudah harus membuat aturan tersebut karena ini merupakan kebijakan pemerintah pusat dan tidak boleh bertentangan.

Masih kata Jajat, pemda juga nantinya harusn mensosialisasi dulu ke tokoh masyarakat dan agama agar nantinya jangan ada kesan Pemda Pangandaran melegalkan penjualan minuman keras. Dengan adanya peraturan tersebut, lanjut Jajat, tidak seperti sekarang, minuman keras mudah didapat di mana saja. Karena nantinya hanya di tempat-tempat tertentu yang boleh menjual minol. Seperti di hotel bintang satu, pub atau lainnya dan itu harus ada aturan yang akan mengaturnya.

“Sebaiknya draft aturan itu dari BPPTPM, karena ini menyangkut ijin dan disana ada retribusi yang akan diambil. “terang Jajat saat dihubungi lewat telepon celullernya.(2/11)

Saat dihubungi lewat telepon, Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Koperasi UMKM dan Perdagangan (BPPTPM) Kabupaten Pangandaran, Drs. Tedi Garnida, MM menyampaikan, mengenai pembuatan payung hukum itu merupakan kewenangan bupati.

“Soal itu silahkan tanya langsung ke bupati. “ujarnya singkat.(2/11)

Sementara saat dikonfirmasi ke Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, ia mengatakan, agenda untuk membuat payung hukum yang akan mengatur pengendalian dan pengedaran minuman beralkohol akan segera dibahas tahun depan.

“Itu akan jadi perioritas bahasan kami di tahun 2018. “terangnya. (hiek)



DISAKSIKAN RATUSAN PENONTON, TIM PANGANDARAN TEKUK KOTA TASIK 2-0

PANGANDARAN-Menghadapi tim tamu dari Kota Tasikmalaya, Tim sepakbola Kabupaten Pangandaran lagi-lagi membuktikan keperkasaannya dengan memenangi pertandingan 2-0.

Kedua gol yang diborong penyerang bernomer punggung 8, Lukman, berhasil menyarangkan tembakannya di menit ke 5 dengan memanfaatkan tendangan bebas dari luar kotak finalti. Sementara gol keduanya terjadi pada menit ke 35 yang tercipta dari hadiah tendangan finalti setelah salah seorang pemain Tasikmalaya melakukan pelanggaran di kotak finalti.

“Kami sangat puas melihat anak-anak bermain ngotot sejak menit-menit awal. “ungkap asisten pelatih, Agustina.(3/11)

Secara keseluruhan, pertandingan yang disaksikan ratusan masyarakat di sekeliling lapangan Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran ini benar-benar menyuguhkan permainan yang seru. Karena masing-masing tim bergantian saling serang dengan pola penyerangan dari sektor sayap dan lapangan tengah. Hanya saja tim dari Tasikmalaya ini kurang bisa memanfaatkan karena memang pertahanan yang dibangun tim pangandaran benar-benar solid dan tidak mudah ditembus lawan.

Hingga peluit panjang berbunyi, skor pun tidak berubah 2-0 untuk kemenangan anak-anak pantai ini.

 “Sampai sekarang kami sudah mempunyai skor 7 dengan perolehan 6 gol dan menyisakan satu lagi pertandingan tandang melawan Kabupaten Tasikmalaya pada tanggal 8 nopember mendatang. “terang Agus. (hiek)

ADE KUSWANA GANTIKAN KETUA MUI KEDUNGWULUH

PADAHERANG-Bertempat di ruang balai desa, pembentukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Desa Kedungwuluh Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran dilaksanakan sebagai kelengkapan pemerintahan desa.

Walau diwarnai sedikit ketegangan, saat Ketua MUI yang lama, Ajid memberi masukan kepada pemrintahan Desa Kedungwuluh dalm teknis pembentukan lembaga yang akan mengatur kehidupan beragama di lingkungan desa ini.

Sebenarnya, Ajid masih menyisakan 3 tahun lagi untuk duduk menjadi ketua, namun karena saat ini Ajid juga menjadi ketua Bumdes, maka Ajid pun dengan legowo menyerahkan kursi kepemimpinannya di MUI pada Ade Kuswana.

Menurut salah seorang perangkat desa, hal tersebut dikarenakan adanya aturan yang melarang ketua Bumdes merangkap jabatan.

“Bersukur pa Ajid buisa legowo, dan Ade kuswana pun secara aklamasi bisa terpilih menjadi ketua MUI. “ungkapnya.(1/11)

Dalam sambutannya, Ketua MUI yang baru dilantik, Ade Kuswana berharap agar seluruh warga  khususnya yang ada di Desa Kedungwuluh bisa terus meningkatkan ukuwah dan mempererat tali silaturahmi antar umat.

“Kita harus tetap bersatu dan berpegang teguh pada tali Alloh. “kata Ade. (Nana Khoeruman)

PANWASCAM PANGANDARAN IKUTI BINTEK SENGKETA PEMILU

PANGANDARAN-Pasca dilantik beberapa hari lalu, anggota Panitia Pengawas pemilu Kecamatan (panwascam) Kabupaten Pangandaran, langsung menjalani bimbingan teknis (bintek). Sekitar sepuluh materi menjadi bahsan dalam bintek yang diselenggarakan dari tanggal 30 oktober hingga  nopember 2017 di hotel  Green Mutiara Pangandaran.

“Tidak lupa kami pun mengadakan simulasi penyelesaian sengketa cepat di lapangan yang diperankan oleh seluruh panwascam.”ujar salah seorang peserta.(1/11)

Ia menambahkan, simulasi ini sengaja digelar untuk memastikan nantinya panwaslu kecamatan mampu dalam menyelesaikan situasi sengketa pemilu. karena, lanjutnya, tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi nanti pada saat proses pengawasan pemilihan gubernur dan wakil gubernur jabar 2018 mendatang.

“Walau pun kami semua berharap, mudah-mudahan semuanya bisa berjalan lancar serta tidak aturan yang dilanggar seluruh peserta pemilu. “ungkapnya lagi.

Sementara menurut salah seorang komisioner Panwaslu Kabupaten Pangandaran, Uri Juwaeri, keberhasilan sebuah pengawasan bukan terletak pada seberapa banyak panwalu menyelesaikan sebuah pelanggaran tapi proses pengawasan preventif atau pencegahan yang selalu dikedepankan.

“Intinya kita ada pada pencegarahan pada pelanggaran-pelanggaran yang akan dilakukan peserta pemilu. “katanya singkat. (Toni Taufik)

PROLANIS BANTU PASIEN PENYAKIT KRONIS KELOLA KESEHATAN

MANGUNJAYA-Selain memberikan jaminan pelayanan kesehatan, program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan juga memiliki beberapa program promotif dan preventif yang memberikan manfaat bagi peserta, salah satunya Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) untuk peserta yang menderita penyakit kronis.

Demikian disampaikan Ketua Tim Kesehatan sekaligus pelaksana Program Prolanis, Dudi Sutisna saat menggelar acara pengguliran BPJS untuk pemerataan pelayanan yang diselebggarakan di Puskesmas Kecamatan Mangunjaya kabupaten Pangandaran.(25/10) yang dihadiri Klinik Prodia Tasikmalaya dengan program pemeriksaan laboratoriom kolesterol total HDL, LDL dan TG.

"Melalui program Prolanis, harapannya penyandang penyakit kronis bisa mengelola kesehatannya dengan baik, agar kualitas hidup pasien tetap optimal meskipun sedang menderita diabetes melitus ataupun hipertensi," kata nya

Menurut Dudi, program ini membutuhkan kerja sama yang komprehensif antara penderita dan keluarganya. Tujuan utamanya agar penderita dan keluarganya dapat mengawasi kesehatan diri secara mandiri, sehingga tercapai keadaan yang baik dan stabil atas gangguan yang terjadi.

"Prolanis diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan kemandirian peserta dalam upaya memulihkan penyakit dan mencegah timbulnya komplikasi penyakit kronis, serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta Prolanis," tuturnya.

Sebanyak 60 anggota yang berada di Desa Sindangjaya pun antusias mengikuti pemeriksaan gratis ini, karena hanya bersyaratkan mempunyai BPJS dan sudah terdaftar sebagai anggota klub, maka pemeriksaan pun bisa didapat dengan cuma-uma. (Toni T)

30 PANWASCAM KABUPATEN PANGANDARAN HARI INI DILANTIK

PANGANDARAN-Ketua Badan Pengawas Pemilu (bawaslu) Kabupaten Pangandaran, Iwan Yudiawan, S.Ag hari ini (senin, 30/10) bertempat di hotel Green Mutiara Pangandaran, melantik 30 anggota Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam). Turut hadir dalam pelantikan tersebut, Kapolres Ciamis, Dandim, Kepala Kejaksaan Negeri Ciamis, Kesbangpol dan 10 camat se-Kabupaten Pangandaran.

Dalam sambutan singkatnya Ketua Bawaslu Kabupaten Pangandaran, Iwan Yudiawan berharap, 30 anggota Panwascam bersama muspika di tiap-tiap kecamatan bisa meningkatkan peran aktif masyarakat dalam keikutsertaannya pada penyelenggaraan pemilu, baik pilkada gubernur yang akan dilaksanakan tahun 2018 atau pemilihan legislatif dan pemilihan presiden.

“Saya juga berharap, seluruh anggota panwascam yang sudah dilantik hari ini bisa melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. “kata iwan.

Iwan menambahkan, pada undang-undang pilkada nomer 10 tahun 2016, tugas panwas bukan lagi hanya memberikan rekomendasi atas pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan peserta pemilu. Tapi lebih dari itu, panwas juga sekarang bisa memberikan sanksi.

“Kecuali untuk pelanggaran yang sipatnya kriminal, kita bisa merekomendasikannya pada polisi. “imbuh Iwan. (hiek)

PEMKAB PANGANDARAN DAN BBWS KORDINASIKAN PENANGANAN BANJIR

Untuk penangani banjir yang kerap terjadi di sebagian wilayah Pangandaran, hari ini (senin, 30/10) Bupati Kabupaten Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengadakan audens dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) di Banjar.

Dikatakan Jeje, Pemkab Pangandaran terus melakukan kordinasi dengan BBWS untuk penanganan banjir yang lebih banyak diakibatkan karena meluapnya aliran sungai.

“Minggu depan akan ada tindak lanjutnya pembicaraanya antara BBWS, PSDA pemprop jabar dan Pemkab Pangandaran. “terang Jeje melalui WhatsApp. (hiek)

BABAK KWALIFIKASI PORDA, PANGANDARAN TAHAN TIM TAMU CIAMIS 1-1

PANGANDARAN-Mengawali Babak Kwalifikasi (BK) Porda, bertempat di lapang Desa Wonoharjo Kecamatan Pangandaran tim sepak bola Kabupaten Pangandaran menjamu tim tamu dari Kabupaten Ciamis dengan skor akhir 1-1.

Gol pertama untuk Pangandaran menit ke 17 yang disarangkan Lukman berhasil merubahan kedudukan 1-0 hingga waktu turun minum.

Secara keseluruhan, permainan di lapangan yang banyak diwarnai jatuhnya para pemain Pangandaran ini sebenarnya lebih didominasi para pemain Ciamis, tapi sayang tidak satu gol pun bisa didapat.

Hingga seklitar menit ke 75, setelah melalui kemelut di depan gawang, akhirnya gawang Pangandaran kebobolan akibat gol bunuh diri salah satu pemain belakang. Dan hasil pertanding pun tetap bertahan 1-1 hingga peluit panjang terdengar.

Menurut asisten pelatih Pangandaran, Agustina, secara fisik memang anak asuhannya secara fisik dibawah pemain lawan, hingga tidak heran banyak sekali pemain yang terjatuh dan harus ditandu keluar lapangan.

“Fakktor fisik para pemain memang perlu lebih ditingkatkan lagi. “ungkapnya.(27/10) 

Sementara menejer Tim Pangandaran, H. Lilih mengatakan, ia harus puas dengan skor akhir 1-1 ini, karena memang fisik para pemainnya nampaknya sangat kelelahan sekali.

“Mudah-mudahan target kami untuk bisa lolos dalam group B ini bisa tercapai. “kata Lilih.

Seperti diketahui, Pangandaran berada di grup B dengan Kota Banjar, Kabupaten Ciamis, Kabupaten dan Kota Tasikmalaya.

“Kita doa’kan saja. mudah-mudahan babak selanjutnya di Kota Banjar tanggal 30 melawan Banjar dan tanggal 3 nopember melawan Kabupaten Tasik di Pangandaran, tim kita dapat mencuri angka. “imbuhnya. (evhan rayna)

WAKIL BUPATI, ADANG HADARI PIMPIN UPACARA HUT PANGANDARAN KE 5, Jeje Wiradinata Titikan Air Mata Tak Bisa Bersama Masyarakat

PARIGI-Sebagai wajud kecintaan, kebanggaan dan keinginan untuk berkontribusi pada daerah, sudah semestinya dalam momentum peringatan Milangkala ke 5 Hari Jadi Kabupaten Pangandaran, untuk melakukan evaluasi dalam upaya meningkatkan intervensi pembangunan demi kemajuan di masa depan. Dan seharusnya peringatan ini didedikasikan untuk menumbuhkan motivasi, membangiktkan semangat dan tekad yang kuat yang pada gilirannya dibuktikan dengan kerjasama.

Demikian dikatakan Wakil Bupati Pangandaran, H. Adang Hadari, dalam sambutan pada upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Pangandaran ke 5 di lapang alun-alun Parigi.(24/10).

“Dan moment ini pun sudah seharusnya kita jadikan sebagai media intropeksi, perenungan dan menjadi kontemplasi kita untuk menyongsong masa depan. “kata Adang.

Pada upacara yang dihadiri Pimpinan dan seluruh anggota DPRD Pangandaran, juga dihadiri forum kordinasi pimpinan daerah, Danrem 062 Tarumanagara, tokoh Presidium Pemekaran, kepala SKPD, civitas akademisi dan tamu undangan lainnya, Adang juga mengatakan, Pangandaran sebagai rumah besar masyarakat harus tetap dijaga dan dipertahankan sebaik-baiknya. Karena semua ini ladang perjuangan, pengorbanan dan pengabdian yang harus dikembangkan untuk kemakmuran dan kesejahteraan bersama.

“Dengan tema, Hari jadi ke 5 Kabupaten Pangandaran Kita Tingkatkan Kerja Bersama Untuk Mewujudkan Pangandaran Hebat. “imbuh Adang.

Adang menambahkan, sejarah telah mencatat, proses pembentukan Kabupaten Pangandaran merupakan perjuangan panjang. Aspirasi, ide serta gagasan yang muncul dari tokoh-tokoh masyarakat, baik secara perorangan atau yang terorganisir, melaluui komunitas atau wadah organisasi, semuanya menjadi embrio perjuangan menuju pemekaran.

Ada Munding Pakidulan, Awi Kahirupan, Paguyuban Masyarakat Pakidulan, Gabungan Anak Selatan, yang selanjutnya pada tanggal 15 juli 2007, lahirlah Presidium pemekaran Kabupaten Pangandaran.

“Para tokoh elit  politik seperti, Eka Santosa, Agun Gunanjar Sudarsa dan H, Sofi pun ikut andil dalam perjalanan panjang menuju pemekaran. “kata Adang lagi.

Dan hingga sekarang, menurut Adang, tidak terasa ia dan dan H. Jeje Wiradinata sebagai Bupati Pangandaran sudah 1 tahun 8 bulan bersama-sama seluruh masyarakat membangun kebersamaan, bahu membahu menyelesaikan berbagai permasalahan dengan segala dinamika  untuk menorehkan kemajuan.

Alhamdulillah, dari Kementerian Dalam Negeri, Pangandaran menjadi Daerah Otonomi Baru terbaik dari 18 DOB lainnya di Indonesia. “terang Adang.

Adang pun berharap, hendaknya mulai hari ini semua mampu merefleksikan diri, melakukan terobosan-terobosan agar bisa terbang lebih tinggi, bergerak lebih cepat, melangkah semakin kuat dan tidak ketinggalan dari daerah lainnya.

Walau disadari, lanjut Adang, begitu besar harapan dan keinginan seluruh masyarakat menuntut agar berbuat lebih dari apa yang telah dilaksanakan sampai hari ini. Jalan di depan masih panjang untuk meraih harapan dan keinginan, tapi dengan bekerja nyata dan bersama-sama akan mampu menjadikan kabupaten Pangandaran yang mandiri dan lebih sejahtera.

Sementara melalui telepon celullernya, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinta menyampaikan, ia merasa terharu saat menyaksikan video call  dengan istrinya saat upacara peringatan sedang berlangsung.

“Saya sampai menitikan air mata, haru, bangga dan ada perasaan sedih karena di hari yang bahagia ini saya tidak bisa bersama-sama dengan masyarakat Pangandaran. “ujarnya.

Seperti diketahui, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata tidak bisa mengikuti upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Pangandaran, karena hari ini ia bersama seluruh bupati se-Indonesia dipanggil Presiden untuk menghadiri rapat kordinasi di Jakarta. (hiek)

KARNAVAL BUDAYA MERIAHKAN MILANGKALA HARI JADI KABUPATEN PANGANDARAN

PANGANDARAN-Masih dalam rangkaian menyambut Milangkala Hari Jadi Kabupaten Pangandaran ke 5, kali ini giliran iring-iringan sekitar 220 kendaraan hias memadati jalan di pantai barat obyek wisata Pangandaran, berganti melintas panggung tamu kehormatan, Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata dan H. Adang hadari serta Ketua DPRD, H. Iwan M Ridwan, S.Pd, M.Pd beserta seluruh anggota DPRD lainnya, Tokoh Presidium, Tokoh Masyarakat dan ribuan warga yang antusias ingin menyaksikan warna-warni kendaraan yang dihiasi aneka assesoris. Sementara para Kepala SKPD dan camat berbaur ikut larut dalam barisan memimpin peserta karnaval dari institusinya masing-masing.

Sangat terasa sekali atmosfir kegembiraan pada wajah masyarakat, saat menyaksikan peserta karnaval baik dari kantor pemerintahan, swasta, BUMD, BUMN, rombongan perwakilan dari Kabuten Ciamis, Kota Banjar dan Sekolah Tinggi Ilmu Perikanan (STIP) Jakarta, almamater Bupati Pangandaran.

“Benar-benar sangat meriah dan menghibur. “ungkap salah seorang warga.(21/10)

Usai acara, Bupati Pangandaran yang didampingi Wakil Bupati H. Adang Hadari dan Ketua DPRD, H. Iwan M Ridwan kepada para awak media menyampaikan, ini merupakan ungkapan dan representasi kegembiraan seluruh masyarakat.

“Kami merasa senang melihta antusias masyarakat untuk ikut larut bergembira dalam acara ini. “kata Jeje.

Jeje menambahkan, ini semua dipersembahkan untuk seluruh masyarakat Pangandaran untuk ikut meluapkan kegembiraanya menyambut Milangkala Hari Jadi Kabupaten Pangandaran yang ke 5.

“Seluruh produk dan kesenian yang tadi ditampilkan, memang betul-betul karya asli dari daerah masing-masing di 10 kecamatan. “imbuh Jeje. (hiek) 

IKUT MERIAHKAN MILANGKALA, PECINTA BONSAI PANGANDARAN GELAR KONTES

PANGANDARAN-Untuk kedua kalinya, komunitas pencinta bonsai Kabupaten Pangandaran menggelar kontes, bertajuk “Bankit Bonsai Pangandaran 2” bertempat di halaman kantor Grand Pangandaran yang akan berlangsung dari tanggal 20 hingga 24 oktober mendatang.

Menurut ketua panpel, Maliki, ternyata kontes bonsai Bupati Cup ini bukan hanya diminati pencintanya di Pangandaran saja, ada sekitar 400 peserta yang sudah mendaptar datang dari berbagai kota. Seperti Cianjur, Sukabumi, Garut, Tasikmalaya, Ciamis dan banjar.

“Bahkan ada peserta yang datang dari Jombang dan Madura Jawa Timur. “terang Maliki.(20/10)

Selain dikonteskan, menurut Maliki, ada beberapa bonsai yang sengaja dipajang untuk dijual oleh pemiliknya.

“Bagi pencinta bonsai, silahkan datang barangkali anda tertarik juga untuk memilikinya. “imbuh Maliki. (Evhan R)

UNTUK REKAM DATA KTP, JEMPLING DATANGI DESA DAN SEKOLAH

PANGANDARAN-untuk akselerasi perekaman data masyarakat wajib KTP, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pangandaran, dengan program Jemput Bola Keliling (jempling), terus mendatangi desa-desa dan sekolah untuk mempermudah masyarakat yang belum melakukan perekaman datanya.hampir semua desa dikunjungi petugas perekaman.

"Tidak jarang kami di desa sampai jam 8 malam melayani masyarakat. "ungkap Kabid 
Kependudukan, Tatang, saat ditemui di Desa Pangandaran Kecamatan Pangandaran.(20/10)
Entah kenapa, kata Tatang, masyarakat sepertinya enggan untuk datang ke kantor kecamatan, padahal jaraknya relatif dekat.

Dengan, program JEMPLING, lanjut Tatang, dimaksudkan untuk mempermudah, karena petugas yang mendatangi warga tidak sebaliknya.

"Alhamdulillah, selama bulan september sampai dengan tanggal 18 oktober lalu, melalaui program JEMPLING, sebanyak 10 ribu warga sudah terekam datanya. "terang Tatang.

Tatang berharap, seluruh masyarakat bisa memanpaatkan kemudahan ini dengan mendatangi desa atau sekolah bagi siswa, saat ada kunjungan JEMPLING. 

Sementara ditemui di ruang kerjanya, Kepala Desa Pangandaran, Drs. Iwan Herdiawan menyampaikan terimakasih dengan  kegiatan yang dilaksanakan Disdukcapil Pangandaran, sehingga warga yang selama ini belum melaksanakan perekaman data pun bisa terbantu.

"Ini sangat membantu sekali, karena warga pun sangat antusias dan berbondong-bondong datang ke aula desa. "kata Iwan.

Iwan menambahkan, mudah-mudahan disdukcapil bisa secepatnya memenuhi keinginan masyarakat untuk segera bisa memiliki KTP Pangandaran. karena ini sangat penting untuk administrasi warga, terutama saat akan mengurus pernikahan, ibdaha haji, pinjam ke bank dan lain-lain.

"Sekarang kan masyarakat baru bisa memiliki suket (surat keterangan-red) saja. "ujarnya.  (hiek)


REFLEKSI 5 TAHUN USIA KABUPATEN PANGANDARAN, JEJE WIRADINATA: “Jadikan moment Milangkala ini Untuk Bersyukur…”

Lima tahun yang lalu, tepatnya tanggal 25 oktober 2012, melalui serangkaian proses panjang, dengan diterbitkannya undang-undang nomor 21 tahun 2012, sejarah baru tentang pemekaran di Propisi jawa Barat, lahirnya Daerah Ototnomi Baru (DOB), Kabupaten Pangandaran.

Sedikit membuka lembar sejarah, perjuangan mendirikan kabupaten ini tidaklah mudah. Dimulai dari belasan tahun ke belakang sebagai cikal bakal, sekumpulan masyarakat yang tergabung dalam sebuah wadah, Presidium Pemekaran Kabupaten Pangandaran yang saat itu mengemban amanat masyarakat dalam perjuangan menuju pemekaran.

Saat itu, gema takbir, teriakan suka cita bahkan tidak sedikit yang meneteskan air mata saat ratusan warga Pangandaran yang datang langsung ke gedung DPR RI di Jakarta ikut menyaksikan detik-detik pengesahan undang-undang 21 lima tahun lalu.

Setelah mendengar berita bahagia tersebut, tak mau kalah, seluruh masyarakat Pangandaran pun menyambut kabar itu dengan luapan kegembiraan karena cita-cita yang selama ini dianggap impian, menjadi kenyataan.

Kini, 5 tahun Kabupaten Pangandaran berjalan, sebuah usia yang masih terbilang belia jika dibandingkan dengan 26 saudara-saudaranya kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat.

Sebagai kabupaten ke 27 di jabar dengan segala potensi yang dimiliki, DOB Pangandaran bertekad untuk bisa mensejajarkan diri dengan daerah lainnya. Optimalisasi Sumber Daya Alam (SDA) atau pun Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan keniscayaan untuk menyongsong masa depan lebih baik, karena mimpi, harapan, tantangan dan peluang itu masih terbentang luas.

Demikian dikatakan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata saat diminta tanggapan terkait milangkala (hari jadi) Kabupaten Pangandaran yang ke lima.

“Dalam upaya membangun daerah, ketersediaan potensi SDA yang melimpah juga tidak menjamin bisa memberi kemakmuran dan kemajuan jika tidak ditunjang oleh SDM yang tersedia. Maka, Pangandaran harus bangkit dan berbenah untuk memberdayakan potensi yang dimiliki dengan meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya.”ungkap Jeje beberapa waktu lalu.

Belum genap dua tahun sejak pelatikan tanggal 17 pebruari 2016, Bupati, H. Jeje Wiradinata dengan Wakil Bupati H. Adang hari memimpin Pangandaran, perubahan pun nampak di sana-sini.

4 kebiajakan, seperti pendidikan, infrastruktur, kesehatan dan penataan kawasan wisata menjadi program perioritas pada awal-awal tahun kepemimpinannya, selaras dengan napas dan tujuan pemekaran. Dan tentunya “sedikit” sudah  bisa merubah sebagian “wajah” dan “tubuh” pangandaran.

“Selain 4 kebijakan tersebut, pelayanan publik pun terus kami perbaiki, karena isyu tersebut merupakan salah satu spirit kita dalam pemekaran. “ungkapnya lagi.

Dalam milangkala ke 5 ini, menurut Jeje, harus dijadikan sarana untuk mengungkapkan rasa syukur. Mensyukuri atas nikmat Tuhan, rasa syukur atas perjalanan waktu dalam mengukir catatan perjalanan Pangandaran, atas perkembangan pembangunan dan kemajuan selama ini, selama lima tahun.

Jeje mengatakan, masih begitu banyak pekerjaan ke depan untuk bersama-sama yang harus dikerjakan, yang semuanya memerlukan kebersamaan untuk menghadapinya. Seribu satu masalah yang dihadapi membutuhkan suatu perencanaan, kebersamaan, konsistensi agar masalah itu dapat dilalui satu persatu. Dan pada kapasitas dan porsinya masing-masing, tentunya banyak hal yang bisa dilakukan untuk tujuan yang sama, kemajuan Pangandaran.

Jika komunikasi ini tetap terpelihara dan berjalan dengan baik,  menurutnya lagi, maka sinergi pembangunan pun akan tercipta dengan baik pula, sehingga akan berdampak terhadap roda pembangunan dan keberlangsungan pemerintahan. Karena masing-masing mampu menjalankan tugas dan fungsi sesuai kapasitanya, hingga pada gilirannya visi-misi Pangandaran Hebat pun akan lebih mudah dicapai. Sedangkan tujuan atau target yang ingin dicapai dalam pembangunan itu sendiri, terjadinya perubahan-perubahan kearah peningkatan SDM dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

 “Dengan Momentum milangkala ke 5 ini, mari kita bangkit bersama, bergandeng tangan dan bersepakat untuk Pangandaran lebih maju dan hebat. “imbuhnya.

Kepada jajaran aparatur di lingkup Pemerintahan Kabupaten Pangandaran, Jeje pun menyampaikan untuk sungguh-sungguh memiliki komitmen pelayanan yang baik serta tidak menjadikan keterbatasan di sana-sini sebagai alasan, sehingga pembangunan di Pangandaran bisa berjalan baik. Dengan kondisi kantor dan sarana lainnya yang belum sepenuhnya bisa menunjang hasil kinerja yang bagus, ia yakin, para aparatur pemerintahan akan selalu mendedikasikan dirinya untuk kepentingan masyarakat.

“Diharapkan seluruh apartur pemerintah mampu mengoptimalkan dan mempercepat pelaksanaan program dan kegiatan, sehingga masyarakat lebih cepat dapat merasakan manfaatnya. “ucapnya.

Jeje juga mengatakan, mudah-mudahan momentum milangkala ini bisa jadi representasi seluruh masyarakat Kabupaten Pangandaran, sehingga refleksi dari seluruh makna, semangat, motivasi, inspirasi dan nilai-nilai yang terkandung dalam milangkala ke 5 ini mampu melahirkan inovasi, kreasi dan aksi yang makin mendukung pembangunan dan kemajuan di masa depan.

“Sekali lagi, bahwa moment peringatan dan perayaan hari Jadi Kabupaten Pangandaran yang ke-5 ini tidak cukup hanya dengan formalitas sidang paripurna istimewa, dengan memakai pakaian adat, kampret blangkon dan sebagainya. Lebih daripada itu semua, momen Refleksi itu harus menjadi titik awal kesadaran kolektif semua komponen untuk kemajuan Pangandaran. “pungkas jeje. (hiek)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN