BIAYA PERJALANAN WISATA KE BALI KEPALA SDN, DIPERSOALKAN ? AGUS NURDIN : “BILA ADA ATURAN BOS DILANGGAR, KAMI AKAN TINDAK TEGAS”

PARIGI - Kepala UPT Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Adang Ismail, menepis ramainya rumor yang mengatakan para kepala sekolah SDN di Kecamatan Parigi dan Kecamatan Kalipucang yang berwisata ke pulau dewata Bali baru baru ini yang didanai sebuah perusahaan buku PT.Erlangga sebagai kompensasi dari perusahaan untuk pembelian buku kurikulum siswa tahun 2017/2018.

Menurut Adang, dirinya tidak mungkin melanggar aturan yang sudah ditetapkan pemerintah pusat terkait aturan penggunaan dana BOS ( Bantuan Operasional Sekolah).

"Saya tidak mungkin berani melanggar aturan pemerintah pusat yang direkomendasikan langsung kepada disdikpora kabupaten Pangandaran", jelasnya.(17/7)

Adang saat ditemui di ruang kerjanya juga mengatakan, biaya wisata para kepala sekolah tersebut memang dari PT.Erlangga, tapi itu sebagai bonus perusahaan penerbit buku untuk tahun ajaran 2016 lalu.

"Saya akui, biaya wisata itu memang dari PT.erlangga, tapi itu bonus pembelian buku tahun 2016/2017 dan buku tersebut sudah tersebar di seluruh SDN yang ada di Kabupaten Pangandaran tahun ajaran 2016 lalu", jelasnya.

Saat p-news konfirmasi hal terserbut ke Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, Sekretaris Disdikpora, H. M. Agus Nurdin, S.Pd, M.Pd menjelaskan, pihaknya malah tidak tahu kalau biayanya wisata itu ditanggung PT Erlangga.

Menurutnya, masalah perjalanan wisata kepala sekolah di lingkup 2 UPTD Pendidikan Kecamatan Parigi dan Kalipucang, tidak ada hubungannya dengan peraturan yang mengatur BOS.

"Dari informasi yang saya dapat, biaya tersebut merupakan fee dari perusahaan penerbit buku PT Airlangga. “kata Agus. (17/.7)

Ditambahkan Agus, memang anggaran untuk pembelian buku tersebut diambil dari dana BOS, dan itu pun jelas aturannya serta harus mengikuti HET (harga eceran tertinggi).

Jadi, lanjut Agus, jika pelanggarannya ada pada aturan BOS, misalnya, HETnya terlalu tinggi, maka yang bersangkutan harus mengembalikan kelebihan anggaran pembelian buku itu ke kas negara.

“Dan jika ada kecorobohan baik dalam memilih perusahaan atau jenis buku yang dibeli, maka yang bersangkutan akan diberi sanksi administrasi. “terang Agus.

Lebih jauh Agus mengatakan, Disdikpora Pangandaran sudah bertekad akan menghilangkan hal-hal semacam itu. Jika selama ini ada kesan dunia pendidikan sarat dengan segala “pungutan” atau penyelewengan lainnya, maka, lanjut Agus, silahkan laporkan langsung ke dinas, dan dinas pun akan segera menindak lanjuti laporan tersebut.

"Dan dalam waktu dekat ini kami pun akan segera melakukan monitoring dan pemeriksaan ke seluruh SDN terkait penggunaan dana BOS", pungkasnya. (AGE)

ARTIS DANGDUT PANTURA, ANNA JANET MINTA DUKUNGAN WARGA PANGANDARAN

PARIGI-Kehadiran Anna Janet di tengah-tengah dialog antara pemda dan para budayawan Pangandaran menjadi warna sendiri. Pasalnya, artis dangdut yang sedang meniti karirnya pada ajang pencarian bakat penyanyi dangdut Bintang Pantura di Indosiar, sejenak menjadi pusat perhatian peserta yang hadir.

Wanita asal Dusun Banyuasin Desa-Kecamatan Pangandaran ini pun berharap mendapat dukungan warga Pangandaran agar dalam seleksi yang sedang dijalaninya bisa lancar dan sukses.

“Saya asli orang Pangandaran. “katanya usai bertemu Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata di aula setda.(18/7)

Menurut Anna, pada awalnya karirnya seninya dimulai saat ia mengikuti perlombaan tari jaipong ketika masih di bangku SD. Dengan mengikuti beberpa perlombaan, Anna pun sempat meraih gelar juara pada festival Jaipong pada acara Sukuran Nelayan Pangandaran.

“Sementara karir nyanyi saya dimulai saat saya duduk di bangku kelas 2 SMA. “terangnya.

Kini dengan bermodalkan suara merdunya, Ana pun sekarang sedang mengikuti seleksi pada ajang pencarian bakat penyanyi dangdut di Indosiar. Mnenurut Anna, dari 112 peserta nantinya yang akan lolos seleksi sebanyak 28 orang.

“Sekarang saya sengaja pulang dulu untuk meminta dukungan serta doa’ seluruh masyarakat Kabupaten Pangandaran. “pungkasnya. (Evhan Rayna S.)

JEJE WIRADINATA GELAR DIALOG DENGAN PELAKU BUDAYA PANGANDARAN

PARIGI-Bertempat aula setda, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata menggelar pertemuan dengan para budayawan se-Kabupaten Pangandaran (18/7). Dalam pertemuan tersebut, Jeje pun memaparkan program pembangunan  baik yang sudah dicapai atau pun yang sedang dilaksanakan sehingga harapan besar dari pemekaran DOB Pangandaran ini bisa betul-betul dirasakan langsung masyarakat.

“Seperti sering saya sampaikan ke masyarakat, tahun-tahun pertama ini program pembangunan diperioritas pada 4 sektor. “jelas Jeje.

Empat sektor tersebut, lanjut Jeje, diantaranya pembangunan dan perbaikan infra struktur yang memang dirasakan sudah menjadi kebutuhan yang harus disegerakan karena kondisinya memang harus diperbaiki.

“Target kami, tahun 2019 seluruh jalan harus sudah selesai. “tegas Jeje.

Kedua, masalah pendidikan. Menurut data yang ada, sekitar 40 % merupakan angka siswa yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dan hingga sekarang, dari total 6 ribu siswa, kini hanya tinggal 400 anak saja yang belum melanjutkan pendidikannya.

Selain menggratiskan biaya pendidikan, kata Jeje, ada juga program pendidikan berkarakter dengan pola pendekatan agama, nasionalisme dan budaya.

“Selain itu ada juga Ajengan Masuk Sekolah, Pangandaran mengaji dan lainnya semuanya  diperuntukan anak-anak kita. “imbuh Jeje.

Selanjutnya masalah kesehatan, saat ini bertahap dibangun puskesmas-puskesmas yang refresentatif dengan 40 orang tenaga dokter, biaya pengobatan gratis dan semuanya untuk menyembuhkan warga yang sakit.

Terakhir, sektor pariwisata, saat ini dalam fase penataan kawasan, pembangunan kultur budaya dan terakhir promosi.

Dalam penataan kawasan, lanjut Jeje, langkah pertama dengan merelokasi pedagangg yang selama ini menempati pantai untuk direlokasi di empat titik lokasi dengan total anggaran Rp 40 milyar.

Insaalloh, tanggal 20 desember nanti pedagang pinggir pantai sudah harus menempati relokasi yang baru, dan nanti saya sendiri yang akan mengundinya, siapa yang kebagian tempat di depan dan siapa yang akan menempati lokasi di belakang. ”imbuh Jeje.

Di hadapan para budayawan, Jeje pun memaparkan pembangunan Ruang Taman Hijau (RTH) eks Puskesmas Pangandaran, bunderan mesjid agung, depan pasar pananjung hingga lapang merdeka.

Menurut Jeje, pembangunan RTH tersebut bertujuan untuk “etalase” Pangandaran. Pengunjung yang datang ke Pangandaran harus mempunyai kesan indah, asri dan hijau sejak mulai masuk pintu gerbang menuju wisata Pangandaran.

“RTH tersebut juga bisa digunakan warga bersantai, jogging atau sekedar jalan-jalan di taman bersama keluarga. “terang Jeje.

Sementara para budayawan yang hadir menyampaikan keinginannya, dalam pembangunan yang sekarang sedang dilaksanakan Pemkab Pangandaran tidak menghilangkan  situs-situs yang ada hampir di setiap kecamatan.

“Kami juga berharap, pemkab bisa membangun gedung sebagai tempat aktivitas para pelaku budaya yang ada di Pangandaran. “tutur salah seorang budayawan. (hiek)

AKSI POSITIF ORMAS BANGUN PONDOK PESANTREN

PADAHERANG-Lima ormas, Manggala, Reliji, Brigsan, Pandawa dan BBC di Kecamatan Padaherang Kabupaten menggelar aksi sosial. Mereka bersatu dalam aksi kebersamaan untuk ikut berpatisipasi bergotong royong melaksanakan kerja bakti di Yayasan Latifatul Qolbi (LQ)  yang sedang membangun asrama santri Pondok Tahfidh Qur'an di RT03, RW.01 Dusun Kedungwuluh Desa Kedungwuluh Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. 

Menurut Ketua Yayasan LQ, Nana Hoeruman, pihaknya sangat menyambut baik serta merasa bangga aksi sosial yang dilakukan kelima ormas tersebut.

“Atas nama yayasan, saya mengucapkan terimakasih dan mudah-mudahan apa yang dilakukan rekan-rekan ormas ini menjadi amal baik. “ungkap Nana.(16/7) 

Dikatakan Nana, sampai saat ini yayasan baru bisa membangun 3 lokal untuk keperluan pemondokan para santri yang sedang belajar Al-Quran. Dan semua dana pembangunan yang sudah dilaksanakan ini berasal dari swadaya murni masyarakat.

“Mudah-mudahan dalam tahap finishing nanti ada hamba Alloh lainnya yang tergugah membantu penyelsaian pondok Tahfidh Qur'an ini. “imbuh Nana. (isis koswara)     


JEJE WIRADINATA PIMPIN PERINGATAN 11 TAHUN BENCANA TSUNAMI PANGANDARAN

PANGANDARAN – Peringatan 11 tahun terjadinya bencana tsunami di Pangandaran, kemarin (17/7) diperingati di lapang terbuka Pamugaran dipimpin langsung Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata serta dihadiri Kadis PKPB, DR. Drs.H. Nana Ruhenma, MM, Kadis Pariwisata, Drs. H. Undang Sohbarudin, Ormas dan pelajar.

Usai memimpin upacara, untuk mengenang para korban tsunami yang terjadi tanggal 17 Juli 2006 silam, Jeje pun melakukan tabur bunga di pemakaman umum tempat korban tsunamai dimakamkan tidak jauh dari tempat upacara.

“Saya masih ingat, 11 tahun lalu saya juga yang memimpin upacara pemakanan disini ketika tragedi bencana tsunami itu terjadi di Pangandaran. “ungkapnya. (17/7).

Dulu, lanbjut Jeje, banyak sekali korban yang dimakamkan disini kebanyakan yang tidak jelas keluarganya dan identitasnya.

Di hadapan para awak media, Jeje juga mengajak agar bisa mengambil hikmah kejadian tsunami 11 tahun silam untuk bisa memperbaiki diri terutama ahlak juga perilaku dalam mengemban hidup serta menjadikan peristiwa tersebut sebagai peringatan dari Yang Maha Kuasa terhadap mahluknya agar lebih menambah keimanan dan ketaqwaan.

“Mari bersama-sama kita do'akan, semoga arwah para korban tsunami Pangandaran bisa mendapatkan tempat disisiNya dan diampuni segala dosa nya", pungkas Jeje.(Age)


BKSDA PANGANDARAN BANGUN PAGAR PANTAI DAN HABITUASI CEGAH SATWA KELUAR KAWASAN

PANGANDARAN-Usai mengikuti diskusi “Pemetaan Strategi Perlindungan Satwa, Terumbu Karang dan penanganan Sampah di Pangandaran” yang digagas PROFAUNA di ruang Komunitas Rumah Plankton Pasar Wisata Pangandaran (11/7),  Kepala BKSDA resort Pangandaran, Yana Hendrayana kepada PNews menyampaikan, masalah kebersihan sudah lama menjadi konsentrasi pihaknya di kawasan Cagar Alam.
Dikatakan Yana, jika sedang musim libur dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, petugas BKSDA setiap sore hari melakukan “operasi plastik”, untuk memunguti sampah-sampah bekas makanan yang ditinggalkan wisatawan. 

“Dan kalau hari-hari biasa, pada setiap senin paginya kami melakukan kebersihan. “terang Yana.(15/7)

Seharusnya, kata Yana, masyarakat atau pengunjung juga ikut mendukung apa yang dilakukan BKSDA. Paling tidak, tidak memberi makan pada satwa yang ada di kawasan Cagar Alam. Karena  dengan membuang sampah sisa makanan, secara tidak langsung sudah memberi makanan pada satwa-satwa. Dan biasanya satwa yang ada di sini akan memakan bekas-bekas makanan yang dibuang pengunjung di sembarang tempat.

“Kalau memang sayang pada satwa yang ada disini, tolong jangan ikut membiasakan untuk memberi makanan pada mereka. “tegas Yana.

Baik rusa, monyet atau satwa lainnya, lanjut Yana, karena sudah terbiasa memakan makanan manusia dari sampah bekas makanan yang berserakan, akhirnya menjadi kebiasaan hingga lupa dengan makanan asli di habitatnya.

Padahal, masih kata Yana, berbagai usaha seperti membangun pagar pantai sepanjang 54 meter dengan tinggi 3 meter di pantai timur untuk mencegah rusa keluar, pembuatan habituasi 40x95 meter, pemulihan ekosistem atau habitat di kawasan Cikamal dengan luas 3 hektar.

“Selain itu, kami pun setiap hari melakukan penggiringan satwa yang keluar kawasan. “imbuh Yana.

Yana juga tidak lupa mengucapkan terima kasih pada masyarakat yang sudah ikut menjaga keberadaan rusa yang ada di luar kawasan cagar alam.

“Kami sangat mengapresiasi apa yang selama ini dilakukan warga untuk membantu kami menjaga dan melestarikan kawasan hutan yang ada di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. ”kata Yana lagi.

Disoal terumbu karang, Yana mengatakan, pasir putih dan terumbu karang itu ada pada kawasan Cagar Alam dan Cagar laut dengan fungsinya sebagai kawasan yang harus dijaga. Tapi sudah lama juga, lanjut Yana, kawasan tersebut “beralih fungsi” menjadi lokasi aktivitas wisatawan.

“Ini masalah regulasi, apakah kawasan tersebut mau dijadikan kawasan wisata atau tetap seperti sekarang menjadi cagar laut. “jelas Yana. (hiek)

WAHANA WISATA PERMAINAN AIR BUTUH PAYUNG HUKUM, IWAN SOFA: “SAYA TANTANG, KAPAN SAYA HARUS BAYAR PAJAK ? ..”

PANGANDARAN-Bagi masyarakat pelaku wisata bisa merasakan langsung, apakah kunjungan wisatawan ada kenaikan atau malah sebaliknya menurun pada perbandingan dalam sesson yang sama. Seperti pada libur sekolah, Natal Tahun-Baru, Hari Raya Idul Fitri atau liburan akhir pecan.  Dan tidak menutup kemungkinan, ini bisa dijadikan salah satu indikator arus kunjungan wisatawan yang datang ke Pangandaran.

Seperti disampaikan salah seorang pengusaha wisata permainan air, Iwan Sofa, yang sehari-harinya menjual jasa wisata penyewaan wahana atraksi air, seperti banana boat, aqua glad, crazy donut, crazy bufo, trampoline ekstrime, butterfly, water jump, fkly fish dan snorkeling bertempat di pantai timur.
Menurut Iwan yang bergabung di Asosiasi Tour Travel Pangandaran (ATTAP), secara umum jumlah kunjungan wisatawan libur Hari Raya Idul Fitri 1438 H (2017) ke Pangandaran mengalami kenaikan dibanding libur yang sama tahun lalu.

“Walau masalah klise seperti macet yang terjadi baik di bundaran mesjid agung sebelum toll gate atau di dalam lokasi wisata masih terjadi, tapi saya merasakan tahun ini memang ada peningkatan. ”ungkapnya.(16/7)

Dikatakan Iwan, ia sangat mengapresiasi dengan penataan wisata  yang dilakukan Pemkab Pangandaran, dan ini tentunya akan menambah gairah dunia usaha wisata yang menjadi andalan mayoritas masyarakat Pangandaran. Dan tentunya penataan ini, lanjut Iwan, harus dibarengi pula dengan penataan SDM serta regulasi yang akan mengatur bagaimana kepariwisataan Pangandaran nantinya, selaras dengan visi-misi, Pangandaran menjadi wisata yang mendunia.

Ditambahkan Iwan, salah satu contoh usaha yang selama ini ia geluti sedah sejak lama ia dan rekan-rekannya berharap ada payung hukum yang kan mengatur usahanya.

“Silahkan kami tata, karena kami pun bisa memberikan warna kepariwisataan serta kontribusi PAD, kalau sekarang usaha kami kan terkesan illegal. “kata Iwan.

Jika selama ini usaha wahana permainan air belum ada aturan yang mengaturnya, menurut Iwan, maka pasti kesannya pun semerawut dan dikhawatirkan wisatawan akan meragukan SOP yang diterapkan. Padahal dari usaha yang ia kelola, menurutnya, ada potensi PAD seperti pajak, retribusi parkir dan sampah.

“Ini tentunya menjadi bahan pemikiran ATTAP, bagaimana kami bisa lebih berkontribusi khususnya pada sektor pariwisata Kabupaten Pangandaran. “imbuhnya.

Iwan juga mengatakan, pihaknya siap ditata serta diatur dengan Peraturan Daerah karena pada dasarnya memang usahanya perlu payung hukum yang akan mengatur keberadaannya.

“Jika yang lain terkesan sembunyi dari pajak, maka saya tantang Pemkab Pangandaran, kapan kami harus membayar pajak ? “tegas Iwan.

Seperti dikatakan Iwan, untuk even libur Hari Raya Idul Fitri lalu, dari usaha yang dikelolanya tidak kurang Rp200 juta ia dapatkan.

“Dari H+2 hingga H+14, rata penghasilan kami sekitar Rp10 juta per harinya. “terangnya. (hiek)

SMK KN GAET RAIDER 323 BUAYA PUTIH KOSTRAD TERAPKAN DISIPLIN SISWA

PADAHERANG-SMK Kesatria Nusantara (SMK KN)) Padaherang Kabupaten Pangandaran menggelar kerjasama dengan Batalyon Infantri Raider 323 Buaya Putih Kostrad untuk melatih bidang kedisiplinan para siswanya.

Kegiatan yang dilaksanakan sejak tanggal 9 juli hingga 12 juli 2017 bertempat di Batalyon 323 Buaya Putih Kota Banjar ini dimaksudkan untuk meningkatkan kedisiplinan para siswa dalam menuntut ilmu hingga pada gilirannya, siswa pun bisa lebih semangat dalam belajar dan dalam kesehariannya.

“Kegiatan ini juga bisa sebagai sarana pembiasaan diri siswa agar menerapkan disiplin di semua kegiatan baik di sekolah atau pun di rumah masing-masig. “kata salah satu guru pembimbing, Enjang Suryadi, S.PdI.(12/7).

Sebanyak 61 siswa mulai dari kelas 1 sampai kelas 3, menurut Enjang,  diwajibkan untuk mengikuti kegiatan ini. Dan bentuk kerja sama dengan pihak TNI ini, khususnya dengan Batalyon Infantri Raider 323 Buaya Putih Kostrad ini mudah-mudahan bisa diikuti sekolah lain di Kabupaten Pangandaran.

“Alhamdulillah, seluruh peserta didik mengaku sangat senang dan respon dengan kegiatan ini. “imbuh Enjang. (Nana-Isis Koswara)

BERBURU KULINER OLEH-OLEH KHAS WISATA PANGANDARAN

PANGANDARAN-Wisata kuliner merupakan salah satu daya tarik selama ini banyak diburu wisatawan yang datang ke Pangandar Aneka  makanan hasil laut siap saji yang dijajakan pedagang, tepatnya di centra kuliner belakang Tempat Pelelangan Ikan (TPI), selama liburan Hari Raya Idul Fitri tidak pernah sepi pembeli.

Seperti disampaikan salah seorang pedagang, Mamah Ipit, tidak kurang dari 50 kg per harinya bisa terjual, dari mulai udang goreng, cumi-cumi hingga rajungan kecil.
“Bahkan 2 hingga 6 hari setelah lebaran, penjualan kami mencapai 1 kwintal per harinya. “jelasnya. (16/7)

Diakui Ipit, walau kemacetan yang terjadi sepanjang jalan di dalam kawasan wisata sedikit mengganggu omzet penjualannya, tapi libur idul fitri memang merupakan saat marema (laris) para pedagang kuliner.

Sejak ditata tempat jualannya yang sekarang, tepatnya sekitar bulan juli 2016, Ipit dan pedagang lainnya merasakan ada perubahan karena tempat yang sekarang cukup representatif membuat para wisatawan pun senang datang untuk berbelanja baik untuk dikonsumsi langsung atau untuk oleh-oleh.

“Tadinya kami berdagang dengan bangku seadanya di pinggir jalan. “terang Ipit.

Dikatakan Ipit, ia dan teman-temannya sangat mendukung kebijakan Pemkab Pangandaran untuk menata pedagang yang sekarang banyak berjejer di pinggir pantai.

“Karena jika tempat jualannya tertata, maka turis pun pasti akan senang untuk berbelanja. “ungkapnya. (Evhan RS)


“PASAR BERJALAN” JADI ALTERNATIF IBU-IBU

PANGANDARAN-Dalam hidup di jaman sekarang dituntut lebih kreatip, melihat peluang sekecil apa pun harus mampu dijadikan jalan usaha.

Seperti dilakukan, Wati (26) bersama suaminya keliling kampung menjualan sayuran dan kebutuhan rumah tangga lainnya.

Menurut Wati, jika kita tidak pandai-pandai memanfaatkan kesempatan,  maka akan ketinggalan untuk meraih lesempatan tersebut.

"Yang saya lakukan sekarang ini pun merupakan peluang usaha yang mungkin luput dari perhatian orang. "ungkapnya.(15/7).

Ditambahkan Wati, sekarang musimnya jemput bola, maksudnya, sekarang penjual yang harus menghampiri pembeli.

Baik dengan sarana speda, motor, lanjut Wati, hingga menggunakan kendaraan roda empat seperti yang ia lakukan.

"Kalau di tingkat menengah ke atas mungkin sibuk dengan berjualan cara on line, maka saya pun tidak mau ketinggalan dengan berjualan keliling dari kampung ke kampung menghampiri pembeli. "ungkapnya lagi

Jenis jualannya pun, menurut Wati, disesuaikan dengan bermacam kebutuhan sehari-hari di rumah tangga. Dari mulai sayuran, bumbu dapur, buah-buahan hingga kelngkapan rumahtangga lainnya.

Menurut Wati lagi, dari rumah ia berangkat sekitar jam 6 pagi untuk belanja dulu ke pasar, setelah itu lalu menjualnya keliling kampung hingga sekitar jam 2 sore.

"Alhamdulillah, hasilnya bisa untuk setor angsuran kendaraan tiap bulan serta kebutuhan rumahtangga. "jelas Wati.

Keberadaan Wati dengan "pasar berjalannya" dirasakan sangat membantu ibu-ibu rumahtangga.

Seperti dikatakan salah seorang ibu, ny. Ugi (25). Menurutnya, dengan adanya pejual sayur keliling ia sekarang tidak lagi ke pasar. Cukup dengan mengandalkan "pasar berjalan" segala kebutuhan dapurnya bisa terpenuhi.

"Sekarang cukup di depan rumah, saya bisa belanja kebutuhan rumahtangga. "kata Ny. Ugi.

Dengan adanya "pasar berjalan", menurut Ugi, ia bisa sedikit menghemat waktu, karena semua kebutuhan dapurnya sudah "diantar" ke depan pintu  rumahnya.

"Masa hanya untuk membeli garam dan cabai Rp10 ribu saja saya harus bayar ongkos angkutan dan memerlukan waktu lama..."imbuhnya.

Lagi pula, lanjut Ugi, harga yang ditawarkan penjual sayur keliling tersebut relatif sama dengan harga di pasar.

'Yang jelas, dengan adanya penjual sayur keliling, saya bisa menghemat tenaga dan waktu. "tegasnya. (evhan)

TIDAK BENAR HARUS ADA PENGOSONGAN SMPN 1 KALIPUCANG

PANGANDARAN-Tidak benar jika ada isyu yg mengatakan harus ada pengosongan bangunan SMPN 1 Kalipucang karena belum membayar uang sewa lahan yang dipergunakan milik Perusahaan Nasional Kereta Api (PNKA).

Saat dihubungi lewat telepon celullernya, petugas PNKA yang biasa menarik uang sewa lahan, Bangbang Turisman, membenarkan isi Surat Peringatan (SP) tersebut hanya menyampaikan tagihan saja.

"Di SP itu hanya ada tagihan pembayaran sewa lahan yang harus dibayar paling lambat akhir bulan ini. "ujarnya.(14/7)

Menurut Bangbang yang saat berita ini ditulis sedang ada di daerah Jawa Tengah, sebenarnya jumlah tagihan sebesar Rp 32 juta tersebut merupakan  akumulasi  tagihan dari beberapa tahun ke belakang yang belum dibayar.

"Persisnya saya lupa dari tahun berapa tagihan itu , datanya ada di rumah,. "imbuh Bangbang.

Sementara saat dikonfirmasi, Kepala SMPN 1 Kalipucang, Dede Koharudin, S.Pd, M.Pd menyampaikan, jumlah tagihan awal yang disampaikan pihak PNKA memang sebesar Rp 32 juta. Tapi setelah negosiasi ada kesepakatan antara pihak PNKA dengan sekolah, sebesar Rp 19 juta.

"Tapi masalahnya sekolah tidak uang sebesar itu. "ungkapnya.(14/7)

Lebih jauh Dede mengatakan, pihaknya tidak mungkin membayar tagihan sewa lahan itu diambil dari anggaran BOS atau pun Pangandaran Hebat. Sebab, menurut Dede, anggaran dari kedua program tersebut sudah ada ketentuannya masing-masing.

"Apalagi kami harus memungut dari orang tua siswa, itu tidak mungkin karena bertentangan dengan perbup Pangandaran. "imbuhnya.

Untuk menyelesaikan permasalahan ini, lanjut Dede, ia akan konsultasi dulu dengan Pemkab Pangandaran mengingat ada sekitar 760 siswa di SMPN 1 Kalipucang yang saat ini tidak boleh terganggu dalam kegiatan belajar mengajarnya.

"Mudah-mudahan ada solusi secepatnya mengingat pihak PNKA memberikan batas waktu pembayaran hingga akhir bulan ini. "imbuh Dede. (hiek

NYOMAN NUARTA TERIMA PERMINTAAN MAAF BUPATI PANGANDARAN


PANGANDARAN-Permintaan maaf Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata tentang pemugaran patung di bunderan mesjid Agung Pangandaran diterima seniman Nyoman Nuarta.

Dalam sebuah pertemuan dengan para seniman, seperti, Tisna Senjaya, Jim Supangat, Dr. Rikrik Kusmara dan Drajat di ruang VIP museum seni milik Nyoman Nuarta di bilangan Setra Duta Kota Bandung, Jeje pun menyampaikan permintaan maafnya serta kronologis perobohan patung karya seniman asal Bali ini karena ketidaktahuan bahwa patung yang selama ini berdiri di depan mesjid agung tersebut karya seniman besar, Nyoman Nuarta.

Jeje juga mengatakan, pemugaran Patung itu merupakan salah satu bagian dari penataan wisata Pangandaran yang rencananya akan membuat patung baru di lokasi yang sama.

Menurut Jeje, permintaan maafnya pun diterima Nyoman serta bisa memahami kehilapan karena memang a ketidak tahuan.

“Malah Pa Nyoman mengaku sempat lupa bahwa ia pernah membuat patung tersebut di Pangandaran. “ujar Jeje.(13/7)

Masih kata Jeje, jika masih ada sisa-sia patung tersebut, Nyoman pun meminta agar bisa dikumpulkan untuk dibuat ulang yang akan disimpan di museum miliknya.

Jeje juga mengatakan, Nyoman menyambut baik semangat Pemda Pangandaran yang akan menata kawasan wisata karena pangandaran memang punya potensi besar dalam dunia pariwisata yang bisa lebih dikembangkan seperti Bali.

“Kata Pa Nyoman, ia bangga, penataan PKL yang sekarang sedang dilaksanakan Pemkab Pangandaran karena selama ini pangandaran memang terkesan kumuh. “imbuhnya.

Ditambahkan Jeje, ke depan Pangandaran harus lebih maju dan kerja keras menggelar event budaya, musik dan lainnya dengan melibatkan berbagai kekuatan.

“Pa Nyoman dan Pa Tinsna Senjaya siap memabantu untuk ikut memajukan Pangandaran. “imbuh Jeje.

Dalam kesempatan pertemuan dengan para seniman besar itu, menurut Jeje, ia pun berkesempatan diajak keliling ke tempat seni Nyoman Nuarta termasuk ke museum dan bengkel kerja seluas tiga hektar.
"Beliau ternyata sangat ramah penuh kekeluargaan malah saya juga dijamu makan siang sama Pa nyoman. "pungkas Jeje. (hiek)

PENYERAHAN PD BPR BKPD PANGANDARAN-CIJULANG (MASIH) DALAM PEMBAHASAN

PARIGI-Sepertinya proses penyerahan salah satu asset, PD. BPR BKPD Cijulang dan Pangandaran dari Kabupaten Ciamis ke Daerah Otonomi Baru (DOB) Kabupaten Pangandaran masih harus menempuh jalan panjang. Pasalnya, sampai sekarang, masalah tersebut masih masuk dalam pembahasan panjang kedua pemerintahan, padalah sebagaimana telah diatur di Undang0undang nomer 21 tahun 2012 penyerahan aset dan dokumen sebagaimana dimaksud dilakukan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak pelantikan Penjabat Bupati Pangandaran.

Hingga hari kemarin, rabu (12/7), Pemkab Ciamis dipimpin Asisten Daerah II, Drs. H.M Sukiman menggelar pertemuan untuk membicarakan langkah apa yang akan dilakukan kedua pemerinatahan berkenaan dengan penyerahan dua BPR yang berkedudukan beropersi di wilayah Kabupten Pangandaran.

Menurut Sukiman, pihaknya kini sedang menginfentarisir untuk rencana ke depan serta masih menjajagi 2 opsi, pola kerjasama atau nanti akan diserahkan ke Pangandaran.

“Kita sekarang sudah ada kesepakatan dengan pihak Pangabdaran ingin melihat dulu performa perusahaan seperti apa, dan nanti kita akan bentuk tim untuk mempelajari data-data yang ada di perusahaan. “ungkapnya.

Dikatakan Sukiman, pihaknya tetap berharap kalau bisa dikelola bersama karena keuntungannya juga akan sangat besar. Dan lagi, penyerahan perusahaan itu tidak bisa seperti menyerahkan mobil karena harus menempuh ijin. Dan menurutnya lagi, ini juga dalam rangka mengembangkan perusahaan itu sendiri.

“Kalau perusahaan dikelola bersama, maka tentunya Pangandaran dan Ciamis akan membina bersama dan wilayah jangkauan oprasional pun semakin besar, oleh karena itu mari kita besarkan perusahaan ini bersama-sama. “kata Sukiman.

Disoal apakah ini tidak menyalahi Undang-undang 21 tahun 2012, menurut Sukiman, tidak menyalahi, sebab nantinya juga diserahkan tapi penyerahannya dikelola bersama.

Kalau misalnya BPR BKPD Cjulang dan Pangandaran ini akan di-go public-kan oleh Pangandaran, lanjut Sukiman, nanti kerjasama dengan siapa, jelas harus kerjasama dengan pihak yang lain.

“Nanti kita akan bentuk PT, karena jika perusahaan itu kalau ingin go public harus berbadan hukum PT, dan ini dalam rangka beridirinya PT. “jelas Sukiman.

Lalu saat ditanyakan, UU 21 pasal 14 mengatakan, penyerahan aset dan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 3 (tiga) tahun sejak pelantikan Penjabat Bupati Pangandaran, menurut Sukiman, Pemkab Ciamis tetap berpegang pada saat konsolidasi ada kesepakatan awal yang dibuat kedua belah pihak  pasca diundangkannya UU 21 tahun 2012.
Tapi pertanyaannya, apakah perpindahan kedua BUMD tersebut menggunakan kesepakatan awal atau UU ? dijawab Sukiman, di dalam UU disebutkan di pasal 18 ayat 1 (pasal 18 ayat 1: Untuk mengefektifkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, Pemerintah dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melakukan pembinaan dan fasilitasi secara khusus terhadap Kabupaten Pangandaran dalam waktu 3 (tiga) tahun sejak diresmikan-red)

Jadi, lanjut Sukiman, di dalam hal penyerahan asset bupati Ciamis dengan PJ Bupati Pangandaran mengatur bersama tentang penyerahan asset.

“Berarti itu kan ada celah, jadi selama ini itu yang dipegang Ciamis. “

Kemudian, masih kata Sukiman, kedua asset perusahaan itu harus dibedakan dengan asset umum sehingga kalau dikerjasamakan Pangandaran dengan Cuamis nanti ada kerjasama yang baik. Umpanya, dengan pememberian nama BPR Pangandaran-Ciamis atau lainnya.

Mengenai nama BPR Suya Galuh yang sekarang sudah ada, itu bukan inisiatif Ciamis, tapi bisa saja nama tersebut mengandung arti Surya itu Pangandaran dan Galuh itu Ciamis walau tidak secara eksplisit ditulis Pangandaran-Ciamis.

Kenapa selama ini terkesan hanya Ciamis saja yang datang ke OJK (otoritas jasa keuangan), dijelaskan Sukiman, karena baik secara de facto atau de jure, kedua BPR BKPD tersebut masih milik Kabupaten Ciamis.

“Karena sampai saat ini kami belum menyerahkan kedua BPR tersebut ke Pangandaran. “ jelasnya lagi.

Sukiman juga mengatakan, walau pembicaraan masih di tingkat staf, pertemuan yang digelar merupakan kompromi dan hubungan baik antara kedua pemerintahan dan mudah-mudahan jadi bahan ke depan untuk menciptakan kerja sama yang baik.

“Dan media juga harus arif bijaksana dalam menanggapi hal ini. “imbuhnya.

Masih di tempat yang sama, Kepala Bappeda Kabupaten Pangandaran, H. Ujang Endin Indrawan, SH menyampaikan, setelah pertemuan dengan perwakilan Pemda Ciamis, pihaknya segera akan melakukan infentarisir asset yang ada di kedua BPR tersebut.

Artinya, nantinya untuk menentukan saham masing-masing atau apakah kerjasama ini disepakti atau tidak, tentunya harus dilakukan infentarisir, berapa nilai saham yang dimilki masing-masing , seperti dari nilai asset dan modal disetor.

“Tapi ini belum diputuskan, apakah sepakat atau tidak dengan sistim pengelolaan BPR secara bersama-sama dalam sebuah PT karena tentunya ini tergantung hasil kajian asset di masing-masing daerah. “tuturnya.

Dalam pembentukan badan hukum PT pun, lanjutnya, pihaknya belum ada kata sepakat karena kesepakatan tersebut hanya ada setelah didapatkan hasil infentarisir asset kedua BUMD itu.

Dan kerjasama pengelolaan BPR BKPD Cijulang dan Pangandaran, lanjutnya, ini baru usulan dari Ciamis. Sementara Pangandaran sendiri belum menentukan sikap karena belum tahu jumlah asset yang dimilki masing-masing.

“Bisa saja kita yang mempunyai saham mayoritas atau malah sebaliknya. “imbuhnya.

 Ditambahkan Endin, karena asset itu bukan hanya barang tidak bergerak saja, tapi juga termasuk modal yang disetor.

“Pangandaran kan belum melakukan penyetoran modal…”ungkapnya.

Disoal target waktu infentarisir yang akan dilaksanakan tim khusus dari dua pemerintahan, Endin mengatakan, itu tergantung apakah tim itu bisa bekerja cepat tidak.

“Kalau saya sendiri sih inginnya bulan juli ini harus selesai. “tergasnya.

Di tempat terpisah, saat ditemui di rumahnya, salah seorang tokoh masyarakat yang merupakan salah satu tokoh pemekaran Kabupaten Pangandaran, H. Yos Rosbi mengatakan, sebaiknya kedua pemerintahan kembali pada aturan atau membawa persoalan ini ke pemvrop dan jangan sampai persoalan asset tersebut terus berlarut-larut.

“Saya khawatir, ini bisa saja berdampak buruk pada perkembangan kedua BPR itu. “kata Yos.(12/7).

Menurut Yos, tidak ada yang sulit jika semuanya mengikuti aturan yang ada, tinggal dari presfektif yang mana aturan tersebut dipersepsikan, sehingga nantinya tidak ada salah satu pihak yang melanggar aturan atau undang-undang.

“Jika perlu bawa persolan ini ke tingkat propinsi atau ke tingkat pusat karena masyarakat sangat perlu kejelasan status kepemilikan BPR tersebut. “imbuhnya lagi. (hiek)

CIBOGO RAIH JUARA III LOMBA DESA/KELURAHAN TINGKAT PROPINSI TAHUN 2017

PADAHERANG-Desa cibogo kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran berhasil meraih juara 3  pada lomba desa/kelurahan tingkat Provinsi Jawa Barat tahun 2017 setelah melalui penilaian Tim Recheking Evaluasi Perkembangan Desa Provinsi Jawa Barat yang diketuai Drs. M A Afriandi, MT, Sekertaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) pemvrop dengan 6 orang anggotanya datang berkunjung ke Desa Cibogo, senin lalu.(19/7)

Afriandi mengungkapkan, Desa Cibogo  merupakan salah satu dari 5.312 desa di jabar yang berhasil masuk 4 besar karena telah memenuhi seluruh kriteria pada lomba desa/kelurahan tingkat propinsi Jawa Barat tahun 2017. Dari 18 kabupaten dan 19 kota, ada 8 5.312 desa di Jawa Barat yang diikut sertakan dalam lomba ini.

“Melalui hasil penelitian dan rapat pleno tim penilai, hanya 4 kabupaten yang Lolos yakni, Kabupaten Bandung, Bekasi, Indramayu dan Kabupaten Pangandaran. “terang Afriandi. (19/7)

Bertempat di aula Desa Cibogo, lebih jauh Afriandi mengatakan, dalam melakukan evaluasi dan klarifikasi, tim penilai melaksanakan penilaian lomba desa/kelurahan tahun 2017 dilakukan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahapan yang dilakukan tahun lalu hanya menilai adminitrasi dan kinerja dari tingkat desa saja.

“Sedang untuk tahun ini penilaian dilakukan mulai dari adminitrasi dan kinerja menyeluruh, dari Pemerintahan Kabupaten, kecamatan baru hingga ke Tingkat Desa. “imbuh Afriandi.

Indikator penilaiannya pun menurut Afriandi, agak berbeda, mulai dari tahapan administrasi dan kinerja Pemkab, kecamatan lalu ke desa. Jika di tingkat Kabupaten tidak bisa menunjukan dokumen administrasi yang jelas sesuai dengan kondisi di lapangan, maka akan mempengaruhi penilaian. 

Masih di tempat yang sama, camat Padaherang, Endang Hidayat, SH memberikan apresiasi pada seluruh pemerintahan dan masarakat Desa Cibogo yang sudah berhasil meraih prestasi dalam lomba desa/keluaran di tingkat provinsi.

Menurut Endang, prestasi ini ini bisa mendorong percepatan pembangunan dengan tetap menjaga nilai-nilai kekeluargaan serta gotongroyong antara perangkat desa dan warganmya.

Endang pun berharap, dengan predikat juara III tingkat provinsi ini, Desa Cibogo bisa terus berprestasi serta membawa baik Kabupaten Pangandaran ke jengjang lebih tinggi.

Alhamdulilah, hari jum'at tanggal 7 juli 2017 lalu saya menerima kabar, Desa Cibogo Kecamatan Padaherang berdasarkan hasil pleno dan ekpose yang dilakukan tim verifikasi administrasi, pada tanggal 3 juli menetapkan juara 1 Desa Pasir Sari Kecamatan Cikarang Kabupaten Bekasi, juara 2 Desa Biru Kecamatan Majalaya Kabupaten Bandung dan juara ke 3 diraih Desa Cibogo Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. “jelas Endang.

Dikatakan Endang, acuan dari lomba desa ini, Permendagri nomer 81 tahun 2015 tentang pemberdayaan pemerintahan desa. Ada pun beberapa indikator penilaiannya, lanjut Endang, pemberdayaan masarakat, infrastruktur dan pemerintahan.

Dalam pemberdayaan masarakatnya, lanjut Endang, warga Desa Cibogo sangat produktif dengan aneka olahan makanan seperti sale pisang yang sudah menjadi industri rumahan. Ada juga tempat budi daya ikan gabus, tepatnya di Rawa Lalay yang bisa dijadikan bahan makanan olahan dendeng dan abon berbahan baku ikan gabus.

Sementara Kepala Desa Cibogo, Karsim, kepada PNews menyampaikan terimakasihnya kepada seluruh warga desa, Kecamatan Padaherang dan Pemkab Pangandaran atas dukungannya hingga desanya bisa meraih juara 3 di tingkat provinsi, ini tentunya akan menjadi kebanggaan seluruh masarakat Desa Cibogo.

“Walau hanya juara 3 kami tetap bangga karena melalui ajang lomba ini Desa Cibogo sudah bisa ikut mengharumkan nama Kabupaten Pangandaran. “ungkapnya.

Karsim menambahkan, berkat dukungan dari semua stake holder, Kecamatan Padaherang, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pangandaran, yang sudah mendukung keberhasilan Desa Cibogo hingga capaian yang diraih sekarang.

“Saya sangat berterimakasih kepada Camat Padaherang yang selalu memberikan semangat, seluruh perangkat desa yang tidak mengenal lelah, BPD, PPK, para tokoh dan masyarakat serta keterlibatan kaum perempuan dalam pemberdayaan dan kesejahtraan keluarga.”imbuh Karsim lagi.

Karsim pun berharap, prestasi ini dapat memberikan motivasi serta meningkatkan kerukunan, gotongroyong masyarakat melalui partisipasi kerja sama dan kemandirian masyarakat dalam pembangunan desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat di bidang sosial budaya, kesehatan dan ekonomi.

Sementara seperti diketahui, untuk hasil lengkap lomba kelurahan, juara 1 Kelurahan Katulampa Kecamatan Bogor Timur, Bogor, juara 2 Kelurahan Purwaharja Kecamatan Purwaharja Kota Banjar dan  juara 3 diraih Kelurahan Karang Mekar Kecamatan Cimahi Tengah, Cimahi.   (Isis Koswara)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN