MAS TO, HASILKAN KEINDAHAN KARYA UKIR

CIJULANG- Seni merupakan satu ungkapan jiwa yang dilukiskan lewat karya nyata yang bisa melahirkan satu kepuasan si pembuatnya walau itu memerlukan waktu lama dan keahlian khusus dalam mengerjakannya.

Seperti yang dilakukan Mas To (42), salah satu seniman ukir asal Jepara yang kini bekerja disalah satu los kayu milik H.Makmur di Blok Taal Dusun Haurseah Desa Cijulang Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran.

Mas To sudah 20 tahun bergelut dengan seni ukir kayu, hampir tiap bulan tidak pernah sepi dari pesanan. Hingga tidak heran, saat permintaan ukirannya membludak, tidak jarang ia pun membatasi pesananya.

“Dengan berat hati saya kadang-kadang tidak menerima pesanan, karena harus disesuaikan dengan kemampuan produksi saya. “ Ungkapnya.(20/1).

Menurutnya, sudah 20 tahun ia menggeluti profesinya sebagai tukang ukir. Bagi Mas To, masalah upah tidak terlalu dipikirkan, saat ia bisa menyelesaikan sebuah karya sesuai dengan yang dikehendaki si pemesan, ada kepuasan tersendiri yang didapatnya.

Pekerjaan yang digeluti selama ini, menurut mas To, memang membutuhkan waktu juga keahlian dalam pengerjaannya. Apalagi jika ia harus mebuat sebuah cerita legenda dalam karya ukirannya, tidak jarang menurut Mas To, ia harus bisa berimajinasi sebelum pengerjaan dimulai.

“Tapi saya senang menerima pesanan yang menantang tersebut dengan bahan kayu dan akarnya hingga harus jadi satu ukiran yang menggambarkan sebuah cerita atau legenda", katanya.

Dalam berkarya Mas To punya prinsip, hasil ukiran kayu yang bagus sudah pasti
pemesan pun akan puas.

Masalah harga, masih kata Mas To,  relatif. Tergantung tingkat kerumitan dalam pengerjaanya karena satu karya bisa saja memerlukan waktu satu minggu, satu bulan atau sampai dua bulan bahkan lebih.

“Tapi Alhamdulillah, semua pemesan rata rata puas dengan hasil pekerjaan saya", ucap Mas To.

Seperti yang sedang dikerjakan sekarang, dengan bahan dari kayu mahoni, si pemesan ingin melukiskan alam dalam bentuk kerdil, karena kebetulan dia pencinta tanaman bonsai. Pekerjaan ini dipastikan bisa selesai dalam waktu 1-2 bulan.

“Saya perkiraan upahnya nyampai Rp. 15 juta sampai finishing dan sudah diberi obat anti lapuk agar ukiran kayu tersebut awet", pungkas Mas To. (AGE)

AKIBAT TUMPANG TINDIH ADMINITRASI DESA BATUKARAS ? SPPT KELUAR TAPI LETER C TIDAK ADA

CIJULANG - Kepemilikan hak atas tanah di wilayah Desa Batukaras Kecamatan Cijulang  Kabupaten Pangandaran perlu dipertanyakan keabsahannya. Pasalnya, ada sebidang tanah di area wisata pantai Batukaras, tepatnya di blok Sumur Batok lahan milik Haer Jai seluas 5420 M3 seperti yang terttulis di SPPT tahun 2016 lalu. Tapi anehnya setelah dicek di leter C atas namanya, tidak ditemukan.  Juga pada DHDOP (daftar wajib pajak tetap) pun tidak terdaftar, bahkan yang paling parah lagi di buku peta blok yang dimilki desa pun tanah tersebut tidak ada.

"Saya bingung, kenapa pemerintahan Desa Batukaras bisa seperti ini, apakah ada mafia tanah yang sengaja bersekongkol dengan aparatur desa? SPPT bukti pembayaran PBBnya keluar dari perpajakan, tapi kenapa di leter C pemilik tidak ada ? dan pada daftar wajib pajak juga tidak ada dan di peta blok pun tidak ada, jadi dari mana dasar keluarnya SPPT tersebut?", ujar salah seorang warga, Agus.(21/01).

Kalau memang itu ada fisik nya, lanjut Agus, pihak desa seharusnya bisa menyelidiki keberadaan tanah tersebut, jangan hanya diam saja.

Menurut Agus, tanah tersebut memang awalnya milik Haer Jai, klantas oleh anaknya dijual ke Angga (37) lewat perantara, Yayang.  Tapi ketika mau disertifikatkan, BPN butuh riwayat tanah tersebut dari desa, ternyata catatan tanah tersebut tidak bisa dipenuhi oleh pemerintahan Desa Batukaras.

“Sepertinya administrasi soal tanah tersebut ribet dan berbelit-belit. “ungkapnya lagi.


Ketika dihubungi lewat telepon celullernya, kepala desa Batukaras, menjelaskan, tanha tersebut ada di lokasi seperti yang terttulis di buku peta blok desa.

“Yang jelas tanah itu ada, cuma belum ada pembaruan data", katanya singkat.

Salah seorang tokoh masyarakat Batukaras yang juga anggota DPRD Kabupaten Pangandaran dari fraksi PDIP, Ucup Supriatna, sangat menyayangkan adimnistrasi pertanahan yang ada di desanya kurang tertib.

Ucup pun menghimbau kepada warga atau siapa saja yang berkepentingan, jika akan membeli tanah disekitar kawasan pantai indah Batukaras, hendaknya berhati hati, telusuri dulu siapa pemilik sah tanah tersebut. Jangan terburu buru karena rayuan si penjual atau calo dengan iming-iming harga murah, terus cek dulu ke desa surat-surat tanah tersebut lantas cek fisik dilapangan, apakah tanah tersebut benar-benar ada atau fiktif.

“Saya sering mendengar hal seperti ini, ada suratnya, pokoknya hati-hati jika ingin membeli tanah disini, saya berharap mudah-mudahan di kemudian hari kejadian ini jangan sampai terulang lagi", tandas Ucup.
Tidak lupa Ucup pun mengingatkan kepada semua aparatur Pemetrintahan Desa Batukaras hendaknya lebih profesional dalam bekerja untuk melayani masyarakat jangan sampai warga jadi korban karena kinerja desa yang tidak baik. (AGE)

UNTUK MENAMBAH DAYA TARIK PENGUNJUNG, OW BATUHIU BUTUH TAMBAHAN SARANA WISATA

PARIGI - Mendengar nama obyek wisata pantai Batuhiu, untuk wisatawan yang sering berkunjung ke pangandaran mungkin sudah tidak asing lagi. Jauh sebelum Pangandaran menjdai Daerah otonomi Baru (DOB) saat masih wilayah kabuoaten Ciamis, destinasi wisata ini sudah menjadi maskot pariwisata diwilayah selatan Jawa Barat seperti halnya pantai indah Pangandaran dan Batukaras. Tapi sayang, dari dulu hingga sekarang Batuhiu tidak banyak berubah, baik dari penataan lokasi maupun penambahan destinasi wisatanya, seolah monoton dan membosankan.

Untuk bisa mengantisipasi hal tersebut, Kompepar Batuhiu yang diketuai Jajat Sudrajat melakukan rapat audensi di aula Setda Kabupaten Pangandaran dengan dinas Pariwisata (20/1), yang diwakili Kepala Bidang Destinasi Wisata, Soni Agusman, SH. Turut hadir dalam audens tersebut Asda II, Drs.Apip Winayadi dalam pembahasan inventarisasi permasalahan Obyek Wisata (OW) Batuhiu.

Dalam audens berbagai persolanpun dibahas, seperti usulan kompepar Batuhiu dalam rangka peningkatan pasilitas tempat wisata.

Disampaikan Jajat, perlunya alat penerangan dilokasi OW Batuhiu, seperti Penerangan Jalan Umum (PJU), perbaikan tangga menuju lokasi wisata yang sudah rusak, lampu taman, SPK petugas kebersihan juga pagelaran budaya dalam kaitannya dengan wisata budaya.

"Kami pihak dari Kompepar Batuhiu, berharap pasilitas penerangan jalan dan taman segera bisa direalisasikan, juga pagar pembatas segera diperbaiki dan perlu adanya drainase yang baik di Batuhiu", jelas Jajat.(20/01).

Ditambahkan Jajat, optimalisasi petugas dinas perhubungan di toll gate untuk mengatur dan menata lokasi parkir serta masalah pengelolaan sampah yang sering menjadi masalah harus segra  ditindak lanjuti dengan disediakannya fasilitas tempat pembuangan sampah di setiap sudut tempat wisata dan penambahan personil kebersihan.

"Penggunaan keuangan 20% dari bagi hasil ke Pemerintah Desa Ciliang penggunaannya harus transparan dan optimal untuk pemeliharaan dan penataan pariwisata di Batuhiu jangan terkesan semaunya saja", kata Jajat.

Menanggapai hal tersebut, Kabid Destinasi, Soni Agusman menjelaskan,  perihal tekhnis yang diajukan Kompepar Batuhiu harus lewat SKPD tekhnis seperti BPLH, Dinas PU, dan Dishub. Sementara dari Dinas pariwisata sendiri tidak bisa mengeluarkan anggaranuntuk hal itu.

“Kami hanya bisa merekomendasikan saja ke dinas terkait, dan khusus untuk usulan atraksi seni budaya yang rencananya akan dilaksanakan setiap hari sabtu dan minggu, kami sangat mendukung", jelasnya.

Dan untuk pengadaan lampu taman yang perkiraan sekitar 50 buah, menurut Asda II, Apip Wanayadi, pihaknya masih khawatir kalau nanti sudah terpasang tidak ada pihak yang akan memelihara dan mengawasi keberadaanya.

“Ini masalah keamanan lampu tersebut, dikhawatirksan ada tangan jahil yang sengaja merusaknya, jadi ini harus benar benar kondusif dulu, “tegas Apip. (AGE).

MENTERI SUSI KECEWA, MASIH BANYAK SAMPAH DAN LIMBAH DI PANTAI PANGANDARAN

PANGANDARAN – dalam kunjungan ke kampung halamannya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pujiastuti merasa kecewa adanya pencemaran laut di perairan pangandaran Jawa Barat.

Menurut Susi, Pemerintah Kabupaten Pangandaran tentunya tidak hanya bisa berdiam diri saja, perlu ada langkah pasti dan mengupayakan supaya masalah – masalah yang ada bisa diselesaikan sesegera mungkin, terutama masalah sampah.

Susi juga mengatakan,  Pemerintah Daerah seharusnya dengan otoritas dan kekuasan harus bisa menangani masalah tersebut untuk kemaslahatan bersama.

“Ada beberapa hal yang mungkin bisa jadi bahan pertimbangan atau dijadikan upaya penyelesaian masalah yang ada terutama untuk masalah pencemaran laut.” Ungkap Susi.(14/1).

Dalam rangka kegiatan ulang tahun Susi Air, perusahaan anggota kabinet asal pangandaran ini, , Menteri Susi menyempatkan diri untuk melihat keindahan Pantai Pangandaran. Namun dirinya mengaku sangat kecewa dan sedih, pasalnya hampir di sepanjang pantai sudah tercemar limbah hotel, rumah makan dan plastik.

“Saya berenang ke tengah laut,  karena saya kalau renang memang lebih suka di tengah dengan harapan tidak ada sampah, tapi ternyata sampai perairan dalam pun sampah plastik di mana-mana,”ujarnya.

Susi menambahkan, ia masih melihat hotel, restoran, penginapan dan perumahan penduduk yang membuang air limbahnya ke laut, padahal hal itu akan berdampak buruk pada lingkungan dan mencemari perairan sehingga nantinya akan mengurangi nilai jual pantai Pangandaran pada wisatawan.

"Ini kalau tidak cepat diantisipasi akan berdampak sekali pada wisatawan asing atau domestik yang berkunjung kesini dan hal ini akan berdampak langsung menurunnya kunjungan wisatawan karena perairannya kotor", tambahnya.

Susi berharap, keseriusan Pemda untuk penanganan persoalan tersebut dan kepada wisatawan maupun warga harus diberi kesadaran bagaimana memelihara lingkungan yang baik termasuk di kawasan pantai dfan laut.

"Saya berharap kepada semua masyarakat dan semua wisatawan untuk ikut peduli pada  kesehatan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan, terutama sampah plastik di area wisata di sepanjang pantai." pungkasnya. (AGE).

STOP, KEKERASAN PADA ANAK DAN PEREMPUAN..!

PARIGI - Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Pangandaran,  menjadi perhatian serius pemda. Dari beberapa kejadian kasus pelecehan seksual pada anak dan kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), semuanya membuat prihatin masyarakat.  Hal ini harus secepatnya ditindaklanjuti oleh dinas terkait, sehingga kasus sejenisnya tidak terulang kembali.

Demikian disampaikan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata usai melakukan kunjungan kerja dan ekspose Dinas KBP3A di Aula Desa Parigi, Kamis (19/1).

“Saat ini Pemkab Pangandaran sedang berkonsentrasi dalam upaya menurunkan laju pertumbuhan penduduk, angka kelahiran perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan. “ungkapnya.

Menurutnya, penurunan laju pertumbuhan penduduk dan penurunan angka kelahiran bayi itu yang paling penting, namun data yang ada di dinas terkait masih belum valid dan terinci, masih sulit memperoleh data riil berapa masa subur, di mana saja dan kondisinya bagaimana.

“Untuk itu kita minta data tersebut secara akurat dan secepatnya tersedia,”kata Jeje.

Khusus masalah perlindungan perempuan dan anak, lanjut Jeje, harus mulai dibangun kesadaran di tempat  anak itu berada, seperti di di sekolah, madrasah dan lain-lain.

“Anak-anak harus diberi pemahaman dan pendidikan agar mereka peka jika ada hal-hal yang terjadi di luar ketentuan untuk segera melakukan komunikasi baik dengan guru atau pun orang tua.”paparnya.

Masih di tempat yang sama, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tavian Soekartono, S.E, pada awak media  mengatakan, secara umum kekerasan terhadap perempuan terjadi akibat dua faktor utama, faktor kultur dan struktur. Keduanya saling mempengaruhi dan saling memperkuat sehingga penanggulangan masalah kekerasan terhadap perempuan memerlukan komitmen bersama untuk secara sungguh-sungguh, sistematis dan berlanjut dalam penanggulangan nya.

"Faktor kultur ini bermula dari nilai-nilai dan norma-norma yang menempatkan laki-laki sebagai pihak pengambil keputusan yang memiliki kekuasaan atau power, serta merupakan pihak yang mengevaluasi dan memonitor segala yang dimiliki dan dilakukan ditangani perempuan", ucapnya

Sementara faktor struktural yang dapat menjadi penyebab kekerasan terhadap perempuan dan anak, menurut Tavian, berasal dari institusi atau lembaga yang dibangun untuk menyelenggarakan kehidupan bersama.

Jadi kesimpulannya, lanjut Tavian lagi,  kekerasan terhadap perempuan merupakan bagian dari kekerasan terhadap kemanusiaan. Selain itu, penyebab kekerasan adalah kultur dan struktur, hal ini perlu penyadaran kesetaraan dan keadilan sifat dan prilaku bagi setiap orang sehingga kekerasan terhadap orang dapat dihapuskan. Juga kontroversi penyelesaian kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dilakukan dengan memperbaiki substansi, struktur, dan budaya hukum.

Masih kata Tavian, perlunya pendampingan terhadap perempuan para korban kekerasan paling tidak harus mencakup empat tahap yaitu penyadaran, penyembuhan, perlindungan. Hal ini untuk mengantisipasi kekerasan pada perempuan dan anak yang masih relatif tinggi di  Pangandaran.

“Untuk tahun ini kita targetkan penurunannya hingga 0,2%,” pungkas Tavian.( AGE).

DAK BELUM CAIR, PEMDA PANGANDARAN GUNAKAN SILPA

PARIGI -Banyaknya keluhan para kontraktor terkait terlambatnya pencairan Dana Alokasi Khusus (DAK), Ketua DPRD Kabupaten Pangandaran, Iwan M. Ridwan, S.Pd.,M.Pd yang ditemui PNews di ruang kerjnya mengatakan, pihaknya mengaku telah melakukan pertemuan dengan pemda. Hasil pertemuan tersebut, menurut iwan, DPRD telah sepakat dan meminta agar pemkab segera menyusun draf APBD Perubahan 2017, sehingga utang Pemkab Pangandaran kepada rekanan bisa dibayar menggunakan dana sisa lebih penggunaan anggaran (SILPA) 2016.

Masih kata Iwan, terhambatnya pencairan DAK dari Kementerian Keuangan dan belum terbayarkan kepada rekanan atau pengusaha, Pemerintah Kabupaten Pangandaran terpaksa harus mengeluarkan anggaran dari silpa 2016 sebesar Rp.26 milyar.

“Utang kepada rekanan harus segera dibayar tetapi tetap harus melalui mekanisme dan prosedur serta perundang-undangan yang berlaku. “Kata Iwan. (17/1).

Mengingat APBD 2017 telah disahkan, lanjut Iwan lagi, maka membayarnya melalui Perda APBD Perubahan 2017 sehingga harus melalui APBD perubahan.

Hal tersebut, menurut Iwan,  sesuai dengan Permendagri Nomor 31 tahun 2016 tentang penyusunan APBD, maka akan dianggarkan kembali melalui mekanisme perubahan penjabaran APBD 2017.

Caranya, lanjut Iwan, pihak organisasi perangkat daerah (OPD) menyusun Rencana Kerja Anggaran (RKA) ulang. Selanjutnya di APBD Perubahan 2017 nanti dialokasikan dana untuk bayar utang di OPD yang berutang,  sehingga dana APBD 2017 terpangkas Rp 26 miliar karena  diambilkan dari SILPA yang sebesar Rp 64 miliar.

"Yang penting masyarakat jangan sampai dirugikan", tandas Iwan.  (AGE).

POL PP SIAP AMANKAN PILKADES SERENTAK 2017 KABUPATEN PANGANDARAN

PARIGI-Satuan Polisi Pamong Praja (satpol pp) merupakan salah satu kekuatan terdepan yang diandalkan sebagai perangkat daerah dalam penegakkan Peraturan Daerah (gakda) atau ketertiban umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sat Pol PP  dituntut harus memahami dasar hukum sebagai pijakan tufoksinya dalam pembinaan ketentraman dan ketertiban umum.

Demikian dikatakan BupatiKabupaten Pangandaran, H. Jeje Wiradinata dalam acara Expose Program SATPOL PP Kabupaten Pangandaran tahun 2017 bertempat di Islamic Center Parigi yang dihadiri Wakil Bupati, Sekda, Kepala Pol PP, Jaga lembur dan 160 personil Pol pp.

“Satpol PP Jangan merasa takut dan ragu-ragu dalam menjalankan tugas, karena saya yakin masyarakat Pangandaran masyarakat yang taat pada aturan.” Ungkap Jeje. (19/1).

Apabila dalam pelaksanaan tugas penertiban apapun, lanjut Jeje, bila ada Satpol PP yang terluka, pemda akan bertanggungjawa penuh dan selalu ada di belakang untuk membeck up.

“Dan bagi yang berprestasi, Insaalloh akan diumrohkan, mudah-mudahan ini bisa menjadi motivasi kerja seluruh anggita Pol PP. “imbuh Jeje.

Kebersamaan dan koordinasi dalam sebuah sistem, menurut bupati, merupakan kunci utama dalam kesuksesan. Dan salah satu tugas Polisi Pamong Praja, selain melakukan penegakan Peraturan Daerah juga membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan pembinaan ketentraman dan ketertiban.

Di tempat yang sama, Kepala Satuan Pol PP, Irwansyah, S.Sos mengatakan, dengan kekuatan Satpol PP Kabupaten Pangandaran 160 Personil, menurut Irwansyah, pihaknya pun sudah siap mengamankan Pemilihan Kepala Desa serentak di Kabupaten Pangandaran.

“Kami sudah siap mengawal Pilkades serentak 2017 yang dilaksanakan di beberapa desa. “kata Irwansyah. (TONI  T).

WONDERFUL PANGANDARAN, MENUJU WISATA DUNIA

PANGANDARAN - Pangandaran merupakan salah satu destinasi wisata di Jawa Barat yang paling banyak dikunjungi wisatawan baik domestik mau pun mancanegara, secara geografis  terletak di semenanjung pantai selatan pulau Jawa, dengan jarak tempuh sekiter 214 km dari Ibu Kota Propinsi Jabar, Bandung.

Hamparan pasir putih di sepanjang pantai dengan ombak yang saling berkejaran, menjadikan Pangandaran sebagai surga bagi wisatawan.

Pangandaran, menurut wisatawan yang datang, salah satu obyek wisata istimewa dan komplit. Pasalnya, di Pangandaran turis bisa menyaksikan dua kejadian alam saat matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) pada tempat yang sama. Dan ini, menurutnya, sangat langka ada di tempat wisatawan lain.

"Semenanjung cantik ini dulu hanya dikenal sebagai kota nelayan kecil, dimana nelayan pergi di pagi hari dan kembali pada sore hari dengan membawa hasil tangkapan. “Kata Kepala Seksi Promosi di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Asep Kartiwa, S.Pd, M.Pd.(17/1).

Ketika nelayan tiba, lanjut Asep, warga lain pun akan membantu membawa ikan hasil tangkapan ke pantai, dan kegiatan ini masih dapat dilihat sampai hari ini.

“Wisatawan pun bisa ikut dan merasakan sensasi itu dengan ikut menarik jaring ikan dari tengah laut ke pinggir pantai bersama-sama berbaur dengan nelayan. “  imbuh Asep.

Ditambahkan Asep, pantai Pananjung atau teluk Pananjung merupakan tempat ideal untuk wisata keluarga dengan kelengkapan sarana akomodasi ditambah sarana kegiatan wisata seperti, berenang di pantai barat dengan ombaknya yang  relatif tenang atau menikmati wisata air seperti Banana Boat dan sejenisnya di pantai timur yang seluruhnya akan memanjakan setiap wisatawan  atau seharian sekedar berjemur di bawah sinar matahari dengan aroma khas angin laut sambil  menikmati panorama pantai.

“Tidak hanya itu, bagi pemburu kuliner khas laut dengan ita rasa sea food  pun akan dimanjakan di sentra kuliner pasar ikan pantai timur atau di pantai pamugaran sehingga para wisatawan pun  benar-benar bisa merasa nyaman. “kata Asep lagi.

Di obyek wisata Pangandaran pun pengunjung bisa berjalan-jalan di bawah rindangnya pohon-pohon tua di Cagar Alam Pananjung dengan aneka ragam kekayaan flora dan fauna. Ada sejumlah gua, baik gua alam atau buatan seperti gua jepang semuanya akan menambah pilihan tempat untuk dikunjungi. Dengan ditemani sejumlah pemandu, wisatawan pun akan diantar lebih ke dalam hutan untuk menikmati pesona air terjun di mana airnya langsung mengalir ke laut.

“Untuk mencapai lokasi air terjun ini, wisatawan harus berjalan kaki, tapi jangan khawatir, sepanjang jalan anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang eksotik", ucap Asep.
Menurut Asep, sebaiknya para wisatawan berkeliling di sekitar Pangandaran dengan berjalan kaki, karena jalan-jalan di atas pasir pantai ada sensasi tersendiri,

“Saya berharap, saat wisatawan akan mengunjungi centra oleh-oleh atau kuliner sebaiknya berjalan kaki agar tidak terjebak macet. “Imbuh Asep. (AGE)



SEJARAH BUNKER PENINGGALAN JEPANG DI PANGANDARAN.

PANGANDARAN – Keberadaan goa peninggalan tentara jepang di kawasan Cagar Alam BKSDA resort Pangandaran sudah lama menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah bagi wisatawan yang berkunjung ke pangandaran. Selain menjadil tujuan wisata, goa jepang pun bisa menjadi referensi pendidikan para siswa bahwa di jaman penjajahan dulu tentara jepang pernah datang dan mempunyai pertahanan perang di Pangandaran.

Untuk mendapatkan informasi lengkap tentang sejarah keberadaan goa Jepang, para pemandu yang biasa memandu wisatawan di Cagar Alam pun banyak melakukan pengumpulan data-data dengan cara mendatangi saksi hidup.

“Sayang, saksi hidupnya sekarang sudah mulai berkurang paling tinggal beberapa orang padahal  sejarah goa jepang harus digali selengkap-lengkapnya,” ungkap Edi (46) salah seorang warga Pananjung. (18/01).

Menurut Edi, beberapa waktu lalu pernah ada wisatawan asal Jepang sengaja ingin melihat keberadaan gua tersebut, karena menurut wisatawan tersebut ia pernah bertugas menjadi tentara di wilayah Pangandaran. Ia sangat terkesan sekali dan wisatawan jepang itu pun banyak bercerita tentang liku-liku keberadaan gua Jepang.

“Sepertinya turis jepang tersebut sangat terharu seakan sedang menyaksikan kejadian beberapa waktu lalu saat ia tinggal di dalam gua tersebut. “kata Edi.

Untuk menambah referensi geberadaan gua, saat itu menurut Edi, ia pun sempat menggali informasi dari wisatawan jepang tersebut walau informasi yang didapat tidak banyak.

“Turis Jepang hanya bilang minta maaf kepada masyarakat Pangandaran yang sudah menjadikan warga pangandaran sebagai romusha, hanya bilang seperti itu,” kata Edi lagi.

Seperti diketahui, saat ini keberadaan goa Jepang selalu banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Cagar Alam Pangandaran.

“Jika saja ada legetimasi dari pemerintah tentang keberadaan goa tersebut dijadikan obyek wisata sejarah, saya optimis ke depan akan lebih banyak wisatawan yang datang mengunjungi goa tersebut,” tambahnya.

Sementara menurut salah seorang petugas dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Serang, Yanuar Mandiri mengatakan, semasa perang dunia II Jepang berkepentingan atas sumber daya alam yang dihasilkan dari pangandaran  untuk mendukung perang Asia Timur Raya.

 “Selain tentaran Jepang membangun bunker di lokasi ini, sebelumnya bangsa Belanda pun sudah membuka jalur kereta api yang fungsinya sama, untuk mengangkut hasil  alam,” kata Yanuar.

Ditambahkan Yanuar, salah satu bukti sejarah,  baik bangsa belanda atau pun jepang tidak jauh berbeda, faktor keberadaan mereka karena sumber daya alam dan hasil bumi Jawa Barat salah satunya di pangandaran yang melimpah. Dan bukti sejarah lainnya, lanjut Yanuar,  pada masa  pertempuran perang dunia II, sebagian besar terjadi di laut dan serangan banyak dilakukan melalui jalur laut.

“Lokasi ini dipilih oleh jepang karena posisinya strategis dan dikelilingi bukit juga titik dan bisa menjadi tempat pendaratan masuk melalui laut,” imbuh Yanuar.

Sementara pembangunan bunker, menurut Yanuar, dikerjakan selama dua bulan oleh ratusan orang warga pribumi.

 “Kami pernah menggali informasi dari pelaku pembuat bunker ini, mereka mengaku mendaftar untuk bekerja membuat bunker dan mendapatkan bayaran waktu itu,” paparnya.

Hingga saat ini, lanjutnya,  penelusuran sejarah bunker Jepang atau yang sekarang lebih dikenal  dengan Goa Jepang di Cagar Alam Pananjung masih ditelusuri tim BPCB Serang.

Dalam catatan sejarah, masih kata Yanuar,  berdasarkan pengakuan pelaku sejarah yang masih hidup, Jepang masuk ke Indonesia tahun 1942 melalui Tarakan, Kalimantan Utara.

"Goa jepang yang ada di Pangandaran itu tidak lama dipakai, karena saat pengerjaan bunker ini selesai tidak berselang lama ada berita Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh tentara sekutu, sehingga seluruh tentara Jepang saat itu ditarik mundur kembali ke negaranya.", pungkasnya. (AGE)

TAK KUAT HADAPI TEKANAN HIDUP, SEORANG WARGA KERTAJAYA NEKAD BUNUH DIRI

MANGUNJAYA-Konflik di keluarga tidak jarang menjadi salah satu penyebab orang melakukan perbuatan nekad, penyebab tekanan kehidupan dan seringkali terjadi pertengkaran dengan istrinya.
seperti yang di alami seorang warga di Dusun Bantarloa RT.01/01 Desa Kertajaya Kecamatan Mangunjaya, seorang pria paruh baya rela mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri di bawah pohon di dusun Bantarhuni RT 51/07 Desa Mangunjaya.

Korban diketahui bernama Sumeri ( 52 ), nekad mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri. Hal tersebut diketahui saat salah seorang warga yang hendak pergi memancing, Iwan Gunawan (34) warga Rt Rt 38/01 Dusun Cirapuan Desa sindangjaya, sekitar jam 18.00 hari rabu (18/1) melintas di tempat kejadian dan meloihat korban tergantung di dahan sebuah pohon.

Menurut iwan, karenaia takut, ia pun menemui warga lainnya, Jasiman. Dan baru keesokan harinya,sekitar jam 7.00 pagi, Iwan ditemani jasiman menurunkan jasad korfban yang sudah tidak bernyawa.

“Dan warga pun berinisiatif segera melaporkan kejadian ini ke kantor Polsek Padaherang dank e Kantor Desa setempat.

Menurut jasiman,  saat warga mengevakuasi korban sedikit kesulitan, karena posisi korban berada pada ketinggiasn 7 meter.

“Tapi berkat usaha warga dibantu petugas dari kepolisian akhirnya korban pun bisa diturunkan. “ ungkap Jasiman. ( TONI  T).
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN