MKIA KABUPATEN TASIKMALAYA TEKAN ANGKA KEMATIAN IBU MELAHIRKAN DAN KEMATIAN NEONATAL

PANGANDARANNEWS.COM/TASIKNEWS-Mengingat masih tingginya anggka Kematian Ibu (AKI) dan Anak baru lahir, beberapa hari lalu pihak Dinas  Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya melakukan penguatan pada kader Motivator Kesehatan Ibu dan Anak (MKIA) se- Kabupaten Tasikmalaya, dengan tema ” Pemberdayaan Masyarakat dalam Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Neonatal (AKN)”, bertempat di Hotel Harmoni jalan Rd. Ikik Kota Tasikmalaya.(16/9)

Dalam pemaparannya MERS dan selaku Ketua Panitia, Hj Reti Zia Dwi Kurnia, kegiatan ini pihaknya sengaja menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk Kabupaten Tasikmalaya, Dr. Heru, yang didampingi Dr. Ratih, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Hj Neng Madinah, Ketua FMM Tasikmalaya dan pemateri lainnya.

Kepada awak media, Reti juga menyampaikan, yang menjadi pertimbangan dilakukannya sosialisasi MKIA ini untuk lebih menguatkan pemahaman petugas di lapangan yang menjadi ujung tombak di dalam upaya mendorong masyarakat dan seluruh stake holder agar bersama-sama ikut berperan dalam percepatan upaya menurunkan angka kematian Ibu dan Anak khususnnya di Kabupaten Tasikmalaya yang dinilai masih tinggi.

“Selain motivator tugas MKIA juga harus  ikut mendampingi petugas kesehatan (Bidan desa) untuk mencatat dan melaporkan ibu hamil di tiap desa agar apapun kejadian di lapangan selalu terpantau dan dapat tertangani dengan cepat, “tegasnya.

Lebih jauh Reti menjelaskan, Indonesia memiliki angka kematian ibu (AKI) melahirkan 359 per 100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi (AKB) 32 per 1.000 kelahiran hidup (SDKI, 2012). Target Millenium Development Goals (MDGs), yakni menurunkan (AKI) menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup dan AKN menjadi 19 per 100.000 pada tahun 2015. Maka diperlukan kerja sama seluruh pihak termasuk keterlibatan dan tanggung-jawab masyarakat dalam menurunkan angka kematian ini. Salah satu pendekatan dalam rangka penurunan Angka Kematian Ibu melahirkan dan Bayi baru lahir adalah melalui penguatan forum masayarakat sipil serta meningkatkan peranan organisasi masyarakat dalam memberikan informasi kepada masyarakat, ibu hamil dan suami. 

Peningkatan persalinan pada fasilitas kesehatan, menurut Reti harus ditangani tenaga terlatih dan terampil, karena hal itu merupakan salah satu cara menurunkan angka kematian ibu melahirkan dan bayi baru lahir, maka peranan organisasi masyarakat melalui MKIA sangat penting.

“Angka kematian ibu tahun 2020 sampai bulan Juli sebanyak 16 orang dan angka kematian Neonatal tahun 2020 sampai dengan bulan Juli 2020 sebanyak 96 orang, “jelasnya.

Reti membenarkan, belum tercapainya program pemberdayaan masyarakat dalam penurunan AKI dan AKN, hal ini terjadi karena belum terbangunnya sinergitas dengan baik di lapangan.

“Mudah-mudahan di tahun depan upaya menurunkan tingkat kematian Ibu dan Anak di Tasikmalaya segera tercapai dan sukses mencapai program Emas, “ungkapnya.

Masih di tempat yang sama, menurut petugas dari BKKBN, Septian Pajar Spd Mpd, walau kegiatan berlangsung secara masal namun seleuh peserta tetap mentaati serta mengikuti standar protokoler kesehatan sesuai aturan yang sedang berlaku saat ini.

Dikatakan Septian, kegiatn yang diiikuti banyak lapisan masyarakat ini juga berlangsung sesuaisekejul perencanaan dan terealisasi dengan baik.

Walau di lapangan tidak mau tahu fasilitas dan kantor yang dimilki BKKBN, masyarakat tetap berharap ingin mendapatkan pelayanan sebaik mungkin.

 Sementara peserta perwakilan dari Kecamatan Karangnunggal yang diwakili 2 petugas dari Puskesmas ikut serta dlam kegiatan tersebut.

Dalam keteranga yang disampaikan Kepala Puskesmas Karangnunggal, Dadan Kusnanto, Am., Kl, SKM, kaitan dengan masih tingginya tingkat kematian Ibu baru melahirkan dan Anak yang baru lahir, ia sangat berharap keterlibatan semua pihak secara lintas sektoral untuk mengedukasi dan gencar memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama untuk meningkatkan perhatiannya pada ibu-ibu hamil baik amil normal maupun yang beresiko tinggi (Bumi Resi).

“Ini harus betul-betul tercatat dan mendapat perhatian penuh, jangan sampai terjadi keterlambatan dalam penanganannya, khususnya pada ibu hamil beresiko tinggi, “ungkapnya. (UDIRUSTANDI-ANWARWALUYO)


Related

TASIK NEWS 2953599108129985083

Posting Komentar

emo-but-icon

item