DESA CINTAJAYA AGENDAKAN TIAP TAHUN BERI SANTUNAN ANAK YATIM DAN PANTI JOMPO

TASIK NEWS-Pemberian santunan terhadap anak yatim piatu dan orang jompo yang di gelar di Kampung Pasar Senen Desa Cintajaya Kecamatan Tanjungjaya Kabupaten Tasikmalaya, rencananya akan menjadi  agenda rutin tahunan yang akan dilaksanakan pada momen halal bihal.

Demikian dikatakan Kepala Desa Cintajaya, Agus Wijaya, saat ditemui PNews di tempat kerjanya. (14/6)

Dikatrakan Agus, pemberian santunan terhadap 40 anak yatim piatu dan orang jompo ini merupakan wujud kepedulian Desa Cintajaya terhdap warganya.

Agus menambahkan, kegiatan sosial pemberian santunan pada anak yatim dan orang jompo ini bisa terus berlanjut dan menjadi jembatan bagi warganya untuk lebih menumbuhkan kembali rasa saling berbagi dan rasa tolong menolong sesama warga.

"Mudah-mudahan ini akan menjadi agenda tahunan Desa Cintajaya, " pungkas Agus. (Hermansyah-PNews)

LEGENDA SITU SANGHYANG, TEMPAT PERNIKAHAN PARA RAJA

Ketua kompepar, Mumung Suryaman ( berkaca mata) dan Maslikan ( kanan)
TASIKNEWS-Pemberian nama pada sebuah daerah atau tempat  sejarah tak lepas dari sebuah peristiwa atau kejadian pada masa itu. Perjalanan kejadian dan para pelaku sejarah itu sendiri menyimpannya dalam bingkai cerita atau sebuah legenda, dimana di dalamanya ada sebuah hikmah untuk dijadikan contoh di masa sekarang. Semisal, obyek wisata Situ Sanghyang yang berlokasi di dua desa, Desa Cibalanarik dan Cilolohan Kecamatan Tanjungjaya, yang merupakan kebanggaan masyarakat Kabupaten Tasikmalaya, karena danau tersebut menawarkan panorama yang eksotis dan romantis berbalut cerita mistik.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, konon di danau tersebut tersiar kabar adanya fenomena yang dikaitkan dengan dunia mistik, sering terlihat berpindahnya rimbunan pohon kiray yang maju dengan sendirinya ke tengah danau, tentunya fenomena ini dijadikan warga sebagai totonden ( pertanda) bakal adanya sebuah kejadian.

Legendanya Situ Sanghyang versi masyarakat setempat yang diadopsi Dinas Pariwisata, seperti yang dikisahkan anggota Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar), Maslikan (46), sebelum terjadinya nama situ didahului dengan muncul nama sanghyang, karena menurut sejarah situ yang asli ada di Kampung Parunggolong Desa Cilolohan, berupa leuwi (sungai) bernama leuwi Sanghyang.

Dikisahkan juga, konon pada masa Kerajaan Sukakerta Parunggolong merupakan tempat sakral karena pada masa itu di daerah tersebut dijadikan sering dijadikan tempat digelarnya pesta pernikahan para raja. Situ Sanghyang sendiri merupakan gabungan dua tempat bersejarah antara situ yang berada di Kampung Parunggolong dan Sanghyang di Obyek wisata. Sementara nama sanghyang itu sendiri terjadi dari sebuah peristiwa sejarah yakni riuhnya suara yang saling bersahutan.

Konon, dulu ada seorang pangeran menculik seorang wanita cantik jelita, isteri  seorang resi dari Kebataraan Galunggung. Saat sang resi pulang dari laku tirakat, tapa bratanya, isterinya sudah dibawa kabur sang pangeran. Sang resi pun kemudian mencarinya hingga ke sebuah daerah yang dikenal dengan nama Saung Gantang. Ditempat itu ternyata tengah berlangsung pesta besar-besaran selama 7 hari 7 malam, yang ternyata isterinya sendiri yang menjadi mempelai wanitanya.

Saat itu berulang kali sang resi pun berteriak namun tidak ada yang menanggapinya dikarenakan riuhnya suara pesta, sehingga resi pun menjelma menjadi Budak Buncir (bocah gendut),  kemudian memanggil segerombolan anjing untuk mengacaukan pesta tersebut. Suara gonggongan anjing diluar pun kemudian beradu dengan suara riuhnya pesta, hingga lama kelamaan suaranya seperti ngahiang (berdengung)

"Jadi nama sanghyang itu tercipta dari riuhnya dua suara yang beradu, dan nama sang sendiri merupakan mrnunjukan pada sang pelaku, sang resi dan sang pangeran", papar Maslikan.(13/7)

Adapun terjadinya situ, lanjut Maslikan, saat itu dikarenakan sang pangeran merasa terganggu dengan suara-suara di luar dan merasa terpancing dengan tantangan si buncir.

Diceritakan, sang resi bersumpah akan berguru jika seandainya sang pangeran dan para punggawanya bisa mencabut 7 batang lidi yang berjejer. Tapi karena tidak ada yang sanggup mencabut lidi, dengan kesaktiannya sang resi pun mencabut lidi-lidi, anehnya dari lubang batang lidi yang di cabut keluar air yang tidak terbendung hingga membentuk sebuah situ  (danau). Saat itu Resi pun langsung mengeluarkan kutukan, semua yang ikut bersama pangeran tenggelam dan menjelma menjadi ikan. Sejak itulah di lokasi situ menjadi angker, seperti burung yang melintas di danau dan yang meminum air tiba-tiba hilang tak berbekas hingga warga pun enggan untuk memanfaatkan air dari situ sanghiyang.

Saat itu keangkeran Situ Sanghyang rupanya terdengar hingga ke Kesultanan Cirebon, sehingga  mengutus Prabu Linggawastu ditemani Lokananta dan Lokananti untuk menetralisir air situ tersebut untuk dipergunakan keperluan warga. Prabu Linggawastu merupakan keturunan Mataram anak dari Raden Kamandaka, salah satu saudara Prabu Linggawastu, Mundingwangi yang bergelar Prabu Siliwangi. Prabu Linggawastu dimakamkan di seputar Situ Sanghyang bersama Lokananta dan Lokananti.

Di balik legenda Situ Sanghyang ternyata sejarah tersebut berkaitan dengan Kepemerintahan Kabupatian Sukapura yang pada waktu itu dipegang Raden Aggadipa (Dalem Sawidak), dan  sejarah munculnya nama sawidak sendiri beragam versi. Pengertian nama Sawidak di kalangan warga Sukapura diartikan keturunan yang berjumlah 60 Orang.

sementara versi kontempelasi (kontak batin) dari ahli spiritual, Maslikan, yang juga keturunan Kasultanan Demak generasi ke- 16 menceritakan,  jauh sebelum terbentuknya situ, di daerah Saung Gantang konon masih berbentuk hutan belantara, dulu ada seorang raja sakti mandraguna ( tidak ditemukan jejak dari kerajaan mana) ingin menguasai seluruh kerajaan tatar sunda dan menantang seluruh raja dan kesatrianya.

Kabar tersebut terdengar oleh Bupati Sukapura, Raden Anggadipa, yang kemudian mengumpulkan para ksatria berilmu tinggi sebanyak 60 orang. Para ksatria tersebut diperintahkan untuk mengepungnya diberbagai tempat agar raja yang sombong tersebut tidak bisa melarikan diri. Tapi rencana tersebut terdengar sang Resi dari Kebataraaan Galunggung. Dan untuk mengantisipasi pertumpahan darah, sang resi pun menantang raja sombong tersebut  untuk mencabut sebatang lidi yang tertancap ditanah. Dan saat lidi dicabut dari lubang bekas lidi yang dicabut sang Resi, keluarlah air yang tidak bisa dibendung yang akhirnya raja tersebut tenggelam dan menjelma menjadi seekor ikan yang diberi nama Silayung.**** ( Rusdianto PNews )

BUPATI BERHARAP PANGANDARAN INTERNATIONAL KITE FESTIVAL TERUS DIEVALUASI

Sejak pukul 8 pagi nampak ribuan layang-layang mewarnai langit biru di kawasan Lapang Doyong Pantai Timur Pangandaran yang rencananya akan digelar dua hari, sabtu ini (14/7) dan besok minggu.

Hari pertama Pangandaran International Kite Festival (PIKF) 2018 yang diikuti 6 negara, malaysia, China, Makao, Singapura, dan India dan tuan rumah nampak meriah. Sedangkan peserta dari daerah lainnya, seperti Bandung, Bekasi, Depok, Kabupaten Cilacap Jawa Tengah dan Kabupaten Tulungagung Jawa Timur tidak ketinggalan untuk ikut memamerkan aneka warna dan jenis layang-layang dengan cirri khas masing-masing yang tentunya menjadi tontonan menarik sebagian wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran.

Pangandaran International Kite Festival (PIKF) 2018 yang dibuka langsung Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata didampingi Wakil Bupati, H Adang Hadari serta dihadiri Kapolres ciamis, Dandim 0613 ciamis, para kepala SKPD lingkup Pemkab Pangandaran, mendapat sambutan positif dari  ribuan masyarakat yang turut menyaksikan agenda tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabuoaten Pangandaran ini.

Dalam sambutannya bupatimenyampaikan, kegiatan ini bertujuan sebagai peromosi daerah
terakit upaya Kabupaten Pangandaran dalam menata diri serta mewujudkan visi-misi, Pangandaran menjadi daerah tujuan wisata berkelas dunia.
“Tentu saja beberapa kebijakan, diantaranya pengembangan dan penataan wisata, salah satunya dengan penyelenggaraan Pangandaran Kite Festival 2018 sebagaui salah satu  pelengkap promisi wisata "kata bupati.

Bupati menambahkan, agar kegiatan PIKF dari bahun ke tahun terus diminati dan semakin menarik wisatawan, tentunya ini harus terus dievaluasi kedepanya tentu saja kegiatan ini harus terus di evaluasi.

Sementara menurut Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Drs. H. Undang Sobirin, agenda hari ini layang-layang yang diterbangkan terdiri dari peserta instansi pemerintah daerah, BUMN dan BUMD yang ada di Kabupaten Pangandaran.

"Di arena festival layang-layang ini kami juga menyediakan stand-stand yang menjajakan aneka hasil produksi ekonomi kreatif warga dan tentunya juga ada panggung hiburan yang akan diisi berbagai akstrasi hiburan berbagai kesenian dan budaya daerah. "terang Undang.

Di sisi lain, penyelenggaraan PIKF 2018 juga jadi berkah tersendiri bagi warga yang memanfaatkan untuk berjualan di sekitar kawasan lokasi.

“Setiap tahun saya selalu memanfaatkan kesempatan ini untuk jualan, lumayan bisa nambah-nambah penghasilan. “kata Agus, salah seorang pedagang es kelapa. (HARIS F)

WARGA KELUHKAN SEKITAR STADION DADAHA GELAP GULITA

TASIKNEWS-Dahulu di tempat megah ini lahir beberapa atlit-atlit berprestasi, tempat yang dulu menjadi kebanggaan warga Tasikmalaya.

Stadion Dadaha yang berada di Kecamatan Cihideung Kota Tasikmalaya, kini sebagian warga memanfaatkannya untuk arena jogging atau bersantai bersama keluarga.

Seiring berjalannya waktu, kini keberadaan stadion Dadaha hampir dilupakan orang, karena selain terkesan kumuh dengan ilalang yang tumbuh di sekitar stadion, Dadaha pun nampak seram jika di malam hari karena gelap nyaris tanpa lampu penerangan.

“Ini akan menjadi rawan kejahatan atau malah diopakai tempat maksiat sebagian pengunjung yang datang kesini. “ungkap salah seorang warga.(10/7)

Warga berharap adanya perhatian pemerintah agar keberadaan Stadion Dadaha kembali ke fungsi semula dan tentunya bisa kembali menjadi kebanggaan warga Tasik. (ANWAR WALUYO-PNews)

MENTERI BUMN RINI SOEMARNO BERIKAN LISTRIK GRATIS KE WARGA CIKUPA


TASIKINEWS-Masyarakat Desa Cikupa Kecamatan Karangnunggal Kabupaten Tasikmalaya merasa senang, pasalnya kedatangan menteri BUMN RI, Rini Soemarno, sudah memberikan perubahan geliat pembangunan yang ada di desa.
Demikian disampaikan Kepala Desa Cikupa, Yuda, usai menyambut kunjungan orang nomer satu di kementerian BUMN ke desanya.

Menurut Yuda, banyak sekali bantuan yang dikucurkan menteri, seperti listrik gratis untuk masyarakat tidak mampu dan bantuan berbagai kegiatan yang ada di desa.

“Ini merupakan berkah bagi kami warga Desa Cikupa. “kata Yuda.(12/7)

Menurut Yuda, yang dikenal sebagai kepala desa yang dekat dengan warganya, tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada jajaran pemerintahan baik yang ada di kabupaten atau pun kecamatan atas segala dukungannya.

“Mudah-mudahan desa kami semakin maju dan warganya pun semakin sejahtera, “imbuhnya. (ANWAR WALUYO-PNews)

MOCHAMAD FADLI ALGHIFARI SANG JUARA DARI LEGOKJAWA

Walau berperawakan kecil serta berasal dari keluarga pendidik, Mochamad Fadli Alghifari dengan usianya baru  9 tahun tapi sudah bisa menggoreskan prestasi di tingkat kabupaten.

Berkat ketekunannya dalam berlatih serta dukungan guru dan orangtuanya, Algy, begitu biasa ia dipanggil, berhasil menjadi atlit bulutangkis yang berhasil menyabet predikat juara pada beberapa even pertandingan.

Anak ke empat dari pasangan Maman Sutarman,SPd.MPd dan Maemunah Spdi, Algy yang kini baru duduk di bangku kelas IV SDN 1 Legokjawa Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran tentunya sudah bisa menjadi kebanggaan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Berkat kegigihannya dan tentunya hasil tempaan pelatihnya, Dede dan Eko, sudah banyak prestasi yang diraih Algy di berbagai pertandingan, seperti, juara ke 1 Tunggal Putra usia dini pada sirkuit frienship tahun 2017, juara ke 3 Tunggal Putra O2SN 2016 putra SD tingkat kabupaten, juara ke 2 Tunggal Putra O2 SN 2017 tingkat kabupaten, juara ke 2 tunggal putra piala PBSI HUT Kota Banjar ke 15 tahun  2018 dan juara ke 3 tunggal Putra usia anak HUT kota Banjar tahun  2018.

Di sekolah pun Algy termasuk anak yang rajin dan pandai, ia selalu masuk lima besar ranking di kelasnya. Walau hampir setiap hari sibuk latihan Fadli tidak ketinggalan mengikuti semua pelajaran di sekolahnya.

“Saya ingin menjadi juara dunia seperti Taufik Hidayat. “ungkap Algy. (12/7)

Fadly yang tinggal bersama orangtuanya di Rt 01 Rw 01 Dusun Sindangsari Desa Legokjawa kecamatan Cimerak, mempunyai bakat berbeda dengan kedua orangtuanya, ayahnya yang dikenal sebagai pemain kecapi dan tembang-tembang sunda ternyata tidak menurun pada Fadly.

“Tapi kami tetap bangga dan terus mendorong prestasi yang dipilih anak saya. “kata Maman.

Setiap kali Fadli berlatih, menurut Maman, ia selalu rutin mempersiapkan jadwal latihan dan persiapan makanan-makanan sebagai asupan nutrisi anaknya.

Masih kata maman, walau dengan kesibukannya menjadi guru, ia selalu ada waktu untuk mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk latihan anaknya.

Maman pun berharap, suatu saat kelak anaknya bisa lebih berprestasi baik di tingkat nasional atau internasional danj bisa membawa nama harum Pangandaran. Obsesinya, dari tanah Legokjawa yang berada paling selatan kabupaten Pangandaran, suatu saat akan lahir sang juara Bulu Tangkis kelas dunia bernama Mochamad Fadli Alghifari. (RASIMUN-PNews)

MENGUAK LEGENDA BUMI RONGSOK PAPAYAN TASIKMALAYA

"..........Ngudag guligahna hate mapay-mapay wahangan ciwulan dina nyungsi carita teu betus titingal karuhun.. rumasa ati cidra ngahieuman panenjo jadi hahalang, balukar ngentabna seuneu nu geus nyaliara dina dada ulah rajawisuna.  tomada, seja unjuk salam. wakcana ati, seja bubumen nanceubkeun tohagana kai jati nu waras, pikeun memeres wangunan rusak.  pamundut, seja nyuprih piwuruk sepuh, cukang lantaran hiji rusiah nu dipendem dina ngaran jeung tempat sajarah Bumi rongsok…..”
 
Ada yang menarik dari Desa Papayan, sebuah hutan kecil bernama Bumi Rongsok yang berada persis ditengah pemukiman, berjarak sekitar 100 meter dari Kantor Desa Papayan. Hutan dengan luas area 500 m2 ini terlihat masih sangat alami dan warga setempat pun betul-betul menjaga kelestariannya serta sangat menghormati budaya dan adat istiadatnya. Di hutan tersebut masih ada pohon berusia ratusan tahun dengan aneka satwa, seperi, monyet dan lutung.

Memasuki kawasan tersebut, dari jalan raya nampak Gapura  Bumi Rongsok terlihat jelas, sementara sejarah Bumi Rongsok situsnya terletak di Kampung Demung Landung Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya. Berada di dalam sebuah hutan kecil dengan aliran air kolam yang muncul dari balik sela rerimbunan dedaunan pohon berusia ratusan tahun. Sebuah altar ( peninggalan ) Bumi Rongsok menjadi saksi bisu munculnya riwayat jaman dahulu, saat nama dan tempat tersebut memiliki relevansi yang kuat dari sebuah rahasia dan perjalanan tokoh yang tersembunyi dibalik nama dan tempat sejarah Bumi Rongsok.

Kini Bumi rongsok selain merupakan sarana wisata religi juga merupakan suaka alam dan marga satwa. Sementara peninggalan lain yang bisa disaksikan disana, Batu/Menhir yang konon dulu berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara batu panjang merupakan tempat ibadah sholat.
Dulu disana juga terdapat berbagai senjata pusaka yakni, seperti tumbak, pedang, keris, pisau, golok dan bokor, namun sayang pada tahun 1982 terjadi kebakaran di ibu kota desa ( sekarang  Desa kolot) mengakibatkan seluruh benda pusaka musnah terbakar.

Menurut legenda, yang memberi nama nama Bumi Rongsok sendiri adalah Eyang Bagus Jayadimantri, bumi artinya tempat tinggal dan rongsok artinya subur, ada juga yang mengartikan Bumi Rongsok yakni Gapura masuk tanah subur.

Dulunya Bumi Rongsok merupakan tempat tinggal para Eyang Dalem dan merupakan pusat penyebaran agama Islam pada abad 1700 M, karena di daerah itu sebelumnya masyarakatnya  penganut agama Hindu-Budha, dan konon, landung merupakan bekas perkampungan agama budha.

Adapun para tokoh penyebar Islam diantaranya, Eyang Dalem Bagus Jayadimantri, seorang ulama besar dari Banten, Eyang Sumapati dari Garut dan Eyang Raksabaya yang merupakan keturunan dari Sultan Mataram. Mereka masing-masing mendapat tugas menjadi penjaga keamanan di Bumi Rongsok. Dalam melakukan syiar Islam, Eyang Dalem Jayadimantri dibantu pengikut yang setia, Sumapatra, Sumanegara dan satu - satunya seorang wanita, Siti Saroh. Selain dibantu para pengawalnya, Eyang Dalem pun mendapat bantuan dari beberapa  pribumi, seperti, Embah Naya, Eyang Atna, Embah Rangga dan Uing Enok.

Asal muasal munculnya nama daerah Papayan, menurut cerita yang tersebar, diambil dari perjalanan sejarah seorang ulama dari Garut, Eyang Sumapati, yang terdampar di Landung.

Konon, saat pesantrennya hancur di terjang banjir besar, ia pun mencari tempat bermukim dengan cara apay- apayan ( menyusuri) sungai Ciwulan. Dengan menaiki sintung (tangkai buah kelapa) hingga berlabuh di Landung ( sekarang menjadi Demung Landung) dan bergabung dengan ulama lainnya untuk ikut menyebarkan Agama Islam  hingga akhir hayatnya.

Sementara menurut versi lainnya, munculnya nama Papayan berasal dari sebuah cerita  tenggelamnya beberapa santri penduduk seberang kali ciwulan yang hendak belajar mengaji. Saat itu Eyang Sumapati apay-apayan menyusuri sungai Ciwulan berusaha mencari jasad para santrinya, dan hingga kini nama tersebut berubah menjadi nama daerah, Papayan.

Seperti diketahui, hingga saat ini warga setempat masih setia menjaga serta ngamumule leuweung (hutan) Bumi Rongsok serta sampai saat ini pun dipercaya masyarakat disana masih memegang tatali karuhun, pengkuh pada bahasa pamali (tabu).  Seperti, saat ada warga yang akan melaksanakan hajatan (kenduri), tidak boleh menabuh alat musik goong. (TIM TASIK NEWS)

PGRI CIMERAK GELAR HALAL BIL HALAL DAN PERPISAHAN GURU PURNABAKTI

Bertempat di aula Tunas, PGRI kecamatan Cimerak Kabupaten mengadakan acara halal bil halal yang dihadiri Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Cimerak, Hj Onasih,SPd MM, Ketua PGRI, Drs Juandi MM, Ketua K3S,  Kasbollah, Kasubag Suhman,SPd, Pengawas, Pendais, Kepala sekolah dan guru baik yang masih aktif ataupun yang purnabakti.

Dalam sambutannya, ketua PGRI, Juandi, menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh pengurus dan anggota PGRI yang selama kepemimpinannya mungkin ada kesalahan dan kekeliruan dalam kebijakan memimpin PGRI Cimerak.

“Khususnya, kepada 12 orang guru yang saat ini memasuki persiapan masa purnabakti juga 3 orang guru yang insaalloh tahun ini akan melaksanakan ibadah haji, mudah-mudahan semuanya selalu dalam lindunganNya. “kata Juandi.(12/7)

Sementara dalam kesempatan sambutannya, Kepala UPTD Dikpora, Hj Onasih, mengatakan, atas nama seluruh pegawai, dalam kesempatan yang masih bernuansa Idul Fitri ini, meminta maaf jika pelayan terhadap seluruh anggota PGRI kurang memuaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Onasih juga mengucapkan selamat berpisah kepada guru-guru yang sudah purnabakti, diantaranya, E.Kusnadi,SPd Kepala SDN 3 Mekarsari,D.Suryatna K,SPd SD Guru SDN 1 Ciparanti,Endang Wahyudin,SPd SD Kepala SDN  2 Legokjawa,Hj Mimin Mukoronah,SPd SD,Kepala sdn 2 Cimerak,Abdul Ajid,SPd SD guru SDN 1 Sindangsari,Ahmad Bakri Sutan SPd SD,guruSDN 3 Kertamukti,Jeje Jaenudin SPd SD guru SDN 4 Kertamukti,Masdi SPd SD guru SDN 3 Limusgede,Wahyudin SPd,MPd guru SMPN 2 Cimerak,Sudrajat SPd.MPd kepala SDN 1 Mekarsari,Markodin,SPd Kepala SDN 2 Mekarsari dan H.Djojo Sudrajat,SPd,MPd kepala SMPN 2 Cimerak.Juga 3 warga PGRI Cimerak yang akan berangkat ke Tanah Suci yaitu; Apit Nurjanah SPd SD Kepala SDN 3 Masawah,Tarhudin,SPd guru SDN 4 Mekarsari dan Dedi Supriadi,SPd MPd guru SMPN 2 Cimerak.

“Selain menjadi ajang silaturahmi, halal bihalal ini juga menjadi acara perpisahan kita dengan sodara-sodara kita yang memasuki masa purnabakti. “kata Onasih. 

Acara halal bihalal pun akhirnya ditutup dengan pemaparan keagamaan ((tasyiah) Ustdaz Ade dari Cigugur. (RASIMUN)

RAIH PREDIKAT TERBAIK SE-KABUPATEN PANGANDARAN, KUA PADAHERANG IKUTI PENILAIAN TINGKAT PROPINSI

Mendapat predikat kantor terbaik se-Kabupaten Pangandaran, kini Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padaherang terus berbenah untuk persiapan lomba KUA di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Seperti dikatakan kepala KUA Padaherang, H Drs Mamuri, didampingi Penyuluh Agama, H Drs Dudung dan dihadiri stap KUA, para Penyuluh Agama Desa di Rumah Makan Pasir Ipis Padaherang, hasil dari penilaian Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangandaran, KUA Padaherang akan dikutsertakan pada lomba KUA tingkat provisi mewakili KUA se-Kabupaten Pangandaran.

“Dalam penilaian ini yang harus diperhatikan adalah masalah administrasi dan sumber daya manusianya. “ungkap Mamuri. (11/7)

Selain penilaian tersebut, lanjut Danuri, pihaknya pun akan mendata ulang mesjid dan mushala yang ada di Kecamatan Padaherang dengan melakukan kalibrasi arah kiblat.

“Baik mesjid dan mushala yang ada di lingkungan masyarakat, kantor-kantor, sekolah bahkan yang ada di rumah makan. ”jelas Mamuri.

Ia pun berharap adanya sinergitas antara petugas yang ada di KUA dan para penyuluh agama yang ada di desa-desa dengan meningkatkan kinerja pada porsinya masing-masing.

Insaalloh seleksi penilaian untuk tingkat provinsi akan dilaksanakan bulan agustus yang akan datang. “imbuhnya. (NANA HOERUMAN)

BUPATI PANGANDARAN : “PEMINDAHAN TMP KE PARIGI MERUPAKAN BENTUK KEHORMATAN PEMDA PADA PAHLAWANNYA”

Rencana Pemda memindahkan Taman Makam Pahlawan (TMP) yang terletak sebelah kiri jalan pintu menuju obyek wisata Pangandaran, ditentang beberapa orang yang tergabung dalam Forum Peduli Bangsa Kabupaten Pangandaran (FPBKP) dengan melakukan doa’ hari bersama (kamis malam, 12/7) sebagai bentuk keprihatinnya.

Menurut kordinator FPBKP, Andriana Mulya, dengan tegas menolak rencana pemda Pangandaran yang akan memindahkan TMP yang ada di Kecamatan Pangandaran ke Kecamatan Parigi karena di lokasi tersebut akan dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Bukan kami tidak setuju dengan niat pemerintah yang akan melakukan penataan kota, tapi kalau harus memindahkan TMP, jelas kami menolak. “ungkapnya.

Dikatakan Andriana, TMP layak dipertahankan keberadaanya karena memiliki nilai sejarah yang harus dipelihara bersama.
“Kita semua sebagai generasi muda dengan fasilitas yang kita nikmati sekarang ini tidak bisa lepas dari jasa-jasa para pahlawan yang jasadnya terkubur di TMP Bahagia ini. “ungkapnya lagi.

Hal senada dikatakan salah seorang warga Rt 02 Rw 06 Dusun Pangandaran Barat Desa/Kecamatan Pangandaran, Usnadi Suardja (68), salah seorang ahli waris dari almarhum Nana Permana yang dimakamkan di TMP tahun 1953, merasa prihatin dengan rencana pemda yang akan memindahkan TMP ke Parigi.

Menurutnya, TMP itu bukan hanya merupakan tumpukan batu, tapi ia sudah menjadi situs yang menyimpan nilai sejarah kepahlawanan. Memindahkan makam bisa jadi itu hal yang biasa, karena hanya sekedar memindahkan batu nisan.

“Tapi yang dipindahkan ini makam para pahlawan, tentunya ini akan menghilangkan nilai-nilai sejarah karena tidak dapat tergantikan. “kata Usnadi.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, menyampaikan, dengan memindahkan TMP yang sekarang ada di Kecamatan Pangandaran ke Parigi, justru ini merupakan penghargaaan dan apresiasi pemda pada para pahlawannya.

“Kita akan bangun TMP yang representatif, lebih baik dan kluas dari lokasi yang sekarang. “terang bupati.

Dengan menempatkannya pada tempat yang layak, lanjut bupati, ini merupakan bentuk kehormatan serta memberi pembelajaran pada generasi muda tentang kecintaannya pada tanah air dan para pahlawannya. 
 
Dikatakan Jeje, selama ini ia merasa prihatin melihat kondisi tempat peristirahatan terakhir para pahlawan Pangandaran di lokasi yang sempit, kumuh bahkan kurang dikenali masyarakat jika itu TMP.

“Tidak semua harus setuju, ini merupakan dinamika dari proses sebuah kebijakan. ” kata Jeje lagi.

Jeje menambahkan, tapi apa pun aspirasi itu sepanjang punya niatan baik, tentunya pemerintah pun akan mendengar dan menindaklanjuti.

Masih kata Jeje, sekarang rakyat sudah cerdas, mana yang benar, jujur dan mana yang neko-neko  tentunya sejarah jugalah yang akan mencatatnya.

“Sekarang kami hanya fokus untuk bekerja dan berkarya untuk Pangandaran lebih hebat lagi. “tegasnya.

Sementara menurut Asisten Daerah II (asda II), Apip Winayadi, rencana pemda memindahkan TMP tersebut semata ingin ngamumule para pahlawannya dengan membangun tempat yang lebih bagus dan luas.

“Sekarang saatnya kita bicara dengan konteks kabupaten bukan per kecamatan lagi. “ujarnya.

Di TMP yang baru nanti, lanjut Apip, Pemda Pangandaran merencanakan akan dimakamkan pahlawan-pahlawan yang ada di Kecamatan Parigi, Cigugur, Cijulang atau kecamatan lainnya yang selama ini keberadaanya kurang dikenal masyarakat luas, dan para suhada ini akan dijadikan pahlawan level kabupaten yang tentunya tempatnya pun ada di TMP kabupaten, tidak di masing-masing kecamatan.

“Kita ini sudah jadi kabupaten, tentunya kebijakannya pun sudah tidak lagi bicara di level kecamatan tapi tapi sudah di level kabupaten. “jelas Apip. (PNews)  

AKIBAT STATUS KEPEMILIKAN YANG BELUM TENTU 80 % KREDIT PNS DI BKPD PANGANDARAN, MACET.

Akibat kepemilikan yang sampai saat ini masih simpang siur, kini nasib PD BPR BKPD Pangandaran semakin terpuruk. Pasalnya, dari sejumlah debitur dengan katagori macet, hampir 80 % merupakan PNS di lingkup Pemda Pangandaran.

Seperti diungkapkan salah seorang pagawai BKPD, menurut Otorits Jasa Keuangan (OJK), untuk mengatasai hal ini pemilik harus segera turun tangan agar permasalahan kredit PNS ini tidak semakin buruk berpengaruh pada kesehatan bank.

“Tapi masalahnya BKPD Pangandaran sampai saat ini masih merupakan BUMD milik Pemda Ciamis, sedangkan yang macet PNS Pemda Pangandaran. “tuturnya, saat dihubungi lewat telepon celullernya.(11/7)

Dan mungkin saja, masih kata pegawai tersebut, pimpinan pejabat Pemda Pangandaran tidak serius membantu penyelesaian sejumlah kredit macet anak buahnya. Karena hingga saat ini BPR BKPD Pangandaran masih memberikan PADnya ke Pemda Ciamis.

Jika hal ini terus berlarut-larut, sambungnya lagi, dikhawatirkan saat di kemudian hari BPR BKPD Pangandaran diserahkan menjadi asset Pemkab Pangandaran dalam keadaan tidak sehat atau kolep, dan tentunya beban ini nantinya akan ditanggung pemilik baru, Pemda Pangandaran. (PNews)

DISPARBUD GAET EO HARMONI MERIAHKAN PANGANDARAN INTERNATIONAL KITE FESTIVAL 2018

Dipastikan even tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (disparbud) Kabupaten Pangandaran akan diselenggarakan tanggal 14 dan 15 juli 2018.

Ada lima negara, seperti China, India, Macau, Singapura dan Malaysia akan datang dan ikut menyemarakan Pangandaran International Kite Festival (PIKF) 2018 yang akan dilaksanakan di lapang Katapang Doyong pantai timur.

Menurut Kabid Ekonomi Kreatif disparbud Pangandaran, Megi Parlumi, penyelenggaraannya sendiri akan dikelola Even Organizer (EO) Harmoni dari Jogjakarta.

“Kami PIKF tahun ini bertepatan juga dengan acara Polda Jabar dalam memperingati hari bhayangkara ke 72 yang akan mendatangkan sekitar 3000 orang yang tergabung dalam komunitas moibil dan motor. “jelas Megi.(10/7)

Dalam acara Perss Conference di gedung Touris Information Center (TIC) Pangandaran, Megi juga mengatakan, dengan mengangkat tema The Beauty of Harmony, PIKF tahun ini akan memperlihatkan aneka keindahan layang-layang dalam dua jenis pertunjukan. Diantaranya, flying competition akan dilaksanakan malam hari yang dihiasi lampu warna-warni dan flying ekshibition, sebagai ajang unjuk kebolehan dan keindahan dari masing-masing peserta.

“Untuk mensukseskan PIKF tahun ini kami juga akan menggelar pesta budaya, food bazzar, stan UMKM binaan pemkab Pangandaran dan berbagai atraksi hiburan lainnya. “imbuh Megi. (ANTON-TONI)

MENJELANG BERAKHIR LIBUR SEKOLAH PANTAI PANGANDARAN MASIH DIPADATI WISATAWAN

Hingga menjelang berakhirnya masa liburan sekolah, tanggal 16 juli mendatang, obyek wisata pantai Pangandaran masih tetap ramai dikunungi wisatawan.

Seperti diungkapkan wisatawa asal tasikmalayan, Iip, sengaja ia dan keluarganya berlibur ke Pangandaran setelah libur lebaran, hal tersebut untuk menghindari kemacetan sepanjang arus menuju Pangandaran.

“Dan terbukti selama perjalanan kami tidak terjebak macet. “ungkapnya. (8/7)

Ia dan keluarganya, kata Iip, sangat sering berlibur ke Pangandaran, selain mudah dijangkau juga karena keindahan alam dan lautnya tidak kalah dibanding tempat-tempat wisata pantai lainnya, hingga tidak heran wisatawan ke Pangandaran tidak pernah sepi.

“Sebenarnya kabupaten kami pun mempunyai pantai, tapi sayang pariwisatanya belum terkelola dengan baik seperti Pangandaran. ”ujarnya lagi. (HARIS F)

PENGELOLAAN PASAR PANANJUNG PANGANDARAN MASIH TUMPANG TINDIH

Entah sejak kapan Pasar pemda di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran pengelolaan masih simpang siur. Padahal pasar pemda yang sudah menjadi ikon menjadi pasar tradisional ini mempunyai omzet perekonomian sangat besar. Jika di daerah lain, saat marema itu terjadi menjelang hari raya Idul Fitri saja, yang unik dari pasar pananjung ini ternyata setelah hari raya pun lonjakan pembeli tak bedanya seperti menjelang lebaran. Tapi sayang pasar yang sudah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Kecamatan Pangandaran ini pengelolaanya tidak profesional.

Misalnya, pengelolaan parkir, sampah dan retribusi pasar dilakukan oleh Himpunan Pedagang Pasar Pananjung (HP2P). Padahal menurut Kabag Hukum Setda Kabupaten Pangandaran, Jajat Supriadi, SH.,M.Si, sesuai Perda Nomer 36 tahun 2016, setiap lahan parkir milik pemerintah harus dipungut oleh pemerintah.

“Termasuk retribusi sampah dan masalah keamanannya pun harus dikelola pemerintah, karena HP2P ini hanya sebuah paguyuban warga pedagang pasar Pananjung saja. “ungkap Jajat.(4/7).

Sementara di tempat terpisah, salah seorang pedagang, H. Rusman, yang ditemui PNews di tempat jualannya mengatakan, sebenarnya persoalan siapa pun yang manarik retribusi dari pedagang yang ada di Pasar Pananjung, hendaknya bisa memberikan pelayanan dan  pengelolaan pasar dengan baik.

Menurutnya, jika memang aturannya retribusi ini harus oleh pemda, sebenarnya HP2P sama sekali tidak merasa keberatan. Karena selama ini  pun dari retribusi tersebut sama sekali tidak ada yang diperuntukan ke pengurus HP2P.

“Dalam satu bulan kami tidak kurang mengeluarkan sekitar Rp. 20 juta untuk biaya keamanan,  petugas kebersihan dan lainnya. “jelas Rusman.(9/7)

Jika selama ini pemerintah mengatakan kewajiban seluruh retribusi yang diperoleh dari pasar Pananjung harus oleh pemerintah, maka, lanjut Rusman, hendaknya pemerintah pun bisa memberikan pelayanan yang baik atas retribusi itu.
Seperti terkait masalah keamanan, karena tidak jarang ada toko yang dibobol  maling hingga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi warga pasar. Dan juga masalah kebersihan, karena selama ini petugas dari dinas kebersihan hanya mengambil sampah yang sudah ada di pinggir jalan.

“Sementara sampah itu diangkut dari dalam pasar ke pinggir jalan masih dilakukan oleh HP2P.”terang Rusman.

Rusman berharap  kepada Pemkab Pangandaran melalui Dinas Perdagangan, perhubungan dan kebersihan, hendaknya bisa duduk bersama untuk kepentingan pengelolaan pasar Pananjung, karena apa pun nantinya yang menjadi keputusan pemerintah, tentunya ada 1.203 pedagang yang terdiri dari 649 penghuni kios, 81 los dan 373 PKL yang selama ini menggantunkan hidupnya di Pasar Pananjung pun akan mendukungnya.

“Dan tentunya jika ke depan pasar Pananjung sudah sepenuhnya dikelola pemda, tentunya kami pun akan lebih konsentrasi pada usaha kami. “pungkas Rusman. (PNews)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN