MENGUAK LEGENDA BUMI RONGSOK PAPAYAN TASIKMALAYA

"..........Ngudag guligahna hate mapay-mapay wahangan ciwulan dina nyungsi carita teu betus titingal karuhun.. rumasa ati cidra ngahieuman panenjo jadi hahalang, balukar ngentabna seuneu nu geus nyaliara dina dada ulah rajawisuna.  tomada, seja unjuk salam. wakcana ati, seja bubumen nanceubkeun tohagana kai jati nu waras, pikeun memeres wangunan rusak.  pamundut, seja nyuprih piwuruk sepuh, cukang lantaran hiji rusiah nu dipendem dina ngaran jeung tempat sajarah Bumi rongsok…..”
 
Ada yang menarik dari Desa Papayan, sebuah hutan kecil bernama Bumi Rongsok yang berada persis ditengah pemukiman, berjarak sekitar 100 meter dari Kantor Desa Papayan. Hutan dengan luas area 500 m2 ini terlihat masih sangat alami dan warga setempat pun betul-betul menjaga kelestariannya serta sangat menghormati budaya dan adat istiadatnya. Di hutan tersebut masih ada pohon berusia ratusan tahun dengan aneka satwa, seperi, monyet dan lutung.

Memasuki kawasan tersebut, dari jalan raya nampak Gapura  Bumi Rongsok terlihat jelas, sementara sejarah Bumi Rongsok situsnya terletak di Kampung Demung Landung Desa Papayan Kecamatan Jatiwaras Kabupaten Tasikmalaya. Berada di dalam sebuah hutan kecil dengan aliran air kolam yang muncul dari balik sela rerimbunan dedaunan pohon berusia ratusan tahun. Sebuah altar ( peninggalan ) Bumi Rongsok menjadi saksi bisu munculnya riwayat jaman dahulu, saat nama dan tempat tersebut memiliki relevansi yang kuat dari sebuah rahasia dan perjalanan tokoh yang tersembunyi dibalik nama dan tempat sejarah Bumi Rongsok.

Kini Bumi rongsok selain merupakan sarana wisata religi juga merupakan suaka alam dan marga satwa. Sementara peninggalan lain yang bisa disaksikan disana, Batu/Menhir yang konon dulu berfungsi sebagai tempat penampungan air sementara batu panjang merupakan tempat ibadah sholat.
Dulu disana juga terdapat berbagai senjata pusaka yakni, seperti tumbak, pedang, keris, pisau, golok dan bokor, namun sayang pada tahun 1982 terjadi kebakaran di ibu kota desa ( sekarang  Desa kolot) mengakibatkan seluruh benda pusaka musnah terbakar.

Menurut legenda, yang memberi nama nama Bumi Rongsok sendiri adalah Eyang Bagus Jayadimantri, bumi artinya tempat tinggal dan rongsok artinya subur, ada juga yang mengartikan Bumi Rongsok yakni Gapura masuk tanah subur.

Dulunya Bumi Rongsok merupakan tempat tinggal para Eyang Dalem dan merupakan pusat penyebaran agama Islam pada abad 1700 M, karena di daerah itu sebelumnya masyarakatnya  penganut agama Hindu-Budha, dan konon, landung merupakan bekas perkampungan agama budha.

Adapun para tokoh penyebar Islam diantaranya, Eyang Dalem Bagus Jayadimantri, seorang ulama besar dari Banten, Eyang Sumapati dari Garut dan Eyang Raksabaya yang merupakan keturunan dari Sultan Mataram. Mereka masing-masing mendapat tugas menjadi penjaga keamanan di Bumi Rongsok. Dalam melakukan syiar Islam, Eyang Dalem Jayadimantri dibantu pengikut yang setia, Sumapatra, Sumanegara dan satu - satunya seorang wanita, Siti Saroh. Selain dibantu para pengawalnya, Eyang Dalem pun mendapat bantuan dari beberapa  pribumi, seperti, Embah Naya, Eyang Atna, Embah Rangga dan Uing Enok.

Asal muasal munculnya nama daerah Papayan, menurut cerita yang tersebar, diambil dari perjalanan sejarah seorang ulama dari Garut, Eyang Sumapati, yang terdampar di Landung.

Konon, saat pesantrennya hancur di terjang banjir besar, ia pun mencari tempat bermukim dengan cara apay- apayan ( menyusuri) sungai Ciwulan. Dengan menaiki sintung (tangkai buah kelapa) hingga berlabuh di Landung ( sekarang menjadi Demung Landung) dan bergabung dengan ulama lainnya untuk ikut menyebarkan Agama Islam  hingga akhir hayatnya.

Sementara menurut versi lainnya, munculnya nama Papayan berasal dari sebuah cerita  tenggelamnya beberapa santri penduduk seberang kali ciwulan yang hendak belajar mengaji. Saat itu Eyang Sumapati apay-apayan menyusuri sungai Ciwulan berusaha mencari jasad para santrinya, dan hingga kini nama tersebut berubah menjadi nama daerah, Papayan.

Seperti diketahui, hingga saat ini warga setempat masih setia menjaga serta ngamumule leuweung (hutan) Bumi Rongsok serta sampai saat ini pun dipercaya masyarakat disana masih memegang tatali karuhun, pengkuh pada bahasa pamali (tabu).  Seperti, saat ada warga yang akan melaksanakan hajatan (kenduri), tidak boleh menabuh alat musik goong. (TIM TASIK NEWS)

PGRI CIMERAK GELAR HALAL BIL HALAL DAN PERPISAHAN GURU PURNABAKTI

Bertempat di aula Tunas, PGRI kecamatan Cimerak Kabupaten mengadakan acara halal bil halal yang dihadiri Kepala UPTD Dikpora Kecamatan Cimerak, Hj Onasih,SPd MM, Ketua PGRI, Drs Juandi MM, Ketua K3S,  Kasbollah, Kasubag Suhman,SPd, Pengawas, Pendais, Kepala sekolah dan guru baik yang masih aktif ataupun yang purnabakti.

Dalam sambutannya, ketua PGRI, Juandi, menyampaikan permohonan maafnya kepada seluruh pengurus dan anggota PGRI yang selama kepemimpinannya mungkin ada kesalahan dan kekeliruan dalam kebijakan memimpin PGRI Cimerak.

“Khususnya, kepada 12 orang guru yang saat ini memasuki persiapan masa purnabakti juga 3 orang guru yang insaalloh tahun ini akan melaksanakan ibadah haji, mudah-mudahan semuanya selalu dalam lindunganNya. “kata Juandi.(12/7)

Sementara dalam kesempatan sambutannya, Kepala UPTD Dikpora, Hj Onasih, mengatakan, atas nama seluruh pegawai, dalam kesempatan yang masih bernuansa Idul Fitri ini, meminta maaf jika pelayan terhadap seluruh anggota PGRI kurang memuaskan.

Dalam kesempatan yang sama, Onasih juga mengucapkan selamat berpisah kepada guru-guru yang sudah purnabakti, diantaranya, E.Kusnadi,SPd Kepala SDN 3 Mekarsari,D.Suryatna K,SPd SD Guru SDN 1 Ciparanti,Endang Wahyudin,SPd SD Kepala SDN  2 Legokjawa,Hj Mimin Mukoronah,SPd SD,Kepala sdn 2 Cimerak,Abdul Ajid,SPd SD guru SDN 1 Sindangsari,Ahmad Bakri Sutan SPd SD,guruSDN 3 Kertamukti,Jeje Jaenudin SPd SD guru SDN 4 Kertamukti,Masdi SPd SD guru SDN 3 Limusgede,Wahyudin SPd,MPd guru SMPN 2 Cimerak,Sudrajat SPd.MPd kepala SDN 1 Mekarsari,Markodin,SPd Kepala SDN 2 Mekarsari dan H.Djojo Sudrajat,SPd,MPd kepala SMPN 2 Cimerak.Juga 3 warga PGRI Cimerak yang akan berangkat ke Tanah Suci yaitu; Apit Nurjanah SPd SD Kepala SDN 3 Masawah,Tarhudin,SPd guru SDN 4 Mekarsari dan Dedi Supriadi,SPd MPd guru SMPN 2 Cimerak.

“Selain menjadi ajang silaturahmi, halal bihalal ini juga menjadi acara perpisahan kita dengan sodara-sodara kita yang memasuki masa purnabakti. “kata Onasih. 

Acara halal bihalal pun akhirnya ditutup dengan pemaparan keagamaan ((tasyiah) Ustdaz Ade dari Cigugur. (RASIMUN)

RAIH PREDIKAT TERBAIK SE-KABUPATEN PANGANDARAN, KUA PADAHERANG IKUTI PENILAIAN TINGKAT PROPINSI

Mendapat predikat kantor terbaik se-Kabupaten Pangandaran, kini Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Padaherang terus berbenah untuk persiapan lomba KUA di tingkat Provinsi Jawa Barat.

Seperti dikatakan kepala KUA Padaherang, H Drs Mamuri, didampingi Penyuluh Agama, H Drs Dudung dan dihadiri stap KUA, para Penyuluh Agama Desa di Rumah Makan Pasir Ipis Padaherang, hasil dari penilaian Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pangandaran, KUA Padaherang akan dikutsertakan pada lomba KUA tingkat provisi mewakili KUA se-Kabupaten Pangandaran.

“Dalam penilaian ini yang harus diperhatikan adalah masalah administrasi dan sumber daya manusianya. “ungkap Mamuri. (11/7)

Selain penilaian tersebut, lanjut Danuri, pihaknya pun akan mendata ulang mesjid dan mushala yang ada di Kecamatan Padaherang dengan melakukan kalibrasi arah kiblat.

“Baik mesjid dan mushala yang ada di lingkungan masyarakat, kantor-kantor, sekolah bahkan yang ada di rumah makan. ”jelas Mamuri.

Ia pun berharap adanya sinergitas antara petugas yang ada di KUA dan para penyuluh agama yang ada di desa-desa dengan meningkatkan kinerja pada porsinya masing-masing.

Insaalloh seleksi penilaian untuk tingkat provinsi akan dilaksanakan bulan agustus yang akan datang. “imbuhnya. (NANA HOERUMAN)

BUPATI PANGANDARAN : “PEMINDAHAN TMP KE PARIGI MERUPAKAN BENTUK KEHORMATAN PEMDA PADA PAHLAWANNYA”

Rencana Pemda memindahkan Taman Makam Pahlawan (TMP) yang terletak sebelah kiri jalan pintu menuju obyek wisata Pangandaran, ditentang beberapa orang yang tergabung dalam Forum Peduli Bangsa Kabupaten Pangandaran (FPBKP) dengan melakukan doa’ hari bersama (kamis malam, 12/7) sebagai bentuk keprihatinnya.

Menurut kordinator FPBKP, Andriana Mulya, dengan tegas menolak rencana pemda Pangandaran yang akan memindahkan TMP yang ada di Kecamatan Pangandaran ke Kecamatan Parigi karena di lokasi tersebut akan dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH).

“Bukan kami tidak setuju dengan niat pemerintah yang akan melakukan penataan kota, tapi kalau harus memindahkan TMP, jelas kami menolak. “ungkapnya.

Dikatakan Andriana, TMP layak dipertahankan keberadaanya karena memiliki nilai sejarah yang harus dipelihara bersama.
“Kita semua sebagai generasi muda dengan fasilitas yang kita nikmati sekarang ini tidak bisa lepas dari jasa-jasa para pahlawan yang jasadnya terkubur di TMP Bahagia ini. “ungkapnya lagi.

Hal senada dikatakan salah seorang warga Rt 02 Rw 06 Dusun Pangandaran Barat Desa/Kecamatan Pangandaran, Usnadi Suardja (68), salah seorang ahli waris dari almarhum Nana Permana yang dimakamkan di TMP tahun 1953, merasa prihatin dengan rencana pemda yang akan memindahkan TMP ke Parigi.

Menurutnya, TMP itu bukan hanya merupakan tumpukan batu, tapi ia sudah menjadi situs yang menyimpan nilai sejarah kepahlawanan. Memindahkan makam bisa jadi itu hal yang biasa, karena hanya sekedar memindahkan batu nisan.

“Tapi yang dipindahkan ini makam para pahlawan, tentunya ini akan menghilangkan nilai-nilai sejarah karena tidak dapat tergantikan. “kata Usnadi.

Menanggapi hal tersebut, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, menyampaikan, dengan memindahkan TMP yang sekarang ada di Kecamatan Pangandaran ke Parigi, justru ini merupakan penghargaaan dan apresiasi pemda pada para pahlawannya.

“Kita akan bangun TMP yang representatif, lebih baik dan kluas dari lokasi yang sekarang. “terang bupati.

Dengan menempatkannya pada tempat yang layak, lanjut bupati, ini merupakan bentuk kehormatan serta memberi pembelajaran pada generasi muda tentang kecintaannya pada tanah air dan para pahlawannya. 
 
Dikatakan Jeje, selama ini ia merasa prihatin melihat kondisi tempat peristirahatan terakhir para pahlawan Pangandaran di lokasi yang sempit, kumuh bahkan kurang dikenali masyarakat jika itu TMP.

“Tidak semua harus setuju, ini merupakan dinamika dari proses sebuah kebijakan. ” kata Jeje lagi.

Jeje menambahkan, tapi apa pun aspirasi itu sepanjang punya niatan baik, tentunya pemerintah pun akan mendengar dan menindaklanjuti.

Masih kata Jeje, sekarang rakyat sudah cerdas, mana yang benar, jujur dan mana yang neko-neko  tentunya sejarah jugalah yang akan mencatatnya.

“Sekarang kami hanya fokus untuk bekerja dan berkarya untuk Pangandaran lebih hebat lagi. “tegasnya.

Sementara menurut Asisten Daerah II (asda II), Apip Winayadi, rencana pemda memindahkan TMP tersebut semata ingin ngamumule para pahlawannya dengan membangun tempat yang lebih bagus dan luas.

“Sekarang saatnya kita bicara dengan konteks kabupaten bukan per kecamatan lagi. “ujarnya.

Di TMP yang baru nanti, lanjut Apip, Pemda Pangandaran merencanakan akan dimakamkan pahlawan-pahlawan yang ada di Kecamatan Parigi, Cigugur, Cijulang atau kecamatan lainnya yang selama ini keberadaanya kurang dikenal masyarakat luas, dan para suhada ini akan dijadikan pahlawan level kabupaten yang tentunya tempatnya pun ada di TMP kabupaten, tidak di masing-masing kecamatan.

“Kita ini sudah jadi kabupaten, tentunya kebijakannya pun sudah tidak lagi bicara di level kecamatan tapi tapi sudah di level kabupaten. “jelas Apip. (PNews)  

AKIBAT STATUS KEPEMILIKAN YANG BELUM TENTU 80 % KREDIT PNS DI BKPD PANGANDARAN, MACET.

Akibat kepemilikan yang sampai saat ini masih simpang siur, kini nasib PD BPR BKPD Pangandaran semakin terpuruk. Pasalnya, dari sejumlah debitur dengan katagori macet, hampir 80 % merupakan PNS di lingkup Pemda Pangandaran.

Seperti diungkapkan salah seorang pagawai BKPD, menurut Otorits Jasa Keuangan (OJK), untuk mengatasai hal ini pemilik harus segera turun tangan agar permasalahan kredit PNS ini tidak semakin buruk berpengaruh pada kesehatan bank.

“Tapi masalahnya BKPD Pangandaran sampai saat ini masih merupakan BUMD milik Pemda Ciamis, sedangkan yang macet PNS Pemda Pangandaran. “tuturnya, saat dihubungi lewat telepon celullernya.(11/7)

Dan mungkin saja, masih kata pegawai tersebut, pimpinan pejabat Pemda Pangandaran tidak serius membantu penyelesaian sejumlah kredit macet anak buahnya. Karena hingga saat ini BPR BKPD Pangandaran masih memberikan PADnya ke Pemda Ciamis.

Jika hal ini terus berlarut-larut, sambungnya lagi, dikhawatirkan saat di kemudian hari BPR BKPD Pangandaran diserahkan menjadi asset Pemkab Pangandaran dalam keadaan tidak sehat atau kolep, dan tentunya beban ini nantinya akan ditanggung pemilik baru, Pemda Pangandaran. (PNews)

DISPARBUD GAET EO HARMONI MERIAHKAN PANGANDARAN INTERNATIONAL KITE FESTIVAL 2018

Dipastikan even tahunan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (disparbud) Kabupaten Pangandaran akan diselenggarakan tanggal 14 dan 15 juli 2018.

Ada lima negara, seperti China, India, Macau, Singapura dan Malaysia akan datang dan ikut menyemarakan Pangandaran International Kite Festival (PIKF) 2018 yang akan dilaksanakan di lapang Katapang Doyong pantai timur.

Menurut Kabid Ekonomi Kreatif disparbud Pangandaran, Megi Parlumi, penyelenggaraannya sendiri akan dikelola Even Organizer (EO) Harmoni dari Jogjakarta.

“Kami PIKF tahun ini bertepatan juga dengan acara Polda Jabar dalam memperingati hari bhayangkara ke 72 yang akan mendatangkan sekitar 3000 orang yang tergabung dalam komunitas moibil dan motor. “jelas Megi.(10/7)

Dalam acara Perss Conference di gedung Touris Information Center (TIC) Pangandaran, Megi juga mengatakan, dengan mengangkat tema The Beauty of Harmony, PIKF tahun ini akan memperlihatkan aneka keindahan layang-layang dalam dua jenis pertunjukan. Diantaranya, flying competition akan dilaksanakan malam hari yang dihiasi lampu warna-warni dan flying ekshibition, sebagai ajang unjuk kebolehan dan keindahan dari masing-masing peserta.

“Untuk mensukseskan PIKF tahun ini kami juga akan menggelar pesta budaya, food bazzar, stan UMKM binaan pemkab Pangandaran dan berbagai atraksi hiburan lainnya. “imbuh Megi. (ANTON-TONI)

MENJELANG BERAKHIR LIBUR SEKOLAH PANTAI PANGANDARAN MASIH DIPADATI WISATAWAN

Hingga menjelang berakhirnya masa liburan sekolah, tanggal 16 juli mendatang, obyek wisata pantai Pangandaran masih tetap ramai dikunungi wisatawan.

Seperti diungkapkan wisatawa asal tasikmalayan, Iip, sengaja ia dan keluarganya berlibur ke Pangandaran setelah libur lebaran, hal tersebut untuk menghindari kemacetan sepanjang arus menuju Pangandaran.

“Dan terbukti selama perjalanan kami tidak terjebak macet. “ungkapnya. (8/7)

Ia dan keluarganya, kata Iip, sangat sering berlibur ke Pangandaran, selain mudah dijangkau juga karena keindahan alam dan lautnya tidak kalah dibanding tempat-tempat wisata pantai lainnya, hingga tidak heran wisatawan ke Pangandaran tidak pernah sepi.

“Sebenarnya kabupaten kami pun mempunyai pantai, tapi sayang pariwisatanya belum terkelola dengan baik seperti Pangandaran. ”ujarnya lagi. (HARIS F)

PENGELOLAAN PASAR PANANJUNG PANGANDARAN MASIH TUMPANG TINDIH

Entah sejak kapan Pasar pemda di Desa Pananjung Kecamatan Pangandaran pengelolaan masih simpang siur. Padahal pasar pemda yang sudah menjadi ikon menjadi pasar tradisional ini mempunyai omzet perekonomian sangat besar. Jika di daerah lain, saat marema itu terjadi menjelang hari raya Idul Fitri saja, yang unik dari pasar pananjung ini ternyata setelah hari raya pun lonjakan pembeli tak bedanya seperti menjelang lebaran. Tapi sayang pasar yang sudah menjadi urat nadi perekonomian masyarakat Kecamatan Pangandaran ini pengelolaanya tidak profesional.

Misalnya, pengelolaan parkir, sampah dan retribusi pasar dilakukan oleh Himpunan Pedagang Pasar Pananjung (HP2P). Padahal menurut Kabag Hukum Setda Kabupaten Pangandaran, Jajat Supriadi, SH.,M.Si, sesuai Perda Nomer 36 tahun 2016, setiap lahan parkir milik pemerintah harus dipungut oleh pemerintah.

“Termasuk retribusi sampah dan masalah keamanannya pun harus dikelola pemerintah, karena HP2P ini hanya sebuah paguyuban warga pedagang pasar Pananjung saja. “ungkap Jajat.(4/7).

Sementara di tempat terpisah, salah seorang pedagang, H. Rusman, yang ditemui PNews di tempat jualannya mengatakan, sebenarnya persoalan siapa pun yang manarik retribusi dari pedagang yang ada di Pasar Pananjung, hendaknya bisa memberikan pelayanan dan  pengelolaan pasar dengan baik.

Menurutnya, jika memang aturannya retribusi ini harus oleh pemda, sebenarnya HP2P sama sekali tidak merasa keberatan. Karena selama ini  pun dari retribusi tersebut sama sekali tidak ada yang diperuntukan ke pengurus HP2P.

“Dalam satu bulan kami tidak kurang mengeluarkan sekitar Rp. 20 juta untuk biaya keamanan,  petugas kebersihan dan lainnya. “jelas Rusman.(9/7)

Jika selama ini pemerintah mengatakan kewajiban seluruh retribusi yang diperoleh dari pasar Pananjung harus oleh pemerintah, maka, lanjut Rusman, hendaknya pemerintah pun bisa memberikan pelayanan yang baik atas retribusi itu.
Seperti terkait masalah keamanan, karena tidak jarang ada toko yang dibobol  maling hingga menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi warga pasar. Dan juga masalah kebersihan, karena selama ini petugas dari dinas kebersihan hanya mengambil sampah yang sudah ada di pinggir jalan.

“Sementara sampah itu diangkut dari dalam pasar ke pinggir jalan masih dilakukan oleh HP2P.”terang Rusman.

Rusman berharap  kepada Pemkab Pangandaran melalui Dinas Perdagangan, perhubungan dan kebersihan, hendaknya bisa duduk bersama untuk kepentingan pengelolaan pasar Pananjung, karena apa pun nantinya yang menjadi keputusan pemerintah, tentunya ada 1.203 pedagang yang terdiri dari 649 penghuni kios, 81 los dan 373 PKL yang selama ini menggantunkan hidupnya di Pasar Pananjung pun akan mendukungnya.

“Dan tentunya jika ke depan pasar Pananjung sudah sepenuhnya dikelola pemda, tentunya kami pun akan lebih konsentrasi pada usaha kami. “pungkas Rusman. (PNews)

PERERAT KEBERSAMAAN, ORARI PANGANDARAN GELAR HALAL BIL HALAL

Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia (ORARI) Kabupaten Pangandaran hari ini menggelar acara halal bi halal yang dihadiri seluruh pengurus dan anggota, bertempat di pelabuhan Cikidang Babakan Pangandaran (8/7)

Dengan tema, mempereurat tali persaudaraan dan kebersamaan antar anggota, acara pun nampak meriah penuh rasa persodaraan dengan siraman rohani keagamaan yang dilanjutkan acara  fox hunting.

Dalam sambutannya, ketua ORARI Pangandaran, Anwar Said menyampaikan, selaras dengan tema kegiatan, dengan halal bihalal ini  sesame anggota bisa saling mempererat lagi persaudaraan serta memupuk rasa kebersamaan dalam keberagaman.

“Keluarga besar ORARI  yang ada di Kabupaten Pangandaran memang sudah bersama tetapi perlu keteguhan, agar kebersamaan kita tetap selalu terjaga dalam waktu yang lama, kalau perlu selama-lamanya. “ungkapnya.

Anwar juga berharap, dengan kegiatan ini bisa menjadi contoh kebersamaan bagi organisasi-orgainsasi lainnya. (PNews)

DANA KEROHIMAN PEMBONGKARAN MESJID UJUNGTOL BERBUNTUT PANJANG

Dana kerohiman sebesar Rp. 150 juta untuk pembongkaran mesjid Al-Hikmah yang berloksi di ujung tol pantai barata Pangandaran beberapa tahun lalu kini berbuntut panjang. Pasalnya,  keberadaan uang tersebut hingga kini tidak banyak diketahui pihak MUI baik Desa atau pun  kecamatan termasuk warga sekitar, saat hal ditanyakan ke Camat Pangandaran, ia mengaku  tidak tahu menahu.

Sepeti dituturkan ketua RT setempat sekaligus yang dulu menjadi  pengurus mesjid, pembangunan mesjid itu dulu murni dibiayai dari hasil pemberian DDI Jakarta. Tapi kemudian karena mesjid tersebut berdiri di atas tanah pribadi akhirnya dipindahkan, dan saat itu dari pemilik tanah dengan suka rela memberikan dana kerohiman.

"Saat itu dana tersebut diterima oleh DMI (Dewan Mesjid Indonesia-red) yang di wakili Bapak wazid, tapi hingga kini kami tidak tahu menahu dana tersebut ada di dimana. “ungkapnya.

Setelah mesjid Al-Hikmah tersebut bongkar, warga pun membangun mesjid baru yang lahan dan biaya pembangunannya sepenuhnya diperoleh dari pengusaha Grand Pangandaran, dan tidak serupiah pun menggunakan uang yang berasal dari dana kerohiman.

Setelah diklarifikasi ke pihak DMI, menurut ketuanya, Mazid, uang kerohiman tersebut sebagian digunakan untuk biaya pembongkaran dan hingga sekarang masih tersisa sebesar Rp. 82 juta. Namun karena kurangnya keterbukaan dari semua pihak, akhirnya banyak berita simpang siur di masyarakat terkait uang tersebut.

"Hal ini karena kurangnya keterbukaan dari semua pihak sehingga yang terjadi informasi yang simpang siur di nmasayarakat. “kata Camat Pangandaran, Drs, Yadi.

Untuk menindaklanjuti hal ini, Yadi pun akan memediasisasi beberapa pihak yang dianggap mengetahui persoalan ini.

“Mudah-mudahan setelah duduk bersama persoalannya akan jelas dan masyarakat pun tidak bertanya-tanya lagi tentang uang dari dana kerohiman tersebut. “kata Yadi lagi. (PNews)

AKIBAT MINIM FASILITAS DAN WAKTU, BANYAK WISATAWAN URUNG KE GREEN CANYON

CIJULANG- Obyek wisata Green Canyon salah satu tempat wisata unggulan di Kabupaten Pangandaran hingga saat ini masih menyimpan daya tarik dengan keindahan alamnya yang masih asli. Namun sangat disayangkan dengan minimnya sarana fasilitas di lokasi wisata dan keterbatasan waktu beroperasi yang hanya sampai jam empat sore, banyak wisatawan yang mengurungkan niatnya untuk berwisata kesana, hal ini tentunya akan mengurangi pendapatan daerah.

Hal tersebut dibenarkan sekertaris Kompepar Green Canyon, Ari Krishna. Ia berharap adanya penambahan fasilitas lainnya agar wisatawan yang datang pun bisa menikmati wisata lainnya.

"Kami berharap selain menikmati wisata alam, pengunjung pun disediakan sarana permainan anak atau lainnya agar turis lebih tertarik datang kesini. “ungkapnya.(7/7)

Seperti I daerah lain, imbuh Ari, contohnya Karang Resik Tasikmalaya, wisatawan bisa menikmati fasilitas wisata lainnya walau itu cuma fasilitas bermain untuk anak.

Ari juga mengatakan, pernah ada rombongan 7 bis besar tadinya berniat berwisata ke Green Canyon, tapi berhubung saat itu hari sudah sore, pengunjung tersebut pun mengurungkan diri karena tidak seluruh rombongan bisa pergi ke lokasi Green Canyon.

“Mungkin kalau ada fasilitas lainnya, bisa saja sebagian mengunjungi Green Canyon dan yang lainnya menikmati fasilitas wisata yang tersedia. “kata Ari. (AGE)

MENGENANG MASA DI BANGKU SEKOLAH, ALUMNI SDN 5 PANGANDARAN GELAR SULATURAHMI

Memanfaatkan suasan lebaran yang lalu saat suasana bermaaf-maafan masih terasa, momen ini dimanfaatkan sejumlah warga alumni SD 5 Pangandaran dengan berkumpul bersama dalam acara temu kangen atau yang lajim disebut reuni  yang digelar di rumah makan Balong Sidat di kawasan Dusun Kwedungrejo Desa Wonoharjo.(26/6)
  
Diantara 40 orang peserta, nampak hadir dalam Asep Nurdin salah seorang anggota DPRD Kabupaten Pangandaran yang merupakan salah seorang alumni. Dalam kesempatan tersebut, Asep memberikan sambutan ditengah-tengah kawan-kawannya serta berpesan agar silaturahmi ini tetap bisa berjalan secara terus menerus, paling tidak setahun sekali setelah lebaran.

"Mudah-mudahan acara ini bukan yang terakhir tetapi sebaliknya bisa ditindaklanjuti sehingga sebagai alumni SDN 5 Pangandaran yang juga rata-rata putra asli daerah dapat memerkokoh persaudaraan," katanya.

Menurut Asep, ini juga momen baik untuk seluruh alumni bisa terus menjalin tali silaturahmi, dengan mengingat saat-saat indah di bangku sekolah di kala usia anak bisa menjadi sarana refreshing.

“Jika di hari-hari biasa momen ini jarang dilakukan karena kesibkan masing-masing, ya sekarang inilah kita saling bercengkrama dengan sahabat kita waktu SD. “kata Asep lagi. (HARIS F

UNTUK MEMBERIKAN KENYAMANAN PADA PENGUNJUNG, BKSDA PANGANDARAN TERUS BERBENAH

Untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman pada pengunjung yang datang juga seiring kebijakan Pemerintah Kabupaten Pangandaran dalam penataan obyek wisata, kini Balai Konsevasi Sumber Daya Alam (BKSDA) resort Pangandaran (Cagar Alam Pananjung), terus berbenah. Salah satunya dengan mebangun taman di area pintu masuk kawasan serta penataan lokasi parkir kendaraan.

Seperti dikatakan kepala BKSDA resort Pangandaran, Yana Hendrayana, sebagai kawasan konservasi hutan dan laut yang ada di daerah tujuan wisata tentunya harus bisa menunjang program kebijakan pemerintah daerah, karena selain mengunjungi pantai dan berenang, tidak sedikit wisatawan pun yang berkunjung ke kawasan cagar alam.

“Dan tentunya kami pun harus bisa memberikan kesan asri, indah dan memberikan rasa nyaman. “terang Yana.(4/7)

Yana yang ditemui PNews di ruang kerjanya, menambahkan, di beberapa lokasi memang perlu lebih ditata lagi, seperti di area pintu masuk yang merupakan pintu masuk kawasan yang selama ini terkesan seadanya harus tampil lebih cantik serta memberi kesan kawasan BKSDA Cagar Alam Pananjung tertata rapih dan indah.

“Tempat parkir akan kami tata, karena selama ini jika hujan turun terkadang ada genangan air hingga becek. “imbuh Yana.
Sedang untuk pemeliharaan di dalam kawasan, kegiatan membersihkan sampah bekas bungkus makanan yang ditinggalkan pengunjung terus dilakukan, baik di cagar laut pasir putih atau di kawasan hutan, yang biasa dilakukan setiap hari senin.

“Tapi pada libur lebaran kemarin, kami lakukan itu setiap hari karena pengunjung yang datang berkunjung kesini setiap hari selalu ramai. “kata Yana lagi.

Dikatakan Yana, pada setiap kesempatan ia selalu mengatakan untuk bisa bersama-sama menjaga kebersihan dengan cara tidak membuang sampah sembarangan. Jadikanlah hutan yang ada di kawasan BKSDA ini sebagai asset alam kebanggaan bersama yang harus dijaga dan dirawat bersama-sama. Karena kelestarian hutan tentunya tidak diperuntukan hari ini saja, tapi untuk selamanya.

“Dan dengan dibangunnya taman di pintu masuk ini, diharapkan bisa bermanfaat untuk semua. “ pungkasnya. (PNews)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN