MESJID AL-ITTIHAD KARANGPAWITAN DIBANGUN DENGAN ARSITEK CANTIK

PADAHERANG-Mesjid, symbol religius agama islam, selain berfungsi sebagai tempat ibadah mesjid pun banyak difungsikan untuk tempat kegiatan keagamaan masyarakat di daerah mesjid itu berada.

Seperti mesjid Al-Ittihad, mesjid yang berada di Rt 11 Rw 03 blok Pelning Desa Karangpawitan  Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran. Pembangunan mesjid ini diprakarsai oleh seorang tokoh agama setempat, Rachman, yang akrab disapa Apeng.

Selain sebagai penggagas, Rachman yang pensiunan pegawai BBWS Citanduy, ia pun sekaligus menjadi arsitek dalam pembangunan mesjid tersebut.

“Tujuan dibangun mesjid ini, selain sebagai tempat ibadah juga bisa difungsikan menjadi tempat belajar ilmu agama anak-anak kami disini. “Kata Rachman.(14/10).

Ditambahkan Rachman, Mesjid Jami Al-Ittihad juga sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus bisa menjadi tempat warga berkumpul menjalin silaturahmi satu dengan lainnya di Desa Karangpawitan.

“Alhamdulillah,  pembangunan mesjid ini sudah pada tahap proses standar. “terang Rachman.

Menurut Rachman, untuk selanjutnya, finishuing dan penambahan assesoris untuk mempercantik dan memperindah bangunan masih belum bisa terrealisasi karena masih diperlukan biaya tambahan.

“Kami berharap, proses pembangunan mesjid Al-Ittihad  sebagai kebanggaan warga karangpawitan ini bisa lancar dengan dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah. “ujar Ranchman saat ditemui di rumahnya. (Isis Koswara)

WARGA KARANGPAWITAN DAMBAKAN JALAN CIPAKEL BER-HOT MIX

PADAHERANG-Sudah lama warag Desa Karangpawitana Kecammatan Padaherang Kabupaten Pangandaran mendambakan punya jalan mulus berhotmiks. Jalan Cipakel sepanjang 1,5 km yang menghubungkan Desa Karangpawitan,dengan Kecamatan Mangunjaya, persisnya di samping kantor Polsek Padaherang ini keadaannya memang masih jauh dikatakan nyaman.

“Memang benar warga sudah lama menunggu perbaikan jaklan ini, sebab jalan ini punya akses langsung ke Kecamatan Mangunjaya. “tutur Kepala Desa karangpawitan, Adis.(14/10).

Ditambahkan Adis, sebenarnya jalan tersebut sudah dilaukan pengerasan degan rabat beton yang duibangun  tahun 2009, sehingga jika nanti dilakukan pengaspalan, akan lebih mudah dalam mengerjaannya.

“Sampai sekarang jalan beton yang didanai dari PNPM dan PPIP kondisinya masih 80 %, relative masih kuat. “terang Adis.

Adis berharap, Pemkab Pangandaran bisa segera merealisasikan keinginan warga mengingat jakan tersebut bisa menjadi jalur ekonomi masyarakat dari Kecamatan Mangunjaya ke Padaherang dan sebaliknya.

“Mobilitas kendaraan pun setiap harinya lumayanj padat dan rencana perbaikan jalan tersebut sudah masuk dalam rencana pengajuan desa tahun 2017. “imbuh Adis

Hal senada duikatakan salah seorang warga karangpawitan, Aay Anjasmoro, menurutnya sudah saatnya jalan Cipakel ini pakai aspal hotmiks. Pasalnya, jalan tersebut sangat vital untuk lalu-lintas antar dua kecamatan, baik sebagai jalur ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lainnya.

“Mudah-mudahan ini menjadi perhatian pemda, mengingat sudah lama sekali warga mendambakan jalan ini mulus berhotmiks. “Kata Aay.(ISIS KOSWARA)

BENCANA BANJIR DAN LONGSOR DI PANGANDARAN, AKIBAT ALIH FUNGSI GUNUNG PORANG DAN PASIR DUDAN ?

PARIGI-Menjawab keresahan beberapa warga yang bertanya, akhir-akhir ini Pangandaran sering dilanda bencana, dijawab Hendy Kuswaya seorang aktifis lingkungan, rusaknya alam diakibatkan karena ulah manusia. Adanya penjarahan dan perambahan hutan sekarang marak dimana-mana adalah salah satu penyebab bencana terjadi.

“Saya tidak menuduh ini kesalahan siapa, tapi yang jelas pelakunya manusia,”kata Hendy.(17/10).

Sebagai masyarakat penggiat lingkungan hidup, Hendy, lulusan Universitas Winayamukti jurusan Manajemen Hutan ini mengatakan, Gunung Porang dan Pasir Dudan merupakan kawasan lindung yang berfungsi sebagai sumber mata air yang bisa mengairi hampir sebagian besar wilayah Pangandaran,

“Seharusnya kawasan tersebut ditanami Tanaman Jenis Kayu Lain atau kayu rimba alam. “terangnya.

Ditambahkan Hendy, Aliran sungai Cikidang, Cikembulan dan  Citumang dan sungai Citonjong yang berakhir di muara Karang Tirta itu berasal dari Gunung Porang dan Pasir Dudan. Jika masyarakat Pangandaran ingin selamat dari bencana alam, maka solusinya harus rajin  merawat dan melestarikan wilayah sekitar sungai-sungai itu agar tetap berfungsi menjadi tempat  daerah resapan air.

“Kalau hutan rusak, maka saat datang musim kemarau kita akan mengalami kesusahan air dan sebaliknya jika musim hujan running off atau aliran permukaan menjadi tidak normal ditambah dengan membawa material yang lain .

“Saya berharap Pemda Pangandaran  segera mengajukan permohonan kepada pihak Perhutani sebagai pemegang Hak Guna Usaha hutan untuk menjadikan kawasan Gunung Porang dan Pasir Dudan sebagai kawasan hutan lindung tetap dan Taman Kahati (keanekaragaman hayati-red),”jelas Hendi.

Sementara di tempat terpisah, Kepala Bidang KSDA di Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH) Pangandaran, DR. Erik Krisna Yudha  mengatakan,  pemetan kawasan hutan harus di sesuaikan dengan tata ruang sebagaimana diatur dalam Pasal 15 ayat 2 (dua) Undang Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

“Berdasarkan tata ruang Kabupaten induk, Cuiamis dan  rencana tata ruang Pangandaran, wilayah Kecamatan  Langkaplancar, Cigugur, sebagian Kalipucang, sebagian Parigi, sebagian Cijulang dan sebagian wilayah Pangandaran adalah wilayah konservasi geologi dan resapan air bawah tanah sehingga seharusnya hutan yang ada di Pangandaran adalah hutan konservasi,”terang Erik. (AGE).



CIJULANG NGADEG KU ANJEUN

CIJULANG - "Cijulang Ngadeg Ku Anjeun" merupakan satu ungkapan para orang tua dahulu yang kini mulai terlihat kebenarannya ibarat sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Babad karuhun orang Cijulang berasal dari daerah Kedungrandu Banyumas jawa tengah, bernama Nini Gede Aki Gede dengan empat bersaudaranya. Pertama, Sembah Jangpati (berkuasa di Ciamis), Sembah Jangraga (berkuasa di Karang Simpang), Sembah Jangsinga (berkuasa di Panjalu), dan keempat Sembah Janglangas (berkuasa di Cijulang), semuanya putra dari Sunan Raja Mandala,

Seperti diceritakan tokoh budaya Cijukang, Tatang, Nini Gede Aki Gede memiliki seorang putri yang cantik rupawan dan jadi tambatan hati Kanjeng Sinuhun penguasa (raja) di Banyumas. Namun saat itu oleh Nini Gede Aki Gede, anaknya tidak diijinkan untuk dipinang oleh Kanjeng Sinuhun tersebut, sehingga Nini Gede Aki Gede beserta keluarganya pun diusir dari tanah Banyumas.

Keluarga  Nini Gede Aki Gede pun lalu berkelana ke arah barat beserta keluarga dan sanak saudaranya. Mereka pun hu8ngga menyeberangi sungai (sekarang disebutlah hanjatan Cimanganti) dan tinggal di suatu tempat dengan membuat sebuah rumahsatu bale satu surau/masjid (disebutlah Padepokan Karasanbaya).

Lama kelamaan Nini Gede Aki Gede berpikir merasa khawatir padepokannya akan diketahui oleh Kangjen Sinuhun. Maka ia pun menyuruh anak pertamanya Sang Prabu Lawangjagang untuk tinggal di padepokan tersebut yang terkenal dengan sebutan Kawasan. Sementara ia sendiri beserta keluarga lainnya terus melanjutkan pengembaraan ke arah barat, lalu ke selatan. Di satu tempat pun ia sempat ngaso (istirahat) dan sekrang tempat istiraha tersebur dinamakan  Cikaso. Di situ ia membuat sebuah rumah-satu bale (terkenal dengan Sukalembah). Di Sukalembah ditinggalkan seorang anak bernama Mangun Naha Mana Manggala. Lalu Nini Gede Aki Gede pun menlanjutkan perkelanaannya lagi.

Di Bojonglekor,  ia menyimpan satu putra bernama Sang Prabu Mangun Ciker dengan dibuatkan satu rumah-satu bale. Kemudian ke Bubulak Karangsimpang dengan satu rumah-satu bale. Lalu pergi lagi hingga buatannya, di tempat baru ini satu rumah-satu bale ditambah satu sumur disebut Daerah Binangun.

Nini Gede Aki Gede pun melanjutkan perjaklanannya meninggalkan Binangun untuk mencari daerah baru sebagai tempat untuk bermukim di Nagarawati, karena tidak lahan kosong, ia pun memutuskan untuk kembali ke Binangun.

Dalam perjalanannya, Nini Gede dan Aki gede Kemudian terus berjalan hingga ke Bojongmalang, Sarakan, Cikadu, Cikawao, Cikagenah, Cipatahunan dan Gurago. Di Gurago Nini Gede Aki Gede menetapkan penghulu, kholifah dan perangkat-perangkatnya. Stelah itu ia Lalu pergi ke Cigugur.

Dikisahkan pula, Beberapa tahun kemudian Nini Gede Aki Gede dipanggil Raja Sukapura Dalem Tamela untuk dimintai anaknya yang sudah dinikahkan sebelumnya, alkisah permintaan tersebut sampai tujuh kali datangnya. Hingga pada akhirnya permintaan tersebut dikabulkan dengan memberikan suatu wilayah kekuasaan kepada mantan menantunya dengan pemberian gelar Sembah Ragasang dan diperbolehkan membawa sembilan kuren keluarga.

Pergilah Sembah Ragasang beserta keluarganya ke arah barat mengikuti jejak air mengalir, dan tiba di Panjalu kemudian ke Ciamis menemui saudara ibunya yang bernama Jang Pati, lalu terus ke arah barat menuju belantara hutan. Di sana lahirlah Sembah Ragadimulya. Perjalanan pun lalu dilanjutkan ke selatan, di Mandala, Karangnini dan Jajaway.

“Demikian dikisahkan (cukcrukan galur sasakala) Cijulang, jika disimpulkan, karena Nini Gede Aki Gede bolak-balik bagaikan air balikan di muara sungai. Tanda (ciri)-nya kalau sekarang adalah cai mulang (di Cijulang) yang terbendung air laut di sekitar Sungai Haurseah sebelah selatan, “Abah Kundil sapaan Tatang.

Pada akhirnya sungai inilah yang akan menjadi tulang punggung dan sumber kehidupan masyarakat setempat seperti peradaban sungai nil , tigris dan sungai eufrat di timur tengah. Sungai Cijulang melindungi sendi-sendi kehidupan masyarakat . Pertanian, perkebunan, perikanan, transportasi, peternakan  dan tentunya pariwisata.

Semua aspek bermuara pada satu sentral penunjang, sungai Cijulang yang kini terkenal dengan pariwisata Cukang Taneuh (Green Canyon). Transfortasi Udara di Nusawiru pun kini mulai ditata untuk kedepannya menjadi Bandara Internasional sebagai bukti kemajuan yang mulai terwujud di Cijulang.

“Jadi jelas apa yang dikatakan orang tua dulu sudah mulai nampak kebenaran nya lewat Uga dalam cerita Babad Cijulang, “pungkas Tatang. (AGE).

SITU CISAMPING BATUKARAS DAN MITOSNYA

CIJULANG - Pesona alam Situ Cisamping di Desa Batukaras Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran begitu asri dengan air danaunya yang bening dihiasi rimbun pepohonan begitu memanjakan para pengunjung yang datang untuk beristirahat dalam suasana alam yang sejuk diiringi dengan semilir angin bisa membuat betah untuk berlama lama dan refreshing setelah  bergelut dengan rutinitas dan kesibukan pekerjaan.

Selain kesejukan dan keindahannya,  Cisamping pun konon menurut cerita masyarakat sekitar, tidak pernah kering walau pada musim kemarau panjang. Seperti yang pernah terjadi sekitar tahun 80 an, saat itu kemarau hingga 9 bulan, tapi debet air Situ Cisamping tetap seperti biasa, hingga bisa dimanfaatkan untuk keperluan masyarakat Batukaras karena sumur-sumur warga sudah kering semua akibat kemarau panjang.

Salah seorang tokoh batukaras, Abah Ija (80), membenarkan, bahkan ia pun pernah ikut bersama warga untuk mengambil air dari danau tersebut.

Dibalik segala pesona keindahan yang ditawarkan Situ Cisamping dan manfaatnya untuk kehidupan, menurut Bah Ija, ada cerita yang tersebar turun temurun di masyarakat, kenapa dinamai Cisamping.

Seperti yang diceritakan Abah Ija, Cisamping ternyata merupakan salah satu bekas perjalanan Dalem Sembah Agung  dalam pencarian putranya Rangga Carita yang lebih dikenal dengan nama Sulton Muradi.

Konon, saat itu Dalem Sembah Agung menemukan samping (kain) yang digunakan bungkus anaknya yang hilang dari ayunan saat berada di wilayah Sandaan Rangga carita waktu itu masih bayi, maka danau tersebut pun dinamai situ (danau) Cisamping.

Selain cerita tersebut, Abah Ija juga mengatakan, bahwa Situ Cisamping menurut penerawangan batinnya merupakan kerjaaan dari segala jenis siluman di alam gaib.

 “Ada siluman si gundul dan si pocol, diantara kedua siluman tersebut yang sering jahil adalah siluman si gundul. “Terang Bah Ija.

Abah Ija berpesan, setelah dibangun menjadi obyek wisata, para pengunjung yang datang tidak boleh sombong, tidak sopan dan bicara sembarangan agar  nantinya Situ Cisamping bisa menjadi tempat wisata yang banyak dikunjungi wisatawan.

“Kalau sudah rame, nantinya masyarakat pun bisa ikut usaha di sana. “Ujar bah Ija. (AGE)




ASAL MUASAL HIASAN JANUR KUNING PADA ACARA HAJATAN

Situs budaya religi Raden Angga Wacana merupakan salah satu tokoh penyebar agama Islam di wilayah Sukapura, tepatnya di Kecamatan Cimerak Kabupaten Pangandaran pada masa pergeseran Hindu-Budha ke Islam.

Tidak banyak masyarakat yang mengetahui sejarah tersebut, karena tidak ditulis dalam buku kurikulum atau dalam  muatan lokal di sekolah-sekolah. Sejarah tersebut hanya dituangkan dalam sebuah buku Babad Cijulang yang merupakan buku kumpulan sejarah dan sebagai Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) nya para karuhun masyarakat Cijulang.

Dalam buku Babad Cijulang, konon, dikisahkan nama Raden Angga Wacana yang pada waktu kecil bernama Naga Wacana, seiring dengan usianya menginjak dewasa juga dengan bekal ilmu agama semakin fasih, akhirnya oleh santri-santrinya ia dijuluki Raden Angga Wacana.

Salah seorang tokoh asal Cijulang Abah Kundil menuturkan, suatu hari Raden Angga Wacana mendapat kabar bahwa Kerajaan Cirebon mengadakan sayembara untuk para jawara se-Nusa Jawa. Dalam sayembara tersebut, dikisahkan, pemenang sayembara oleh Raja Cirebon akan diuji harus bisa meratakan Gunung Hata. Rencana Raja Cirebon meratakan gunung Hata tersebut  bertujuan untuk mendirikan sebuah mesjid agar penyebaran agama Islam di Kerajaan Cirebon pun bisa maksimal dan tersebar luas.

“Siapa saja yang berhasil meratakan gunung hata akan diberi hadiah salah seorang putri Raja Cirebon untuk dinikahi. “cerita Bah Kundil.

Dikisahkan juga, Raden Angga Wacana pun akhirnya berpamitan pada istrinya karena berniat hendak mengikuti sayembara tersebut. Setelah mendapat restu isterinya, Raden Angga Wacana pun berangkat dengan hanya dibekali satu bungkus nasi untuk bekal dalam perjalanannya.

“Setelah sampai dilokasi arena sayembara  Raden Angga Wacana tidak langsung masuk arena, tapi ia merangkai sisa serpihan kayu tatal untuk dijadikan fondasi dan rangka bangunan mesjid diluar arena sayembara,” tutur Abah Kundil.

Dengan ilmu dan kedigjayaan yang dimilikinya, akhirnya Raden Angga Wacana pun berhasil membuat fondasi dan rangka bangunan mesjid hanya dalam hitungan jam saja. Dan setelah rangka dan fondasi selesai dibuat, Raden Angga Wacana pun mulai meratakan Gunung Hata serta mulai meletakan rangka dengan fondasi mesjid yang sebelumnya dibuat .

“Ketika melihat kemampun yang dimiliki Raden Angga Wacana meratakan gunung Hata serta meletakan fondasi dan rangka mesjid dalam waktu singkat, Raja Cirebon pun kaget dan memberhentikan pertarungan yang diikuti para jawara tersebut,” lanjut Bah Kundil.

Melihat kesaktian Raden Angga Wacana yang sudah berhasil meratakan Gunung Hata serta membuat fondasi mesjid, akhirnya raja pun mengakui kesaktian serta keunggulan yang dimiliki  Raden Angga Wacana. Tapi karena seluruh peserta semua merasa paling unggul dan berhak mendapatkan hadiah putri raja, di tengah kebingunannya raja pun mengambil inisiatif untuk membuat burung dari janur kuning. Dan setelah jadi, burung dari janur kuning tersebut lalu diterbangkan hingga hinggap pada Raden Angga Wacana, akhirnya raja pun memutuska jika pemenangnya adalah Raden Angga Wacana.

“Raja Cirebon pun berkata, Raden Angga Wacana karena engkau berhasil meratakan gunung Hata dan telah menyiapkan rangka bangunan mesjid beserta pondasinya, maka engkau ber hak untuk menikahi putri kami,” Ujar Bah Kundil.

Tetapi dikarenakan Raden Angga Wacana telah mempunyai isteri, secara halus ia pun menolak untuk menikah dengan  putri Raja Cirebon dan memilih langsung pulang ke Sukapura. Tetapi karena Raja Cirebon merasa penasaran, akhirnya ia pun mengutus prajurit untuk menyusul Raden Angga Wacana dan tetap harus dinikahkan dengan putrinya.

Singkat cerita, setelah prajurit Kerajaan Cirebon berhasil menemukan Raden Angga Wacana, kemudian membujuk agar Raden Angga Wacana kembali ke Cirebon untuk menikah dengan  putri Raja, tapi Raden Angga Wacana tetap bersikeras tidak mau menikahinya hingga terjadilah perkelahian.

Dalam perkelahian tersebut, diceritakan seluruh prajurit Kerajaan Cirebon kalah. Dengan kesaktian yang dilmiliki Raden Angga Wacana, seluruh prajurit berubah menjadi patung  pada posisinya masing-masing dan hanya menyisakan satu orang yang tidak bisa dikalahkan, Kakak laki-laki putri Raja bernama Sembah Langkung.

“Dengan tutur kata lembah lembut, Sembah Langkung akhirnya berhasil membujuk Raden Angga Wacana agar mau menikahi adiknya. “lanut Bah Kundil.

Raden Angga Wacana bersedia menikahi putri raja Cirebon dengan satu syarat, sebagai simbol ia ingin pernikahannya dihias janur kuning.

Setelah Sembah Langkung berhasil menikahkan adiknya dengan Raden Angga Wacana, akhirnya seluruh peralatan yang dibawa prajurit Kerajaan Cirebon dikumpulkan dan disimpan di sebuah tempat yang kemudian tempat tersebut menjadi batu.

“Hingga saat ini, hiasan janur kuning menjadi budaya dan tradisi dalam setiap hajatan terutama hajatan pernikahan,” pungkas Abah Kundil. (AGE)

6 NEGARA MERIAHKAN FESTIVAL LAYANG-LAYANG PANGANDARAN 2016

PANGANDARAN-Festival Layang-layang tahun 2016 resmi dibuka Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata di lapang Doyong Desa/Kecamatan Pangandaran Kabupaten Pangandaran hari minggu (16/10) dengan ditandai penerbangan layang-layang oleh buPati dan wakil bupati H. Adang Hadari.
Tahun ini, peserta lomba selain diikuti dari berbagai negara, seperti Polandia, Macau, Swedia, Malaysia, Singapura dan Jepang juga diikuti para pelayang dari dalam negeri, diantaranya Jawa Barat,  Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Aceh DKI Jakarta, Riau dan Propinsi Bali.
Dalam sambutannya Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengatakan, Festival Layang-layang Pangandaran merupakan kegiatan pariwisata tahunan yang rutin diselenggarakan sebagai promosi dan pengembangan pariwisata.
“Walau penyelenggaraan kali ini di tengah musibah seperti banjir, longsor, jembatan amblas dan sebagainya hingga kunjungan wisata berkurang 95 %, tapi even ini tetap bisa berjalan sukses. “tutur Jeje.
Ditambahkan Jeje, berkat kerja keras panitia penyelenggara, dan partisipasi sponsor, festival yang sudah  jadi ikon pariwisata Pangandaran ini juga terbilang sukses dengan hadirnya peserta dari 6 negara dan para pencinta layang-layang dari berbagai provisi di nusanatara.
“Terimakasih untuk kegigihan panitia, saya atas nama pemerintah daerah sangat mengapresiasi ini. “imbuh Jeje.
Lebih jauh Jeje mengatakan, di tahun 2017 nanti, pemda akan segera merealisasikan penataan wisata, salah satunya dengan merelokasi pedagang tenda biru yang sekaran ada di pinggir pantai dan pedagang kaki lima (PKL).
“Dengan meningkatkan kearifan lokal serta relokasi PKL nanti, pemda sama sekali tidak bermaksud untuk menghilangkan usaha masyarakat, tapi kita akan lebih metata agar pengunjung merasa lebih nyaman. “ungkap Jeje.
Sementara dari Kementerian Pariwisat yang diwakili Asisten Deputi Pengembangan Pariwisaata berharap, festival layang-layang ini terus dikembangkan karena even ini sangat penting untuk menunjang promosi wisata di tiap-tiap daerah.
“Tahun ini kementerian pariwisata menargetkan 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara. “terangnya.
Salah seorang tokoh layang-layang Pangandaran, Kokos (45) mengungkapkan, even tahun ini bisa lebih meriah karena selain dekungan Pemerintah Kabupaten Pangandaran juga peran serta dan antusias para sponsor kegiatan.
“Festival layang-layang tahun ini juga dalam rangka rangkaian kegiatan milangkala ulang tahun Kabupaten Pangandaran ke 4. “terang Kokos. (hiek).

HUJAN ANGIN KEMBALI ROBOHKAN POHON HINGGA MENIMPA RUMAH WARGA

PANGANDARAN-Hujan yang disertai angin kencang kembali mengakibat pohon tumbang menimpa beberapa rumah warga di Desa Purbahayu Kecamatan Pangandaran.

Diantaranya rumah Atmo, di Dusun Medeng, Onih Dusun Kalensnpor dan Juhen di Dusun Sumurbandung.

Menurut informasi, hujan yang disertai angin kencang tersebut terjadi sekitar jam 15.30 jumat (14/10). Dan sampai berita ini diturunkan, belum diperoleh informasi adanya korban jiwa.(hiek)

SAAT SEDANG MANCING BELUT DI SAWAH, SUPENDI TEWAS TERSAMBAR PETIR

SIDAMULIH-Lagi, setelah kejadian korban meninggal akibat tersambar petir di Desa Karangjaladri Kecamatan Parigi, seorang warga Rt 01 Rw 09 Dusun Ciberem Desa/Kecamatan Sidamulih, Supendi (29) bernasib sama.

Saat itu, sekitar pukul 15.00, (15/10) saat hujan turun disertai kilatan petir dan halilintar, ia sedang di memancing belut (ngurek) di sawah.

Mayat Supendi diketemukan warga sekampungnya sudah tidak bernyawa, lalu dibawa ke rumah orangtuanya, Sudar, hari itu juga korban dikebumikan. (hiek)  

AGUN GUNANJAR: “BENCANA BANJIR AKIBAT SALAH PENGELOLAAN HUTAN..”

PANGANDARAN-Beberapa kejadian bencana yang terjadi di Kota Banjar dan Kabupaten Pangandaran baru-baru ini disesalkan Agun Gunanjar Sudarsa, anggota DPR RI komisi I. Pasanya, ia merasa prihatin saat melihat langsung beberapa sungai yang dipenuhi sampah hingga terjadi pendangkalan dan penyempitan.

“Saya lihat banyak potongan kayu dan sampah pada aliran sungai. “ungkap Agun ketika melihat kondisi jembatan Ciputrapinggan Pangandaran yang amblas.(15/10).

Dengan adanya potongan kayu pada aliran sungai, menurut Agun, ini kiriman dari hulu dan hanyut ketika air sungai besar karena curah hujan.

“Saya yakin, ada yang tak beres kondisi hutan di hulu sungai sehingga bongkahan kayu tersebut terseret arus sungai dan menimbulkan banjir di hilir. “sambung Agun.

Menurutnya, tidak benar jika banjir yang terjadi karena alam atau akibat guyurabn hujan dan yang jelas ini karena ada penggundukan hutan hingga bongkahan-bongkahan kayu sisa tebangan tersebut membuat sungai jadi sempit dan dangkal.

“Saya akan segera menyurati Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup atas kejadian ini. “Tegas Agun.

Agun pun merasa heran, kampung halamannya kini jadi wilayah banjir, padahal sebelum-sebelumnya tidak pernah terjadi.

“Saya masih ingat, kampung haklaman saya dulu tidak pernah ada banjir, taoi sekarang rumah kakek saya terendam hingga ketinggian perut, ini kan heran…”ungkapnya lagi.

Dari hasil pantauan langsung di pusat banjir, Agun yakin, ini bukan karena factor alam semata. Tapi lebih diokarenakan adanya perusakan di hulu sungai.

Agun pun menyimpulkan, ini semua karena ada ketamakan dan keserakahan dalam pengelolaan sumber daya hutan dengan mengeksplotasi pohon-pohon yang berfungsi sebagai resapan air.

“Masa tanam mungkin dilakukan hanya lima tahun sekali, padahal penebangan hampir tiap tahun dilakukan. “pungkasnya. (hiek).
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN