INI KATA KADISDUKCAPIL PANGANDARAN, UNTUK SEMENTARA PENCETAKAN KTP PERIORITASKAN PRR

PANGANDARAN-Menanggapi beberapa keluhan masyarakat, belum tersedianya blanko KTP langsung ditanggapi Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Pangandaran, Drs. Tantan Roespandi.  Menurutnya, pengadaan blanko KTP tersebut menjadi kewenangan pemerintah pusat (Kementerian Dalam Negeri), sehingga Pemerintah Kabupaten Pangandaran tidak bisa berbuat banyak saat persedian blanko KTP itu habis dan ini terjadi di semua daerah kabupaten-kota lainnya seluruh Indonesia.

“Jadi keterbatasan blnko KTP ini tidak hanya terjadi di Kabupaten Pangandaran saja. “jelas Tantan.(8/9)

Dari jumlah penduduk 306.507 wajib KTP, yang sudah memiliki KTP (termasuk yang memiliki  KTP Ciamis) sebanyak 86.507 jiwa, belum memiliki KTP Pangandaran 219.648 dan yang menggunakan Surat Keterangan (KTP sementara) berjumlah 29.884.

Masih kata Tantan, karena keterbatasan blanko, untuk sementara pencetakan KTP  diperioritaskan pada PRR (Print Ready Record) atau data yang sudah siap cetak sejumlah 5.338. dari SFE (Sent For Enrolment), yaitu data yang sudah dikirim ke pusat berjumlah 7.038 data.

“Terutama kami perioritaskan untuk usia kepemilikan KTP pemula yaitu usia remaja. “ungkapnya.

Sedangkan kepemilikan akta kelahiran, lanjut Tantan, untuk usia 0 sampai 18 tahun, hingga bulan Agustus 2017, sudah mencapai 73.534 jiwa (64 %) dari jumlah 114.285 jiwa.

Sementara jumlah masyarakat yang sudah melaksanakan rekam data hingga saat ini sudah mencapai angka 95 % dari angka 306.507.

Menurut Tantan saat ditemui PNews di ruang kerjanya, jika selama ini ada anggapan proses pembuatan KTP Pangandaran mengalami stagnasi, ini akibat pengiriman blanko dari pusat memang sangat terbatas.

“Untuk urusan pengadaan blanko KTP, sekali lagi saya katakan, itu kewenangan penuh pemerintahan pusat sehingga pemkab Pangandaran dalam hal ini Disdukcapil tidak ada kewenangan dalam pengadaannya. “kata Tantan. (hiek)

ADANG HADARI: “PNS DAN MASYARAKAT MAMPU HARUS MENGGUNAKAN GAS NON SUBSIDI”

PARIGI-Untuk mengantisipasi kelangkaan gas elpiji 3 kg di masyarakat, Pemkab Pangandaran menggandeng PT pertamina (Persero) mensosialisasikan penggunaan Bright Gas 5,5 kg yang diperuntukan bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkup Pemerintahan Kabupaten Pangandaran yang digelar di halaman kantor setda.(5/9)

Sosialisasi yang dihadiri Wakil Bupati, H. Adang hadari, Sekda Mahmud, SH,MH, Asda II, Kabag pembangunan Jabag Ekonomi, 10 camat, Sales Eksekutif PT Pertamina Wilayah Priangan Timur, Andrew Wisnuwardhana dan puluhan PNS di lingkungan Pemda Pangandaran.

Dalam sambutannya Wakil Bupati, H. Adang Hadari berharap kegiatan sosialisasi ini bisa bermanfaat serta dapat dipahami oleh masyarakat khususnya untuk sekarang di lingkungan PNS.

Dikatakan Adang,  selama ini terjadi kelangkaan gas di masyarakat, awalnya distribusi ke Pangandaran hanya 700 tabung melalui  5 pangkalan. Tapi karena adanya persaingan antar pangkalan, maka akhirnya satu truk dibagi untuk dua pangkalan sehingga terjadilah kenaikan harga di tingkat pengecer  mencapai  Rp 28 ribu per tabung.

Seharusnya bagi PNS atau masyarakat yang berpenghasilan Rp 1,5 juta ke atas per bulan harus menggunakan gas non subsidi.

“Sementara untuk RTM (Rumah Tangga Miskin-red) dengan penghasilkan di bawah Rp 1,5 juta per bulan disediakan gas elpiji bersubsidi atau yang sekarang kita kenal gas a ukuran 3 kg. “terang Adang.

Masih di tempat yang sama, Adang pun menghimbau kepada seluruh PNS, industri, hotel dan restoran agar menggunakan gas elpiji non subsidi.

“Dan saya minta agar distributor jangan sampai melakukan pungutan transportasi. “tegasnya lagi

Sementara Sales Eksekutif PT Pertamina Tasikmalaya, Andrew Wisnuwardhana menyampaikan,  berdasarkan Surat dari Direktorat Pemasaran Branch Manager Marketing Jabar PT. Pertamina Persero Nomor 379/F134A0/2017-S3 tanggal 11 Juli 2017 Perihal Permohonan waktu untuk Sosialisasi Penggunaan LPG dan Bright Gas di Kabupaten Pangandaran, dalam upaya meningkatkan pemahaman mengenai penggunaan LPG yang aman dan benar serta menyukseskan program pemerintah meringankan beban subsidi LPG bagi masyarakat miskin, PT. Pertamina Persero  mengadakan Sosialisasi Tata Cara Penggunaan LPG sekaligus memperkenalkan produk Bright Gas 5,5 kg kepada seluruh Pegawai Negeri Sipil di lingkup Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Dalam sosialisai tersebut, masyarakat bisa menukar 2 tabung gas ukuran 3 kg dengan 1 tabung Bright Gas 5,5 kg (isi).

“Sementara yang mempunyai 1 tabung gas 3k jika akan ditukar dengan 1 tabung Bright Gas 5,5 kg harus menambah uang Rp 109,000. “terang Andrew.

Andrew menambahkan, untuk HET (Harga Eceran Tertinggi) 1 tabung bright gas 5,5kg sendiri dipatok dengan harga Rp 325 ribu pert tabung yang nantinya akan disebar di 40 Agen dan 158 pangkalan yang ada di Kabupaten Pangandaran. (hiek)


INILAH RUMUSAN FORUM DISKUSI LAKPESDAM NU PANGANDARAN Tentang: Relasi Pemahaman Agama dengan Kultur dan Budaya Masyarakat Pariwisata di Pangandaran

( Narasumber: Gus Nasrullah, Adam Alwi Assegaf, Shoiman Nawawi M,HI Edi Rusmiadi )

Pengertian Agama Islam, Islam adalah sebuah agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad Salallohu Alaihi Wa Sallam sebagai nabi dan rosul paling akhir untuk menjadi petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia sampai akhir zaman.

Lebih lanjut, Islam diturunkan melalui Rosasullullah SAW adalah untuk menjadi karunia bagi seluruh alam. “WAMA ARSALNAKA ILLA RAHMATAN LIL’ALAMIN

(Dan tiadalah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad), kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam) (QS. Al-anbiya’ :lO7).

Definisi Pariwisata menurut Kodhyat (1998)
Pariwisata adalah perjalanan dari suatu tempat ketempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok, sebagai usaha mencari keseimbangan atau keserasiaan dan kebahagiaan dengan lingkungan dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu.

Kebudayaan, budaya, dan kultur memiliki arti yang sama. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “buddhayah” yang diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan budi dan akal manusia.

Salah satu ciri khas dari budaya adalah, bahwa budaya itu diwariskan secara turun-temurun. Cara hidup yang berkembang dapat berarti bahwa budaya yang dimiliki oleh suatu kaum atau dapat berubah karena banyak faktor seperti penetrasi kebudayaan. Misalnya upacara Sekaten di Yogyakarta yang terbentuk akibat penetrasi kebudayaan Islam ke dalam kebudayaan adat Jawa. (Isnain Firmansyah)

Apabila kita memahami dengan teliti definisi diatas, maka agama, pariwisata dan budaya merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, dan manusia sebagai pelaku utamanya.

Masyarakat pulau Jawa yang kental dengan tradisi Hindu memiliki banyak warisan budaya yang mengandung filosofi dan substansi nilai yang begitu berharga sebagai kekayaan dan kearifan lokal.

Melalui berbagai warisan budaya ini, masyarakat tahu bagaimana mengekspresikan rasa syukur kepada sang pencipta, membangun kebersamaan, menghargai alam dan lingkungan, ini yang menurur agama disebut moral dan akhlak sebagai pondasi utama Bangsa Indonesia.

Dilihat dari sudut pandang agama hal ini merupakan substansi nilai yang terkandung di dalam ajaran Islam sebagai agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Apabila kita analisa lebih dalam isi dari (QS. Al Anbiya: 107)

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

Suri teladan itu bukan sesempit simbol-simbol yang ada pada diri Muhammad SAW, seperti pakaian dan lain-lain, melainkan isi dari misi kerasulan beliau, dan substansi nilainya pun bukan sebatas simbol fisik saja..

Sementara disisi lain, bagi dunia pariwisata, hal ini merupakan aset yang sangat berharga dan harus mendapatkan perhatian serius dari berbagai kalangan terutama pemerintah.

Mempertentangkan agama dengan kultur dan budaya lokal justru akan mengacaukan sistem nilai yang sudah tertanam di dalam kehidupan masyarakat. Apabila kita mempelajari sejarah masuknya Islam ke Nusantara, saat itu terjadi proses penetrasi nilai, bukan penghancuran budaya lokal yang sudah ada.

Ini sangat mahal dan terlalu besar resiko yang harus dihadapi, karena apabila sistem nilai yang menyatu dalam budaya lokal terkoyak, maka sekuat apapun pemerintah ingin memajukan pariwisata, akan sia-sia karena fondasi utamanya sudah terkoyak.

Pangandaran, 03 September 2017
Lakpesdam NU Pangandaran

RELOKASI PKL PANGANDARAN DIUNDUR HINGGA TANGGAL 10 JANUARI 2018

PANGANDARAN-Ribuan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang selama ini menempati pantai Pangandaran mendatangi gedung Islamic Center Pangandaran untuk mendengarkan keputusan Pemkab Pangandaran tentang relokasi PKL ke tempat baru yang disampaikan langsung Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata.(4/9)

Dalam  pertemuan tersebut, seluruh PKL menyampaikan keberatannya jika relokasi dilaksanakan tanggal 22 Desember 2017. Pasalnya, menurut 1.363 pedagang yang disampaikan salah seorang perwakilannya, agar bisa diberi kesempatan berjualan di lokasi  yang sekarang ditempati pada masa libur natal dan tahun baru 2018.

“Setelah libur natal dan tahun baru, kami siap untuk direlokasi ke tempat kami yang baru. “ungkapnya.

Dalam sambutannya yang diwarnai tanya jawab langsung itu, Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata sangat maklum dan mengerti tentang alasan dan keinginan PKL tersebut, sehingga ia pun memberikan kebijakan, relokasi PKL akan dilaksanakan tanggal 10 Januari 2018.

“Setelah tanggal penetapan itu, saya tidak mau melihat lagi ada pedagang yang jualan di pinggir-pinggir pantai termasuk ATV dan boogie. “tegas Jeje.

Lebih lanjut Jeje mengatakan, relokasi PKL dan pembangunan Ruang Taman Hijau (RTH) merupakan kebijakan Pemda Pangandaran dalam penataan kawasan wisata yang diharapkan nantinya bisa menarik lebih banyak lagi  wisatawan untuk datang ke Pangandaran.

Jeje juga mengatakan, untuk relokasi PKL tersebut Pemkab Pangandaran sudah membangun gedung baru yang berlokasi di 4 titik. Seperti, ada 252 kios di lokasi eks pasar seni, 92 kios di eks Diskotik Meredian, 933 kios di eks Hotel Pananjung Sari dan 188 kios di eks Dinas Sosial milik Pemerintah Propinsi Jawa Barat yang ditargetkan semua bisa selesai pembangunannya pada bulan desember 2017.

“Dan semuanya dibangun dua lantai. “imbuh Jeje.  (hiek)

RIKA-RAMADHAN, MOKA 2017 PANGANDARAN MELAJU KE TINGKAT PROPINSI

PANGANDARAN-Dari 11 finalis peserta Mojang Jajaka (moka) Kabupaten Pangandran, akhirnya Rika (mojang) dan Ramadhan (jajaka) berhasil keluar menjadi pemenang Moka Kabupaten Pangandaran tahun 2017.

Pasangan Moka perwakilan dari Kecamatan Pangandaran ini berhasil menyaingi 20 peserta lainnya pada malam grand final yang digelar di kawasan boulevard pantai barat Pangandaran (2/9) dengan dihadiri ribuan pengunjung dari tiap-tiap kecamatan se-Pangandaran.

Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, Isteri Hj. Ida N Wiradinata dan anggota DPRD yang hadir dalam acara tersebut berkesempatan memberi selamat kepada pinilih Moka tahun 2017 yang berhak mewakili Kabupaten Pangandaran ke tingkat propinsi Jawa Barat.

Selain Ramadhan dan Rika, malam grand final panitia pemilihan Moka tahun 2107 ini juga menentukan juara Mojang kewes yang diraih Merry asal kecamatan Cijulang dan jajaka gendes yang disabet Rizki asal Kecamatan Pangandaran.

Sementara untuk gelar lainnya, mojang jajaka Kamemet diraih Sintya dan Irfan masing-masing mewakili  Kecamatan Mangunjaya dan Pangandaran, Mojang jajaka Mimitran dimenangkan  Endarwati (Padaherang) dan Aldi (Cijulang), Moka Wakil 2, Widy (Parigi) Ian (Parigi) dan gelar Moka Wakil 1 atas nama Chyntami (Padaherang) dan Saeful (Pangandaran).   (hiek)

SALAH SATU HEWAN KURBAN DI SETDA PANGANDARAN TERINDIKASI CACING HATI

PARIGI – Salah satu sapi kurban yang disembelih di Setda Kabupaten Pangandaran mengandung cacing hati (fasciola hepatica) sehingga bagian hati hewan tersebut harus dikuburkan karena tidak layak dikonsumsi.

Seperti dijelaskan salah seorang dokter hewan yang bertugas di Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, drh.Idham, menurutnya, hewan yang terkena cacing hati harus dibuang organ hatinya.

Organ hati tersebut, lanjut Idham, harus dibuang atau dikuburkan karena bila dikonsumsi  manusia, cacing hati tersebut bisa bersarang pada organ hati manusia.

“Penyakit cacing hati pada binatang khususnya pada hewan peliharaan seperti sapi diakibatkan, hewan tersebut kurang perawatan baik dalam pemberian makan ataupun dalam pemberian vaksin yang biasa dilakukan 3 bulan sekali oleh petugas peternakan", ungkapnya.(1/9)

Dikatakan Idham, pihaknya yang bertugas mengawasi dan memeriksa kesehatan hewan kurban sapi di setda Pangandaran, menemukan dari salah satu hewan kurban yang disembelih, hatinya sudah parah dengan ciri-ciri, secara fisik hampir semua bagian hati itu mengalami perubahan, tidak normal.

Lebih jauh Idham menjelaskan, kalau hati yang normal itu berwarna merah hati, tapi kalau yang terkena penyakit terdapat bercak-bercak putih, keras, di dalamnya banyak pasir dan kalau dibelah akan berlendir.

“Dari lorong lorong hati itu jika dipijit akan keluar cacing, dan pada hewan ini kami temukan ada tiga cacing", jelasnya.

Tapi walau pun ditemukan cacing pada hati hewan kurban tersebut, menurut Idham, bagian organ dan daging sapi itu aman dikonsumsi dan bisa dibagikan kepada masyarakat. (Age)

JEJE WIRADINATA :”PENATAAN PARIWISATA BISA MENAMBAH KUNJUNGAN WISATAWAN. “

PANGANDARAN-Pengembangan pariwisata membutuhkan penataan ruang karena pariwisata membuat penataan ruang lebih menarik dalam satu kawasan. Tapi  terkadang sebagian orang menganggap penataan kawasan pariwisata. Padahal, ia bisa menjadi derap pemacu pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Dan sektor pariwisata bisa membuktikan juga manfaatnya bagi pelestarian lingkungan maupun budaya.

Semua itu tentunya terjadi dalam seatu kawasan atau Daerah Tujuan Wisata (DTW), dari mulai perjalanan  "gerbang masuk" hingga lokasi obyek utama. Itu adalah contoh bagaimana penataan ruang diarahkan untuk mendukung tujuan pariwisata, dengan membuat wisatawan betah tinggal lebih lama serta kebutuhan yang tercermin dalam sapta pesona pariwisata.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Pangandaran, H. Jeje Wiradinata saat disoal penataan pariwisata yang sekarang sedang gencar dilakukan salah satu kebijakannya.

“Kita harus bangga Tuhan telah memberikan anugrah dengan alam yang indah, karena tidak semua daerah dianugerahi pantai, laut, sungai  dan alam yang indah “ucapnya.(16/8)

Jeje menambahkan, potensi alam seperti gas, minyak atau batu bara, suatu saat pasti akan habis, tapi tidak dengan pariwisata. Sebab, lanjutnya, laut akan tetap ada, sungai akan tetap mengalir lembah ngarai akan tetap hijua dan menjadi daya tarik yang bisa menghasilkan devisa.

“Tinggal bagaimana kita menatanya, merawatnya untuk kelangsungan generasi selanjutnya. “kata Jeje lagi.

Berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Pangandaran adalah modal dasar untuk terus dikembangkan. Dan untuk itu, menurut Jeje, diperlukan langkah strategis untuk memasarkan dan merancang pola pengembangan pariwisata yang sesuai dengan karakter daerah. Dan Pemda  pun harus mengetahui secara keseluruhan tentang kekuatan, potensi dan daya tarik wisata yang dimiliki di tiap-tiap destinasi yang ada di Pangandaran.

“Kita masih punya kearifan lokal yang sampai saat ini masih terjaga di masyarakat,”imbuhnya.

Dikatakan Jeje, dalam pengembangan dunia pariwisata, pentaan adalah keniscayaan. Karena wisatawan pun akan enggan berkunjung jika satu DTW mempunyai image kumuh, semerawut dan terkesan kotor.

Ada ribuan masyarakat, masih kata Jeje, yang menggantungkan hidupnya pada sektor pariwisata. Karena secara ekonomis, pariwisata pun bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomiu secara positif.

“Kita bisa menjadi pemandu, berdagang atau apa pun yang bisa mendatangkan uang, itu salah satu dampak pada sektor ekonomi rakyat. “kata Jeje lagi.

Di akhir obrolannya, Jeje pun berharap ide-ide kreatif itu datang dari masyarakat yang sebagai pelaku wisata. Karena semua yang ia lakukan, pada gilirannya untuk meningkatkan tarap kehidupan seluruh masyarakat. (hiek)

KABUPATEN PANGANDARAN TERUS MENATA DIRI JEJE WIRADINATA: “Kepercayaan Masyarakat Modal Utama Pembangunan Daerah”

PARIGI-Dalam membangun sebuah pemerintahan yang bersinergi dan maju, dibutuhkan beberapa hal yang harus saling mendukung. Mulai dari elit politik hingga masyarakatnya harus bersatu guna mewujudkannya. Merespon segala keluhan masyarakat, berani bertanggung jawab, dan meningkatkan partisipasi masyarakat. Dengan sendirinya, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah pun akan meningkat.
Demikian disampaikan Bupati Pangandaran,  H. Jeje Wiradinata saat bincang-bincang dengan PNews di ruang kerjanya.

 ”Dan kepercayaan masyarakat tersebut adalah modal awal dari semua pembangunan yang ada di Kabupaten Pangandaran. “ucapnya.(16/8)

Dikatakan Jeje, dengan anggaran yang ada, pemerintah berusaha memaksimalkan sepenuhnya untuk menjawab kehendak masyarakat. Meningkatkan pelayanan publik sesuai amanat ruh pemekaran, peningkatan infrastruktur jalan dan jembatan di pelosok-pelosok, meningkatkan pendidikan dengan membangun pendidikan berkarakter dan meningkatkan angka siswa melanjutkan sekolah dengan menggratiskan semua biaya pendidikan. Di bidang kesehatan, perbaikan puskesmas-puskesmas secara bertahap, meningkatkan serta menambah tenaga kesehatan sebagai bentuk layanan purna pada masyarakat di bidang kesehatan.

Selain hal tersebut, masih kata  Jeje, penataan kawasan wisata pun merupakan program perioritas yang terus dipacu untuk menarik arus kunjungan wisatawan.

“Dan salah satu alasan kenapa sampai saat ini saya belum melakukan promosi keapariwisataan, karena sektor wisata kita harus benar-benar tertata indah dan asri agar mengundang minat sebanyak mungkin  wisatawan untuk datang ke Pangandaran. “jelas Jeje.

Menurut Jeje, masih banyak PR (pekerjaan rumah) untuk ke depan, dan itu hanya bisa dilakukan dengan kebersamaan, menyatukan visi antara pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat, bahu menbahu dalam mengisi pembangunan yang pada gilirannya untuk lebih mensejahterakan masyarakat.

“Kita harus sepakat, kepentingan rakyat di atas kepentingan lainnya. “tegas Jeje.

Lebih jauh Jeje mengatakan, dalam masalah keamanan daerah pun Pemda Pangandaran tetap konsisten  untuk menciptakan rasa aman, nyaman dan kondusif di semua lini. Karena dengan rasa aman itu, lanjut Jeje, rakyat akan tenang dalam beraktifitas, bereksfresi. Nelayan yang akan mnelaut, petani di lading, pedagang di pasar dan para pegawai yang mengjakan tugasnya di kantor.

“Dan Alhamdulillah di bidang keamanan, kita mendapat penghargaan honorary police, sebuah penghargaan di bidang keamanan yang diberikan Polda Jabar. “terang Jeje.

Jeje juga mengatakan, sejak pelantikannya pada tanggal 18 April 2013 lalu, ia dengan Wakil Bupati, H. Adang Hadari bertekad akan mengabdikan diri sepenuhnya untuk daerah kelahirannya. “Ketertinggalan” pembangunan di pelosok-pelosok pedesaan menjadi salah satu obsesinya untuk  segera menata dan membangun infra struktur yang merupakan instrument vital baik dalam segi sosial atau pun ekonomi, karena desa sebagai fondasi pembangunan daerah merupakan keniscayaan dalam kerangka pembangunan daerah itu sendiri.

Disoal pembangunan Ruang Taman Hijau (RTH) yang mendapat kritikan dari sebagian masyarakat, Jeje mengatakan, dalam menentukan kebijakannya tentunya tidak akan bisa memuaskan seluruhnya, karena menurutnya, kebijakannya sendiri bukanlah “alat pemuas”.

Dan pembangunan RTH tersebut, menurut Jeje, karena lokasi tersebut merupakan “etalase” Pangandaran. Kata Jeje, ia ingin saat wisatawan atau siapa pun yang datang ke Pangandaran  akan mendapat kesan indah, asri dan nyaman. Dengan penataan hijau tersebut, lanjut Jeje, diharapkan Pangandaran yang selama ini dikesankan kumuh akan berubah image.

Bukan hanya RTH, lanjutnya, pembangunan gedung yang diperuntukan relokasi pedagang yang selama ini ada di pinggir-pinggir pantai, akan membawa dampak positif pada dunia pariwisata Pangandaran.
Sebuah kemajuan daerah tentunya bukan hanya bergantung kepada pemerintah dan rakyat saja, tapi dengan elitnya pun harus dijalin komunikasi dan sinergitas yang baik.

“Dan dengan sinergitas seluruh elemen ini tentunya akan menambah tingkat kepuasan rakyat. “pungkasnya. (hiek)

BUPATI CIAMIS, IING SYAM ARIFIN AFRESIASI PESANTREN MODERN DAMPASAN BANJARSARI

BANJARSARI-Kegiatan santri Pondok Pesantren Modern Dampasan yang diselenggarakan setahun sekali terasa sangat meriah. Pasalnya, kegiatan yang setiap tahun digelar ini, untuk tahun ini dihadiri orang nomer satu di Kabupaten Ciamis, Bupati H. Iing Syam Arifin.

Dalam sambutannya Iing Syam Arifin menyampaikan kekagumannya, ada sebuah pesantren besar di Desa Ratawangi Kecamatan Banjarsari yang dipenuhi santrinya yang kreatif menampilkan segala kelebihan di bidang baik ilmu agama atau ilmu opengetahuan umum.

“Saat saya melihat photo saya sedang di panggung tadi dengan latar belakang yang luar biasa, serasa saya sedang ada di luar negeri. “ungkap Iing.(28/8)

Dikatakan Iing, pondok pesntren modern Dampasan sangat tepat dengan mengadopsi kurikulum pondok pesantren Gontor jawa Timur karena sudah terbukti keberhasilannya. Dengan ratusan jumlah santri yang datang dari berbagi daerah, seperti dari kabupaten pangandaran, Tasikmalaya, Jakarta bahkan ada yang adatang dari Kalimantan membuktikan, Pesantren Dampasan di Desa Ratawangi Kecamatan Banjarsari ini sudah mampu mencetak santri dan santriwati yang berahlaq mulia, beretika dan berdedikasi tinggi.

“Saya sangat apresiatif dengan keberadaan Pondok Pesantren Dampasan ini, mudah-mudahan tidak sampai disini saja untuk terus mencetak insan-insan berprestasi yang akan berguna untuk agama, nusa dan bangsa. “imbuh Iing.

Di tempat yang sama, pemimpin Pondok Pesantren Dampasan, KH Maminudin mengatakan, kelebihan pendidikan pondok ini ada pada kedisiplinan dan kemandirian para santrinya.

“Kami pun mewajibkan seluruh santri menggunakan bahasa arab dan inggris untuk komunikasi sehari hari bahkan kalau ada yang melanggar aturan pondok harus siap digundul. “ujar Kiayi lulusan gontor ini. (Nana Hoeruman)

PEMERIKSAAN IVA DAN PELAYANAN KB WARNAI HUT IBI KE 66 KABUPATEN PANGANDARAN

PANGANDARAN-Keberhasilan dalam pelayanan publik di bidang kesehatan terletak pada kebersamaan dan kerjasama semua pihak, khususnya dalam pelayanan kesehatan Ibu dan anak hingga ke pelosok-pelosok pedesaan.

Demikian disampaikan Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata saat menyampaikan sambutannnya dalam acara Hari Ulang Tahun Ikatan Bidan Indonesia (IBI) ke 66 di hotel Aquarium di kawasan wisata pantai barat Pangandaran.(29/8)

“Dan jangan lupa, kwalitas pelayanannya pun harus senantiasa ditingkatkan. “ungkapnya.

Selain dihadiri Bupati Pangandaran, acara tersebut juga turut dihadiri Ketua Pengurus Daerah (PD) IBI Provinsi Jawa Barat, Mien Ratminah AM.Keb. SKM, Ketua Pengurus Cabang (PC) IBI Pangandaran, Staf Ahli, Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Diskes-KB), Pimpinan RS, Klinik, Puskesmas, dokter spesialis, dan fasilitas kesehatan (faskes) se-Kabupaten Pangandaran.

Ketua Panitia Pelaksana, Teti Hediati AM Keb yang diwakili Poniah Am Keb, menerangkan, peringatan hari jadi IBI ke-66 mengusung tema “Bidan Mengawal Kesehatan Perempuan dan Keluarga dengan Layanan Holistik dan Berkesinambungan”,

“Saat ini sebanyak 341bidan yang tersebar di beberapa faskes di Kabupaten Pangandaran baik di instansi pemerintahan, swasta maupun freelance. “kata Poniah.

Poniah juga mengatakan, rangkaian kegiatan HUT IBI ke-66 ini diantaranya dengan menggelar pemeriksaan IVA dan pelayanan KB yang bekerjasama dengan Diskes-KB serta Yayasan Kantor Indonesia yang dilakukan di Puskesmas yang ada d wilayah Kabupaten Pangandaran. (Toni T)

ADA WARGA TERIMA RASTA PENUH KUTU DAN BAU APEK

MANGUNJAYA-Beras Miskin (Raskin) yang sekarang sudah menjadi Beras Sejahtera (Rasta) merupakan subsidi pangan dalam bentuk beras yang diperuntukkan bagi rumahtangga berpenghasilan rendah sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan perlindungan sosial pada rumah tangga sasaran dan program ini juga bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga Sasaran (RTS).

Namun sangat disayangkan pemerintah sedikit kurang memperhatikan kwalitas beras itu sendiri. Pasalnya, di salah satu desa Kecamatan Mangunjaya kedapatan beras rasta tersebut sudah dipenuhi kutu serta aromanya pun sudah tidak sedap.

Hasil penyelusuran PNews di lapangan, menurut salah seorang ketua RT, ia memang  mendapatkannya berasnya seperti itu.

“Berasnya memang begitu saat saya terima. “ungkapnya.(25/8)

Seperti diketahui, sebenarnya indikasi keberhasilan pogram raskin dapat diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator 6T. seperti tepat sasaran, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu, tepat kualitas dan tepat administrasi.

“Namun di lapangan kenyataannya kami menerima beras kwalitasnya seperti ini, “ kata salah seorang warga yang tidak mau disebutkan namanya. (Toni Taufiq)

BELUM DIKETAHUI PENYEBABNYA, SEORANG IBU MUDA MATI GANTUNG DIRI

PADAHERANG-Karni (25), seorang ibu usia muda beranak satu warga masyarakat Dusun Cibuntu RT 25,RW 10 Desa Kedungwuluh Kecamatan Padaherang kabupaten Pangandaran ditemukan meninggal dunia menghabisi nyawanya dengan cara gantung diri.

Kejadiannya bermula saat sabtu malam tanggal 25 Agustus 2017 sekitar jam 9.30 warga dusun tersebut digegerkan suara Karli yang berteriak minta tolong bahwa anaknya bunuh diri.

Karli pun shok saat pertama mendapati anaknya sudah tidak bernyawa tergantung dengan seutas tali rapia hijau pada batang usuk di langit-langit ruangan dapurnya.

Korban yang saat meninggal berpakaian kaos oblong warna merah dan bercelana pendek hitam ini meninggalkan satu orang anak usia 2,5 tahun dan suami, Yogi yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan jasa paket di Pangandaran.

Menurut keterangan polisi, Aiptu Yoyot, ia membenarkan ada kejadian  bunuh diri atas nama korban Karni Binti Karli warga Dusun Cibuntu RT 25,RW 10 Desa Kedungwuluh Kecamatan Padaherang. Dan menurut Yoyot, korban diperkirakan meninggal sekitar pukul 9.00 malam.

Dikatakan Yoyot, saat mendengar kejadian ini, pihaknya beserta petugas kesehatan dari puskesmas Padaherang pun langsung menuju ke TKP.

 “Dari hasil pemeriksaan medis serta dengan tidak didapatinya luka-luka penganiyaan, kami pastikan korban meninggal karena bunuh diri dengan cara gantung diri. “ungkap Yoyot.(26/8)

Menurut kesaksian orang tua korban, sekitar jam 7.00 ia melihat korban pergi ke dapur, dan karena tidak ada hal-hal yang mencurigakan Karli pun pergi ke kamarnya untuk tidur.

Sekitar jam 9.30 Karli bangun karena isterinya meminta diantar ke kamar mandi. Saat pintu dapur yang menuju kamar mandi terbuka, betapa kagetnya ia dan Isterinya melihat anaknya sudah menggantung di salah satu kayu usuk dapur sudah tidak bernyawa. 

“Sepengetahuan saya, anak saya selama ini tidak ada masalah apa-apa. “jelas karli. (Isis Koswara)

INSFEKTORAT PROPINSI JAWA BARAT GELAR RAKORWASDA

PANGANDARAN-Dalam rangka sinergitas pkpt tahun 2017, Insfektorat Propinsi Jawa Barat menggelar Rakorwasda dalam rangka sinergitas PKPT tahun 2017 se-jawa Barat. (22-24/8) yang dibuka Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata di sebuah hotel di kawasan wisata Pangandaran.

Ketua penyelenggara, Ir. Toto Ismanto, M.Si dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini duimaksudkan sebagai wadah forum kordinasi pemprop dan pemkab/kota.

Sementara nara sumber dari insfektorat Jabar menyampaikan, keberhasilan program ini ditekankan ada pada titik pengawasan.

Masih dalam kesempatan yang sama, perwakikan dari Inspektur Jendral Dalam Negeri, Sugeng Haryono, M.Pd menyampaikan, forum ini diadakan untuk menjalin komunimasi dan mengkaji, sehingga mampu mencari jalan keluar dari segala permasalahan yang terjadi. (Toni Taufiq)

BUPATI PANGANDARAN HADIRI HARGANAS KE XXIV DI SIDAMULIH

SIDAMULIH-Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata mengikuti upacara Hari Keluarga Nasional ke XXIV sekaligus melantikan Pengurus Forum Anak Daerah tingkat Kecamatan bertempat di lapangan sepak bola Kecamatan Sidamulih (23/8) dengan mengambil tema Keluarga Berketahanan Pengandaran Hebat yang dimeriahkankan penampilan drama musik kolosal persembahan dari Forum Penggerak Tenaga Desa Kabupaten Pangandaran yang bercerita tentang keluarga peserta KB dan yang tidak berKB sehingga berdampak pada kesejahteraan keluarga itu sendiri.

Dalam acara tersebut, bupati juga berkesempatan memberikan penghargaan, salah satunya penghargaan itu diberikan kepada  motifator KB terbaik,  Pendi dari Kecamatan Langkaplancar.

Hadir dalam harganas tersebut  Ketua Tim Penggerak PKK, Ida N Wiradinata, Kepala Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Tavian Soekartono, SE, Kepala SKPD, para camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, bupati mengajak seluruh instansi untuk selalu koordinasi untuk bersama-sama mendukung dan mensukseskan program keluarga nasional khususnya di Kabupaten Pangandaran.

“Keluarga yang sejahtera dan bahagia serta anak yang terdidik merupakan hal fundamental dalam sebuah keluarga. “kata Jeje.(Toni Taufiq)
 

WISATA BODY RAFTING CITUMANG PANGANDARAN