Usai gunting pita, Bupati Pangandaran dan jajaran Kodim 0625/Pangandaran mencoba melewati jembatan, namun saat rombongan berada di tengah-tengah, Naas karena tali seling jembatan tersebut terlepas hingga rombongan hampir tergelincir ke jurang bawah jembatan tersebut.
Komandan Kodim (Dandim) 0625/Pangandaran, Letkol Czi Citra Kurniawan, secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas musibah tersebut.
Ia mengakui, akibat kelalaian kontrol kapasitas karena ternyata saat itu jembatan dilintasi oleh puluhan warga hingga melampaui beban kapasitas. Dan ia pun tidak pasti, itu kurang lebih sekitar 40 orang di tengah jembatan tersebut.
"Memang itu semua kesalahan di kami, Kodim tidak mengontrol batas maksimum rombongan masyarakat yang melewati jembatan tersebut,” ujar Citra saat memberikan keterangan resmi di Makodim 0625/Pangandaran, Senin 31 Agustus 2026.
Disoal mekanisme pembangunan, Dandim menjelaskan bahwa proyek Jembatan Gantung Pongpet dikerjakan secara gotong royong melalui program padat karya.
”mUntuk anggarannya, kata Dandim, menggunakan sistem padat karya. Kebutuhan dari Kodim diajukan ke komando atas kemudian diturunkan, lalu kita bersama masyarakat mengerjakan jembatan tersebut.
Terkait nominal anggaran, pihaknya masih melakukan kalkulasi menyeluruh. Dandim juga berjanji akan mempercepat proses perbaikan serta meningkatkan koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Pangandaran guna menjamin keamanan seluruh infrastruktur jembatan ke depan.
Sementara, Kepala Desa Margacinta Enceng Anwar Solihin menyampaikan keprihatinannya atas tragedi tersebut serta berharap insiden ini dapat membuka mata pihak berwenang untuk mempertimbangkan pembangunan jembatan yang lebih representatif atau permanen.
Ia menyebut, diantara lima proyek jembatan gantung yang sedang digarap Kodim 0625/Pangandaran, Jembatan Pongpet adalah yang terpanjang, tertinggi, dan paling sibuk.
”Kemarin kami sangat bahagia karena peresmian jembatan itu diresmikan oleh Ibu Bupati dan Bapak Dandim, namun sayang terjadi kejadian yang tidak diharapkan," ungkapnya.
Ia berharap kejadian ini menjadi dasar evaluasi, dan pihak-pihak yang punya kebijakan bisa menganalisa lebih jauh untuk membangun jembatan tersebut menjadi jembatan representatif ataupun jembatan permanen.
Enceng juga menuturkan sejarah panjang Jembatan Pongpet, pertama kali dibangun pada tahun 1992. Sepanjang perjalanannya, perbaikan yang dilakukan hanya sebatas pemeliharaan ringan pada lantai jembatan. Material lantai yang sempat berganti dari kayu ke plat bordes besi mengalami korosi dan pelapukan akibat cuaca.
Padahal, jembatan ini bukan sekadar perlintasan pejalan kaki. Sebagai penghubung strategis antardesa (Cibanten-Margacinta) hingga antarkecamatan (Cigujur-Cijulang), Jembatan Pongpet kerap dilintasi kendaraan pembawa hasil pertanian dan angkutan kayu (palen) berbobot berat.
Dan tingginya antusiasme masyarakat warga Desa Margacinta turun ke lokasi saat agenda peresmian, menunjukkan betapa pentingnya jembatan ini bagi keberlangsungan hidup mereka.
(Anton AS)

