Generasi Unggul Lahir dari Peradaban Islam yang Agung


Oleh : Tawati (Aktivis Muslimah Majalengka dan Revowriter)

Generasi muda adalah harapan terbesar bangsa dalam membangun semangat dan perjuangan. Semua untuk menciptakan perubahan yang lebih baik di masa mendatang. Untuk mewujudkan hal tersebut, tentu diperlukan niat dan usaha yang sungguh-sungguh. Pemerintah Jawa Barat menyadari akan hal ini, terlihat dari adanya program-program yang telah dibuat untuk anak-anak muda Jabar. Program-progeam unggulan Jabar tersebut diantaranya adalah Jabar Masagi - NGABASO (Jalan Kaki ke Sekolah), Sadesha (Satu Desa Satu Hafidz), dan Maghrib Mengaji.

Pemuda adalah mereka yang memiliki fisik prima, tenaga kuat, semangat yang membara, serta mempunyai daya pikir luas. Namun, tidak sedikit profil pemuda hari ini jauh dari gambaran sejatinya tersebut. Mereka telah mengalami krisis daya juang. Tidak mau hidup dalam kepayahan.

Mereka telah tertimpa krisis jati diri. Terombang-ambing mengikuti arus tanpa mampu melepaskan diri. Krisis jati diri tersebut adalah akibat mereka kehilangan pegangan dan standar hakiki di dalam menapaki kehidupan.

Mereka disebut produktif, tetapi atas standar duniawi. Mereka disebut tangguh, tetapi sebenarnya jadi buruh. Sungguh, mereka adalah korban kezaliman sistem kehidupan yang menghamba materi.

Sesungguhnya program-program unggulan pemerintah yang dijalankan hari ini tidak akan berpengaruh pada perbaikan moralitas generasi jika generasi masih hidup dalam arus sekulerisme-liberalisme yang terus mengikis pola pikir dan pola sikap generasi muda.

Padahal, mereka memiliki potensi yang besar. Sebab, negeri ini akan layak diperhitungkan di kancah percaturan dunia internasional karena potensi pemudanya. Terlebih dengan jumlah besar mereka sebagai bagian kaum muslim, perubahan dunia menjadi lebih baik bukanlah sekadar wacana. 

Namun, ketika racun kapitalisme-liberalisme terus meracuni kaum muda muslim, pada titik inilah sebetulnya tengah terjadi pembajakan dan penyesatan potensi pemuda muslim secara massal dan sistemis. Produktivitas dan ketangguhan pemuda muslim tidak ubahnya bahan bakar bagi mesin ekonomi kapitalisme.

Pemuda muslim butuh perubahan jati diri. Produktivitas dan ketangguhannya hendaknya digunakan untuk perjuangan membela agama Allah. Visi besar penggemblengan mereka sebagai bibit generasi unggul pun hanya bisa berdasarkan aturan Allah.

Allah SWT berfirman, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan Kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, ‘Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.’ (TQS Al-Kahfi [18]: 13—14).

Allah juga telah menjamin standar kesuksesan generasi muslim dalam ayat, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS Ali Imran: 110).

Sejatinya, profil generasi muda muslim yang produktif dan tangguh adalah mereka yang menghendaki menjadi terbaik menurut standar Allah, yakni terikat dengan aturan Islam. Para pemuda itu adalah orang-orang yang berkepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap Islam.

Denyut nadi kehidupan para pemuda tercurah sepenuhnya untuk membela Islam. Keseharian para pemuda kental dengan aktivitas dakwah. Mereka memiliki daya juang, beretos kerja prima, pemberani, berkarakter pemimpin, serta mampu mencapai ikhtiar terbaik dan tawakal tertinggi untuk kemuliaan Islam dan kaum muslim.

Tentu saja, untuk menjadikan pemuda muslim produktif, tangguh, bahkan mampu meraih gelar umat terbaik itu, tidak cukup dengan upaya individu atau pun keluarga semata. Harus ada lingkungan masyarakat yang sehat dan negara yang tidak disetir oleh kepentingan para kapitalis melalui akidah sekulernya. 

Sungguh generasi unggul hanya dapat terwujud dalam sistem Islam. Inkubator untuk menghasilkan profil generasi muda muslim yang produktif dan tangguh membutuhkan peran negara.

Negara di dalam sistem Islam mampu membangun generasi unggul dengan beberapa cara yang tidak terpisahkan, yakni menerapkan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah untuk melahirkan muslim berkepribadian Islam. Negara akan memastikan semua rakyatnya mendapatkan hak pendidikannya secara baik.

Negara juga menerapkan sistem ekonomi Islam yang akan memastikan kekayaan milik umum dikelola negara untuk kemaslahatan umum, termasuk pendidikan. Juga membuka lapangan kerja yang cukup sehingga para kepala keluarga (ayah/suami) akan memiliki pekerjaan layak untuk memenuhi kebutuhan nafkah keluarga. Pada saat itu, peran ibu fokus untuk mendidik generasi.

Selanjutnya negara menerapkan kebijakan media. Negara mencegah tersebarnya informasi yang akan merusak karakter generasi unggul, seperti sekularisme, kapitalisme, liberalisme, dan pemikiran apa pun yang akan melemahkan keyakinan serta menjauhkan ketaatan.

Wallahu a'lam bishshawab.



Related

Pendidikan 6786100342126618537

Posting Komentar

emo-but-icon

item