Label 4

Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Situs Karangmulyan Ciamis, Legenda Ciung Wanara dan Bukti Peradaban Besar Kerajaan Galuh

PANGANDARANNEWS.COM/CIAMISNEWS - Legenda Ciung Wanara yang telah lama menjadi bagian dari khazanah budaya Sunda ternyata bukan hanya dongeng rakyat belaka. Situs Wisata Budaya Karangmulyan di Kabupaten Ciamis merupakan peninggalan nyata Kerajaan Galuh yang berdiri dari abad ke-7 hingga ke-14 Masehi, menjadi bukti keberadaan peradaban besar di tanah Pasundan.

Ciung Wanara adalah putra Prabu Permana Di Kusumah dan Dewi Naganingrum, raja dan ratu Kerajaan Galuh abad ke-7 Masehi yang ibu kotanya berada di kawasan Karangmulyan. Setelah lahir, ia dihanyutkan ke Sungai Citanduy oleh rencana jahat menteri Aria Kebonan dan Dewi Pangrenyep.

Situs Karangmulyan memiliki berbagai peninggalan sejarah berupa batu-batu bersejarah, antara lain:

- Tempat Sabung Ayam

- Sumur Panyipuhan

- Batu Pangcalikan

- Batu Panyandaan

- Batu Lambang Peribadatan

Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat ziarah, namun juga dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang menyajikan nilai sejarah serta keindahan alam sekitar. (anwarwaluyo)

Disparbud Catat, Saat Ini Ada 83 Obyek WBTB Di Pangandaran

PANGANDARANNEWS.COM - Warisan budaya leluhur memberikan cermin dentitas suatu daerah, dan jati diri suatu daerah tersebut tercermin dari seberapa banyak warisan budaya leluhurnya.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran melalui Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Sugeng Yudistira, saat melaksanakan sosialisasi dan pendaptaran perlindungan Warisan Budaya Tak Benda ( WBTB) bersama Disparbud Provinsi Jawa Barat.

Kata Sugeng, hal ini diselenggarakan untuk menginfentarisir warisan budaya leluhur yang ada di wilayah pangandaran.

Sementara, jelas Sugeng, WBTB  berdasarkan data yang ada di Disparbud Kabupaten Pangandaran tercatat sebanyak 83 objek.

"Dan jumlah ini kemungkinan besar karena masih banyak yang belum terdata," ucapnya.(26/11/25)

Ia menyebut, dari data tersebut yang telah terdaftar dan didata di pokok kebudayaan sebanyak 17 objek. Dan ini terjadi karena masih ada kekurangan dokumen pendukung untuk lolos verifikasi karena belum lengkap deskripsi tentang karya budaya yang dimiliki.

Sugeng juga berharap, kedepan semua warisan budaya yang ada di Kabupaten Pangandaran mendapat perlindungan dan segera ditetapkan. Artinya ketika nanti sudah di tetapkan dan mendapat perlindungan, budaya warisan leluhur ini menjadi hak cipta sehingga daerah lain tidak bisa mengklaim budaya leluhur kabupaten Pangandaran.

"Dan tentunya kedepan akan menjadi daya tarik wisatawan wisatawan sehingka di harapkan mampuh mendongrak Penghasilan Daerah, khususnya dari sektor budaya," tegaasnya.(Tn)

Pangandaranval Nature 13, Warnai Milangkala Pangandaran Tahun Ini

PANGANDARANNEWS.COM - Masih dalam rangkaian Hari Jadi Kabupaten Pangandaran (Milangkala 13) tadi siang dilaksanakan Pangandaranval Nature 13, bertempat di kawasan Baulevar Pantai Barat.(20/10/25)

Selain dihadiri Bupati Pangandaran Hj Citra Pitriyami dan Wakil Bupati H. Ino Darsono, juga dihadiri Ketua DPRD Asep Noordin dan anggota DPRD lainnya, Sekda Kusdiana, Kepala SKPD dan ratusan warga yang antusias ingin menyaksikan helatan yang digelar setahun sekali.

132 peserta karnaval yang datang dari 93 desa serta SKPD di jajaran Pemkab Pangandaran pun menampilkan berbagai busana yang didominasi bertemakan alam dan limbah plastik, satu persatu tampil di depan juri dan tamu undangan.

Pada sambutannya Bupati Pangandaran Hj Citra Pitriyami mengaku sangat mengapresiasi seluruh kreasi yang ditampilkan seluruh peserta, semuanya menggunakan bahan dari alam serta limbah plastik dan kertas yang ada di sekitar tempat tinggal.

"Saya harap kegiatan budaya ini harus tetap ada dan dirawat," ungkap Bupati.(hiek)






Jadikan Kegiatan Budaya Setiap Tahun, Nelayan Pangandaran Gelar Acara Hajat Laut

PANGNDARANNEWS.COM – Ribuan warga dan wisatawan tadi siang (27/06/25) memadati kawasan Pantai Barat Pangandaran untuk menyaksikan prosesi hajat laut, sebuah tradisi tahunan masyarakat khususnya nelayan Pangandaran yang sarat makna spiritual dan budaya.

Seperti diketahui tradisi hajat laut yang rutin digelar setiap tahun ini selalu menyita perhatian publik untuk menyaksikan rangkaian doa dan pelarungan sesaji ke tengah laut, dan taka hanya itu pengunjung pun disuguhkan berbagai pertunjukan seni tradisional khas Sunda.

Sejak pagi masyarakat tampak sangat antusias memenuhi kawasan pantai barat tempat diselenggarakannya kegiatan hajat laut, lengkap dengan kamera hand phone untuk mengabadikan rangkaian kegiatan. Dan salah satu momen yang paling menarik perhatian, diantaranya  kemunculan seorang wanita berkebaya adat sunda berwarna hijau, konon penampilan wanita ini disebut-sebut menyerupai sosok Nyi Roro Kidul tokoh mistis yang dipercaya sebagai penguasa pantai selatan.

Usai penampilan wanita berkebaya hijau, acara pun turut dimeriahkan dengan penampilan tari tradisional dari para penari sebelum masuk pada rangkaian acara pelarungan dondang perahu kecil yang membawa sesaji seperti kepala kambing, bunga-bungaan dan hasil bumi ke tengah laut sebagai simbol persembahan dan rasa syukur masyarakat nelayan.

Di tempat yang sama, salah seorang pengunjung asal Bandung, Risma (32) mengaku ia baru pertama kali menyaksikan langsung tradisi ini.

Menurutnya, acara hajat laut ini  memiliki nilai budaya yang tinggi dan tentunya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke Pangandaran.

“Tradisi ini tentu tidak ada di setiap tempat sehingga sangat menarik sebagai suguhan budaya dan kesenian daerah," kata Risma.(27/06/25)

Ia juga mengaku kagum dengan penampilan sosok perempuan yang berperan menjadi Ratu Roro Kidul, sebagai simbol penguasa laut selatan.

“Selama ini saya hanya mendengar atau membaca dari sejumlah literasi tentang sosok Ratu Roro Kidul ini, benar-benar penampilan yang unik serta menjadi daya tarik seluruh dari seluruh rangkain acara hajat laut ini," ungkapnya.

Sementar Kepala Bidang Kebudayaan di Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Pangandara, Sugeng Yudistira, berharap kegiatan hajat laut yang sudah lama dan rutin dilaksanakan tiap tahun ini bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Menurutnya, hajat laut ini sudah menjadi kelender salah satu kegiatan budaya di Kabupaten Pangandaran yang rutin digelar setahun sekali.

"Sekali lagi saya berharap, acara hajat laut ini mudah-mudahan bisa mengkatrol kunjungan wisatawan ke Pangandaran," ucapnya. (hiek)


 

Diharapkan Menambah Daya Tarik Wisata, Diparbud Dan DKD Kabupaten Pangandaran Akan Gelar Seni Budaya Di Setia Obyek Wisata

PANGANDARANNEWS.COM – Beberapa hari yang lalu, Kepala Dinas Pariwista dan Kebudayaan Kabupaten Pangandraran Nana Sukarna saat menghadiri akstraksi kesenian tradisional sunda seni kecapi suling bertajuk jaipong di obyek wisata Green Canyon Kecamatan Cijulang menyampaikan, pentas kesenian tradisional ini direncanakan akan ditampilkan pada setiap destinasi wisata yang dikelola Pemerintah Daerah Kabupaten Pangandaran untuk menghibur menghibur para wisatawan yang datang dari berbagai daerah. 

Salah satunya, kata Nana, penampilan seni kecapi suling bertajuk jaipong yang saat ini digelar di destinasi wisata Green Canyon Kecamatan Cijulang.

“Penampilan seni tradisional Sunda di objek wisata ini hasil kerja sama Pemda dengan Dewan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, dan jadwalnya Insaalloh pada setiap akhir pekan dan libur panjang,” ungkapnnya.(31/05/25)

Sementara salah seorang pengurus Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kabupaten Pangandaran, Wawang Dermawan, membenarkan, atraksi kesenian tradisional Sunda yang akan ditampilkan di tiap-tiap objek wisata, tujuannya selain untuk membantu untuk mengangkat seni budaya di Kabupaten Pangandaran juga diharapkan bisa mengkatrol dunia pariwisata.

Ia menyebut, dengan adanya kolaborasi antara DKD dan pemda melalui Dinas Pariwisata diharapkan , bisa memajukan sektor pariwisata ke depan.

"Tentunya dengan menjadikan pariwisata berkelas dunia dengan mengangkat budaya-budaya lokal yang ada di Kabupaten Pangandaran," ucapnya,(hiek)




Disaksikan Gubernur Terpilih Jabar, Bupati Pangandaran Kukuhkan Pengurus DKD Pangandaran

PANGANDARANNEWS.COM - Didasari dari sebuah pengkajian sebagai orang sunda yang meyakini ternyata masih banyak budaya dan filosofi  yang ada di Pangandaran, dan ini menjadi khasanah kekayaan budaya daerah yang harus dijaga dan dirawat.

Demikian disampaikan Bupati Kabupaten Pangandaran Jeje Wiradinata saat menghadiri pengukuhan kepengurusan Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kabupaten Pangandaran masa bakti tahun 2025-2030, bertempat di taman Paamprokan kawasan pantai Pamugaran.(31/01/25)

Jeje mengatakan, kekayaan filosofi tersebut diantaranya jika sekarang menjaga laut harus dibuatkan dulu regulasi atau aturannya namun kalau dulu orang hanya dengan mengatakan pamali maka laut  sudah bisa terjaga dengan sendirinya.

Sama halnya kalau sekarang untuk membuat gudang padi pemerintah harus mengelontorkan anggaran besar, tapi orang tua dulu sudah mempunyai leuit (tempat menyimpan padi) di setiap rumahnya.

Malam ia mengaku sangat gembira karena kegiatan ini bisa dihadiri Gubernur Jawa Barat terpilih Dedi Mulyadi, dan kedatangannya ini membuktikan kecintaannya ke Pangandaran.

"Padahal beliau dilantik, tapi beliau mau nyempetin ke Pangandaran untuk menghadiri acara ini," imbuh Jeje.

Dalam acara ini selain dihadiri Bupati-Wakil Bupati Pangandaran, juga turut dihadiri sejumlah pejabat seperti Gubernur Jawa Barat terpilih Dedi Mulyadi, anggota DPR RI Ida N Wiradinata, Ketua dan anggota DPRD Pangandaran, Kapolres, Dandim 0625 Pangandaran, Kepala SKPD dan tamu undangan lainnya serta ribuan masyarakat.

Usai menyaksikan pelantikan jajaran pengurus DKD Pangandaran, dalam sambutannya Dedi Mulyadi menyampaikan, ia mengaku bangga karena melihat ternyata di Pangandaran segalanya ada.

Namun menurut Dedi, kekayaan budaya dan kesenian daerah yang ada di Pangandaran ini akan tidak punya arti apa-apa jika alamnya tidak terjaga atau tidak terpelihara.

"Sebaliknya jika alamnya terjaga lestari tentu budayanya pun akan tetap terawat," kata Dedi.

Dedi menekankan siapa pun tidak boleh ada yang merusak alam Pangandaran, karena sejatinya manusia itu hidup dengan dan dari alam. Dan alam ini bukan warisan namun titipan, sehingga titipan ini suatu saa besok lusa akan ditanyakan oleh anak-cucu.

Selain bisa menjaga alam, kata Dedi, jika masyarakat Pangandaran ingin menghidupkan pariwisata tentu bukan hanya sekedar dihitung dari jumlah kunjungan wisatawan yang datang.

"Kita pun harus punya peraturan daerah salah satunya terkait desain hotel, kantor pemerintah dan lain-lain yang disesuaikan ciri khas Pangandaran," jelas Dedi.(hiek)


 

 

Situs Batu Kalde Di Kawasan BKSDA Resort Pangandaran Masuk Aset Pemda

PANGANDARANNEWS.COM - Hanya ada satu Cagar Budaya yang saat ini sudah ditetapkan dan mendapat Surat Keputusan (SK) dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pangandaran, Situs Batu Kalde yang berada di kawasan Cagar Alam BKSDA Resort Pangandaran.

Demikian disampaikan Kabid Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Sugeng Yudistira saat mengunjungi situs tersebut yang didampingi Polisi Khusus Cagar Budaya, Haris Bugis.(05/07)

Saat ini, kata Sugeng, ada 166 cagar budaya di Kabupaten Pangandaran dan 40 diantaranya sedang didaptarkan ke data pokok provinsi.

" 3 situs sedang diproses untuk dijadikan cagar yaitu terowongan kereta api Wilhelmina, Julian dan Henrich dan satu yang sudah terdaftar di Oemkab Panndaran, yaitu situs Batu Kalde yang ada di kawasan BKSDA resort Pangandaran," ucapnya. 

Situs Batu Kalde
Seperti diketahui, menurut Sugeng, untuk menetapkan cagar budaya diperlukan penelitian serta kajian arkeolog, dan pengumpulan kelengkapan dokumen sejarah.

"Anggaran untuk penelitian Cagar Budaya tersebut memang cukup mahal karena harus memfasilitasi para arkeologi dan melibatkan beberapa tim untuk penelitian ini," terangnya.

Sementara Polisi Khusus Cagar Budaya Haris Bugis mengatakan, situs Batu Kalde ini merupakan sarana umat Hindu Zaman dulu yang merupakan nandi atau patung sapi dan altar lingga yoni.

"Namun posisinya sekarang sudah bergeser, mungkin disebabkan kondisi alam dan beberapa hal," katanya.

Atau bisa saja digeser kejadian alam seperti Tsunami atau tangan manusia, saat zaman penjajahan jepang dulu.(hiek)

Belum Punya Tempat Penyimpanan, Sejumlah Temuan Arkeologi Di Pangandaran Belum Tertata

PANGANDARANNEWS.COM - Sudah Banyak yang diperkirakan fosil dan artefak ditemukan di sejumlah wilayah di Kabupaten Pangandaran, namun saat ini Pemkab Pangandaran sehingga penemuan arkeologi tersebut belum bisa disimpan dengan baik.

Seperti Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran Sugeng Yudistira, saat ini sebagia temuan arkeologi atau fosil atau artefak ini untuk sementara disimpang di kantor Disparbud.

"Yang disimpan disini merupakan fosil dan artefak tulang manusia purba dan juga gerabah," terang Sugeng kepada PNews di kantornya.(03/07)

Sugeng menyebut, saat ini masih ada beberapa temuan arkeologi yang belum diambil dari lokasi penemuannya, seperti batu meja di Desa Babakan Pangandaran, batu gimbal di Kecamatan dan yang terbaru penemuan fosil Gastropoda (siput) purba di Kecamatan Cimerak.

"Lokasi yang diperkirakan banyak ditemukan fosil ada di Desa Selasari Kecamatan Parigi yang ada di gua Sutraregregan," katanya.

Sugeng berharap pihaknya segera mempunyai tempat atau gedung khusus untuk menyimpan beberapa temuan arkeologi ini, sehingga temuan yang bernilai sejarah ini bisa terdata dan tersimpan aman. 

"Selain menjadi koleksi arkeologi, temuan fosil dan artefak ini juga kan bisa untuk wisata edukasi," imbuhnya.(hiek)

BPK Tetapkan, Ronggeng Amen Pangandaran Jadi Warisan Budaya Tak Benda


PANGANDARANNEWS.COM
- Mungkin banyak masyarakat yang belum tahu ternyata salah satu budaya yang ada di Kabupaten Pangandaran Ronggeng Amen ternyata sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda sejak 28 oktober 2023 oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi.

Seperti diketahui, seni Ronggeng Amen ini cikal bakalnya berasal dari kesenian Ronggeng Gunung yang sudah lama dikenal masyarakat luas merupakan salah satu kekayaan kebudayaan asli asal Kabupaten Pangandaran.

Seperti disampaikan Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Sugeng Yudistira, ia membenarkan bahwa Ronggeng Amen yang dulu lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Ronggeng Gunung ini sudah masuk pada warisan budaya tak benda.

"Hal ini tentu menjadi sebuah kebangaan kita semua," ungkap Sugeng, saat ditemui PNews di ruang kerjanya.(23/02)

Namun Sugeng menyebut, karena sudah diakui sebagai warisan budaya tak benda maka ini harus menjadi kewajiban semua agar Ronggeng Amen terus dipelihara salah satunya dengan seringnya pementasan.

Dan sesuai arahan dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, jelas Sugeng, kesenian Ronggeng Amen ini harus tetap eksis agar nantinya predikat warisan budaya tak benda yang sudah diakui ini tidak dicabut lagi oleh BPK.

Dan pentas Ronggeng Amen yang akan digelar di alun-alun Paamprokan di kawasan pantai barat Pamugaran pada tanggal 2 Maret 2024 nanti, menurutnya, merupakan upaya Pemkab Pangandaran dalam rangka ngamumule (merawat) budaya Ronggeng Amen ini.

Sugeng juga berharap pementasan Ronggeng Amen atau kesenian daerah lainnya ini bisa berkelanjutan, sehingga selain bisa melestarikan khasanah kebudayaan yang ada di masyarakat juga bisa menjadi ajang promosi pariwisata.

"Kami juga berharap kontribusi para pelaku usaha wisata agar bisa bersama-sama melestarikan budaya daerah yang ada di Kabupaten Pangandaran," ucapnya.(hiek)

Wakil Bupati Pangandaran Sebut, Festival Tampaling Di Desa Cikalong Untuk Membangun Desa Dan Merawat Budaya

Wakil Bupati Pangandaran, Ujang Endin Indrawan dan Ibu

PANGANDARANNEWS.COM
– Merawat dan melestarikan budaya yang ada di  masyarakat menjadi tugas bersama, karena budaya mempunyai kebaikan, kejujuran serta nilai-nilai luhur yang dimiliki para orang tua dahulu dalam etika berkehidupan. Banyak sekali filsafat yang dapat diambil untuk menjadi acuan yang bisa diterapkan dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang, karena budaya selalu menuntun pada kebaikan-kebaikan hidup.

Demikian disampaikan Wakil Bupati Pangandaran Ujang Endin Indrawan saat menghadiri Festival  Tampaling dalam gelaran budaya di Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih, yang dilaksanakan di Bukit Budaya Giri Samboja.(19/10)


Menurut Ujang Endin, ia sangat mengaprsiasi dan memberikan penghargaan setingi-tingginya karena khususnya di Kabupaten Pangandaran ternyata masih ada desa yang selalu menyelenggarakan kegiatan untuk melestarikan budaya. Dan salah satu ciri khas dari masyarakat desa adalah kebiasaan hidup gotong royong yang merupakan suatu kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh masyarakat desa, misalnya dalam memperbaiki atau membersihkan lingkungan desa.

“Dan hal ini tentu berbasis pada nilai-nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi di masyarakat desa,” terangnya.

Kata Ujang Endin, masyarakat desa memiliki adat istiadat dan tradisi yang dipegang teguh,  oleh masyarakat desa,  hal ini dapat dilihat dari adanya upacara adat yang dilakukan masyarakat desa serta masih mengandalkan alam sebagai sumber kehidupan.


Sistem kebudayaan desa, menurutnya, merupakan sebuah sistem sosial yang meliputi segala bentuk kegiatan, seperti keagamaan, seni budaya, adat istiadat, tradisi bahkan ekonomi yang dijalankan oleh masyarakat desa dalam kehidupan sehari-hari. 

“Kegiatan semacam ini tentu bisa menjad contoh untuk desa-desa lainnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan, ke depannya kegiatan budaya seperti yang ada di Desa Cikalong ini bisa dikolaborasikan dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, sehingga selai n berfungsi untuk melestarikan kesenian dan budaya juga bisa menjadi konsumsi pariwisatA Yang bisa diulan pada wisatawan.

Masih di lokasi yang sama, Kepala Desa Cikalong Ruspandi mengatakan, Festival Nampaling (menangkap belalang di sawah) ini sudah menjadi kelender kegiatan budaya yang ada di desanya.  

Kegiatan ini kata Ruspandi biasa dilaksanakan pada bulan september, oktober atau di bulan nopember di setiap tahunnya. Dan untuk tahun ini festval tampaling ini mengambil tema, ngampihan pare (menyimpan padi) di leuit (semacam lumbung) padi.

“Setiap tahunnya suasana kegiatan budaya ini selalu mendapat respon warga, mereka sangat senang dan selalu berpartisipasi,” ucapnya.(hiek)


Dari 32 Situs yang Ada Di Pangandaran, Batu Kalde Satu-Satunya Situs Yang Diakui Arkenas


PANGANDARANNEWS.COM
- Dari 32 jumlah situs yang ada di Kabupaten Pangandaran baru satu yang sudah diakui Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas), yaitu situs makam Batu Kalde yang ada di kawasan Cagar Alam Resort Pangandaran.

Seperti disampaikan Kepala Bidang Budaya di Dinas Ariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Sugeng Yudistira, S,Ip, sementara situs-situs lainnya setelah dilakukan kajian, 31 situs yang ada di Pangandaran baru diusulkan ke arkeologi dan hingga saat ini belum ada pengakuan apakah sejumlah situs tersebut bisa dikatagorikan situs bersejarah atau bukan.

Sugeng menjelaskan, tugasnya hanya melakukan pendataan lalu mengirimkan data tersebut untuk diteliti apakah benar situs yang dimaksud termasuk situs bersejarah atau bukan.

"Tentu kewenangan ini sepenuhnya ada di pusat penelitian arkeologi," jelasnya.(05/07)

Jika memang situs tersebut masuk pada situs bersejarah, kata Sugeng, pengelolaan ke depannya pun ada di pusat penelitian Arkenas.

"Seperti situs batu kalde yang ada di kawasan Cagar Alam,
petugas yang merawatnya situs tersebut merupakan perugas pusat penelitian Arkenas," ucapnya. (hiek)

Tradisi Nampaling Warnai Kegiatan Festival Budaya Desa Cikalong 2022

PANGANDARANNEWS.COM – Nampaling merupakan tradisi atau adat dulu masyarakat Desa Cikalong Kecamatan Sidamulih Kabupaten Pangandaran yang hingga saat ini masih dilakukan warga setempat.

Nampaling, cara warga menangkap belalang saat usai musim panen padi dengan menggunakan alat yang terbuat dari anyaman bambu yang dinamakan tampaling berbentuk kerucut yang disambungkan pada sebuah gagang..

Biasanya nampaling dilakukan di hamparan sawah, beberapa hari setelah musim panen dan dilakukan pada malam hari karena saat malam banyak belalang (simet-sunda) banyak berkeliaran di sawah. Dan hasil tangkapan nampaling, belalang tersebut biasanya dikonsumsi untuk dimakan bersama nasi atau dijual ke pasar.

Kegiatan nampaling tahun ini menjadi rangkaian kegiatan Festival Budaya di Desa Cikalong setelah sempat vakum selama 2 tahun akibat pandemi COVID-19. 

Selain Nampaling, dalam festival budaya tahun ini juga digelar kesenian lainnya, seperti Seni Gondang Buhun, Elok Beluk, Ronggeng Gunung, Ronggeng Amen dan pentas seni lainnya.

Saat ditemui sejumlah wartawan, Kepala Desa Cikalong Ruspendi mengatakan, nampaling merupakan budaya menangkap belalang di sawah yang dilakukan para petani setelah habis panen.

“Tradisi Nampaling sudah dipertahankan sejak ratusan tahun yang lalu dan hingga sekarang masih rutin dilakukan warga, bahkan yang menciptakan alat Tampaling itu warga asli Cikalong, “ungkapnya.(03/10)

Sementara Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata berharap budaya Nampaling ini bisa menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan.karena sangat unik dan benar-benar merupakan bentuk kearifan lokal di Desa Cikalong yang hingga saat ini masih terpelihara dengan baik.

“Budaya Nampaling atau menangkap belalang ini masih bertahan selama berpuluh-puluh tahun, “kata bupati. 

Seperti diketahui, Festival Budaya ini sudah menjadi kelender budaya di Desa Cikalong yang biasa diselenggarakan setiap bulan Oktober-September, biasanya setelah Panen Raya. (PNews)


Ruat Jagat Sila Saamparan, Kegiatan Budaya Warga Pantai Batuhiu Tahun Ini Tampil dalam Kemasan Batuhiu Culture Festival

PANGANDARANNEWS.COM – Berbagai cara masyarakat dalam merawat khasanah kebudayaan yang ada di daerahnya masing-masing yang pada intinya untuk mewujudkan rasa syukur pada Sang Pencipta. Salah satunya kegiatan budaya tersebut seperti yang dilakukan Desa Ciliang Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran yang setiap tahunnya menggelar Ruat Jagat Sila Saamparan, yang selalu dilaksanakan setiap bulan muharram.

Kegiatan yang dilaksanakan di kawasan obyek wisata Pantai Batuhiu ini selalu mengundang minat  masyarakat untuk datang berpartisipasi atau sekedar menyaksikan kemeriahan acara tradisi tahunan ini.

Ruat Jagat Sila Saamparan, sebuah kearifan lokal masyarakat di obyek wisata pantai Batuhiu hingga saat ini masih lestari dan menjadi kegiatan budaya yang masih rutin diselenggarakan setiap tahun. 

Prosesi acara dimulai dengan iring-iringan tumpeng dan berbagai makanan hasil bumi yang ditandu menuju panggung utama di pesisir pantai, acara pun dilanjutkan dengan memanjatkan doa’ bersama atas nikmat dan karunia pada Sang Pencipta, lalu acara pun ditutup dengan makan nasi tumpeng bersama dalam satu hamparan tikar yang memanjang.

Ruat Jagat artinya bersama-sama merawat alam dan sila saamparan maksudnya duduk bersama di atas tikar dengan tidak membedaan status sosial untuk bertafakur dan bersukur pada Yang Maha Kuasa, esensinya seperti itu.

Seperti yang disampaikan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Batuhiu, Jajat Sudrajat, helaran ruat jagat ini rutin dilaksanakan tiap tahun tepatnya pada bulan Muharram.

"Tahun ini kita balut dengan bentuk festival agar bisa go international, menjadi Batuhiu Culture Festival, "jelas Jajat kepada sejumlah awak media. (26/8).

Wakil Bupati Pangandaran, U Endin Indrawan
Ruat jagat ini, kata Jajat, pada intinya merupakan bentuk rasa syukur kepada tuhan atas limpahan rejeki yang diterima warga di kawasan obyek wisata pantai Batuhiu dan sekitarnya. Wujud rasa syukur tersebut diungkapkan dengan membuat olahan makanan dari hasil bumi yang disimpan kedalam dongdang (tandu)  untuk nantinya dimakan bersama-sama, antara masyarakat dari masing-masing dusun ini juga saling tukar makanan sehingga bisa saling merasakan antara warga satu dengan lainnya.

Tak hanya jadi tempat makan bersama, menurut Jajat, dengan memberdayakan para pelaku seni atau seniman lokal Ruat Jagat Saamparan ini pun menjadi ajang pagelaran seni budaya daerah, seperti calung, kuda lumping, ronggeng gunung dan adu layang-layang (sasawangan).

“Mudah-mudahan kedepanya banyak pihak memberi support sehingga Batuhiu Culture Festival ini bisa digelar lebih besar lagi. "ungkapnya. 

Sementara Wakil Bupati Pangandaran, Ujang Endin Indrawan, yang ikut menghadiri acara budaya ini, mengatan, tradisi Ruat Jagat Sila Saamparan ini merupakan salah satu ritual budaya yang menggambarkan wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa atas rahmat dan nikmat yang diberikan. Selain menjadi merawat budaya lokal, Wabup juga berharap event budaya ini bisa menjadi paket wisata dan  bisa dinikmati dalam kemasan sajian budaya baik kepada wisatawan lokal atau pun mancanegara.

“Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena selain menambah kekayaan khasanah budaya juga bisa menjadi daya tarik untuk wisatawan, “imbuhnya.  (PNews)



(PNews)


ERIK KRISHNA YUDA : "LEMBAGA ADAT, BUDAYA DAN MASYARAKAT""


PANGANDARANEWS.COM - Lembaga adat, masyarakat dan budaya tak bisa dipisahkan dan berperan penting dalam mendukung proses kemajuan suatu daerah sehingga perlu dilestarikan dan dikembangkan. Diharapkan lembaga adat mampu mengemban tugas dan fungsi terkait dengan tradisi dan budaya yang berlaku di masyarakat.

Hal itu disampaikan oleh ketua lembaga adat kabupaten Pangandaran,  DR. Erik Krishna Yuda.

" Tradisi dan budaya merupakan salah satu cerminan perilaku masyarakat yang turun temurun disuatu daerah yang perlu dipupuk dan dilestariakan keberadaanya sebagai aset Bangsa,  " katanya. 

Dikatakan Erik lagi, " Apalagi kabupaten Pangandaran sebagai tujuan wisata yang sudah mendunia dimana keragaman budaya akan menghampiri kita, 

disinilah peran lembaga adat sebagai filter awal menangkal persoalan sosial kemasyarakatan akibat migrasi yang pesat ini, sehingga bisa meminimalkan dampak budaya dari luar, " katanya

Ditambahkan dia lagi, "Lembaga adat dapat berperan sebagai mediator untuk mewujudkan toleransi dan keharmonisan hidup bersama,” tambahnya. 26/02/2021

Ditempat yang sama salah seorang penggiat budaya, Dede Arif Cahyadi menegaskan sebagai mitra pemerintah, lembaga adat berperan untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal yang selanjutnya akan  memperkaya khasanah budaya bangsa.

“Harus ada dukungan dan komitmen yang kuat diantara stakeholder dalam rangka penguatan lembaga adat dan kemasyarakatan, tanpa itu jangan harap budaya dan kearifan lokal kita bisa eksis, "ungkapnya.

Dikatakannya lagi,  "Maka dengan itu diharapkan adanya regenerasi juga pengakuan dari berbagai pihak terhadap kekayaan budaya yang kita miliki 

agar kedepannya tidak punah,  " pungkasnya. (AGE)

SAFARI BUDAYA PEMKAB PANGANDARAN YANG KETIGA DIGELAR DI KECAMATAN SIDAMULIH

ngariksa jagat nguriling  nagri  katepis wiring

PANGANDARANNEWS-Kecamatan Sidmulih merupakan tempt kali ketiga Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata dan H. Adan Hadari yang didampingi Sekda, H. Kusdiana dan beberapa pejabat di lingkup pemkab, hadir dalam Safari Budaya ngariksa jagat nguriling  nagri  katepis wiring.(14/3)

Kegiatan yang dipusatkan di lapang sepak bola CimangguiDesa Cikalong, disambut gembira warga yang antusas ingin menyaksikan beberapa tampilan kebudayaan, seperti Kesenian Gondang, Ketuk tilu, ronggeng, seni beluk dan ksenian daerah lainnya.

Ada sekitar 130 lisung (tempat menumbuk padi yang menjadi alat kesenian gondang) yang dimainkan 130 seniman gondang buhun, menjadi suguhan yang menampilkan ketukan berirama hasil dari bunyi alu yang dipukul-pukul pada lisung yang diharmonisasikan alunan tembang  sunda dari para pemainnya.

Tak hanya gondang, tampilan kesenian lainnya pun menjadi tontonan di atas panggung yang semarak diwarnai pijar lampu warna-warni hingga mampu membuat sajian kesenian tradisional ini menjadi sebuah tontonan yang menghibur dan sarat akan makna filosofi terkandung di dalamnya.

Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, di atas panggung berkesempatan berdialog langsung dengan salah seorang tokoh budaya asal Sidamulih, Rendi atau yang akrab dengan sebutan Sangkeh.

Sangkeh, seorang seniman  kendang ketuk tilu dan paham 17 pupuh  sunda, diantaranya,  dangdanggula, sinom, asmarandana, pucung , durma, kinanti dan lainnya. Dan berkat kecintaannya pada budaya tradisonal ini juga yang membuat Sengkeh bisa duduk satu kursi sejajar dengan Bupati Pangandaran pada  segmen Ngarumat Budaya Sorangan (Ngabaso ).

“Saya atas nama pemerintah Kabupaten Pangandaran mengucapkan terimakasih pada Bapak Rendi  yang telah dengan setia dan tekun menjaga budaya sunda, “kata bupati, mengawali dialognya.

Tujuan dari ngariksa jagat nguriling  nagri  katepis wiring ini, lanjut buapti, untuk melestarikan serta  menggali budaya tradisional yang ada di setiap kecamatan.

Bupati mengatakan, pada tahun ke 4, memimpin pemerintah Kabupaten Pangandaran, pembangunan infrastruktur jalan hingga tahun 2020 ini sudah selesai, dan di tahun ini juga akan dibangun jalur wisata dari mulai Desa Babakan, Pangandaran, Batuhiu, Bojongsalawe, Batukaras hingga ke Madasari dan Desa Legokjawa.

“Dan tahun ini juga pembangunan infrastruktur jalan di Kecamatan sidamulih, dengan menyelesaikan jalur ke Kalijati dan jalan yang menghubungkan  Sidamulih  ke Panenjon, “ucap bupati.

Bupati menambahkan, dengan selesainya pembangunan infrastruktur jalan kabupaten, selanjutnya kebijakan Pemkab Pangandaran pun akan bergeser pada pola kebijakan lainnya, dan salahsatunya pengembangan budaya dan seni.

Menurut buapti, ia paham betul seni budaya sangat diperlukan karena akan sejalur dengan pengembangan wisata hingga nantinya akan sampai pada titik ahir, Pangandaran menjadi tujuan wisata dunia.

" Kalau kita bersama Pangandaran pasti luar biasa" ujar bupati. . (PNews)

BUPATI PANGANDARAN AWALI SAFARI BUDAYA DI KECAMATAN MANGUNJAYA

PANGANDARANNEWS-Bupati Pangandaran, H. Jeje Wiradinata, mengawali safari budaya Pangandaran yang dilaksanakan di Kecamatan Mangunjaya, lokasi pertama kegiatan ini.(10/2)

Dengan didampingi Sekretaris Daerah, Kusdiana, anggota DPRD Pangandaran, beberapa kepala SKPD, Camat Mangunjaya, para kepala desa se-Kecamatan Mangunjaya dan undangan lainnya, bupati menyaksikan pagelaran budaya dengan mengusung tema Ngariksa Jagat Nguriling Nagri ka Tepis Wiring, yang digelar di Lapang Desa Mangunjaya, depan SMAN Mangunjaya.

Beberapa kesenian daerah, seperti Wayang Kulit, Pencak Silat, Ibing Jaipong Kreasi, Wayang Golek Dagelan, Kuda Lumping, Kolaborasi Musik Etnik, Rampak Kendang, Kacapi Jenaka, Ronggeng Amen dan beberapa hiburan seni budaya lainnya yang dikemas apik berhasil menjadi sebuah pertunjukan yang enak ditonton.

Dalam sambutannya bupati sangat mengapresiasi kegiatan  safari budaya Pangandaran yang dilaksanakan tahun ini, karena dengan kegiatan ini tentunya bisa mempererat hubungan antara seniman, pemerhati budaya dan pemerintah. Karena seni budaya ini seyogianya harus diposisikan menjadi warisan para leluhur yang harus tetap ada lestari.

“Tak kalah penting juga jika seni budaya ini ke depannya bisa disuguhkan pada wisatawan baik lokal maupun mancanegara, sehingga wisatawan pun akan  berkesan saat berwisata ke Pangandaran, “ungkapnya.

Terkait dengan tema Ngariksa Jagat Nguriling Nagri ka Tepis Wiring, kata bupati, ini berkaitan menuju menuju Pangandaran Hebat.

“Saya menghimbau kepada warga masyarakat yang hadir, harus bisa melestarikan seni budaya bahkan bisa lebih kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan global di masa mendatang, “imbuhnya.

Dikatakan bupati, dengan safari budaya yang akan digelar di tiap-tip kecamatan ini juga membuktikan keseriusan pemerintah untuk memperhatikan para pelaku budaya yang ada di tiap-tiap daerah, sehingga para seniman ini nantinya akan mempunyai ruang untuk berinovasi serta mampu mengembankan kreasi-kreasi berkeseniaannya.

Masih di tempatyang sama, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pangandaran, Untung Saeful R, S.Sos, mengatakan, ini merupakan upaya untuk mendongkrak potensi budaya lokal
untuk meningkatkan sektor parawisata.

Dan dipilihnya Kecamatan Mangunjaya menjadi yang pertama safari budaya ini, lanjut Untung, karena Mangunjaya merupakan wilayah paling ujung yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Ciamis dan Cilacap Jawa Tengah.

“Dan nantinya kegiatan serupa akan dilaksanakan bergantian di kecamatan lainnya, “ucapnya. (TONI).

PENTAS IBING RONGGENG AMEN, JADI KEGIATAN BUDAYA PEMPROV JABAR DI PANGANDARAN

PANGANDARANNEWS-Pagelaran Seni Ibing Ronggeng Amen yang digelar setiap sabtu malam di panggung Pondok Seni di kawasan pantai barat Pangandaran, ternyata menarik minat dari masyarakat pecinta seni, khususnya seni ibing. Terbukti, hampir setiap malam minggu baik remaja hingga orang tua tampak memadati arena panggung yang tidak begitu luas tempat digelarnya kesenian daerah ini.
Seperti dituturkan pengelola panggung, Iyus, sambutan masyarakat sangat antusias untuk datang  menghibur diri dengan ikut menari dan larut dalam keceriaan.

Iyus mengatakan, gelaran panggung seni yang diprakarsai Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat ini kini benar-benar sudah menjadi arena hiburan rakyat, sehingga setiap malam minggu panggung pun tak pernah sepi pengunjung.

“Sebagai pengelola tentunya saya merasa senang dan bangga karena ternyata masih banyak warga yang menyukai kesenian daerah ini, “ungkap Iyus.(8/2)

Dikatakan Iyus, karena ini merupakan program Disparbud Jabar, maka rombongan seni ronggeng yang datang pun tidak hanya dari Pangandaran, diantaranya dari Kabupaten Garut, Subang, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar dan kabupaten-kota lainnya di Jawa Barat.

Tapi karena kebetulan tempat penyelenggaraannya ada di Pangandaran, menurut Iyus, tentunya gelaran seni budaya ini pun menjadi enerji baru untuk bisa ikut mendongkrak dunia kepariwisataan Kabupaten Pangandaran. Bahkan, bukan tidak mungkin program pemprov ini pun bisa mempunyai  nilai tambah serta menjadi pintu masuk promosi wisata.

Iyus menambahkan, di panggung Pondok Seni juga ke depan rencananya setiap minggu siang akan menjadi tempat akstrkasi kebudayaan dari tiap-tiap daerah yang ada di Jabar serta setiap dua bulan sekali ada pagelaran wayang golek dan wayang kulit.

“Tapi saya menyayangkan, Pemkab Pangandaran terkesan tidak begitu respon dan tidak mampu menangkap peluang out put dari kegiatan budaya ini, “tutur Iyus.

Iyus juga mengatakan, mudah-mudahan fasilitas pemprov melalui gelaran seni budaya ini bisa disinergikan dengan program kesenian daerah yang ada di Pangandaran sehingga nilai-nilai khasanan kebudayaan daerah khususnya yang ada di Pangandaran pun bisa tetap ada.

“Sukur-sukur nantinya bisa punya nilai jual pada wisatawan yang datang ke Pangandaran, “pungkasnya. (PNews)

KESENIAN CALUNG SUNDA BISA JADI KHASANAH WISATA BUDAYA PANGANDARAN

PANGANDARANNEWS –Sejumlah seniman sunda merasa prihatin, pasalnya seni sunda calung saat ini mulai kurang diminati dan jarang terlihat tampil di pentas kesenian.

Seperi diungkapkan salah seorang seniman sunda, Jajang (65), menurutnya, Pemkab Pangandaran pun sudah beberapa tahun ini sangat jarang mengundang atau memberi perhatian pada seniman sunda yang ada di Pangandaran.

“Padahal calung merupakan kesenian asli milik kebudayaan orang sunda yang harus terus dikembangkan agar bisa tetap ada dan lestari, “ungkapnya.(12/1)

Seni calung, kata Jajang, mempunyai ciri khas tersendiri, para seniman calung kerap dapat menghibur masyarakat dengan suguhan tembang sunda serta banyolan yang bisa membuat gelak tawa penonton.

Mang Jajang yang kini bermukim di Desa Margacinta Kecamatan Cijulang,berharap ada dukungan pemerintah untuk dia dan rekan rekannya agar bisa tetap hidup dengan setia menggeluti budaya warisan sunda, sehingga bisa terjaga dari kepunahan. Karena dengan mudaya asli yang masih tetap terjaga ini, bisa ikut melengkapi kepariwisataan Pangandaran.

"Kami ingin seni calung bangkit dan berharap pemerintah pun ikut ngamumule seni sunda ini, “ ucapnya. (AGE)

PENTAS SENI RONGGENG AMEN DI PONDOK PERCONTOHAN JADI AJANG HIBURAN MASYARAKAT PANGANDARAN

PANGANDARANNEWS-Inilah salah satu cara masyarakat Pangandaran dalam mengungkapkan kegembiraannya dengan menari bersama-sama pada sebuah lingkaran besar yang diiringi kawih sinden dan suara harmoni gamelan. Tidak ada batas strata sosial mau pun ekonomi, karena semua asik mengatur langkah kaki mengiringi suara hentakan kendang.

Pagelaran Ronggeng Amen setiap malam minggu di panggung terbuka pondok percontohan di kawasan pantai barat Pangandaran, benar-benar telah menjadi arena pesta rakyat. Tidak ada batas penyekat yang membedakan tingkatan generasi, karena baik remaja muda usia hingga orangtua bersama-sama datang ke arena untuk bergembira.

Seperti dituturkan empat remaja asal Kecamatan Sidamulih, mereka mengaku hampir setiap malam minggu sengaja datang ke pondok percontohan untuk ikut bersuka-ria bersama masyarakat yang datang dari berbagai tempat.

Menurut mereka, hiburan itu tidak selalu identik dengan biaya mahal, karena hanya datang dan menari bersama para penari ronggeng pun sudah benar-benar bisa terhibur.

“Dengan badan sedikit berkeringat, kami benar-benar bisa menikmati hiburan ini, “ungkapnya.

Hal senada dikatakan Engkar (49), perempuan setengah baya yang datang dengan beberapa tetangganya di Desa Sukaresik, mengatakan, kesenian Ronggeng untuk masyarakat Pangandaran benar-benar sudah menjadi hiburan rakyat, karena kesenian ini memang lahir dari kebiasaan para orangtua dulu saat berbagi untuk mengungkapkan rasa kebahagiaan.

Engkar menambahkan, ketika berada dalam lingkaran saat menari bersama ronggeng dan masyarakat lainnya, maka saat itu segala beban yang ada dalam pikiran bisa terlepas. Karena saat sedang menari disamping harus konsentrasi mengatur langkah kaki, ia pun sibuk saling canda dengan orang yang ada di depan dan belakangnya. 

“Pokonya kami selalu datang setiap malam minggu kesini, kecuali kalau sakit. “katanya.

Sementara kordinator pengelola panggung terbuka di Pondok Percontohan Pangandaran, Iyus, membenarkan, hampir setiap malam minggu tempatnya selalu dipenuhi warga untuk mencari hiburan.

Menurut Iyus, biasanya masyarakat yang datang selalu berombongan baik dengan kerabat atau pun tetangga di tempat tinggalnya masing-masing.

“Kami sangat senang, karena ternyata masyarakat sangat mengapresiasi serta merespon positif pagelaran ronggeng amen ini, “ungkap Iyus.(23/11)

Lebih jauh Iyus mengatakan, program kegiatan dan tempat ini milik Pemprov Jawa Barat, sehingga para penampil seni pun tidak hanya dari Kabupaten Pangandarn saja.

“Ada rombongan kesenian dari Kabupaten Tasik, Ciamis, Banjar dan kabupaten-kota lainnya di Jawa Barat. “terang Iyus.

Disoal ada tidaknya wisatawan yang datang, Iyus mengatakan, sebenarnya Pemkab Pangandaran melalui dinas terkait bisa lebih mengoptimalkan program ini untuk bisa lebih dikenalkan pada wisatawan, sehingga nantinya kegiatan seni budaya ini bisa lebih dikemas menjadi komoditas wisata yang bisa dijual pada wisatawan yang datang ke Pangandaran.

“Dan saya yakin ini bisa mengkatrol kepariwisataan Pangandaran, “lanjutnya. (Hiek-PNews)



RANGGA: “PROSESI BUDAYA RUAT JAGAT SILA SAAMPARAN, UNGKAPAN PUJI SYUKUR PADA SANG PENCIPTA”

RANGGA
Dalam satu wawancara khusus dengan salah seorang tokoh budaya dan seniman Batuhiu Kecamatan Parigi Kabupaten Pangandaran, Rangga, diceritakan, prosesi budaya Ruat Jagat Sila Saamparan ini merupakan tradisi masyarakat di obyek wisata pantai Batuhiu. Ruat Jagat Sila Saamparan, dalam bahasa sunda mengandung arti, merawat alam, baik alam lahir atau pun alam batin.

Secara lahir kehidupan ini tidak lepas dari interaksi langsung dengan alam dengan habitatnya, sedangkan merawat alam secara batin untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan yang disimbolkan dengan kegiatan budaya.

 “Makanya kami namakan Ruat Jagat sila samparan, karena ternyata budaya sangat kaya dengan falsafah dan filosofi kehidupan, “ungkap Rangga.(20/9)

Ruat jagat sila saamparan merupakan ungkapan puji sukur pada Yang Maha Kuasa atas semua limpahan  nikmat yang dirasakan.

Intinya dalam prosesi budaya ini, bagaimana cara manusia menyerahkan diri dan bersukur pada Tuhan yang dikemas dalam kegiatan budaya dan kearifan lokal.

Selain harapan even kebudayaan bisa menjadi ajang promosi wisata, kata Rangga, konsep budaya ini nanti bisa menjadi komoditas yang bisa dijual pada wisatawan.

Rangga juga menuturkan, simbol empat air yang lalu disatukan lalu dilarung (dibuang) ke laut, menurutnya, ini merupakan sebuah palsafah saja. Air yang diambil dari empat titik mata air di empat  penjuru angin, mengandung arti pada diri manusia itu selalu mempunyai rasa, ucap, keinginan dan pemikiran. dan dengan disatukannya air tersebut, disimbolkan, rasa, ucap, keinginan dan pikiran yang berbeda satu dengan lainnya bisa menyatu dan larut seperti air.

“Lalu kita taburi bunga, artinya mudah-mudahan nama Pangandaran bisa harum hingga ke mancanegara seperti sipat bunga yang harum. “tutur Rangga.

Rangga juga menceritakan, di Batuhiu ada peninggalan gamelan yang biasa digunakan untuk mengiringi Ronggeng Gunung, peninggalan tahu 1773 M. Dengan bukti peninggalan tersebut, kata Rangga, bisa dipastikan cikal bakal kesenian Ronggeng Gunung, kesenian khas Kabupaten Pangandaran ini berasal dari kawasan Batuhiu.

“Sementara empat makam yang ada di atas bukit, konon kata para sesepuh disana itu makam empat tokoh penyebar agama Islam di kawasa Batuhiu dan sekitarnya, “pungkas Rangga. (PNews) 

 

Advertisert

Cube Test